NovelToon NovelToon
Cinta Seorang Gus

Cinta Seorang Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Di tengah gelapnya dunia malam, seorang Gus menemukan cahaya yang tak pernah ia duga dalam diri seorang pelacur termahal bernama Ayesha.

Arsha, lelaki saleh yang tak pernah bersentuhan dengan wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang hidup dari dosa dan luka. Ia rela mengorbankan ratusan juta demi menebus Ayesha dari dunia kelam itu. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menyelamatkannya.

Keputusannya memicu amarah orang tua dan mengguncang nama besar keluarga sang Kiyai ternama di kota itu. Seorang Gus yang ingin menikahi pelacur? Itu adalah aib yang tak termaafkan.

Namun cinta Arsha bukan cinta biasa. Cintanya yang untuk menuntun, merawat, dan membimbing. Cinta yang membuat Ayesha menemukan Tuhan kembali, dan dirinya sendiri.

Sebuah kisah tentang dua jiwa yang dipertemukan di tempat paling gelap, namun justru belajar menemukan cahaya yang tak pernah mereka bayangkan.

Gimana kisah kelanjutannya, kita simak kisah mereka di cerita Novel => Cinta Seorang Gus.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Mobil SUV hitam milik Arsha melaju membelah aspal tol Cipali. Tangannya mencengkeram kemudi, namun pikirannya sudah melompat jauh ke sebuah apartemen di bilangan Jakarta Selatan. Di kursi penumpang, kotak kayu cendana dari Abahnya diletakkan dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah jantung yang harus ia jaga agar tetap berdenyut.

Arsha tahu, perjalanannya kali ini bukan sekadar pulang, tapi menjemput sebuah janji yang ia semai di tanah yang gersang.

Sementara itu, di lantai 12 sebuah apartemen mewah, suasana terasa mencekam. Jefry, pria dengan setelan jas mahal namun bermata buaya, berdiri pongah di ruang tamu Ayesha. Di belakangnya, dua orang pria bertubuh tegap mengawasi pintu.

"Sudah cukup main-mainnya, Yesha," suara Jefry terdengar serak dan mengancam. "Kamu pikir dengan membaca buku-buku agama ini, sejarahmu terhapus? Kamu itu aset. Kontrakmu dengan manajemenku masih berjalan dua tahun lagi!"

Ayesha berdiri gemetar di sudut ruangan. Di tangannya, ia memeluk sebuah buku Terjemahan Al-Qur'an yang sudah banyak diberi pembatas kertas. Ia belum bersyahadat, ia masih seorang pencari, namun kedamaian yang ia temukan dalam lembaran itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya berani berkata 'tidak' pada Jefry.

"Aku akan membayar dendanya, Jef. Berikan aku waktu," suara Ayesha parau.

"Uang tidak bisa membeli popularitasmu yang hilang!" Jefry melangkah maju, merenggut buku di tangan Ayesha dan melemparnya ke lantai. "Lihat dirimu! Kamu itu bintang panggung, bukan calon penghuni surga. Jangan halu!"

Tepat saat Jefry hendak mencengkeram bahu Ayesha untuk menyeretnya keluar, suara bel apartemen berbunyi berkali-kali dengan nada yang mendesak.

"Buka pintunya!" perintah Jefry pada anak buahnya. "Siapa pun itu, usir!"

Pintu terbuka. Sosok pemuda dengan wajah kelelahan namun tatapan mata yang tajam berdiri di sana. Arsha. Kemeja putihnya sedikit kusut, tapi auranya membuat anak buah Jefry terdiam sesaat.

"Arsha!" Ayesha berteriak, air mata ketakutan itu akhirnya jatuh.

Jefry tertawa sinis melihat Arsha. "Oh, jadi ini pria yang membuatmu jadi pembangkang? Hei, Anak Muda, kamu salah alamat. Ini Jakarta, bukan masjid tempatmu bermain tasbih."

Arsha masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Ia tidak melihat ke arah Jefry. Matanya langsung tertuju pada Ayesha yang ketakutan, lalu beralih pada buku Al-Qur'an yang tergeletak di lantai. Dengan gerakan tenang namun penuh kehormatan, Arsha berlutut, mengambil buku itu, dan membersihkan debunya dengan ujung lengannya.

"Jefry," ucap Arsha pelan, tanpa menoleh. "Nama Anda ada dalam daftar laporan kepolisian yang sedang disiapkan oleh tim hukum saya atas dugaan pemerasan dan intimidasi. Jika Anda tidak keluar dari ruangan ini dalam hitungan ketiga, saya pastikan malam ini Anda tidak akan tidur di rumah Anda yang mewah itu."

Jefry mendengus, "Kamu? Kamu pikir aku takut dengan gertakan anak muda sepertimu?"

"Saya tidak meminta Anda takut pada saya," Arsha berdiri, menatap Jefry tepat di matanya. "Tapi Anda harus takut pada hukum yang tidak bisa Anda suap. Dan lebih dari itu... Anda sedang berhadapan dengan laki-laki yang sudah tidak punya rasa takut kehilangan apa pun, karena dia sudah meninggalkan segalanya demi wanita ini."

Keheningan yang mematikan terjadi. Jefry melihat kilat di mata Arsha, itu bukan mata orang yang sedang menggertak. Itu adalah mata seorang pejuang. Merasa posisinya terancam, Jefry meludah ke samping.

"Ayo pergi! Kita urus ini lewat jalur lain. Kita lihat, berapa lama orang suci ini bisa bertahan dengan 'wanita rusak' seperti kamu, Yesha!" Jefry melangkah keluar dengan geram, diikuti anak buahnya.

Pintu tertutup. Ayesha jatuh terduduk di atas karpet, tangisnya pecah sehebat-hebatnya. Bahunya terguncang. Arsha tidak mendekat untuk menyentuh, ia tetap menjaga jarak yang syar’i namun kehadirannya terasa seperti pelukan yang paling hangat.

"Aku takut, Arsha... Aku kotor, aku tidak layak belajar agama ini... Mereka benar, masa laluku akan terus mengejarku," isak Ayesha di sela tangisnya.

Arsha perlahan berlutut di hadapan Ayesha, meletakkan kotak kayu cendana itu di atas meja rendah di antara mereka.

"Yesha, dengarkan aku," suara Arsha begitu tenang, menghentikan isak tangis Ayesha. "Abahku menitipkan ini untukmu. Beliau tahu kamu belum muslim. Beliau tahu siapa kamu."

Arsha membuka kotak itu. Aroma harum kayu cendana menyeruak, membawa suasana teduh ke dalam apartemen yang tadi panas.

"Ini Mushaf milik kakekku. Beliau membawanya saat berjuang di medan perang. Dan tasbih ini milik Ummi. Abah memberikan ini padamu bukan karena kamu sudah suci, tapi karena kamu sedang berjuang untuk menjadi suci. Beliau merestui masa depanmu, Yesha."

Ayesha terpaku. Tangannya yang gemetar menyentuh tasbih putih itu. "Tapi... aku bahkan belum masuk agamamu, Arsha. Apa aku pantas menerima ini dari seorang Kiai besar?"

Arsha tersenyum, sebuah senyum yang menghapus seluruh kelelahan 10 jam perjalanannya.

"Islam bukan untuk mereka yang sudah sempurna, Yesha. Islam adalah rumah bagi mereka yang ingin pulang. Dan Abah, Ummi, serta aku... kami ingin menjadi pintu untukmu pulang. Di dalam amplop itu, ada sertifikat tanah kecil di pinggiran kota. Itu tempatmu memulai hidup baru. Bukan sebagai aset manajemen, bukan sebagai bintang panggung, tapi sebagai manusia merdeka."

Ayesha menatap Arsha dengan mata yang basah oleh haru. "Kenapa kamu melakukan ini semua untukku?"

"Karena saat aku melihatmu belajar mengeja huruf-huruf Tuhan dengan air mata, aku sadar... aku tidak sedang menyelamatkanmu, Yesha. Justru Tuhan sedang menyelamatkanku melalui ketulusanmu."

Arsha berdiri, mengambil jarak selangkah lagi. "Istirahatlah. Besok, jika hatimu sudah mantap, aku akan mengantarmu ke masjid untuk mengucapkan kalimat yang akan menghapus seluruh beban di pundakmu itu. Aku akan menunggumu, berapa lama pun itu."

Di bawah lampu apartemen yang temaram, Ayesha memeluk tasbih putih itu di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar terlindungi. Bukan karena uang, bukan karena kecantikan, tapi karena cinta yang berlandaskan doa yang tulus dari sebuah keluarga di Jombang yang bahkan belum pernah ditemuinya.

...----------------...

Next Episode....

1
🌹Widianingsih,💐♥️
duhh .. Arsya..jangan jatuh cinta pada Ayesha, nanti akan mendatangkan masalah besar
🌹Widianingsih,💐♥️
benar-benar cobaan berat bagi seorang Gus , bagaimana nanti jika ada yang tau. ...pasti fitnah besar yang datang !
duh Gusti nu maha agung.... selamatkan keduanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!