NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HADIR TANPA PERMISI

Pasar mulai dipenuhi hiruk-pikuk suara. Pedagang berseru menawarkan dagangannya, dari sayur-mayur segar hingga rempah-rempah berwarna-warni.

Aroma bawang goreng, ikan segar, dan kue tradisional bercampur menjadi satu, menusuk hidung siapa pun yang melintas.

Kerumunan orang berjalan saling berdesak-desakan, membawa tas belanjaan dan anak-anak yang berlari-lari kecil di antara kaki mereka. Terkadang terdengar tawa, terkadang debat kecil antara penjual dan pembeli. Belum lagi suara gerobak dorong, lonceng sepeda, dan tawa pedagang asongan menambah semarak suasana.

"Ayoooo... lima ribu aja sekilo...! Terong-terongan...! cabe-cabean!" Celetuk Putra menyalip suara Ratih di sampingnya.

Sontak, Ratih yang terkejut menoyor kepala Putra. "Jualan tuh yang bener!"

"Mah ini kan emang cabe!" Kata Putra sambil memperlihatkan gundukan cabai di telapak tangannya. "Ini terong...!" Tambahnya, sambil memperlihatkan terong ungu di tangannya.

"TAPI, ISTILAH CABE-CABEAN YANG KAMU MAKSUD ITU APA?!" Pekik Ratih, sambil merebut terong dari tangan Putra dan memukulinya ke kepala. "Kamu mau bikin dagangan Mama jadi gak laku?!"

"Wah... ini anak Ibu?" Seru seseorang.

Putra dan Ratih menoleh kompak ke arah suara yang ada di depan. Seorang wanita paruh baya yang menenteng dia besar jantung belanja di tangannya perlahan mendekat.

Wanita itu menatap lurus ke arah Putra. "Ganteng sekali anak Ibu..." Sambungnya. "... cocok jadi artis selebgram. Muda... tubuhnya tegap... wah idaman banget! Saya mau cabe-cabeannya sekilo."

Bola mata Putra membulat, menatap Ratih. "Tuh bu, laku cabe-cabean!" Celetuknya, lalu menoleh ke arah wanita dihadapannya. "Sekilo aja, bu... yakin?!"

"Iya, sekilo!"

"Siaaaaap!"

Ratih membisu sesaat, menatap Putra dengan mata berbinar. Campuran antara rasa kesal, geli, dan takjub membuat dadanya berdebar. Ia kemudian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi sudut bibirnya tetap tak bisa menahan senyum yang menyelinap tanpa sadar.

"Ini ganteng, uangnya." Kata wanita sambil memberikan uang cukup pada Putra. "Nanti Ibu belanja lagi kalau cabe-cabeannya udah habis, yaaa..."

"Siap, Bu. Makasih!" Sahut Putra, matanya kembali menatap ibunya dengan senyum bangga. "Tuh, Bu. Laku, kan?"

Ratih hanya menggeleng, setengah kesal tapi setengah tak bisa menahan senyum." Terserah, kamu!" Katanya singkat, lalu menepuk pundak Putra.

Putra tersenyum puas. Mendadak, pandangannya melayang ke arah seseorang yang baru saja melintas dan mendekat. Seorang wanita yang tak pernah ia sangka akan bertemu di tempat seperti ini.

Putra melambaikan tangan, "Bu Salma!" Sapanya pelan namun cukup terdengar untuk sampai di telinga wanita tersebut.

Salma yang tak jauh dari situ tampak terkejut, matanya membulat sejenak. "Pu-Putra..." Ucapnya, suaranya terdengar sedikit gugup.

Sambil mendekat, ia menatap Putra dengan pandangan yang tak biasa. Ia selalu melihat anak laki-laki itu mengenakan seragam sekolah rapi, tapi kini Putra terlihat lebih santai, dengan pakaian kasual yang membuatnya tampak lebih dewasa dan berbeda dari biasanya.

"Ibu ini..." Gumam Ratih mengejutkan.

"Oh ya, Bu." Kata Putra melirik Ratih. "Ini Ibu saya, Ma... ini Bu Salma, guru aku di sekolah."

Salma melempar senyum sambil menunduk memberi salam hormat kepada wanita paruh baya di hadapannya. Ia tak pernah menyangka, hari ini ia akan bertemu langsung dengan ibu Putra. Perlahan, sesuatu di dalam hatinya berdesir, campuran antara rasa kagum dan penasaran. "Kenalkan... Saya Salma, Ibu."

"Oalaaaah... cantik." Kata Ratih memandang Salma dari atas kepala hingga ujung kaki.

Salma hanya tersenyum, tersipu malu.

"Ibu mau belanja?" Tanya Ratih sambil menawarkan seikat sayur bayam dalam genggaman. "Cuma dua ribu,"

Salma mengangguk. "Boleh, Bu," Jawabnya sopan, matanya menatap sayur-sayuran yang tersusun rapi di meja.

Putra tersenyum.

Di antara interaksi antara Salma dan ibunya, ada pelanggan lain yang mulai berdatangan. Sambil melayani mereka, sesekali Putra memperhatikan bagaimana Salma dengan ramahnya berbincang dengan sang Ibu. Kedua tangannya sibuk berhati-hati memilih sayur, sesekali menanyakan sesuatu dan bercanda ringan dengan senyum yang terpancar alami.

Sungguh, suasana itu terasa hangat, sederhana, tapi penuh rasa akrab. Latar belakang hiruk-pikuk pasar, suara pedagang, teriakan penjual asongan, aroma rempah dan sayur segar, menambah kehidupan pada momen kecil itu, membuat Putra merasa senang melihat kedua wanita penting dalam hidupnya berbagi momen santai di tengah keramaian.

"Ini buat Ibu semuanya gratis aja!" Kata Ratih setelah semua sayur yang Salma pilih, ia masukkan ke dalam kantung plastik besar dan diberikannya kepada Salma sepenuh hati.

"Oh enggak, Bu." Geleng Salma penuh sungkan. "Gak perlu seperti itu. Saya beli, saya harus bayar."

"Enggak, Bu. Saya ikhlas. Ambil, Bu. Rasa Terima kasih saya pada Ibu karena telah menitipkan Putra anak saya."

Salma tersenyum tipis menatap Putra, "Tapi..."

"Ambil aja, Ibu." Angguk Putra.

"Put." Sahut Ratih kemudian. "Kamu antar Ibu Salma pulang, ya!"

Putra dan Salma tersentak. Ada getaran hangat yang menyusup di dada mereka, campuran antara kegembiraan dan rasa senang yang tak bisa mereka tolak. Putra tersenyum puas dan hatinya ringan. Sementara, Salma pun merasakan hal yang sama—entah mengapa hatinya berdebar saat berada di dekat Putra. Seharusnya ia tak boleh merasakan ini, perasaan yang tak pantas. Perasaan yang harus dijaga antara guru dan murid, apalagi ia telah berstatus telah menikah. Ada hati yang harus ia jaga. Erwin.

Tapi kali ini, sesuatu dalam momen itu, seakan membuatnya sulit mengendalikan diri dan menekan rasa yang perlahan muncul. Terlebih ketika mimpi semalam kemarin yang membuat perasaan itu justru perlahan tumbuh tanpa permisi.

Salma menunduk sebentar, merasakan detak jantungnya yang tak biasa. Sungguh, ia tak bisa menahan diri, tak bisa menjaga jarak, tak bisa menolak ketika Putra berpamitan kepada Ibunya sesaat sebelum akhirnya anak itu menatapnya dengan senyum hangat dan mengajaknya untuk diantarnya pulang.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!