"Mengapa Istri orang ini begitu menggodaku, suaranya, tawanya, senyumnya, bodynya.. Astaga, kenapa otakku kotor begini? "~ Mario Abraham
"Jangan pernah mempertanyakan arti bahagia kepadaku, aku hanya mengenal pengorbanan dan kata luka, mungkin ini memang takdirku.. ini bukan kisah bahagia.. ini kisah sedihku.. dan juga pengabdianku.. jangan berharap ada senyuman, kisahku hanya airmata.. Ya aku Diana.. sepenggal kisah yang penuh airmata, entah kapan aku akan bahagia.. dan aku tidak mencarinya, aku tidak berharap banyak pada kehidupan ini.. Kedurhakaan kami menyisakan penderitaan yang berkepanjangan. ~ Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggumu Disini
"Diana.. Aku lihat seharian ini kau terlihat sangat cemas.. Apa semua baik - baik saja?" tanya Mario saat berada satu lift dengan Diana, ketika jam pulang kantor.
"Mas Gilang susah di hubungi, aku mengirim pesan dan aku menelponnya berulang kali tapi tidak di angkat, katanya hari ini mau ke rumah sakit, tapi kata Erika temanku, dia sudah meninggalkan rumah sakit dari tadi siang" kata Diana dengan wajah cemas.
"Apakah dia terbiasa seperti ini?" tanya Mario.
"Tidak Mario, dia tidak pernah seperti ini" jawab Diana dengan wajah kian pias.
"Aku tidak melihat mobilmu hari ini" kata Mario.
"Aku membawa mobil bila menjemput Mas Gilang terapi" kata Diana.
"Mario aku duluan, aku takut tidak dapat angkutan umum" kata Diana saat lift itu membawa mereka ke lantai dasar.
"Baiklah Di.. hati - hati dijalan" kata Mario dengan perasaan gusar.
"Terima kasih Mario" kata Diana berlarian keluar area gedung menuju halte.
Diana terus mondar mandir, angkutan umum tidak kunjung datang, sekali datang tapi penuh, itulah jam pulang kantor, taxi yang berlalu lalang pun terlihat berpenumpang. Diana semakin cemas, dengan ponsel yang tidak lepas dari telinganya mencoba menghubungi Gilang, namun nihil!
"Diii.. Belum dapat angkutan umum? Mau aku antar?! Biar cepat.. ini akan lama di jam pulang kantor, Di" Mario berteriak menundukkan kepala ke arah halte dengan membuka kaca jendela mobilnya.
"Tapi.. ehmm.."
"Ayolah Di.. cepatlah.. aku akan mengantarmu, aku janji tidak sampai depan rumahmu, hari mulai gelap sebentar lagi hujan" kata Mario lagi, Diana pun memutuskan untuk memasuki mobil Mario.
"Apa tidak merepotkan, Mario?" tanya Diana saat mobil melaju ke arah rumah Diana.
''Aku melihatmu cemas, itu merepotkanku, Diana.. kalau hanya mengantarmu itu biasa saja, toh tidak ada yang menungguku" kata Mario.
"Aku cemas dan itu merepotkanmu?" tanya Diana.
"Ehmm.. aku ikut cemas saja Di" kata Mario gugup.
"Kenapa ikut cemas?" tanya Diana.
"Ck.. bukankah kecemasan, tawa, sedih itu sebuah perasaan yang gampang menular?" kata Mario menutupi kegugupannya.
"Kau perhatian sekali Mario, apa kau begini ke semua karyawan mu?" tanya Diana menoleh ke arah Mario.
"Ehmm.. Iyaa tentu saja ke semua orang" jawab Mario mengarahkan pandangannya ke arah jalan menghindari pandangan Diana.
"Kau bisa membuat orang salah mengerti arti perhatianmu Mario, kekasihmu akan cemburu, kau harus menjaga perasaannya, bukan?" kata Diana.
"Untuk itulah aku akan mengantarmu tidak sampai depan pintu, kalau kau masih single aku akan memastikanmu sampai masuk kamarmu" kata Mario tergelak.
"Semua karyawan yang kau antar, sampai masuk kamar?! Mesum sekali kau ini" kata Diana mengernyitkan alisnya.
"Hahaha itu istilahnya Diana, aku akan dipersilahkan masuk, aku akan mengobrol dulu dan pasti kebanyakan mereka akan masuk kamar untuk berganti pakaian sementara aku akan mengobrol dengan keluarganya" kata Mario melirik ke arah Diana dengan menahan senyumnya.
"Kau seperti itu dengan semua karyawanmu? Kau seperti sedang apél malam mingguan saja, apa kekasih mu tidak cemburu?" tanya Diana.
"Hahahah.. aku hanya becanda, kau karyawanku yang pertama kali aku antar, maksudku tadi, bila kau single aku akan memastikanmu sampai kamar, memastikan kau selamat sampai tujuanmu, aku hanya perduli padamu karena kau terlihat cemas seharian ini" kata Mario meluruskan.
"Kalau karyawan mu yang lain memintamu mengantar, kau akan mengantar sampai tujuan yaitu kamar?" tanya Diana dengan gusar.
"Hahahaha.. tentu saja bila ada yang secantik dirimu" goda Mario.
Kenapa aku jadi menggoda istri orang begini? Mario.
"Benar - benar tidak bisa setia kau ini" kata Diana mengernyitkan alisnya.
"Bukankah aku single.. aku berhak memilih siapapun walaupun punya kekasih hahaha.." Mario kembali tergelak.
"Jangan sampai kekasihmu mencakarku kalau sampai tahu kau mengantarku" Diana mulai kesal.
Kenapa aku kesal sekali? Bukankah itu urusannya...bukan urusanku. Diana
"Dan aku tidak ingin suamimu tahu aku mengantarmu atau dia akan mencakarku" kata Mario tergelak.
"Dasar buaya" Diana melengos kesal.
"Di..aku bilang.. bila ada yang secantik dirimu" kata Mario mengulang pernyataannya.
"Yang lebih cantik dari ku banyak Mario" Kata Diana dengan suara merdunya dan menoleh ke arah Mario.
"Tidak Di.. saat aku bilang 'bila ada yang secantik dirimu' itu artinya tidak ada yang melebihi dirimu.. tidak ada yang lebih cantik dari dirimu" kata Mario membuat Diana tercekat.
Diana terdiam dan Mario terdiam, semua kata meluncur begitu saja dan semua kata terdengar indah di telinga Diana.
"Ehemm.. ehmm itu.. disana belok kiri" kata Diana dengan segala kegugupan dan debaran manis di hatinya.
Kenapa aku merinding begini.. Diana.
Ya Tuhan.. apa aku salah bicara? Mario.
"Di.. bila ada tetanggamu yang mau bekerja lepas sabtu minggu, katakan padaku.. aku perlu orang yang mengurus rumah dan bisa membantuku mengerjakan administrasi kantor, aku kewalahan, rumahku seperti kapal pecah" kata Mario melirik kearah Diana.
"Ehm.. mengurus rumah?" tanya Diana menoleh ke arah Mario.
"Iya, memasak, membersihkan rumah, mencuci bajuku setelah itu membantuku mengerjakan administrasi, aku akan membayarnya dua juta setengah per-minggu, dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam, aku biasa di rumah malas keluar kalau libur" kata Mario.
"Kenapa malas keluar?" Tanya Diana lagi.
"Entahlah, aku mungkin tipe family man, aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah kalau libur, kalau aku punya anak istri, aku akan gunakan waktu liburku bersama mereka" jawab Mario.
"Pasti menyenangkan.. Nanti aku akan mengabari mu, bila ada ya" kata Diana menoleh ke arah Mario dan matanya kemudian melihat rumahnya dari jarak jauh.
"Disana rumahku, kenapa gelap sekali" kata Diana lirih dengan seraut wajah kembali menegang penuh kecemasan.
"Masuk kesana? astaga gelap sekali" kata Mario tertegun melihat rumah kecil di tengah pekarangan.
"Ehmm tidak usah.. aku turun di pinggir jalan saja, aku akan berjalan kaki masuk ke dalam, kami biasanya begitu" kata Diana masih diliputi kecemasan.
"Apa kau yakin? Disana gelap apa kau yakin?" tanya Mario membuat Diana menggigit bibirnya.
"Baiklah belok lah kekanan.. disana ada lahan kosong untukmu berputar, aku tinggal berjalan setengah jalan.. maafkan aku merepotkanmu" kata Diana.
"Di.. aku bisa saja mengantarmu sampai rumah.. sudahlah.. aku tidak merasa direpotkan, aku senang bisa membantumu" kata Mario membelokkan mobilnya ke arah jalan berbatu, menuju rumah Diana.
"Ya Tuhan.. apa kau bisa cepat sedikit? Rumahku gelap gulita begitu.. apa yang terjadi" wajah Diana semakin pias melihat rumahnya yang tampah gelap gulita tak berpenghuni.
"Rumahmu satu satunya di tengah pekarangan itu?" tanya Mario dengan heran.
"Iya Mario, dibelakangnya itu rumah pemilik pekarangan ini dan pemilik rumah yang kami kontrak" jelas Diana.
"Apa perlu aku menunggumu untuk memastikanmu baik baik saja?" tanya Mario dengan cemas.
"Tidak usah Mario, aku akan baik baik saja" kata Diana bersiap turun walaupun mobil sampai di lahan kosong.
"Berikan nomer mu, bila kau butuh apa apa aku belum jauh, aku bisa putar balik atau aku akan menunggumu disini dulu, aku akan menunggu kabarmu.. kalau kau dan suamimu perlu bantuanku aku masih ada disini" kata Mario memberikan ponselnya dan Diana memasukkan nomernya ke ponsel Mario.
"Apa tidak apa - apa kau menungguku disini?" kata Diana lagi.
"Tidak apa apa aku laki laki Diana, cepatlah.. lihatlah suamimu, semoga tidak terjadi apa apa" kata Mario memarkir mobil dan mematikan lampu mobilnya lalu membuka kaca jendela mobilnya.
"Terima kasih banyak Mario" Diana pun keluar dari mobil Mario.
"Di.. Kabari aku,.. aku akan menunggu kabarmu" kata Mario, menjulurkan kepalanya dari dalam mobil dibalik kemudinya.
"Baiklah aku akan mengabarimu" kata Diana menoleh kearah Mario mengangguk pasti.
Mario terus menatap langkah kaki Diana sampai tubuh Diana hilang ditelan gelapnya malam. Mario menyalakan rokoknya, hatinya tidak tenang, dia keluar dari mobilnya, berjalan mondar mandir. Lampu di rumah Diana masih saja gelap, Mario melepas dasinya yang terasa mencekik lehernya dan membuka jasnya lalu melemparnya ke jok belakang mobilnya, ia juga membuka beberapa kancing kemejanya. Hatinya begitu resah.
Apa yang terjadi denganmu Diana? Apa aku harus menyusulmu.. ahh tidak tidak.. Bagaimana kalau suaminya muncul.. aku akan menyusahkan Diana. Bagaimana kalau suaminya kenapa- kenapa.. Apa Diana akan kuat membawa suaminya ? Atau bagaimana kalau mereka sedang bermesraan.. ahh Diana.. kau belum mengabariku.. Ooh Tuhan apa yang terjadi disana.
-
Bila kamu menyukai Novel ini, Jangan Lupa Dukungan Vote, Like, Komen, Koin, Poin dan Rate bintangku yaa Reader Tersayang.
Biar aku semangat nulis lagu disela - sela waktu jadwal kuliahku yang padat.
Terima kasih Reader tersayang 😘😘🥰🥰💕💐
-