arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA BELAS
Lanni mengerutkan alis dan melihat ke arah Erika dengan penuh perhatian. "Erika, lebih baik kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak seharusnya kau bersikap diam-diam seperti ini!"
Apa dia mengatakan kalau aku selalu bersikap diam-diam?
Dia sedang bermain dengan kata-katanya lagi.
**Apakah dia secara tidak langsung menyatakan pada Gardan bahwa aku selalu bertemu dengan pria lain secara diam-diam dan menjadi istri yang tidak setia bagi Gardan?*
Merasakan tatapan dingin Gardan, Erika pun menekan tombol lantai tujuan mereka di dalam lift dan tersenyum. "Karena kalian tidak mau masuk, Wisnu dan aku akan naik lebih dulu."
Kemudian, dia menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Senyuman Wisnu tidak sampai ke matanya. Dia
Tetap melihat Erika hingga pintu lift tertutup dan menyadari bahwa wanita di sampingnya itu tetap tak terpengarüh. Dia tidak bisa menyembunyikan ketakjuban di matanya seraya berkata, "Apa itu artinya kau dan Gardan hanya pura-pura menjadi pasangan yang serasi selama ini?"
Erika memiringkan sedikit kepalanya. Tuan Dikara, kau adalah pria yang cerdik. Apa perlu aku menjawab pertanyaanmu?"
Wisnu tersenyum dan memperhatikan bahwa tidak ada apapun di jari manisnya yang putih dan ramping itu. Dia membuat suara 'ck' dan berkata, "Jarimu sangat cantik, tetapi mereka kekurangan sesuatu. Bagaimana jika aku mengirimkan sesuatu untukmu?"
Erika menatapnya dengan bingung. "Apa itu?"
Wisnu tersenyum dan berkata, "Bukan kejutan namanya jika aku memberitahumu."
Erika melihat sekilas ke arahnya. Lift segera sampai di lantai mereka. Jadi, mereka keluar dan pergi ke ruangan pribadi.
Mereka mengobrol sebentar saat pelayan menyajikan makanan.
3 Koin gratis
Wisnu berbicara dengan cara yang sopan.
Meskipun Erika telah mendengar banyak rumor yang mengatakan bahwa dia suka bermain-main dengan wanita, rasanya sulit mempercayai semua itu.
Setelah menyajikan makanan, pelayan menutup pintu dan memberikan privasi pada mereka di ruangan pribadi itu.
Erika mengambil peralatan makan. Meskipun mereka di sini untuk membicarakan tentang bisnis, dia tidak.sungkan untuk makan makanan yang ada di depannya.
"Tuan Dikara, sekali lagi terima kasih atas keramah tamahanmu."
Wisnu tersenyum karena dia tiba-tiba ingat bahwa selama ini tidak ada mitra bisnisnya yang berani makan sebelum dirinya. Faktanya, mereka terlalu gugup untuk makan sebelum Wisnu memulai. Namun, Erika berbeda. Dia dengan asyik makan terlebih dahulu, jadi diskusi bisnis mereka harus menunggu sampai makan malam selesai.
Wisnu mengambil alat makannya. "Apa kau benar-benar tidak mau minum malam ini?"
"Minum-minuman beralkohol akan mempengaruhi pekerjaan."
Pada malam pertamanya dengan Gardan, seseorang memasukkan obat pada minuman yang Erika terima.
Jika aku tidak membuat kesalahan itu, hidupku mungkin akan bahagia dan bukannya berantakan seperti sekarang.
Erika mulai merasa kenyang, dia melihat Wisnu yang makan dengan perlahan dan bertanya, "Tuan Dikara, karena kau mengajakku keluar malam ini, apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
Lebih tepatnya, dia ingin tahu apakah tujuan Wisnu bisa membantu Erika mencapai tujuannya juga.
Wisnu tersenyum. "Apa kau percaya jika aku bilang kalau aku hanya ingin makan malam denganmu?"
Erika mengerutkan alisnya. "Apa kau sesenggang itu?"
Sementara itu, Gardan dan Lanni juga duduk di ruangan pribadi mereka. Pelayan baru saja selesai menghidangkan makanan yang telah mereka pesan.
Namun, suasana di ruangan itu sangat tegang dan dingin. Begitu mengerikan hingga Lanni merasa dia hampir membeku.
Di sisi lain, Gardan duduk dengan ekspresi wajahnya yang cemberut. Dia bahkan tidak repot-repot memegang alat makannya.
Tatapan mata Lanni memancarkan kecurigaan
Apa Erika sengaja melakukan ini? Apa dia tahu kalau Gardan dan aku akan datang kemari untuk makan malam dan dia membawa Wisnu kemari untuk membuat Gardan marah?
Aku sudah berusaha keras untuk membujuk Gardan
Agar membawaku keluar makan malam. Tapi, justru sia-sia.
Aku tidak menyangka Erika bisa merencanakan hal licik seperti itu.
Lanni menenangkan entosinya dan menghela napas. "Gardi, jangan marah pada Erika. Ada banyak hal masih yang belum jelas karena kalian perang dingin dengan satu sama lain."
Ekspresi Gardan menjadi tegang. "Untuk apa aku perang dingin dengannya?"
Mata Lanni sedikit berbinar. Dia mengatakan dengan nada tak berdaya, "Hmm, meskipun kau tidak mengharapkannya, Erika mungkin menganggapnya begitu. Jika ini terus berlanjut, kalian bisa benar-benar bercerai walaupun kau tidak menginginkannya. Apa kau lihat betapa bahagianya Erika dan Wisnu barusan? Semua orang bilang Wisnu suka gonta ganti wanita dan berbakat dalam menarik hati wanita. Gardi, kau pasti merasa sedikit terancam."
Gardan menyipitkan matanya, dia merasa terlalu gelisah tentuk duduk terus-menerus. Dia berdiri dan berbalik. "Aku mau ke toilet."
Namun, saat dirinya sampai di toilet, Erika keluar dari sana. Matanya langsung berubah ganas.