"Kan ku kejar, akan ku cari kemanapun, dimanapun, di sudut Dunia sekalipun, akan ku dapatkan kamu, lagi. Tidak ada alasan lain, selain karna aku ingin hidup dengan mu, selamanya. " ~Riyan Adijaya
Berkisah tentang Riyan dan Vania, kisah cinta manis berujung pahit. Dimana, setelah satu tahun berkuliah di Jerman, Riyan mengalami kecelakaan mengakibatkan Amnesia Retrograde pada dirinya. Dan melupakan, Vania.
Setelah dua tahun kemudian, Riyan malah di paksa untuk menjadi guru pengganti di SMA MERAH PUTIH. SMA di mana Vania berada.
Akankah, kisah asam manis keduanya masih berlanjut? akankah mereka benar -benar bersanding di pelaminan, nanti? Ataukah, itu memang hanya masa lalu belaka?
yuk simak~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Welcome Arka
***
"Arka?! " teriak Disha di sebelah Vania.
Bukan hanya Vania, Riyan dan yang lainnya juga terkejut. Yang mereka tau tentu Arka masih tanpa kabar. Ah tidak juga,
Wajar Arka kembali. Ini sudah satu bulan sejak terakhir kali pendonor yang ku bayar memberikan ginjalnya. Ah~selamat datang murid tengil ku, dan sepertinya persaingan di antara kita benar-benar akan di mulai.
Batin Riyan menatap Arka, dia tersenyum. Entah senyuman jenis apa itu.
"Oi oi oi. Apa kabar kawan-kawan? " Arka menyapa sembari menenteng tas nya masuk. Dia dengan santainya duduk di sebelah Sandy.
"Arka dodol!! Akhirnya balik juga! Untung aja, gue gadak temen mabar!!! " Teriak Sandy, dia langsung memeluk rekan setengah warasnya itu.
Tanpa Vania dan Disha sadari. Air mata sudah menetes dari mata keduanya. Air mata kenahagiaan yang tidak lagi bisa di jelaskan.
Seluruh teman sekelas secara bergantian memeluk Arka. Pagi ini kebahagiaan menyelimuti kelas XII IPA lima dengan kedatangan Arka.
"Bagus kau sudah kembali. Sekarang, masih banyak pelajaran yang harus kau kejar. Kau sudah tidak masuk selama satu bulan lebih. Belajar yang giat jika kau ingin lulus. " potong Riyan.
"Ailah pak, baru juga masuk. udah di bebani tugas. " Arka berjalan santai ke arah Riyan.
"Makasih pak, Arka gak nyangka bapak punya hati. Makasih udah bantuin Arka nyariin pendonor. " Ujar Arka memeluk Riyan. Tampak pelukan itu benar-benar tulus.
"Jaga jarak, saya takut kamu terkena Covid-19." Riyan tersenyum meledek.
"Astaghfirullah, Bapak ini berdosa banget. " Arka mengelus dadanya seolah terkejut.
Vania dari tempat nya berdiri terkejut. Tentu?
Om galak? Udah nyariin donor bahkan sebelum Vania minta? Om galak emang baik, tapi yah itu galak banget. Meski lupa ingatan, dia tetep aja orang baik. yang hilang ingatan nya, bukan hatinya.
***
Bel Istirahat pertama sudah berbunyi dua menit yang lalu. Namun anak XII IPA lima masih berkutat pada bukunya. Ini karena Riyan mendadak memberikan banyak sekali catatan.
"Btw Ar, maapin aku yah. Gara-ga... "
"Gak salah lo Dish. Gak usah minta maap. Gue juga sebelumnya gak nyangka kalau gue bakal bisa hidup lama. Nyari pendonor itu gak mudah. Dan pak Riyan berhasil nyariinya. " Arka memotong ucapan Disha, sambil tangannya terus bergerak.
"Van, ntar gue pinjem catatan lo yah. Sebulan gak masuk ribet juga. Mana kita bakal UAS lagi? " Arka menggaruk kepalanya frustrasi.
"Yoi bruh. "
Ada yang aneh dari Arka. Biasanya Arka terlihat suram dan kelam. Hari ini, aku bisa liat. Wajah bahagia yang berseri dari sana. Wajahnya penuh semangat dan niat. Tampaknya Arka benar-benar bahagia?
Vania dari tempatnya menatap bengong Arka. Yang di tatap malah asyik mengobrol dengan Sandy.
"Eh gue keluar bentar yah. Mau ke toilet. " Vania permisi, dia jalan dengan terburu. Berlari kecil melewati murid lain di koridor.
Vania berhenti di depan satu ruangan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan bahwa saat itu sepi. Tanpa permisi, Vania masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan Riyan Adijaya.
Riyan memang sedikit terkejut saat sadar Ada seseorang yang masuk. Namun, itu berubah tenang ketika dia tau yang masuk adalah Vania mungil, gadisnya.
"Ada apa? Kau di kejar setan? Bukannya yang harusnya takut adalah setan jika bertemu dengan mu? " sindir Riyan enteng.
"Setan emang takut sama Vania. Bukan kayak bapak. Setan di ajak temenan. " sahut Vania enteng.
"Ada apa? Mau nyari ribut sama saya? " Riyan mengernyitkan dahinya.
"Yah enggak lah. Mana aku berani nyari perkara sama Riyan Adijaya. Aku tuh kentang pak, sadar diri ini siapa. Aku tuh ke sini mempertaruhkan harga diri mau bilang makasih sama bapak. "
"..."
"Iyah, makasih karna bapak udah nyariin pendonor buat Arka. Agar Arka bisa sembuh dan berjuang bareng kita lagi. Meski galak, bapak emang baik. "
Nyesssss
Hanya itu lah yang bisa mendeskripsikan hati Riyan saat ini. Vania datang kemari bukan karna ingin tulus menemuinya. Semuanya hanya demi Arka saja.
"Sudah? Itu pintu keluar. Keluar sendiri sebelum saya usir. " geram Riyan. Dia tengah menahan sakit hatinya sekarang.
"Pak, Vania baru juga datang. "
Vania menatap ekspresi Riyan yang kelihatan enggan menerima kedatangannya.
Mungkin om galak lagi stress gara-gara masalah kantor? Mungkin aja.
Vania bungkam, dia hanya berjalan gontai membuka pintu dan keluar dari ruangan khusus itu.
***
"Sumpah, gue gak nyangka sih yang bakal nyariin pendonor itu pak Riyan. " celetuk Disha di tengah-tengah seriusnya mereka menulis.
"Kalo gue sih udah yakin dia bakal bantuin. Yang gua gak yakin dia bakal dapat pendonor. Dia hebat, gue akui itu. Dia bisa dapet pendonor saat gue selama bertahun-tahun nyari ga ketemu. " sahut Arka spontan.
"Kalo gue malah lebih yakin dia bakal bantuin dan bakal nemuin pendonor buat lo. Soalnya yah gitu, dia kalo ngomong selalu di tepatin. Orang berkelas. Gue jadi pengen kayak dia. Sedikit ngomong nya. " lanjut Sandy.
"Mending kagak usah deh san. Soalnya kalo lo sedikit ngomong, fix kelas ini sepi. Lagian, orang itu punya ciri khasnya masing -masing. Kalo lo jelas, lambe turah. " sanggah Disha yang di setujui Arka.
Kalian semua gak bakal tau, betapa senangnya gue hari ini. Senang sekali rasanya waktu tau. Gue bisa punya waktu lebih lama buat di habiskan sama kalian.
Suara hati arka berucap. Yah hanya dalam hati, tak perlu di ungkapkan atau Sandy nanti akan tertawa.
***
Istirahat kedua kali ini, mereka berempat makan di kantin di meja biasa.
"Eh eh, akhir pekan ini ke mana kek. Keluar, piknik, jalan-jalan, apa kek. Lagian kita udah kelas tiga. Harus memperbanyak kenangan. " ujar Disha membuka suara. Sedangkan yang lainnya befikir, eh--kecuali Sandy kayaknya.
"Iya juga sih, enaknya kemana yah. "
"Villa orang tua gue aja mau gak? Adanya di puncak. Eh ga tau juga. Nanti deh gue tanyain lagi. " usul Arka. Maklum, orang kaya. Satu rumah gak cukup.
"Kuy aja sih, gue juga akhir pekan ini gak ada latihan. Soalnya si papah kapten sibuk. "
"Lo van? " semua mata mengarah pada Vania.
"Aku sih oke oke aja. "
Gimana mau gak oke. Emang aku bakal minta izin sama siapa? Haha! Aku udah gak punya siapa-siapa.
***
Dan aku masih kepo apa maksud Rayden tadi soal kecelakaan ortunya Vania?? 🤔🤔