Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak iblis
CHAPTER 3
Berita tentang "Anak berusia 16 tahun membunuh orang tuanya sendiri" sudah menyebar luas — di televisi, ponsel, bahkan koran — tentang Shunsuke dengan kecepatan yang luar biasa.
Orang-orang mulai menyebut Shun dengan sebutan yang tidak diinginkannya: "Anak Iblis".
...(...Di sisi lain...)...
Di ruangan yang gelap, hanya cahaya dari televisi yang menyala. Sekelompok orang yang terlihat tidak biasa sedang menonton berita tentang "Anak Iblis" — ya, mereka sedang menonton tentang Shun.
"Hoo..." Suara yang berat terdengar. "Anak Iblis ya."
"Cukup menyeramkan juga," sahut suara seorang wanita.
Setiap anggota kelompok itu memakai baju dengan simbol yang sama: Bulan dan Mata.
Penjara bawah tanah
Sudah dua hari sejak Shun berada di penjara yang sunyi, terisi bau tanah dan besi. Seorang petugas mendekatinya untuk memberikan makanan.
"Tuh..." Ia melemparkan sepotong roti. "Makan yang lahap ya." Ia tertawa pelan.
Roti yang setengah berjamur itu terpaksa Shun makan karena tidak ada pilihan lain. Selalu saja roti yang diberikan padanya, membuat tubuhnya kurus dan kekurang gizi.
Seorang petugas lain datang, kali ini memanggil Shun untuk dibawa ke ruang interogasi.
Interogasi pun dimulai.
"Baiklah, Shunsuke ya?" tanya petugas interogasi.
"Panggil saja Shun," jawab Shun dengan nada datar.
Petugas mulai mengajukan pertanyaan, salah satunya: "Jadi... apa benar kau membunuh orang tua mu?"
Raut wajah Shun seketika berubah menjadi marah. "Tentu saja bukan! Tidak mungkin aku membunuh orang tuaku sendiri!!"
Petugas hanya terdiam, lalu berkata: "Tapi... katanya saat itu hanya kau sendiri di lokasi, dan bajumu berlumuran darah yang bukan darah mu." Tatapannya sangat mengintimidasi.
"Tapi ka—"
Petugas langsung memotong pembicaraan. "Baiklah, baiklah, terserah kau mau bilang apa..." Ia menatap mata Shun. "Soalnya... beberapa hari lagi kau akan dibawa ke pengadilan untuk diputuskan apakah kau bersalah atau tidak." Ia meninggalkan Shun.
"Hukuman mu juga akan diputuskan di sana!" teriaknya dari luar. "Jadi jangan khawatir ya."
Shun hanya bisa menatap tangannya yang gemetar. Ia kembali ke selnya, namun kali ini dipindahkan ke sel berdua.
Shun dan teman sel barunya saling menatap, sampai akhirnya orang itu berbicara.
"Hei bocah..." Suaranya berat.
Shun mengangguk. "Kenapa?"
"Nama mu?"
"Shunsuke," jawab Shun. "Kalau kamu?"
"Edo. Memangnya kenapa." Ia menyilangkan tangan.
Mereka berdua mengobrol, saling bertanya mengapa masuk penjara. Edo masuk karena menyiksa lima orang tidak bersalah sampai luka serius dan tiga kali merampok. Shun pun mengatakan bahwa ia difitnah membunuh orang tuanya.
"Begitu ya... jadi kau seorang pembunuh," kata Edo dengan santai.
"Difitnah," tegas Shun.
"Ehh... bukan membunuh beneran? Cuma difitnah?" Edo melongo.
"Kau ini mendengarkan atau tidak sih!"
"Kau tahu siapa pembunuh sebenarnya?" tanya Edo.
"Tidak tahu," jawab Shun datar. "Tapi aku melihat hal aneh yang menyelimuti tubuhnya."
"Hal aneh?" Edo bingung, lalu berpikir. "Ohhh!... Itu Ten."
Kata "Ten" sekali lagi terdengar oleh Shun, namun kali ini ia ragu apakah Ten benar-benar ada atau tidak. Saat berpikir serius, Shun tertidur karena kelelahan.
...(Mimpi?)...
Shun berada di tempat yang kosong. Tiba-tiba ia berpindah ke desanya, namun dunia seolah berwarna hitam dan merah. Ia melangkah dua kali, lalu berpindah lagi — kali ini berada di depan rumahnya.
Shun ragu untuk membuka pintu, namun saat tangannya hampir menyentuh gagang, pintu terbuka sendiri. Apa yang dilihatnya membuatnya terkejut: ayah dan ibunya yang berlumuran darah berdiri dihadapannya.
"Apa ini salah mu! Kenapa kau tidak ada dirumah saat itu!!" kata ayahnya.
"Ibunya berkata: "Kenapa hanya kau yang bertahan hidup?"
Shun berteriak. Ia berlutut dan bergumam dengan nada aneh: "Hahaha... benar juga, kenapa tidak aku saja yang mati." Seolah-olah ia sudah tidak waras.
Saat melihat ke depan, dunia seakan berputar. Perkataan ayah dan ibunya terus bergema di telinganya. Sampai akhirnya:
"Shun!... Shun!..."
Suara Edo muncul tiba-tiba, dan Shun terbangun. Itu hanya mimpi buruk yang sangat nyata — bahkan perkataan ayah dan ibunya masih terdengar.
"Kau kenapa?" tanya Edo dengan panik.
Shun mengatur napasnya. "Maaf... hanya mimpi buruk."
Tidak lama kemudian, petugas datang.
Hari demi hari.
Tatapan Shun berubah menjadi tatapan orang yang tanpa harapan. Edo masih tetap seperti biasa. Shun teringat perkataan petugas interogasi: ia akan dibawa ke pengadilan.
Shun tidak terlalu berharap akan proses pengadilan. Di benakannya hanya terngiang: "Kenapa aku jadi begini?" Matanya yang dulu selalu mencari cahaya, kini hanya melihat:
Kegelapan.
Kehampaan.
Kekesalan.
Tidak lama kemudian, pengadilan dimulai. Di ruang pengadilan tidak ada yang istimewa, namun ada satu orang yang menarik perhatian Shun — orang yang tidak asing, namun ia lupa kapan pernah bertemu dengannya.
Orang itu adalah Pemimpin Organisasi Justice sekaligus Hakim di pengadilan ini: Voda.
Selama pengadilan berlangsung, Shun mengatakan apa yang seharusnya ia katakan, hanya bisa menahan emosi yang meluap-luap. Akibatnya, ada sesuatu yang aneh berwarna hitam-merah yang muncul di tubuhnya.
Voda melihat itu dan langsung memberi keputusan: "Shunsuke akan dihukum mati besok."
Mati.
Kata yang selalu terngiang di benaknya. Shun tidak merasa takut sama sekali — ia berpikir bahwa ini pantas untuk pencundang seperti dirinya.
Namun ada hal yang tidak diketahui semua orang setelah pengadilan selesai: tubuh Shun yang mengeluarkan energi aneh hitam-merah itu telah terekam kamera dan dilihat banyak orang. Orang-orang mengartikannya sebagai "Energi Iblis yang meluap karena tidak sesuai keinginannya."
...(Di sisi lain)...
Tempat gelap. Di ruangan ada meja, kursi, dan tumpukan catatan yang tidak jelas isinya. Seorang pria duduk di sana sambil melihat berita terbaru.
"Bocah bernama Shunsuke ternyata memang benar iblis," bunyi berita.
"Hmmm... Ten ya... Tapi kali ini spesial," kata pria itu sambil tertawa kecil.
Cahaya televisi menyorot rambutnya yang putih dan matanya yang hitam — aura seorang pemimpin yang bijak terasa sangat kuat.
"Hitam-merah..." ia tersenyum. "Menarik...... Tidak, ini menarik sekali!"
Tok-tok.
Seorang wanita berambut merah yang diikat dengan jarum masuk. "Boss... kau kenapa? Sudah gila kah?"
"Tidak, aku hanya tertarik dengan sesuatu yang baru ini," jawabnya sambil tersenyum lagi, lalu menunjukkan video berita tentang Shun ke wanita itu. "Dia akan menjadi rekan yang sangat berguna, bukan?"
Wanita itu hanya tersenyum seolah mengerti perintah apa yang akan diberikan. Ia keluar dari ruangan, dan simbol di pakaian belakangnya terlihat jelas: Bulan dan Mata.