"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."
Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.
Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.
Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35 : Keresahan yang Datang Kembali
Angin pantai terasa lebih dingin ketika matahari sudah berganti tugas dengan bulan. Cahaya dari api kecil masih menyala. Gelak tawa masih bergema, obrolan masih ada. Namun tidak bagi Selena, semuanya kembali terasa sunyi.
Bukan karena lingkungan disekitarnya saat ini yang berubah. Melainkan dirinya sendiri yang berubah.
Gawai yang sedari tadi digenggam nya terasa seperti lebih berat dari biasanya. Seolah-olah menyimpan sesuatu yang sejujurnya belum siap ia hadapi.
"Selena, pinjam alat capitnya. Aku nggak mau sosis nya gosong," tegur Bhima sambil mengambil capitan yang digenggam Selena.
"Hah? Oh— iya ya. Maaf-maaf." Selena tersentak kecil mendengar teguran Bhima.
Bhima langsung membalikkan sosis itu dan ia merasa tidak enak dengan teman-teman nya yang lain.
"Ada apa lagi yang kamu sembunyikan, Selena? Sejak kamu baca pesan itu, senyum mu memudar lagi." Gerutu Bhima sambil terus membalikkan sosis-sosis tadi.
"Selena, ada apa?" Tanya Bhima pelan.
"Nggak kok. Gue oke. Capek aja sama dingin tadi kena air."
Bhima langsung mengenakan selimutnya ke Selena. Melihat peristiwa itu, ketiga kawan mereka membeku dan sedikit terkejut.
Namun, mereka hanya diam dan berpura-pura mengalihkan pandangan mereka untuk tidak melihat apa yang terjadi.
******
Tak lama setelah bernyanyi, menyantap aneka sosis dan jagung bakar. Dion berdiri sambil menepuk-nepuk celananya. "Oke keknya kita harus balik deh sebelum masuk angin dan bangun-bangun jadi zombie." Ajak Dion pada seluruh teman-teman nya.
"Kuy. Udah dingin banget nih, serasa dinginnya sampai nembus tulang belakang," sahut Bagas.
"Apaan sih lebay banget lu, Gas." Rani terkekeh sambil mencibir Bagas.
Mereka semua pun akhirnya berkemas-kemas. Tikar dilipat dan semua sampah makanan dikumpulkan. Selena mencoba membantu sebisanya, meskipun pikirannya melanglang buana entah kemana. Saat semuanya sudah bersih, mereka segera bergegas menuju mobil. Selena berjalan sedikit lebih lambat dari teman-temannya.
Bhima yang menyadari pun langsung menunggu Selena.
"Ada apa? Sejak bakar-bakar tadi, muka mu murung. Ada yang salah kah?" Tanya Bhima sekali lagi.
"Nggak ada Bhim. Aman. Yuk ah, ditungguin temen-temen tuh di mobil. Jangan bikin mereka khawatir."
"Selena. Kalau mau tidur nanti tidur aja nggak papa," teriak Bhima yang masih tertinggal di belakang.
Tak ada jawaban. Namun entah mengapa mendengar hal itu ada yang hangat di hatinya Selena. Ia pun mengulas senyum sembari berjalan cepat menyusul Rani, Bagas dan Dion yang sudah di mobil.
******
Perjalanan pulang mereka jauh lebih sunyi dibandingkan dengan waktu berangkat mereka. Meskipun musik masih diputar perlahan, tetapi Rani sudah pulas dengan kepala bersandar di jendela mobil. Dion masih fokus menyetir sedangkan Bagas masih sibuk memperhatikan jalan menemani Dion.
Selena tetap duduk di samping Bhima. Kali ini ia berada ditengah-tengah, bukan di dekat jendela lagi. Lampu-lampu di sepanjang jalan yang mereka lewati sudah memancarkan cahaya yang menghangatkan dan menciptakan bayangan panjang di mobil.
"Len," panggil Bhima pelan, namun nyaris berbisik.
"Ya, kenapa?"
"Kamu beneran okei?" Tanya Bhima sekali lagi.
Tak ada jawaban dari Selena. Lalu beberapa detik kemudian Selena menjawab. "Kalau misal gue bilang nggak papa, lu percaya?" Tanya Selena balik.
Gantian, Bhima yang terdiam tak menjawab pertanyaan Selena. Beberapa detik kemudian, Bhima merespon. "Aku percaya sama kamu. Tapi, aku juga percaya sama instingku sendiri." Jawabnya.
"Hemthh, sebenarnya ada yang buat gue nggak nyaman akhir-akhir ini," ucap Selena.
"Oke. Selena. Kalau kamu belum mau cerita, nggak papa. Simpan saja dulu dan ceritakan waktu kamu sudah siap aja ya," respon Bhima tanpa menghakimi.
Selena menghembuskan napas pelan. "Takutnya kalau aku bercerita, nanti semuanya malah kejadian."
"Tapi, terkadang yang membuat sesuatu terasa nyata itu malah bukan ceritanya, melainkan rasa takut yang terpendam terlalu lama." Jelas Bhima pelan-pelan pada Selena.
Selena terdiam mendengar jawaban Bhima. Ia kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Rani yang sudah tertidur pulas itu.
******
Setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan. Akhirnya mobil Bhima pun berhenti tepat di depan kost Selena.
"Udah nyampe para warga," kata Dion.
Mendengar informasi itu, Rani yang sedari tadi menjelma sebagai putri tidur terkejut. Ia perlahan membuka matanya. "Ha? Cepet banget udah nyampe." Katanya kebingungan.
"Iya, putri tidur. Jelas lu nggak kerasa lah. Wong lu dari tadi tidur mulu," ledek Selena.
Setelah dirasa semua barang Selena dan Rani turun, keduanya langsung say good bye dengan ketiga pria tersebut. Bhima berdiri beberapa langkah dari Selena.
"Thankyou buat hari ini ya, Bhima." Ujar Selena.
"Iya. Sama-sama. Kalau lagi pengen kemana, kamu bisa cari aku ya Selena. Ingat. Kamu nggak sendirian karena ada aku yang selalu ada buat kamu,"terang Bhima.
Mendengar pernyataan Bhima, Selena terdiam. Tak lama kemudian, Selena mengulas senyum tipis, "Oke."
Bhima hanya tersenyum sumringah dan mengangguk dari kejauhan kemudian kembali ke mobil. Kembali ada rasanya aman—entah mengapa— rasa itu tertinggal di hati Selena.
******
"Heh pelan pelan we naiknya. Jangan sempoyongan gitu. Nanti kalau lu sempoyongan, gue juga ikutan jatuh," gerutu Selena pada Rani yang sempoyongan karena masih ngantuk.
Sepertinya mata Rani memang digelayuti setan. Matanya seolah-olah ingin menutup terus. Ia tidak menghiraukan Selena dan akhirnya sampailah keduanya di kamar Selena.
Dengan susah payah, Selena mencari kunci kamarnya di tas kecil. Sempat terselip membuat Selena frustasi karena ia harus menopang Rani dan tubuhnya sendiri pun rasanya hampir terhuyung.
Ceklek......
Akhirnya, bagian dalam kamar Selena terlihat. Ia berjalan perlahan ke kasur dan melemparkan tubuh Rani ke kasur.
"Ya Tuhan, bawa slender kah aku tadi. Berat banget rasanya badan Rani," keluhnya sambil buru-buru berjalan ke luar untuk mengambil sisa barang-barang yang diletakkan asal di depan pintu tadi.
Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal, ia segera mengunci pintunya.
"Len."
"Hemth. Apaan?"
"Gue happy banget. Hari ini lu balik lagi ke Selena yang gue kenal. Bukan Selena akhir-akhir ini," ungkapnya.
Selena terdiam sejenak. "Apa emang se berubah itukah gue sampai-sampai Rani pun bilang juga seperti itu?" Batinnya.
Selena perlahan berjalan ke meja kecilnya dan menyalakan lampu tidur.
"Masa si gue berubah. Emang segitu kelihatannya gue berubah?" Tanya Selena balik. Kemudian ia duduk di tepi ranjang dekat Rani berbaring.
"Beneran. Dan itu bikin gue lega banget."
"Eh tapi bentar dulu. Lu nggak sembunyiin sesuatu kan dari gue," tanya Rani tiba-tiba.
Selena terhenyak. "Kok tumben tanya kek gitu?"
"Nggak tau, mungkin insting gue yang berkata kek nya lu ada sesuatu yang disembunyikan dari gue," terang Rani tapi masih dengan mata tertutup.
"Nggak kok. Santai aja. Nanti gue kasih tau lu. Tapi bukan sekarang."
Rani mengangguk, "Siap. Lu harus ingat ada gue yang selalu ada buat lu ya. Lu nggak sendiri," tegas Rani. Kemudian ia memalingkan tubuhnya ke arah tembok dan tertidur.
******
Malam semakin larut. Rani sudah tertidur sedangkan Selena entah mengapa masih terjaga. Karena belum ngantuk, ia kemudian menyalakan gawainya. Tidak ada pesan baru yang ia terima. Karena tidak ada pesan baru, ia pun berniat untuk tidur.
Namun, baru saja ia meletakkan gawainya, tiba-tiba ada notifikasi berbunyi.
"Tenang saja, Selena. Aku tidak berniat merusak kebahagiaan mu hari ini."
"Aku hanya ingin kau tau. Bahwa aku selalu berada di sisimu. Meskipun saat kamu merasa aman sekalipun."
Napas Selena berhenti sejenak. Tangannya gemetar, namun kali ini gemetarnya cukup parah. Ia langsung membenarkan posisi duduknya dan menoleh ke arah Rani singkat.
"Kurang dari satu kilometer dari posisimu."
Selena semakin ingin berteriak, namun tangannya reflek membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
Untuk pertama kalinya Selena sadar bahwa ketenangan yang ia rasakan hari ini mungkin akan menjelma menjadi kekacauan yang sangat rumit.
******