NovelToon NovelToon
Tawanan Dua Mafia

Tawanan Dua Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Cintapertama / Tamat
Popularitas:75.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sisca Nasty

Helena harus berpisah dengan pria yang paling dicintainya selama satu tahun. Ingatannya yang hilang membuat Helena hidup sebagai seorang wanita singel bernama Celine.
Pertemuannya dengan seorang pria bernama Jason justru menjadi jalan untuk Helena kembali bertemu dengan masa lalunya. Kehidupan yang tidak lagi tenang dan penuh dengan ancaman.
Akankah Helena bisa bertahan saat begitu banyak pembunuh yang mengincar nyawanya? Siapa yang sudah mengirim pembunuh tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34 Kalung Warisan

Setibanya di rumah, Jason menahan tubuh Celine yang ingin turun dari mobil. "Tunggu sebentar." Pria itu cepat-cepat turun dari mobil dan berlari ke sisi sebelahnya.

Celine memandang Jason dengan bingung. Namun dia tetap patuh. Celine tetap duduk sampai akhirnya Jason muncul dan menggendongnya untuk masuk ke dalam rumah.

"Jason, aku bisa jalan sendiri."

"Aku akan menggendongmu sampai kamar. Anggap saja sekarang aku sedang latihan karena sebentar lagi akan menjadi suamimu." Jason melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

Di dalam sana berbaris para pelayan dan pengawal yang sejak tadi mengkhawatirkan keselamatan Celine. Ben juga ada di barisan itu. Setelah urusan perusahaan selesai dia segera pulang ke rumah. Memastikan kalau Celine sudah pulang dengan selamat.

Langkah Jason terhenti ketika ia sudah tiba di depan Pak Jim. "Siapkan makan malam di kamarku."

"Baik, Tuan." Pak Jim kembali menunduk hormat.

Jason kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam. Ben memandang ke arah Dea. Pelayan wanita itu hanya diam saja. Dia berdiri di samping mobil. Dea melamun. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Tanpa sengaja Dea memandang ke arah Ben yang sejak tadi memperhatikannya. Pelayan wanita itu merasa takut. Dia memutuskan untuk segera pergi dari sana.

"Tunggu!" Ben segera mengajar Dea. Dea sendiri juga segera berhenti. Dea menunduk takut.

"Ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kalian bisa kabur dari para penculik itu? Apa kau tahu seperti apa ciri-ciri mereka?" Ben mendesak Dea agar segera menceritakan apa yang terjadi.

"Mereka semua menggunakan topeng, Tuan. Mereka membawa senjata api. Nona Celine menendang dan memukul mereka. Saat diantara mereka ada yang ingin menembak ke arah Nona Celine, salah satu diantara mereka memarahinya. Sepertinya mereka tidak mau Nona Celine celaka. Nona Celine memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil senjata api yang tergeletak di bawah. Lalu balik mengancam mereka. Kami segera kabur saat mereka mundur."

Penjelasan yang diucapkan Dea sudah cukup bagi Ben. Pria itu menggangguk. "Pergilah. Sekarang kau boleh istirahat."

"Baik, Tuan. Terima kasih." Dea segera pergi meninggalkan Ben. Sedangkan Ben Masih berdiri di depan. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak jika belum berhasil mengetahui dalang dari penculikan yang dialami oleh Celine hari ini.

"Temui aku di tempat biasa. Kita harus menyelidiki seseorang."

***

Di dalam kamar, Jason meletakkan Celine dengan hati-hati. Wanita itu duduk di sofa. Setelah meletakkan Celine, Jason berdiri dihadapannya.

"Sayang, ada yang ingin aku berikan padamu," ucap Jason dengan senyuman.

"Apa?" Celine jadi penasaran.

Jason berjalan ke lemari. Pria itu mengambil kotak perhiasan yang pernah diberikan oleh Nyonya Lyn. Jason membuka kotak itu dan memeriksa isinya sambil tersenyum. Dia kembali ingat dengan apa yang pernah dikatakan oleh ibu kandungnya.

"Ma, hari ini Jason akan memberikan kalung pilihan mama kepada Celine. Mama benar. Suatu hari nanti Jason akan tergila-gila pada Celine. Sekarang Jason benar-benar cinta mati padanya, Ma."

"Jason, apa yang kau lakukan di sana?" tanya Celine bingung. Calon suaminya itu berdiri lama sekali di depan lemari.

Jason tersadar dari lamunannya. Dia segera membawa kalung itu untuk diberikan kepada Celine. Jason duduk di dekat Celine.

"Sayang, aku ingin memberikan kalung ini kepadamu. Malam sebelum mama terbunuh, mama sempat menitipkan kalung ini kepadaku. Mama mau kau menggunakannya saat pernikahan kita nanti. Pernikahan kita tinggal hitungan hari. Kemarilah. Biar aku pakaikan." Jason memamerkan kalung itu di depan Celine.

Celine hanya diam saja. Dia mengangkat rambutnya dan membelakangi Jason. Pria itu segera memasang kalungnya. Jason menunduk melihat pundak Celine. Pria itu tersenyum setelahnya. Dia berusaha menekan hasrat yang terkadang bangkit dengan sendirinya saat berdekatan dengan Celine. Pria itu berusaha sabar. Sebentar lagi Celine akan menjadi istrinya.

"Apa sudah?" tanya Celine pelan.

"Sudah."

Celine melepas rambutnya. Wanita itu tersenyum dan memandang ke arah Jason. "Kenapa kau memandangku seperti itu?"

"Kau cantik sekali, Celine." Jason mengusap pipi Celine.

Celine menyipitkan kedua matanya. "Aku bahkan belum mandi."

Celine meraba kalung itu. Dia penasaran ingin melihatnya di cermin. Saat ingin beranjak, tiba-tiba Jason memegang Celine dan menahannya. Wanita itu kembali duduk setelahnya. Dia memandang Jason yang kini menatapnya dengan penuh cinta.

"Berjanjilah padaku Celine. Jangan pernah tinggalkan aku. Apapun yang terjadi."

"Aku ...." Celine menahan kalimatnya. Membuat Jason mendekati wanita itu. Wajah mereka menjadi sangat dekat. Saling memandang satu sama lain. "Ada yang ingin aku katakan, Jason."

Wajah Celine yang berubah serius membuat Jason mengernyitkan dahinya. Dia tidak mau menundahnya lagi. Celine ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi. Dia sudah tidak perawan. Dia pernah keguguran. Dia amnesia. Celine tidak mau di malam pernikahan mereka justru semua ini akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

"Sayang, apa yang ingin kau katakan?"

Suara ketukan pintu membuat Celine memejamkan mata. Selalu saja ada yang menghalanginya. Celine seperti tidak pernah diberi kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.

"Masuk." Jason memberi perintah. Dia tahu yang datang adalah pelayan yang membawa makan malam mereka.

"Jason, setelah makan aku akan kembali ke kamarku. Aku ingin tidur di sana," pinta Celine pelan.

Jason memandang Celine dan mengangguk. Dia tidak mungkin memaksa Celine untuk tidur di kamar ini lagi jika Celine merasa keberatan. Pria itu memegang tangan Celine dan mengusapnya lembut. "Tadi apa yang ingin kau katakan, Sayang?"

"Aku sudah lupa." Celine menundukkan kepalanya.

"Hei, jangan sedih." Jason menarik dagu Celine agar memandang wajahnya. "Pandang aku ketika bicara. Jangan sembunyikan wajah cantikmu, Celine."

Ponsel Jason berdering. Pria itu segera mengangkat panggilan telepon dari Ben. Satu tangannya menggenggam tangan Celine dan meletakkannya di atas pangkuan. "Ada apa?"

"Tuan, saya sudah selesai melakukan penyelidikan. Di mobil yang di bawa Nona Celine, saya menemukan pistol milik King Tiger."

"King Tiger?" Jason kaget mendengarnya. Bukankah King Tiger milik Aberzio Guineno? Untuk apa pria itu mengusik ketenangannya? Mereka tidak memiliki masalah sejauh ini.

"Hubungi mereka. Katakan aku ingin bertemu dengan mereka besok."

"Baik, Tuan."

Jason menurunkan ponselnya. Ekspresi wajah pria itu terlihat serius. Di dalam hati dia masih bertanya-tanya.

"Ada apa?" tanya Celine dengan lembut.

Jason memandang wajah Celine. Pria itu berusaha menyembunyikan beban dipikirannya. "Nggak ada. Ayo kita makan."

Celine mengangguk. Dia mengambil makan malamnya. Wanita itu kembali mengulang apa yang sempat dikatakan oleh Jason di dalam hati. "King Tiger? Nama apa itu? Kenapa kedengarannya sangat tidak asing. Apa itu merk dagang atau nama perusahaan?" gumam Celine di dalam hati.

1
Ratna Sumaroh
nah sudah tau kenyataannya siapa dalang dari semua ini. dan tak lain Clara,,,
pantesan Helena suka cemburu bila Aberzio bersama Clara...
strike gak bisa menyelidiki karna aksesnya tertutup...
Ratna Sumaroh
benarkah Aberzio pergi untuk selamanya????
sekelas Aberzio kalah,,, masih gak nyangka sih kok bisa kalah.
Ratna Sumaroh
strike kewaspadaan mu melemah sehingga banyak para pengkhianat di sekelilingmu
Ratna Sumaroh
curiga sih ke Clara cuma aku juga bingung 😕❓
Ratna Sumaroh
hemmm sedih 🥺🥺kenapa jadi begini... 😭
Ratna Sumaroh
kukira akan ada kebahagiaan ternyata masih mode terjebak dan tersakiti.... semoga Helena dan Cindy tidak terluka parah
Ratna Sumaroh
semoga berjalan lancar tiada halangan buat Helena dan Cindy untuk berromantisan
Ratna Sumaroh
Cindy atau Clara 🤔🤔🤔🤔
Ratna Sumaroh
ini jebakan atau memang Cindy Helena beneran dalam bahaya....
semoga Helen bisa mengatasinya
Ratna Sumaroh
Cindy Claus Helena 🤔🤔
Ratna Sumaroh
masih tanda tanya nih..... aku hemmm
siapa sih yang mau Helena mati,, kok makin greget
Ratna Sumaroh
hemmmm Helena.......🤔🤔.
Clara
Ratna Sumaroh
hemmm manisnya .... 🥰🥰🥰
Ratna Sumaroh
masih ada tanda tanya
Ratna Sumaroh
hemmm siapa wanita itu,,,,
gak mau nebak ach takut salah...
Ratna Sumaroh
siap siap menerima hukuman mu Helena🤭🤭
Ratna Sumaroh
apakah anak kecil itu sengaja menjebak Helena
Ratna Sumaroh
Clara ada dibalik kematian Helena kah
Ratna Sumaroh
oh Helena.... Aberzio lama lama akan kuwalahan untuk menghadapi mu
Ratna Sumaroh
good Helena Cindy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!