"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Nirmala sedang mempersiapkan hal yang diperlukan untuk bertemu kliennya yang ingin berdiskusi tentang keinginan pernikahan calon mempelai. Saat menunggu, ia melihat buku sketsa yang menampilkan gaun yang ia rancang sendiri untuk ia pakai kelak bersama Kama. Ia tersenyum memikirkan hari itu, dan berharap bahwa Kama juga memiliki rencana yang sama untuk mereka berdua. Namun, Kama tidak menyadari bahwa Nirmala memiliki rencana pernikahan yang sudah dipikirkan jauh-jauh hari.
Malika masuk dan memberitahu Nirmala bahwa klien sudah datang. Nirmala kemudian menutup buku sketsanya dan memfokuskan diri untuk berdiskusi dengan klien tentang keinginan pernikahan calon mempelai. Mereka kemudian duduk bersama dan memulai diskusi tentang detail pernikahan yang diinginkan.
Setelahnya Nirmala meninjau gedung yang dipilih kliennya untuk pernikahan, dan secara tidak terduga, ia bertemu dengan Dirga di sana.
"Dirga! Apa yang kamu lakukan di sini?" Nirmala menyapa Dirga lebih dahulu.
"Oh, aku ada acara di gedung ini. Bagaimana denganmu? Kamu kelihatannya sedang bekerja?"
"Ya, aku sedang meninjau gedung ini untuk pernikahan klienku. Aku harus memastikan semuanya sesuai dengan keinginan mereka."
"Wah, keren! Kamu memang sangat berbakat dalam merancang pernikahan. Aku yakin klien mu akan sangat puas."
"Terima kasih, Dirga! Semoga saja. Bagaimana acaranya?"
"Sudah selesai, aku hanya menunggu beberapa orang lagi. Senang bertemu kamu, Nirmala!"
"Sama-sama, Dirga! Semoga acaranya berjalan lancar."
Dirga panik setelah bertemu Nirmala dan langsung menghubungi Kama untuk memberitahu tentang pertemuan tersebut.
"Bos, saya baru saja bertemu Nirmala di gedung yang akan digunakan untuk acara perusahaan. Saya khawatir ada bentrok dengan acara pernikahan kliennya."
"Apa? Dirga, saya ingin kamu berkoordinasi dengan pihak hotel untuk memastikan acara pertunangan dan ulang tahun perusahaan tidak bersinggungan atau berdekatan dengan hari pernikahan klien Nirmala. Pastikan semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah."
"Baik, bos. Saya akan segera menghubungi pihak hotel dan mengatur jadwal acara agar tidak bentrok."
"Bagus. Saya percayakan ini pada kamu, Dirga. Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
Mendekati hari ulang tahun perusahaan dan pengumuman pertunangannya, Kama semakin kalut memikirkan bagaimana menjaga rahasia pertunangannya dengan Juwita agar tidak terbongkar oleh Nirmala. Kama merasa tekanan yang semakin besar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana tanpa ada masalah.
***
Pesta perayaan pertunangan Kama dengan Juwita sekaligus ulang tahun perusahaan milik ayah Kama, Baskara, berlangsung dengan megah dan meriah. Gedung yang dipilih untuk acara ini dihiasi dengan dekorasi yang elegan dan mewah, dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip dan bunga-bunga yang indah.
Tamu-tamu undangan yang hadir adalah orang-orang penting dalam bisnis dan masyarakat, termasuk teman-teman dan keluarga Kama dan Juwita. Mereka semua datang untuk merayakan pertunangan Kama dengan Juwita dan ulang tahun perusahaan Baskara.
Kama dan Juwita terlihat bahagia dan harmonis saat mereka berjalan di antara tamu-tamu undangan, menyapa dan berterima kasih atas kehadiran mereka. Kama berusaha untuk tidak menunjukkan ketegangan yang ia rasakan karena ia harus menjaga rahasia pertunangannya dengan Juwita agar tidak terbongkar.
Dirga, yang telah membantu Kama dalam mengatur acara tersebut, terlihat sibuk memastikan bahwa semuanya berjalan lancar. Ia terus memantau situasi dan memastikan bahwa tidak ada masalah yang timbul.
Sementara itu, Baskara, ayah Kama, terlihat bangga dan bahagia melihat anaknya yang akan segera menikah dengan wanita yang baik. Ia berharap bahwa pertunangan ini akan membawa kebahagiaan bagi Kama dan Juwita begitu juga bisnis yang sudah antara kedua keluarga akan semakin berkembang pesat tentunya.
Kama berharap bahwa semuanya akan berjalan lancar dan tidak ada masalah yang timbul. Dengan senyum yang lebar, Kama dan Juwita menikmati momen bahagia ini bersama tamu-tamu undangan.
Kama memanfaatkan kesempatan di sela acara untuk menghubungi Nirmala secara diam-diam. Ia ingin memastikan bahwa Nirmala tidak merasa curiga tentang pertunangannya dengan Juwita.
Kama mengirimkan pesan singkat kepada Nirmala, berharap dapat mempertahankan komunikasi yang hangat dan tidak menimbulkan kecurigaan. "Hai, aku sedang sibuk dengan acara perusahaan. Aku rindu kamu," tulis Kama.
Nirmala membalas pesan Kama dengan senyum di wajahnya. "Aku juga rindu kamu. Apa yang kamu lakukan sekarang?" tanya Nirmala.
Kama membalas pesan Nirmala dengan berusaha untuk tidak menunjukkan ketegangan yang ia rasakan. "Aku sedang berbicara dengan beberapa tamu. Aku akan hubungi kamu nanti malam," jawab Kama.
Nirmala merasa bahagia karena Kama masih memikirkannya. Ia tidak menyadari bahwa Kama sedang menyembunyikan rahasia besar darinya. "Baik, aku tunggu panggilanmu nanti malam. Aku sayang kamu," tulis Nirmala.
Kama merasa sedikit lega karena Nirmala tidak curiga tentang apa pun. Ia berharap bahwa semuanya akan berjalan lancar dan tidak ada masalah yang timbul. "Aku juga sayang kamu," jawab Kama sebelum menutup percakapan.
Malam pertunangan itu telah berlalu, dan Kama berhasil menutupi rahasia pertunangannya dari Nirmala. Namun, seperti benang yang kusut, semakin diulur semakin kusut pula, Kama tahu bahwa kebohongan ini tidak akan bisa dipertahankan selamanya.
Kama merasa lega karena tidak ada masalah yang timbul selama acara pertunangan, dan Nirmala tidak curiga tentang apa pun.
Suatu hari Kama menginap di apartemen Nirmala. Saat sedang mandi, Nirmala melihat jas yang tadi dipakai Kama tergeletak jatuh di dekat kursi rias miliknya. Ia ingin merapikan jas tersebut, dan saat ia mengangkatnya, ada sebuah cincin yang jatuh dari jas itu.
Nirmala memandang cincin itu dengan rasa penasaran. Ia tahu bahwa cincin itu terlihat seperti cincin pertunangan atau pernikahan, tapi ia tidak ingin langsung mengambil kesimpulan. Ia mencoba berbaik sangka dan berpikir bahwa mungkin cincin itu milik seseorang lain.
Namun, saat ia melihat lebih dekat, ia melihat bahwa cincin itu memiliki ukiran yang indah dan elegan. Ia merasa bahwa cincin itu sangat spesial dan tidak biasa. Nirmala tidak bisa tidak merasa bahwa cincin itu mungkin memiliki makna yang lebih dalam.
Nirmala merasa sedikit tidak nyaman dan mulai berpikir tentang Kama. Apakah Kama memiliki hubungan dengan cincin itu? Apakah cincin itu milik Kama? Nirmala tidak ingin langsung mengambil kesimpulan, tapi ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia memutuskan untuk menyimpan cincin itu dalam jas Kama. Ia coba enyahkan pikiran-pikiran negatif yang barusan terlintas dalam benaknya.
Setelah keluar kamar mandi, Kama langsung menghampiri Nirmala dan memeluknya erat. "Aku rindu kamu," bisik Kama di telinga Nirmala. Nirmala tersenyum dan membalas pelukan Kama, tapi dalam hati, ia masih memikirkan tentang cincin yang ia temukan tadi.
"Aku juga rindu kamu," jawab Nirmala, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa curiga yang ia rasakan. Kama tidak menyadari bahwa Nirmala telah menemukan cincin yang jatuh dari jasnya, dan Nirmala berusaha untuk tidak membiarkan rasa curiga itu mempengaruhi hubungan mereka.
Kama dan Nirmala kemudian menghabiskan waktu bersama, menikmati kebersamaan mereka dan tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang akan mengubah segalanya.