Follow;
FB~Lina Zascia Amandia
IG~Deyulia2022
WA~ 089520229628
Seharusnya Syapala sangat bahagia di hari kelulusan Sarjananya hari itu. Namun, ia justru dikejutkan dengan kabar pertunangan sang kekasih dengan perempuan lain.
Hancur luluh hati Syapala. Disaat hatinya sedang hancur, seorang pria dewasa menawarkan cinta tanpa syarat. Apakah Syapala justru menerima cinta itu dengan alasan, ingin membalaskan dendam terhadap mantan kekasih?
Ikuti terus kisahnya dan mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Tiada Kebahagiaan Yang Lebih Indah Selain Didampingi Istri
Dalam keadaan bingung, beruntung rekan satu batalyon tiba-tiba menghubungi Arkala.
Arkala membalikkan badan, lalu meraih ponsel dalam saku jaketnya, lalu ia berbicara dengan rekan yang menghubunginya. Kala berharap obrolan dengan rekannya dalam telpon agak lama, minimal sampai Bu Zahira beranjak dari ruang tengah dan tidak mempertanyakan Syapala yang tidak ikut mendampinginya.
"Halo. Iya, aku masih di rumah. Sebentar lagi on the way."
"Ok. Tentu saja."
Arkala masih terlibat obrolan dengan rekannya, sampai ia menjauh dari ruang tengah. Bu Zahira akhirnya berlalu, ia menghampiri Pak Erkana yang masih berada di dalam kamar mandi.
Sementara itu, Syapala yang tadi masih di dalam kamar mandi ketika Arkala meninggalkan kamar, dia sudah tidak mendapati Arkala di dalam kamar itu.
Hatinya lega, ternyata Arkala tidak lagi meminta untuk mendampinginya menghadiri rapat koordinasi ke luar kota.
Setelah itu, Syapala keluar dari kamar dengan hati yang senang. Dia berjalan menyusuri pagar lantai dua untuk menuju tangga, dengan tangan kanan sengaja menyentuh bibir pagar, lalu diseretnya mengikuti langkah kakinya.
Namun, langkahnya terpaksa terhenti, ketika suara sang mama mertua terdengar nyaring sampai atas, sebelum dirinya tiba di tangga.
"Lho, Arka, di mana istrimu? Kenapa dia masih belum siap?"
"Kenapa kamu tinggal duluan, gimana kalau istrimu bawaannya berat?"
Arkala terlihat bingung, wajahnya pias seketika seperti akan kehilangan nyawa.
Bu Zahira ternyata menduga kalau Syapala akan ikut mendampingi Arkala dalam rapat koordinasi di luar kota untuk pertama kalinya ini.
Jantung Syapala berdebar kencang, dia bingung apa yang harus dia lakukan. Sama halnya dengan Arkala yang saat ini sedang bingung menjawab pertanyaan Bu Zahira tentang kehadiran dirinya.
Syapala masih mengamati gerak-gerik Arkala di bawah. Pada saat bingung begitu, tiba-tiba ponsel suaminya berdering. Arkala meraih ponselnya, lalu membalikkan badan dan menerima panggilan itu.
Dalam kebingungan, Syakala buru-buru menghindar dari pagar tangga, sebelum Bu Zahira melihatnya. Ia kembali ke kamar, entah apa yang akan dilakukannya.
Kembali ke lantai bawah. Setelah beberapa menit berlalu dan Arkala sengaja membuat lama obrolan dengan rekan batalyonnya, pria tampan berkharisma itu, terpaksa kembali menuju ruang tengah untuk menghampiri kedua orang tuanya, karena dia belum sempat berpamitan.
Arkala, lebih baik jujur pada kedua orang tuanya bahwa Syapala tidak bisa ikut karena kurang enak badan. Begitu yang sejak tadi ia pikirkan di sela obrolan yang dipaksa ngalor-ngidul bersama rekannya tadi.
Di ruang tengah, Pak Erkana sudah ada di sana sambil menikmati kopi lattenya yang harum semerbak memenuhi ruangan.
"Wah, wangi banget kopi lattenya, Pa." Arkala berbasa-basi, berharap sang papa tidak mempertanyakan Syapala sebelum dirinya mengungkapkan alasan yang akan dikarangnya.
"Tentu saja. Coba dulu deh, Ka, sebelum kamu dan istrimu berangkat k luar kota. Kopi latte ini kopi paling nikmat menurut papa," rayu Pak Erkana, karena selama ini Arkala tidak pernah mencoba minum kopi latte atau sejenisnya yang selain ada kafein, akan tetapi ada campuran susunya sehingga rasanya creamy.
"Tidak, Pa. Kala bukan tidak suka, tapi Kala kurang cocok kalau minum kopi itu. Lambung Kala suka langsung perih setelahnya," alasan Arkala, sambil sesekali melihat ke atas berharap di sana ada Syapala akan menyusulnya.
"Ya ampun, Dik. Betapa teganya dirimu harus membuat abang terpaksa berbohong kalau kamu kurang enak badan," batin Arkala masih berharap kalau Syapala tiba-tiba muncul dan ikut mendampinginya.
"Pa, menurut Papa, Kala bagusnya naik mobil sendiri atau ikut menaiki bis dalam rombongan?" Arkala meminta pendapat mengenai transformasi yang harus dia gunakan untuk keberangkatannya kali ini.
"Terserah kamu, sih, kalau menurut papa. Pakai bis juga bagus, ada kebersamaan dengan rekan-rekan batalyon. Atau mobil sendiri juga lebih bagus. Tergantung kebutuhan."
"Tergantung kebutuhan bagaimana maksud Papa?"
"Maksud Papamu, kalau naik mobil sendiri akan lebih privasi, terlebih kamu atau istrimu pasti membawa koper kecil untuk disimpan dengan leluasa di dalam mobil. Bukan begitu, Pa?" sela Bu Zahira yang diangguki Pak Erkana.
"Nah, itu maksud papa. Kalau menggunakan mobil sendiri, lebih santai dan privasi. Kalau istrimu kelelahan di jalan, dia bisa tiduran dengan nyaman dalam mobil, tanpa merasa terganggu dengan orang lain. Apalagi perjalanan ke kota Sadang bisa menempuh tiga jam lebih," urai Pak Erkana.
Arkala mengangguk setuju. Tapi, bukan itu sebenarnya yang jadi pikirannya saat ini.
"Iya, Pa. Tentu saja kalau mengingat akan privasi, lebih nyaman menggunakan mobil sendiri. Pihak kantor juga membolehkan anggotanya memilih kendaraan sendiri untuk digunakan. Tapi, masalahnya bukan itu...."
"Kalau bukan masalah transformasi, lantas masalah apa, Ka?" sambar Bu Zahira cepat.
"Masalahnya, anu Ma...."
"Abang, maaf harus menunggu lama."
Tiba-tiba suara orang yang diharapkan ikut mendampinginya dalam acara rapat koordinasi di kota Sadang, akhirnya terdengar juga. Tubuhnya muncul di balik tangga dengan menampilkan senyuman yang indah. Senyuman yang baru pertama kali Arkala jumpai.
Arkala, Bu Zahira dan Pak Erkana menatap ke arah Syapala. Syapala kaget campur senang bukan kepalang, tatkala melihat Syapala sudah berpenampilan yang rapi, cantik dan menawan, dengan tangan kanan mendorong koper kecil, persis akan berangkat juah seperti dirinya.
Arkala tidak percaya, dia terpana tidak percaya. "Benarkah ini? Apakah ini bukan mimpi? Syapala benar-benar ikut mendampingi aku?" batinnya tidak percaya.
Syapala menghampiri kedua mertuanya, lalu menyalami keduanya sebelum dia bersama Arkala benar-benar pergi.
"Hati-hati di jalan, ya, Nak. Kalian bisa sekalian liburan walau hanya satu hari di sana. Apalagi di sana pemandangan sawahnya sangat indah," ujar Bu Zahira sembari memegang bahu sang menantu.
"Kalian bisa sekalian bulan madu juga di sana. Pemandangan sawah yang indah sangat mendukung," sambung Pak Erkana membuat Syapala merona seketika mendapat kalimat godaan dari sang papa mertua.
Arkala tersadar, dengan wajah sumringah, ia meletakkan koper kecilnya lalu menghampiri Syapala yang baru saja selesai menyalami kedua orang tuanya lalu berbasa-basi sejenak.
Tatap mata Arkala kini tertuju pada Syapala, seperti berkata kalau ia begitu berterimakasih atas kesediaan Syapala mau mendampinginya.
"Tentu saja, Pa. Kami bisa sekalian bulan madu di sana," tukas Arkala membalas godaan sang papa. Ketiganya kompak tertawa. Sementara Syapala menundukan wajahnya, yang tiba-tiba merona merah karena merasa malu.
"Semoga saja kalian bisa cepat-cepat memberi kami cucu," lanjut Pak Erkana. Dengan cepat, Arkala mengaminkan harapan sang Papa.
"Aamiin."
Sontak Syapala menoleh dengan perasaan tidak menentu.
Karena waktu sebentar lagi menuju ke angka delapan pagi, Arkala akhirnya berpamitan dan segera keluar menuju mobilnya, mengiringi Syapala yang lebih duluan berjalan.
Hati Arkala gembira, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah, selain bisa didampingi sang istri dalam acara rapat koordinasi kali ini.
Mobil Arkala berbunyi, suara klakson terdengar satu kali pertanda mobilnya mulai pergi. Mobil Arkala pergi diantar tatap haru kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia dipenuhi berjuta harapan.
.
ud bng cari yg lain yg GK kyk pala yg keras kepala itu😓😓😓
ini yg bikin sakit thor
dan suatu saat pala mau memaafkan laga thooor
pangkat ,jabatan sekolah pekerjaan blum tentu mencermin kan semua juga baik
thooor meski laga ngeselin,penghianat,bodoh jangan sampe laga gugur disaat satgas papua thooor,kasih juga lah laga jodoh thoor biar dirasakan si dokter prita sakit hati