perjalanan seorang anak yatim menggapai cita cita nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan tak terduga
Hadi, menggenggam erat double stick-nya untuk satu serangan bunuh diri terakhir. ia boleh mati di sini tetapi ia harus membawa teman agar bersama sama ke neraka
Di sisi lain seorang anak buah Jarot melihat Hadi saat baru datang ke rumah sewaan itu, ia segera melapor pada Djarot
" Bang , rumah yang baru di sewa itu emang punya tv?" tanya kosim anak buah Jarot.
" perasaan gw ga punya, kenapa?" tanya Jarot
" Gw lihat Hadi yang tukang service ke sana bang" jawab Kosim
" Loe beneran!" tanya Jarot kaget, karena ia tahu yang menyewa itu preman preman Bambu kuning, ga mungkin mereka punya tv , karena rumah itu di sewa melalui dia yang kenal sama Mat Jago, dan hanya sebagai tempat mereka beristirahat saja
" Beneran bang, gw lihat sendiri" sahut Kosim
" Wah ga bener ini, ayo kita kesana" seru Jarot dan langsung menuju rumah yang di maksud
Saat sampai di sana Djarot sempat mendengar suara gaduh dari dalam rumah, ia menendang dengan sekuat tenaga dan bertepatan saat Hadi bersiap melakukan serangan nekat agar bisa membawa salah satu dari mereka menemaninya ke neraka,
" Braaaak"
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu depan.
Pintu papan yang tadi dikunci rapat itu hancur berantakan, jebol seolah dihantam oleh tenaga raksasa. Debu kayu beterbangan. Semua orang di dalam ruangan terhenti, menoleh ke arah sumber suara.
Di ambang pintu yang hancur, berdiri sesosok pria tinggi besar dengan jaket kulit hitam yang terbuka, memperlihatkan tato naga yang melingkar di lehernya. Di belakangnya, tampak sekitar sepuluh orang pria berwajah garang
Djarot. Sang penguasa kawasan lokalisasi Pemandangan, preman paling disegani yang wilayah kekuasaannya berbatasan langsung dengan tempat ini Berdiri paling depan
"Wah, wah... ada pesta apa ini di wilayah gue tanpa izin?" suara Djarot berat dan serak, namun penuh intimidasi.
Edi gemetar. Nyalinya ciut seketika. "Bang... Bang Djarot? Ini... ini urusan pribadi, Bang. Anak ini sudah kurang ajar sama saya."
Djarot melangkah masuk, mengabaikan Edi dan menatap langsung ke arah Hadi yang masih bersandar di dinding dengan kondisi terluka dan berdarah di tangannya terkepal Double stick yang siap di ayunkan. Djarot kemudian melihat Ferry yang terkapar. Matanya yang tajam beralih kembali ke Mat jago yang berdiri di sisi Edi
"loe bilang cuma mau nenangin pikiran nyari sewaan di sini?" Djarot meludah ke lantai. "Anak ini, Hadi, Teman gw, Dan yang paling penting, dia ada di bawah perlindungan gue selama dia kerja di daerah Panjang."
Mat Jago mencoba bicara, "Tapi Bang, kami..."
PLAK!
Satu tamparan keras dari tangan Djarot membuat Mat Jago terpelanting.
"Gue nggak nanya pendapat loe, Mat! Loe orang pasar, beraninya main keroyokan di wilayah orang. Mau jadi jagoan loe di sini?" Bentak Djarot
Anak buah Djarot segera merangsek masuk, mengepung Edi dan kawan-kawannya. Situasi berbalik 180 derajat. Kini Edi yang gemetar ketakutan di sudut ruangan.
"Hajar mereka," perintah Djarot singkat sambil menyulut rokoknya.
Hiaaat
Hiaaaat
plak
dugh
bugh
aaaaargh
aduh
Tanpa perlu dikomando dua kali, anak buah Djarot langsung menyerbu Edi, Oyot, Jabrik, dan sisanya. Itu bukan lagi pertarungan, melainkan pembantaian. Edi yang tadi sombong kini merengek minta ampun saat pukulan demi pukulan mendarat di wajahnya. Oyot dan Jabrik mencoba lari lewat jendela, namun sudah dihadang oleh anak buah Djarot di luar.
Djarot berjalan mendekati Hadi dan mengulurkan tangannya yang besar. Hadi menyambut tangan itu dan ditarik berdiri.
"Loe nggak apa-apa, Di?" tanya Djarot. Panggilannya sedikit melembut, meski wajahnya tetap sangar.
"Makasih, Bang Djarot. Kalau Abang nggak datang, mungkin saya sudah lewat," sahut Hadi sambil meringis menahan sakit di punggungnya.
"Loe punya nyali, gue suka itu. Tapi lain kali jangan tolol. Kalau ngerasa ada yang nggak beres, panggil gw." ucap Djarot ia kemudian membantu Hadi memapah Ferry keluar dari rumah itu. Di luar, suasana Gang Rajawali sudah dipenuhi orang-orang Djarot. Edi dan kawan-kawannya dilempar keluar dalam kondisi babak belur dan diikat menggunakan tali jemuran.
"Mau diapain mereka, Bang?" tanya salah satu anak buah Djarot.
Djarot tak langsung menjawab ia menatap Hadi
" Mau di apain mereka?" tanya Jarot pada Hadi
" Yang lain gw ga kenal bang, tapi masalah gw sama dia" ucap hadi menunjuk Edi yang sudah babak belur.
Hadi mendekati Edi yang semakin gemetaran, ia tak menyangka Hadi di hargai oleh Preman kawasan itu
" Wuut"
" Plaak"
" Kraaaak"
" Aaaaargh"
Edi menjerit kesakitan saat double stick Hadi menghantam dengkulnya, suara tulang retak terdengar mengerikan sudah di pastikan Edi akan cacat karena tempurung dengkulnya remuk
" Ini peringatan, jangan di kira gw takut karena loe kaya, lain kali batok kepala loe yang pecah kalau masih nyari gara gara sama gw!" bentak Hadi
Edi mengangguk sambil memegangi kakinya yang terasa sakit
" yang lainnya terserah abang, tapi kalau masih nyari gara gara sama gw, gw ga ragu habisi kalian!" seru Hadi sambil menunjuk ke Mat Jago
"Bawa ke Pemandangan. Suruh mereka bersihin toilet umum di sana selama sebulan tanpa dibayar. Kalau mereka kabur, patahin kakinya," jawab Djarot dingin.
Edi menatap Hadi dengan mata bengkak, penuh penyesalan dan ketakutan. Ia tidak pernah menyangka bahwa Hadi, seorang tukang servis TV yatim piatu, memiliki hubungan dengan orang sekelas Djarot.
Djarot menatap Hadi sekali lagi. "Loe pulanglah. Obati luka loe. Besok besok kalau ada kejadian kaya gini kasih tahu gw" seru Djarot
Hadi tersenyum tipis. "Siap, Bang. Sekali lagi makasih banyak."
Hadi menyalakan motornya. Ferry, meski masih meringis kesakitan, duduk di belakang dengan lemas. Mereka meninggalkan Gang Rajawali saat kegelapan malam benar-benar menyelimuti Panjang.
Dalam perjalanan pulang, Hadi merasakan hembusan angin malam yang mendinginkan luka-lukanya. Ia belajar satu hal berharga malam itu: di tempat sekeras Lampung, keahlian bela diri memang penting, namun kejujuran dan hubungan baik dengan sesama bisa menjadi pelindung yang jauh lebih kuat dari senjata apa pun.
Sesampainya di rumah Kak Mu'i, suasana sudah tegang. Kak Mu'i yang sedang menunggu di depan bengkel langsung berdiri saat melihat kondisi Hadi dan Ferry yang penuh darah dan debu.
"Ya Allah! Kalian kenapa?" teriak Kak Mu'i panik.
"Nanti Hadi ceritain, Kak. Yang penting sekarang Ferry harus diobati dulu," sahut Hadi lemah.
Kak mui dengan cepat membawa Hadi dan Ferry ke Klinik Kosasih yang berada di dekat lapangan
Malam itu, di bawah temaram lampu teras bengkel, Hadi merenungi kejadian tersebut. Ia tahu dendam Edi mungkin belum sepenuhnya padam, tapi ia juga tahu bahwa kini ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki sahabat seperti Ferry yang setia sampai titik darah penghabisan, dan ia memiliki rasa hormat dari orang-orang seperti Djarot.
Hadi mengambil double stick-nya, mengelap sisa darah yang menempel di kayunya dengan kain bersih. Ia menatap bintang-bintang di langit Panjang. Besok, ia akan kembali bekerja. walau ia hanya yatim piatu Namun di dalam dirinya, mentalitas baja telah terbentuk—seorang pemuda yang tidak akan pernah tunduk pada intimidasi, selama ia berpijak di jalan yang benar.
Hadi teringat pesan ibunya sebelum meninggal, bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali. Malam ini, kebaikan itu datang dalam bentuk seorang preman bernama Djarot. Dan Hadi berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjaga kepercayaan itu dengan terus menjadi orang baik, sekeras apa pun dunia mencoba mengubahnya.
"Loe hebat malam ini, Di," gumam Ferry yang sudah dibalut perban di kepalanya, sambil bersandar di tiang bengkel.
"Loe lebih hebat, Fer. Loe nggak lari," balas Hadi.
Keduanya tertawa kecil, meskipun tawa itu membuat luka di wajah mereka terasa perih. Di tengah kesunyian malam di Panjang, mereka berdua tahu bahwa persahabatan mereka kini telah teruji oleh api, dan mereka keluar sebagai pemenang.
Dunia mungkin kejam, tapi selama masih ada keberanian dan kesetiakawanan, harapan akan selalu ada.