Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Pagi itu, semesta terlihat seperti baru bangun dari mimpi panjang. Jalanan masih setengah sepi, matahari baru menembus awan kelabu sisa hujan malam. Di salah satu sudut kota, Rissa menatap dirinya di cermin dengan napas panjang. Hari ini hari pertamanya magang sebagai asisten psikolog klinis di rumah sakit tempat Raka juga bertugas sebagai dokter muda. Sebuah awal baru, sekaligus bab yang belum pernah ia tulis sebelumnya.
Ia mengenakan kemeja putih dan celana bahan biru muda, rambutnya diikat rapi. Wajahnya tampak tenang, tapi tangan kirinya gemetar sedikit saat menata name tag bertuliskan:
Rissaliana Erlangga — Asisten Psikolog.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan muncul dari nama yang belakangan ini selalu muncul pertama kali di layar.
...Raka 🤍🤍...
Pagi, Sayang. Semangat ya hari pertamanya. Kalau deg-degan, inget aja… kamu pernah nyelametin aku dari rasa kehilangan, jadi ngadepin pasien mah enteng
Rissa tersenyum kecil. Ia mengetik balasan pelan.
...Raka 🤍🤍...
^^^“Kalau hari ini berhasil, makan malamnya kamu yang traktir.”^^^
“Deal. Tapi kalau kamu keliatan terlalu cantik di rumah sakit, aku yang bakal
stres”
^^^“Profesional, Dokter.”^^^
“Susah kalau pasiennya secantik kamu.”
Rissa menahan tawa kecil. Entah sejak kapan, percakapan sederhana dengan Raka jadi bagian paling ia tunggu setiap pagi.
Rumah sakit tempat Rissa magang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Bangunannya modern, dingin tapi tenang, dengan aroma antiseptik yang samar tercium dari lorong. Di bagian depan pintu ruangan psikologi klinis, ia disambut oleh seorang wanita berwajah lembut dan berkacamata.
“Rissaliana Erlangga? Selamat datang,” ucapnya hangat. “Saya Bu Anindya, kepala unit psikologi. Kamu akan banyak bantu observasi pasien trauma dan psikosomatik, jadi kerjasamamu dengan tim medis sangat penting.”
“Siap, Bu,” jawab Rissa mantap.
Rissa sedikit terkejut. Ia sempat mengira akan lebih banyak berhadapan dengan pasien murni psikologis — konseling, terapi kelompok, atau observasi perilaku umum. Tapi ternyata, unit tempatnya magang juga berkolaborasi dengan tim medis lintas bidang, terutama bagian psikosomatik dan rehabilitasi, di mana kondisi mental sering memengaruhi kesehatan fisik pasien. Dengan kata lain, di rumah sakit ini, tim psikologi dan dokter kerja berdampingan, saling melengkapi antara penyembuhan tubuh dan pikiran.
“Di sini, kami percaya bahwa pasien nggak bisa sembuh total kalau cuma badannya yang diperbaiki,” jelas Bu Anindya sambil tersenyum.
“Jadi, sesekali kamu akan ikut observasi pasien yang juga ditangani tim dokter. Itu bagian dari pelatihan interdisipliner.”
“Berarti… bisa ikut turun ke ruang medis, ya, Bu?” tanya Rissa memastikan.
“Betul. Tapi tenang, kamu nggak harus nyuntik pasien kok,” candanya, membuat Rissa terkekeh kecil.
Sambil berjalan menyusuri lorong, Bu Anindya berkata pelan, “Kamu lulusan Turki, ya? Pasti pengalaman terapinya menarik.” Rissa mengangguk.
“Banyak belajar tentang human behavior dan trauma di sana. Tapi rasanya sekarang malah lebih menantang, Bu. Ini pertama kalinya saya terjun langsung di lapangan.”
“Dan mungkin… juga pertama kalinya kamu kerja bareng dokter yang kamu sayang?” sindir Bu Anindya dengan senyum menggoda.
Rissa tersipu. “Kabar gosipnya cepet banget, ya, Bu.”
“Rumah sakit ini lebih cepat dari media sosial,” balas sang dosen sambil tertawa kecil.
...****************...
Sementara itu, di lantai atas, Raka sedang sibuk memeriksa pasien. Tapi pikirannya beberapa kali teralihkan ke bawah — ke ruangan tempat Rissa berada.
Di tengah kesibukannya, salah satu perawat berkata, “Dok, ada pasien psikosomatik, tim psikologi mau gabung untuk sesi observasi.”
Dan nama di daftar itu membuat Raka berhenti sejenak.
Rissaliana Erlangga – Asisten Psikolog
Ia menghela napas pelan, mencoba menyembunyikan senyum. “Baik, kirim pasiennya ke ruang 305. Saya tunggu di sana.”
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Rissa masuk dengan clipboard di tangan, ekspresi profesional menutupi gugupnya. Raka berdiri di seberang meja, mengenakan jas dokter dan stetoskop di leher.
“Selamat pagi, Dokter Raka,” sapa Rissa formal.
“Selamat pagi,” balas Raka dengan nada sedikit menahan tawa. Perawat di ruangan itu saling pandang, bingung kenapa dua profesional muda ini seperti sedang menahan senyum.
Mereka menjalani sesi observasi pasien bersama. Rissa mengajukan pertanyaan dengan nada lembut, sementara Raka menambahkan analisis medisnya. Selama proses itu, keduanya terlihat begitu sinkron, seolah sudah berlatih lama — padahal, mereka baru pertama kali bekerja berdampingan secara profesional.
Ada kehangatan samar yang muncul di antara keseriusan. Rissa sadar, ini bukan hanya kerja. Ini cara mereka belajar tumbuh — berdampingan, bukan bersaing.
...****************...
Sore hari, setelah semua pasien dan klien selesai, Rissa berjalan keluar dari ruang terapi. Badannya lelah, tapi hatinya ringan. Saat melangkah ke lobi, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Profesional banget hari ini,” suara Raka muncul lembut.
“Harus dong. Aku kan kerja, bukan kencan.”
“Tapi kelakuan kamu bikin aku makin jatuh cinta, Sayang.” Rissa memutar mata, meski pipinya memanas.
“Kamu tuh bisa nggak sih sehari aja nggak ngomong gitu?”
“Bisa,” jawab Raka cepat. “Tapi nggak mau.”
Mereka berjalan keluar rumah sakit bersama. Langit sore berubah oranye keemasan. Raka membuka jas dokternya dan menyampirkannya di bahu Rissa.
“Biar nggak dingin.”
“Sayang, ini rumah sakit, bukan drama Korea.”
“Justru, di dunia nyata jarang ada yang kayak gini. Jadi aku mau jadi pengecualian.”
Rissa tertawa kecil. “Pengecualian yang bikin deg-degan.”
...****************...
Malamnya, mereka duduk di bangku teras Rissa. Meja kecil di antara mereka dipenuhi bungkus makanan sederhana — mie rebus, roti cokelat, dan dua cangkir teh hangat. Di atas, langit berhiaskan bintang samar.
“Gimana rasanya kerja di dunia nyata?” tanya Raka sambil mengaduk teh.
“Capek, tapi bahagia. Tadi ada klien remaja korban kekerasan, awalnya dia diam aja, tapi akhirnya mulai cerita. Rasanya… kayak ngeliat cermin,” jawab Rissa pelan.
“Cermin?”
“Ya. Kadang aku ngerasa, aku pun pernah sekuat itu buat bertahan.”
Raka menatapnya lembut. “Dan kamu berhasil. Sekarang kamu malah bantu orang lain buat sembuh. Itu luar biasa, Sayang.”
Rissa tersenyum. “Aku juga ngeliat hal yang sama dari kamu. Kamu sembuhin tubuh orang, aku sembuhin pikirannya. Kita sama-sama di garis depan, cuma beda medan.”
“Beda medan, satu tujuan,” sahut Raka.
Hening sejenak. Lalu Raka berkata, “Sayang, kamu sadar nggak? Dulu kita cuma mimpi bisa bareng, kerja sesuai bidang masing-masing, saling dukung… sekarang kita beneran di sini.”
Rissa menatap langit. “Iya. Kadang aku masih takut ini cuma mimpi.”
Raka meraih tangannya di atas meja. “Kalau mimpi pun, aku nggak mau bangun.”
Mereka tertawa kecil. Lalu Rissa berkata pelan, “Kamu tau nggak, aku sempat mikir, mungkin Tuhan bikin aku ketinggalan pesawat waktu itu bukan cuma buat nyelametin hidupku, tapi juga buat nyelametin masa depan kita.”
Raka terdiam sebentar. Lalu ia menatap Rissa, mata mereka bertemu dalam diam.
“Kalau gitu, janji satu hal, ya.”
“Apa?”
“Mulai sekarang, kita nggak akan kabur dari apa pun lagi — nggak dari masalah, nggak dari mimpi, dan nggak dari satu sama lain.” Rissa mengangguk pelan.
Malam itu, dua hati yang dulu hampir hancur kini kembali utuh — bukan karena waktu, tapi karena keberanian untuk bertumbuh bersama.
Dan dari balkon kecil itu, mereka menatap langit Jakarta yang berkilau lembut, sambil menggenggam tangan satu sama lain.
Tidak ada janji yang muluk. Hanya satu keyakinan:
bahwa setelah semua luka dan kehilangan, mereka akhirnya belajar arti sebenarnya dari kata pulih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...