Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayangan Masa Lalu dan Serangan Mendadak
Lantai marmer di bawah tubuh Jiangzhu terasa seperti es, namun di dalam nadinya, api neraka sedang berpesta. Ia tergeletak dengan posisi meringkuk di samping ibunya. Lengan kirinya yang kini sepenuhnya hitam legam mengeluarkan uap ungu tipis yang berbau belerang. Racun hukuman langit yang ia hisap dari Dewi Ling'er berdenyut di dalam jantungnya, mencoba merobek sisa-sisa kesadarannya.
"Zhu-er..." Suara ibunya terdengar sayu, namun jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cahaya emas dari Buah Nirwana mulai merajut kembali nadi spiritual Ling'er yang hancur.
Jiangzhu mencoba menjawab, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah gumpalan darah hitam yang kental. Ia merasa tubuhnya seperti karung pasir yang telah dipukuli ribuan kali.
"Jangan bicara, Ibu. Tetaplah... bernapas," bisik Jiangzhu, suaranya parau hingga nyaris hilang.
BRAKK!
Atap reruntuhan bank itu meledak. Serpihan beton dan marmer berjatuhan, menciptakan kabut debu yang menyesakkan. Di tengah kepulan debu itu, sesosok pria mendarat dengan dentuman yang menggetarkan fondasi bangunan. Ia tidak mengenakan jubah sekte yang suci, melainkan zirah kulit binatang yang dipenuhi duri besi.
Jiangzhu menyipitkan mata, mencoba melihat menembus debu. Jantungnya mendadak berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena kebencian yang murni.
"Bau ini... aku tidak akan pernah melupakannya," gumam Jiangzhu.
Pria itu melangkah maju. Wajahnya kasar, dengan codet panjang yang membelah alis kirinya. Ia adalah Kapten Bragg, pemimpin tentara bayaran yang sepuluh tahun lalu disewa untuk membumihanguskan desa Jiangzhu.
"Oho, lihat apa yang kutemukan di lubang tikus ini," Bragg tertawa, suaranya berat dan kasar. Ia memutar sebuah gada berduri yang masih menyisakan noda darah segar. "Si bocah pembawa sial yang dulu merangkak di selokan desa. Sekarang kau sudah tumbuh besar, ya? Dan kau membawa 'Dewi' yang harganya bisa membuatku membeli satu kerajaan."
Yue segera berdiri di depan Jiangzhu dan Ling'er, kedua belatinya bersinar dengan aura perak yang tajam. "Langkahi mayatku dulu, anjing kampung!"
Bragg meludah ke samping. "Anggota Bayangan Senja? Kau memilih pihak yang salah, Manis. Sekte Cahaya Suci menjanjikan hadiah yang tidak bisa kau bayangkan untuk kepala mereka berdua."
Di belakang Bragg, belasan bayangan hitam bermunculan. Mereka bukan manusia, melainkan Ghouls mayat hidup yang dikendalikan oleh sihir hitam, sisa-sisa dari eksperimen gagal di Benua Barat.
Bocah, kau harus bangkit! Penatua Mo berteriak di dalam kepala Jiangzhu. Jika kau tetap berbaring, mereka akan membedahmu hidup-hidup! Gunakan sisa energi buah Nirwana yang tersangkut di tenggorokanmu!
Jiangzhu mengerang. Ia menancapkan kuku-kukunya ke lantai marmer, memaksa tubuhnya yang hancur untuk berdiri. Setiap inci ototnya menjerit protes. Darah hitam menetes dari luka-lukanya, membasahi lantai.
"Awan... bawa Ibu ke sudut terjauh," perintah Jiangzhu.
"Tapi Kakak..."
"PERGI!" bentak Jiangzhu.
Awan gemetar, namun ia segera menarik tangan Ling'er menuju kegelapan di balik pilar-pilar yang masih berdiri.
Jiangzhu mengambil pedang hitamnya yang kini berdenyut merah pekat. Ia menatap Bragg dengan tatapan predator yang sedang sekarat—tatapan yang jauh lebih berbahaya daripada saat ia sehat.
"Bragg... kau tahu berapa malam aku memimpikan cara untuk menguliti wajahmu?" tanya Jiangzhu, suaranya rendah dan penuh racun.
Bragg tertawa meremehkan. "Kau hanyalah sampah Inti Bumi yang sudah sekarat. Lihat dirimu, berdiri saja kau gemetar!"
Bragg menerjang maju, gadanya diayunkan dengan kekuatan yang bisa menghancurkan gajah. Jiangzhu tidak menghindar. Ia tidak punya tenaga untuk menghindar. Saat gada itu hampir menghantam kepalanya, Jiangzhu melepaskan seluruh racun hukuman langit yang baru saja ia serap ke dalam pedangnya.
BUMMM!
Tabrakan itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu di seluruh ruangan. Bragg terbelalak. Gadanya yang terbuat dari besi meteorik mulai retak dan menghitam saat bersentuhan dengan pedang Jiangzhu.
"Apa?! Kekuatan apa ini?!"
"Ini adalah rasa sakit ibuku!" raung Jiangzhu.
Ia memutar pedangnya, menggunakan momentum serangan Bragg untuk membalikkan keadaan. Dengan gerakan yang tidak terduga, Jiangzhu menendang dada Bragg, mengirim pria raksasa itu terbang menabrak pilar marmer hingga hancur.
Namun, Jiangzhu langsung jatuh berlutut kembali. Paru-parunya terasa seperti diisi oleh air keras.
"Bunuh dia! Sekarang!" teriak Bragg dari balik reruntuhan pilar.
Belasan Ghouls itu melompat secara bersamaan ke arah Jiangzhu. Yue mencoba membantu, namun ia tertahan oleh dua tentara bayaran lainnya yang muncul dari kegelapan.
Di saat kritis itu, Li'er yang ada di dalam ruang jiwa Jiangzhu mendadak membuka matanya. Ia tidak lagi tertawa. Ia menatap para Ghouls itu dengan kebencian mendalam makhluk-makhluk itu adalah penghinaan bagi kaum mayat hidup sejati.
Biar... aku... yang... membersihkan... sampah... ini...
Seketika, aura dingin yang tak terbatas meledak dari tubuh Jiangzhu. Lantai marmer membeku seketika. Para Ghouls yang sedang melayang di udara mendadak membeku menjadi patung es hitam sebelum akhirnya pecah berkeping-keping.
Jiangzhu berdiri perlahan, namun kali ini gerakannya sangat anggun, tidak seperti manusia. Matanya menjadi hitam pekat tanpa bagian putih. Li'er telah mengambil alih kendali sementara.
Ia berjalan menuju Bragg yang baru saja bangkit. Bragg menatap Jiangzhu dengan horor murni. Ia tidak lagi melihat seorang pemuda, ia melihat kematian yang berjalan.
"Tunggu... kita bisa bicara! Aku bisa memberitahumu siapa yang menyuruhku sepuluh tahun lalu!" Bragg merangkak mundur, wajahnya pucat pasi.
Jiangzhu atau lebih tepatnya Li'er tidak bicara. Ia hanya mengangkat pedang hitamnya.
"Satu nyawa untuk satu desa," bisik Jiangzhu dengan suara yang bergema seperti dari dasar kuburan.
SRETT!
Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk mata manusia, kepala Bragg terlepas dari bahunya. Darah menyemprot ke dinding marmer, menciptakan lukisan kematian yang mengerikan.
Jiangzhu tersungkur setelah serangan itu. Kesadarannya kembali, dan Li'er kembali tertidur. Ia menatap mayat Bragg tanpa emosi. Dendam lama telah terbalaskan, tapi ia tahu ini hanyalah permulaan.
Ia menoleh ke arah ibunya. Ling'er sudah berdiri, auranya mulai stabil meskipun masih lemah. Ia menatap putranya dengan campuran rasa bangga dan ngeri.
"Zhu-er... apa yang telah mereka lakukan padamu?" bisik Ling'er sedih.
Jiangzhu mencoba tersenyum, tapi ia terlalu lelah. Ia pingsan dalam pelukan ibunya, sementara di kejauhan, suara kepakan sayap Kelelawar Merah yang lebih besar mulai mendekat, ditarik oleh bau darah segar di Kota Tak Bertuan.
Jiangzhu mencengkeram dadanya, merasakan jantungnya berdegup tidak beraturan seperti burung yang terjebak dalam sangkar besi. Setiap tarikan napasnya membawa aroma amis darah Bragg yang kini bercampur dengan bau anyir belerang dari tubuhnya sendiri. Ia meludah, gumpalan darah hitam kental mendarat di atas potongan zirah Bragg yang hancur, mengeluarkan suara mendesis pelan saat asam energinya mengikis logam tersebut.
"Jangan hanya diam di sana dan menatapku seolah aku ini keajaiban alam, Yue," gerutu Jiangzhu, suaranya parau dan bergetar karena kelelahan saraf yang hebat. Ia mencoba berdiri, namun lututnya berderak keras suara tulang yang bergesekan tanpa pelumas memaksanya untuk kembali bertumpu pada pedang hitamnya. "Jika kau punya rencana untuk membawa kita keluar dari lubang kotoran ini sebelum rombongan kelelawar itu memakan sisa-sisa otak kita, sekaranglah saatnya untuk mengatakannya."
Yue menelan ludah, matanya beralih dari mayat Bragg yang tanpa kepala ke arah Jiangzhu yang kini tampak lebih menyeramkan daripada monster mana pun yang pernah ia temui. "Kau baru saja membiarkan mayat hidup mengambil alih kesadaranmu, Jiangzhu. Kau tahu risikonya. Jika Li'er memutuskan untuk tidak mengembalikan tubuhmu, kau akan menjadi hantu yang berjalan di siang hari."
"Aku sudah lama tidak merasa seperti manusia, Yue," balas Jiangzhu sinis, sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya yang membiru. "Jadi apa bedanya? Setidaknya hantu tidak merasa lapar atau kedinginan."
Ia menoleh ke arah ibunya. Dewi Ling'er kini mendekat, tangannya yang pucat gemetar saat mencoba menyentuh pipi Jiangzhu yang kotor oleh abu dan darah. Jiangzhu sedikit memiringkan kepalanya, menghindari sentuhan itu. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena ia takut sisa-sisa aura kematian dari Li'er akan membakar kulit ibunya yang baru saja pulih.
"Zhu-er, tatapanmu... kau melihat dunia dengan cara yang berbeda sekarang," bisik ibunya, suaranya penuh dengan duka yang mendalam.
"Aku melihat dunia sebagaimana adanya, Ibu," jawab Jiangzhu datar. "Tempat di mana yang kuat memangsa yang lemah, dan yang lemah harus menjadi monster hanya untuk sekadar bertahan hidup."
Di langit, pekikan Kelelawar Merah semakin nyaring, membelah kesunyian malam di Kota Tak Bertuan. Jiangzhu menyarungkan pedangnya dengan sentakan kasar. Ia tidak punya waktu untuk merasa sedih atau menyesal. Di Benua Barat ini, emosi adalah beban yang akan membunuhmu lebih cepat daripada pedang musuh. Dengan langkah yang goyah namun pasti, ia memimpin mereka menuju kegelapan hutan di luar kota, meninggalkan dendam lamanya yang kini sudah dingin bersimbah darah.