Ariana harus menerima pukulan terberat dalam hidupnya, ketika suaminya ketahuan selingkuh dengan adiknya. Siapa yang mengira, berkas yang tertinggal suatu pagi membawa Ariana menemukan kejadian suatu perselingkuhan itu.
Berbekal sakit hati yang dalam, Ariana memutuskan untuk pergi dari rumah. Namun dibalik itu, dia secara diam-diam mengurus perceraian dan merencanakan balas dendam.
Apakah Ariana berhasil menjalankan misi balas dendamnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristha Aristha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Semua Salah Kenzi
"Ah, akhirnya kelar", ucapku sambil merenggangkan tangan ke arah. "Ternyata lebih cepat dari apa yang aku kira".
Sementara di sampingku, Kenzi terlihat tersenyum. Namun tidak hanya itu, dia tidak mengatakan apapun selain berdiri dan membantuku mengemasi naskah yang sudah diselesaikan semuanya.
"Jangan lupa absen, biar lemburmu semuanya dihitung", katanya ketika kita berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.
"Tenang saja aku gak bakal lupa soal itu", timpalku sambil tersenyum bangga. "Mana mungkin aku lupain soal bonus, iya, kan ?"
Kenzi tertawa. Yah, memang aku berbakat menjadi seorang komedian . Sebab hanya dengan satu kalimat itu, bisa membuatnya terkekeh.
Angin malam ini agaknya lebih dingin dingin dari kemarin-kemarin. Padahal ini baru awal Juni , tapi rasanya seperti musim dingin datang lebih awal.
Berjalan sebentar menuju parkiran, rasanya angin yang berhembus berhasil membuatku bergidik kedinginan.
"Anginnya kencang", ucapku sambil mengusap-usap lengan tanpa sadar.
Aku mengatakan itu murni karena mengeluh, bukan berarti memberi kode atau apapun. Namun Kenzi tiba-tiba... dia malah memasangkan jasnya ke punggungku. Sejak kapan dia melepasnya?
Sontak kedua mataku membulat, menoleh dan menatap Kenzi dengan bingung. "Apa ini?"
"Kamu kedinginan, kan?" Katanya, menebak dengan tepat. "Aku gak punya jaket, jadi pakai ini dulu sekarang ".
Beberapa detik aku tidak berkedip samasekali. Sebentar, apa yang barusan Kenzi lakukan? Apa dia memberiku jasnya seperti di drama-drama?
"Riana?"
"Ah!" Aku tersadar dari lamunanku yang sebentar. Tanpa sadar, aku malah memegangi jas Kenzi erat-erat. Sulit dikatakan, tapi jantungku yang berdebar mendadak membuat angin malam ini terasa lebih hangat.
Entah karena jas Kenzi, atau alasan yang lain. Yang jelas, aku tak merasa kedinginan sekarang.
"Kalo ada yang lihat, mungkin bakal bahaya", ucapku lagi, ketika kami hampir tiba di parkiran . Aku menoleh, dia tersenyum dan berkata , "Lihat kamu pakai jasku, orang-orang pasti bakal heboh kalo ada yang lihat ".
Sontak kedua mataku membesar. Itu benar, kenapa aku tidak sadar jika situasi sekarang kita sangat berbeda ? Kenzi bukan lagi teman atau anak magang, dia bosku. Bagaimana bisa aku melupakan itu?
Aku buru-buru melepaskan jad Kenzi dan memberikan padanya. "Maaf, aku gak sadar", kataku.
"Loh kenapa? Aku kan cuma bilang kalo ada yang liat. Sekarang cuma ada kita berdua, jagi gakpapa. Bahkan kalo kita ciuman sekalipun __"
"
"Ciuman?!" Aku terkejut sambil menutup mulut dengan tangan.
Aku kira dia sadar saat mengatakan tentang ciuman, tapi sepertinya dia juga terkejut. Matanya mendelik, bibirnya terbuka seakan ingin menjelaskan banyak hal.
"Anw, bukan gitu maksudku", ujarnya setengah panik. "Maksudku... Intinya gak bakalan ada yang liat. Jadi kamu pakai saja jasku, ya". Dia mengatakan itu sambil mendorong jasnya yang aku berikan.
"Hanya sampai parkiran", sambungnya. "Setelah itu, baru kamu boleh kembalikan ke aku".
Cuman perasaanku saja, atau memang telinga Kenzi terlihat memerah? Entahlah, lampu-lampu disini tidak cukup terang, aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi yang dia buat sekarang.
Namun satu hal yang pasti, tindakan Kenzi benar-benar membuatku jadi salah paham jika aku tidak segera sadar.
Kemudian, jeda yang sebentar itu akhirnya mengantarkan kami ke parkiran. Tidak banyak mobil yang terparkir, selain mobilku dan Kenzi, sisanya mobil investasi kantor.
Sesuai kesepakatan, aku segera melepaskan jas. Lalu memberikannya pada Kenzi. "Terimakasih, ya".
Kenzi menerima itu sambil mengangguk. "Di mobilmu ada penghangat, kan?"
"Ah, ada kok", ucapku. "Kalo gitu, aku langsung pulang ".
"Ya. Hati-hati dijalan".
Aku mengiyakan dengan anggukan. Setelahnya bergegas menuju mobil tua yang terparkir lumayan jauh dari area masuk parkiran.
Setibanya di dalam mobil. Aku baru menyadari kalo jantungku berdebar-debar. Sungguh tindakan manis Kenzi sangat ilegal, dia harus dituntut karena membuat jantung orang lain tidak aman .
"Nggak, Riana", aku menggeleng, mencoba menepis sekelebat perasaan yang muncul. "Ingat. Kenzi lebih muda tiga tahun, dia datang dari keluarga kaya raya dan dia bosku sekarang ", gumamku berbicara sendiri.
Benar, dengan kesadaran yang penuh itu, aku segera menekan perasaan fana yang tidak nyata. Kenzi dan aku, kami memiliki dinding yang tidak bisa di panjat , jadi sebaiknya dari awal jangan berharap.
"Oke. Mari pulang saja".
Tidak mau membuang waktu dan semakin tenggelam dengan perasaan yang tidak masuk akal, aku segera menyalakan mesin mobil, lalu menginjak gas dan bergerak meninggalkan parkiran.
Sedangkan Kenzi, entahlah. Aku tadi melihat mobilnya masih ada. Mungkin dia masih melakukan sesuatu dulu sebelum pulang . Yah, jadi direktur itu pasti membuatnya sibuk. Tidak mungkin dia menunggu pulang terlebih dahulu, kan? Haha. Jangan Ngadi-ngadi kamu, Riana!
...****************...
Tiga hari yang sangat aku sukai . Pertama hari raya, hari kedua hari lahir dan terakhir hari libur.
"Ah, enaknya libur", seruku sambil berguling-guling diatas tempat tidur. Ini akhir pekan, saatnya aku bersantai setelah hampir setiap hari lembur.
"Drama apa akan aku tonton, ya", ujarku sambil melihat-lihat judul film disalah satu aplikasi streaming berbayar.
Ketenangan seperti ini yang membuatku merasa nyaman, meski selalu, tak berselang lama aku pasti berakhir dengan rasa kesepian.
Hari libur tidak semenyenangkan itu sekarang . Dulu, aku akan membuat banyak cemilan untuk dimakan bersama Dimas sambil menonton drama sampai bosan . Namun akhir-akhir ini rasanya...
"Wah, aku bahkan kepikiran pria mokondo itu saking kesepiannya", ucapku, tak terimanya dengan diri sendiri. "Kayaknya aku perlu teman kencan sekarang".
Hanya dalam hitungan detik , aku menutup aplikasi streaming dan beralih mencari aplikasi dating online.
Tindakan yang memang implusif, tidak masalah jika hanya iseng dan menghabiskan waktu luang bukan?
Setelah aplikasi di unduh, aku mulai mendaftar dengan mengisi data-data diri, termasuk foto dan kriteria pasangan.
"Kriteria?" Aku memiringkan kepala sejenak. Memikirkan sebenarnya pria seperti apa yang aku cari?
"Oke. Mari tulis aja, tidak mokondo dan mau modal", ucapku sambil menulis apa yang barusan aku katakan.
Aku pikir cukup menulis kriteria seperti itu, tapi setelah di pertimbangkan , sepertinya lebih baik aku membuatnya secara spesifik.
Mendadak aku memikirkan dengan serius. Membayangkan kriteria dan entah kenapa, aku bisa menulisnya dengan mudah.
"Dia harus baik, act of service , mau mendengar dan respect ", kataku sambil terus menulis. "Fisik nomor sekian setelah saldo rekening".
Aku tiba-tiba tertawa dengan apa yang barusan aku tulis . "Rekening? Jatuhnya aku kayak cewek matre . Tapi gakpapa, aku sekarang harus realistis. Makan cinta gak bisa kenyang."
Menurutku itu sudah cukup. Tapi entah darimana datangnya, tiba-tiba sesuatu kembali muncul di kepalaku.
"Harus lebih tua atau seumu__" aku segara menggeleng. "Nggak, lebih buda beberapa tahun juga gakpapa ".
Setelah lumayan lama aku mengutak-atik aplikasi itu, aku membacanya sekali lagi untuk memastikan. Sesaat semuanya nampak biasa dan normal, namun ketika aku mengulang soal kriteria pasangan . Rasanya...
"Ini mirip Kenzi", gumamku sambil meringis. "Yang aku tulis semuanya ada di Kenzi."
Ah, aku mengacau lagi. Apa aku menulis sambil membayangkan Kenzi? Bahkan kriteria yang aku tulis jauh sekali dari mantan suamiku. Dimana aku pernah sangat mencintainya.
Ini semua salah Kenzi. Kenapa dia akhir-akhir ini Bersikap sangat manis padaku? Harusnya dia berhati-hati dengan janda kesepian seperti aku .
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan . Sepertinya aku harus cepat-cepat mencari seseorang sebelum aku benar-benar memiliki perasaan pada Kenzi.
"Tapi kriteria yang aku tulis susah sempurna banget ", ujarku sedikit gamang ingin mengganti kriteria pasangan. "Nggak masalah. Pasti ada pria yang seperti ini selain Kenzi".
Pada akhirnya aku membiarkan akunku tetap seperti ini.
Aku menghela sangat panjang, aku bingung dengan perasaanku sendiri. Jika benar aku memiliki perasaan pada Kenzi, bukakanlah aku sangat tidak tahu diri?
"Tapi siapa yang gak baper, kalo laki-laki seperti Kenzi sedikit memberikan perhatian?"
Ah, sialnya, aku mulai menyukai pesona Kenzi . Dulu aku melihatnya sebagai anak muda yang bisa dibilang seperti adik? Namun setelah Dia menjadi direktur , aura di sekitarnya mendadak berubah.
Kenzi sekarang terlihat benar-benar seperti pria dewasa . Dan hal itu... lumayan membuatku kebingungan.
...****************...