Dipisahkan dengan saudara kembar' selama 8 tahun begitu berat untukku, biasanya kami bersama tapi harus berpisah karena Ibu selingkuh, dia pergi dengan laki-laki kaya dan membawa Nadira saja, sedangkan aku ditinggalkan dengan Ayah begitu saja.
Namun saat kami akan bertemu aku malah mendapatkan sesuatu yang menyakitkan Nadira mati, dia sudah tak bernyawa, aku dituntun oleh sosok yang begitu menyerupai Nadira, awalnya aku kira dia adalah Nadira yang menemuiku tapi ternyata itu hanya arwah yang menunjukan dimana keberadaan Nadira.
Keadaannya begitu mengenaskan darah dimana-mana, aku hancur sangat hancur sekali, akan aku balas orang yang telah melakukan ini pada saudaraku, akan aku habisi orang itu, lihat saja aku tak akan main-main untuk menghabisi siapa saja yang telah melakukan ini pada saudaraku. Belahan jiwaku telah hilang untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap
Merry berjalan dengan tatapan yang kosong, tentu saja dengan pisau yang penuh dengan darah, banyak orang-orang yang menatapnya dengan takut dan ada yang langsung menelepon polisi.
Sedangkan Gavin, sudah tak bernyawa sudah tak bisa di selamatkan lagi. Kedua temannya yang diberitahu dua perempuan tadi tentu saja syok melihat keadaan Gavin yang mengenaskan seperti ini.
"Sialan, kenapa nekat banget Merry, kenapa bisa sampai kayak gini sih" ucap Alex dengan sangat frustasi.
"Gavin udah main-main terlalu jauh, Merry juga punya batas kesabaran, udah berapa kali Gavin nyakitin Merry"
Alex yang tak terima dengan jawaban Indra, menarik kerah bajunya dan menatap Indra dengan tatapan yang begitu marah "Tetap saja tak sampai membunuh seperti ini, Gavin pantas hidup dan tak bisa mati konyol seperti ini, sialan kita cari perempuan itu sampai ketemu dan kita habisi, perempuan itu tak boleh lepas begitu saja, kita buat hidupnya seperti di neraka" Alex melepaskannya dan mendorong Indra sampai mundur beberapa langkah.
Mereka berdua segera meninggalkan tkp, jangan sampai mereka yang jadi tersangka nantinya.
Merry hanya diam sama mobil polisi berdatangan dan mengerubunginya, salah satu polisi maju dan segera memborgol tangannya, Merry juga sama sekali tak memberontak hanya diam saja dan mengikuti kemana polisi membawanya.
Merry sudah tak peduli dengan hidupnya ini, mau bagaimana pun akan Merry terima, dia tahu apa konsekuensinya yang akan dirinya terima karena sudah menghabisi Gavin, tapi hatinya begitu tenang saat sudah melakukan itu.
Nadia sendiri hanya diam dibawa payung yang menutupi setengah wajahnya, kebetulan juga sekarang sedang hujan, Nadia dari tadi juga mengikuti Merry, tersenyum senang melihat kehancuran 2 orang sekaligus.
"Rencana mu bagus juga, bisa masuk kedalam geng itu dan bisa menghabisi salah satu pembunuhnya tanpa tanganmu sendiri"
Nadia tersenyum kecil dan melihat disampingnya kekasihnya dengan payung lain "Tentu, aku harus cepat menyelesaikan semua ini, kalau dibiarkan terlalu lama mereka akan terlalu nyaman nantinya"
"Ya, lakukan hal yang sama tanpa kamu jadi tersangka, maka saat semuanya berakhir tak akan ada masalah apapun"
"Akan aku usahakan, tapi tidak janji kadang aku tak sabaran dan tak bisa menunggu terlalu lama"
"Tentu, aku pasti akan terus membantumu"
Nadia menganggukkan kepalanya dan mereka dengan bersamaan berjalan kearah yang berbeda, jangan sampai ada yang melihat mereka berduaan.
Nadia juga harus segera pulang dan tak membuat siapapun yang ada dirumah kecewa.
...----------------...
Aldi terus menatap foto Nadira, gaun merah itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, dulu Nadira pernah meminta padanya kado gaun merah, tapi Aldi tak pernah memberinya malah membuat Nadira kecewa dengan memberikan gaun merah pada Siska, tentu saja Nadira marah pada Siska dan menjadi pertengkaran yang begitu hebat dan dirinya malah membela Siska dan menyakiti Nadira.
Aldi mengusap wajahnya dengan kasar dan menyimpan kembali foto Nadira yang selalu terpajang didalam kamar apartemennya.
"Nad, aku benar-benar binggung, apa yang sebenarnya ternyata dan kenapa kamu bisa tiba-tiba menghilang, aku sungguh tak mengerti dengan semua kejadian yang terjadi"
"Seharusnya saat itu aku memberikan mu gaun merah yang indah saat hari ulang tahun mu, tapi aku malah membuat kamu kecewa, tapi sebentar lagi kamu ulang tahun akan aku berikan gaun merah itu" gumam Aldi.
Entah kenapa rasa bersalah menjalar begitu saja pada hatinya yang awalnya dingin dan tak mau peduli dengan Nadira, tapi sekarang berbeda. Beberapa bulan di acuhkan oleh Nadira membuatnya mengerti, seperti ini rasanya menjadi Nadira dan rasanya tidak enak, apalagi kalau Nadira menjadi kasar padannya, Aldi tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Aku sadar sekarang aku mulai mencintai kamu Nadira, kenapa cinta itu datang begitu terlambat saat kamu sudah berubah dan tak ingin bersamaku lagi, tapi akan aku usahakan kamu akan ada disamping aku lagi dan kita akan bahagia bersama" Aldi mengusap foto Nadira dan mengecupnya dengan dalam.
...----------------...
Dinda dan juga Siska datang tergesa-gesa ke kantor polisi, mereka kaget saat di telefon kalau Merry ada dikantor polisi dan beritanya dia telah menghabisi Gavin. Mereka berdua tentu saja tak menyangka Merry akan melakukan hal nekad seperti itu.
Mereka berdua boleh di pertemukan dengan Merry yang masih bungkam dengan tatapan kosongnya, pisau tentu saja sudah tak ada ditangannya lagi.
"Merry, kenapa sih bisa lakuin ini, kamu gimana sih seharusnya sabar dan tinggalin laki-laki seperti itu tak usah dipertahankan, bagaimana sekarang dengan hidup kamu, orang tua kamu. Memangnya kamu ga kasihan dengan mereka"
Mata Merry langsung menatap kearah Siska yang tadi bicara "Bicara memang lebih mudah Siska, cobalah jadi aku dan kamu akan merasakan apa yang aku rasakan, aku tak peduli dengan hidupku orang tuaku memangnya mereka ada untuk aku tidak, aku sudah lelah dengan jalan hidupku yang tak pernah sesuai dengan keinginan ku, sudah kalian pergilah sebelum kalian yang akan menjadi sasaran kemarahanku" jawab Merry dengan sangat tenang tanpa ada teriakan sedikit pun.
"Kamu sudah terlalu jauh Merry, aku sungguh kecewa dengan apa yang kamu lakukan, sudah aku bilang kan akhiri saja tanpa harus bertindak sekejam ini" Dinda segera bangkit dan menarik Siska pergi, seperti apa yang Merry katakan tadi.
Merry sendiri hanya tersenyum dengan air mata yang mengalir, sudah terjadi apa yang harus di sesali tak ada bukan, ya sudah mau apa lagi. Merry hanya bisa diam menjalani hukumannya, sekarang hanya itu jalan hidupnya tak ada yang lain lagi.
Sedangkan Alex marah marah terus dari tadi karena gagal membawa Merry dan memberi pelajaran yang setimpal padannya.
"Udahlah mau gimana lagi dia udah ditangkap sama polisi, kita ga akan bisa lakuin apa-apa Lex"
"Telat, seharusnya dia sekarang ada disini dan dihabisi disini, perempuan itu tak akan bisa menebus semua kesalahannya dengan cara di penjara, dia harus di sakit agar tahu konsekuensinya telah menghabisi teman kita ini"
"Iya gue tahu, tapi semuanya sudah terlanjur juga, kita sekarang urus-urus saja untuk pemakaman Gavin, keluarganya belum ada yang datang" Indra mencoba untuk mengalihkan ke hal yang lain saja, karena dirinya juga sama marahnya pada Merry, tapi mau bagaimana lagi sudah terjadi dan sudah ditangani oleh polisi mereka tak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Cek, kenapa sih Gavin bodoh bisa pacaran sama perempuan gila, dari awal memang perempuan gila seperti itu harus dibasmi agar tak jadi benalu" teriak Alex sambil pergi meninggalkan Indra yang masih diam ditempat tanpa mengikuti Alex sama sekali.