Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong Aku
“Serius, Sep. Lo bisa dengar Eris ngomong?”
“Eh iya ya. Urang bisa denger karena disentil, beneran?”
“Iya.”
“Dengar Asep, Nino.. kalian ini adalah orang-orang terpilih. Kemampuan yang kalian miliki bukan untuk menakut-nakuti kalian. Tapi karena ada tugas yang harus kalian emban. Mau tidak mau, siap tidak siap, kalian harus siap.”
“Tugas apaan?” tanya Nino bingung.
“Nanti juga kalian tahu sendiri. Aku sengaja buat Asep bisa berkomunikasi dengan sebangsa ku, agar memudahkan tugas kalian. Ingat, kalian harus berani. Jangan kalah dengan ketakutan atau penampakan makhluk yang menyeramkan. Kalau kalian berani, mereka tidak akan macam-macam dengan kalian.”
Seakan terhipnotis dengan kata-kata Eris, kedua pemuda itu menganggukkan kepalanya. Walau dalam kepala mereka tidak tahu tugas apa yang dimaksud Eris. Asep yang sedari tadi terpesona dengan kecantikan Eris, sekarang nampak lebih serius.
“Tapi lo masih bantuin kita kan?”
“Iya, tenang aja. Tapi tetap aja, Kalian yang akan lebih berperan di sini. Lebih baik kalian istirahat, besok akan menjadi hari yang berat untuk kalian. Dan Nino, selain berkomunikasi dengan makhluk astral, kamu juga punya kemampuan lain.”
“Kemampuan apalagi? Please deh jangan yang aneh-aneh.”
“Nanti juga kamu tahu.”
“Bujug bener-bener dah, lo tuh kalau ngasih info kaga niat, dicicil kaya kang kredit panci,” sewot Nino.
“Kalian ini ibarat Batman and Robin. Nino Batman-nya, Asep yang jadi Robin. Jadi kalian harus kompak dan saling membantu, ok? Fighting.”
Eris mengepalkan tangannya kemudian menghilang dari kamar. Tinggalah Nino dan Asep yang masih terbengong. Keduanya masih belum sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Eris.
“Kok perasaan gue ngga enak ya? Tugas apaan sih?” tanya Nino dengan ekspresi bingung.
“Tau. Udahlah ikutin aja apa maunya si geulis. Urang balik ka kamar, tunduh (Gue balik ke kamar, ngantuk).”
Tanpa menunggu jawaban Nino, Asep segera meninggalkan kamar Nino. Sepeninggal Asep, Nino membaringkan tubuhnya di kasur. Pikirannya masih memikirkan ucapan Eris barusan. Tugas apa yang harus dilakukan dan kemampuan apalagi yang dimilki olehnya, terus berputar di kepalanya.
***
Seperti biasa, keesokan harinya Nino dan Asep berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Kuliah di semester lima ini cukup padat. Dikarenakan IPK keduanya berada di atas 3, maka mereka bisa mengambil mata kuliah tambahan di semester 7. Total mereka mengambil 24 SKS untuk semester ini. Tidak sedikit tugas yang harus mereka selesaikan.
Ketika sedang mengikuti perkuliahan, seperti yang dikatakan Eris, hantu wanita yang sering mengganggunya saat kuliah kembali muncul. Kali ini dia berjongkok di samping Nino, memperhatikan pria itu yang tengah serius menyimak jalannya perkuliahan.
“Astaghfirullah,” ucap Nino pelan. Kemunculan sang hantu yang tiba-tiba tentu saja membuat pemuda itu terkejut.
“Bantu aku,” ujar hantu wanita itu.
“Lo ngga lihat gue lagi kuliah? Diem!”
“Bantu aku atau aku akan terus ganggu kamu,” sang hantu malah mengancam balik.
“Iye gue bantuin, tapi gue mau kuliah dulu. Sono pergi!”
“Awas, tepati janji mu.”
Sang hantu langsung menghilang. Nino mengusap dadanya yang berdebar tak karuan karena kedatangan sang hantu. Selain muncul tiba-tiba, penampakan hantu itu juga sangat menyeramkan dan berlumuran darah.
Empat puluh menit kemudian, perkuliahan berakhir. Begitu sang dosen meninggalkan kelas, semua peserta perkuliahan mulai meninggalkan kelas juga, kecuali Nino dan Asep. Nino memang sengaja menahan Asep agar tetap berada di kelas.
“Aya naon?”
“Tadi hantu yang gangguin gue nongol lagi. Dia bilang minta dibantu.”
“Bantu naon?”
“Mana gue tahu.”
Di saat keduanya berbincang, tiba-tiba saja hantu wanita itu muncul di dekat Nino dan Asep. Saking terkejutnya, keduanya sontak berteriak sambil berpelukan.
“AAAAAA!!”
“Jangan berisik! Kamu udah janji, ayo tepati janji mu!” ujar hantu itu dengan suara keras dan mata melotot. Tentu saja itu membuat dua pemuda itu semakin ketakutan.
“AAAAAA!!!”
“Astaga, BERISIIIIIKKKK!!!”
Mendengar teriakan sang hantu, Nino dan Asep sontak terdiam. Keduanya masih duduk berdampingan dengan posisi masih saling memeluk. Ekpresi wajahnya tentu saja sangat ketakutan. Tapi mereka kemudian mengingat pesan Eris.
Perlahan keduanya bisa duduk dengan tenang. Walau masih berdekatan, setidaknya mereka sudah tidak berpelukan lagi.
“Bantu aku,” ujar hantu itu lagi.
“Kela, bisa teu wujudna diubah heula? Sieun urang ningali beungeut maneh (Bentar, bisa ngga wujudnya diubah dulu? Takut gue lihat muka elo).”
“Kamu ngomong apa? Aku ngga ngerti!”
“Maneh teu bisa ngomong Sunda? Lain orang Sunda sugan? (Kamu ngga bisa ngomong Sunda? Bukan orang Sunda jangan-jangan?).”
“Iya, makanya jangan pake bahasa Sunda.”
“Itu muka bisa diubah ngga? Serem urang lihatnya. Ngaca gih,” ulang Asep menggunakan bahasa Indonesia campur Sunda.
“Kalau lo masih kaya gini penampilannya, gue ngga mau bantu elo!” kali ini giliran Nino yang bicara.
Karena terus didesak, akhirnya hantu wanita itu mengabulkan permintaan kedua orang yang hendak dimintai tolong olehnya. Sekarang hantu wanita itu berpenampilan seperti wanita biasa, hanya kulitnya pucat, seperti Eris.
“Tah mun kieu mah rada mending,” celetuk Asep.
“Nama lo siapa?” tanya Nino.
“Maya.”
“Oke Maya, apa yang terjadi pada mu?” tanya Asep dengan nada seperti orang yang bertanya pada google.
“Aku mahasiswi di sini. Aku masuk angkatan 2021, harusnya aku sekarang sudah menyusun tugas akhir, tapi lima bulan lalu aku dibunuh.”
Nino dan Asep langsung berpadangan. Perasaan keduanya langsung tidak enak, jangan-jangan mereka diminta mencari orang yang membunuhnya.
“Kamu asalnya dari mana?” tanya Nino.
“Keluarga ku tinggal di Bekasi.”
“Bekasi kan masih masih Jawa Barat, masa ngga bisa ngomong Sunda,” ceplos Asep dan sukses mendapat pelototan Maya. Nino menyenggol lengan sahabatnya, dengan isyarat dia meminta Asep untuk diam.
“Beneran kamu kuliah di sini dulunya?”
“Iya, nama ku Maya Indira. Aku satu fakultas dengan kalian, hanya beda jurusan. Aku ambil jurusan Administrasi Niaga. Kamu bisa cek data kemahasiswaan ku di TU.”
“Iye gue percaya. Terus gimana lo bisa terbunuh? Yakin lo dibunuh?”
“Dari pada aku cerita, lebih baik kamu lihat sendiri apa yang terjadi pada ku. Tutup mata mu,” ujar Maya sambil melihat Nino.
Awalnya Nino hanya diam, tidak menuruti apa yang dikatakan Maya. Kali ini giliran Asep yang menyenggol lengan Nino, dengan isyarat pemuda itu meminta Nino mengikuti apa kata Maya. Nino pun menutup kedua matanya. Maya kemudian mengusap wajah Nino.
“Buka mata mu,” titah Maya.
Pelan-pelan Nino membuka matanya. Pemuda itu terkejut karena dirinya sekarang sudah bukan berada di dalam kelas, tapi berada di ruangan lain. Dilihat dari bentuk dan interior ruangan, seperti unit apartemen.
Pandangan Nino mengarah ke pintu ketika mendengar suara pintu terbuka. Dari luar muncul Maya.
“Mas..” panggil Maya.
Dari arah kamar, muncul seorang pria berusia empat puluh tahunan. Nino nampak terkejut karena dia mengenali pria itu. Dia adalah salah satu dosen di kampusnya mengajar.
Pria bernama Anton itu adalah salah satu dosen tetap di jurusan Administrasi Niaga. Wajah Anton terbilang tampan, pria itu juga banyak memiliki penggemar dari kalangan mahasiswi. Selain tampan, Anton juga terkenal ramah dan dekat dengan para mahasiswa atau mahasiswi.
“Kenapa terlambat?” tegur Anton.
“Maaf Mas, tadi aku bimbingan dulu. Mas tahu sendiri kalau Pak Rahmat suka lama kalau bimbingan.”
Maya mendaratkan bokongnya di sofa, diikuti oleh Anton. Pria itu langsung menarik Maya ke dalam pelukannya kemudian mencium bibirnya.
Nino menutup wajah dengan kedua tangannya, tidak menyangka bisa melihat adegan orang berciuman secara langsung. Kembali pemuda itu dibuat ketar-ketir ketika melihat pasangan itu tidak hanya berciuman, tapi sudah saling mencumbu.
“Mas.. ada yang mau ku bicarakan,” ujar Maya, sambil berusaha melepaskan diri dari cumbuan Anton.
“Apa?” nada suara Anton terdengar kesal karena kesenangannya terganggu.
“Aku hamil, Mas.”
Sontak Anton menghentikan cumbuannya mendengar ucapan Maya. Pria itu sedikit beringsut menjauh.
“Apa? Hamil? Bagaimana bisa? Bukankah sudah ku bilang kamu harus pakai alat kontrasepsi!” kesal Anton.
“Maaf, Mas waktu itu aku terlambat suntik KB. Dua hari lalu aku cek karena sudah seminggu terlambat datang bulan, dan hasilnya positif.”
Maya mengeluarkan testpack dari dalam tasnya, kemudian menunjukkan alat tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif. Seketika Anton langsung berdiri ketika melihat alat tersebut. Dia menyugar rambutnya kasar, wajahnya nampak kesal.
“Gugurkan kandungan mu!”
“Apa? Aku tidak mau!”
Maya seketika berdiri kemudian menyusul Anton.
“Aku ngga mau menggugurkan anak ini.”
“Kalau begitu urus anak itu sendiri dan jangan sebut nama ku sebagai ayah biologisnya.”
“Mana bisa begitu? Kamu harus bertanggung jawab, Mas. Aku menyerahkan keperawanan ku pada mu dan sekarang kamu membuang ku begitu saja?”
“Jangan mengharap apa-apa dari ku, hubungan kita selesai sampai di sini!”
“Kalau Mas meninggalkan ku begitu saja, aku akan menemui istri Mas. Aku akan mengatakan soal hubungan kita. Apa Mas lupa, aku banyak menyimpan foto kebersamaan kita? Bahkan ada rekaman video kita saat bercinta!”
“Kamu mengancam ku?”
“Itu karena kamu tidak mau bertanggung jawab!”
“Aku bilang gugurkan!”
“Tidak mau!”
Adu mulut langsung terjadi di antara keduanya. Karena Maya tidak mau menuruti keingiannya, Anton menjadi gelap mata. Dia menarik rambut Maya kemudian melemparkan tubuhnya ke lantai. Pria itu mendekat lalu menarik kepala Maya lalu membenturkan kepala wanita itu beberapa kali ke lantai.
“BERHENTIIIIIII!!” teriak Nino.
Pemuda itu langsung mendekati Anton, kemudian berusaha menarik pria itu. Namun tangan Nino hanya mengenai angin saja.
Setelah membenturkan kepala Maya beberapa kali, kini Anton menendang perut wanita itu. Dia terus menendang sampai Maya tidak bergerak lagi.
***
Serem🫣
Besok aku libur🤗
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/