NovelToon NovelToon
CINTA SANG PEMBURU

CINTA SANG PEMBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri / Horor / Tumbal / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Hendriyan Sunandar

Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sampai setelah semuanya di rasa baik baik saja, Tumang pun masuk gubuk dan mengawasi hamparan sawah itu dari dalam gubuk itu.

"selamat pagi bos ku. Bagaimana ? Apa padinya sudah bisa di panen?"

Tiba tiba Tumang di kejutkan oleh suara yang mengatakan itu. Dari salah satu pematang sawah, tampak seorang lelaki tiba tiba muncul sembari berjalan memperagakan sosok juragan terhormat yang sedang berjalan. Dadanya terlihat membusung, bibirnya tersenyum, dan berkacak pinggang. namun pakaiannya lusuh dengan beberapa tambalan di beberapa bagian sisinya. tak lupa golok buntet/pendek tampak tergantung di pinggangnya.

Yang tak lain adalah mang Darman yang menyempatkan datang menemui Tumang di pagi itu.

"halah... Bos bos. Bos apaan. Bos dari hongkong. Kirain siapa Mang. tumben masih pagi sudah mampir ke sini. Memangnya gak nyari rumput Mang ?"

balas Tumang menyambut kedatangan mang Darman dengan cara keluar gubuk dan segera menyalaminya.

"ehhh... Jangan berkata begitu dong anak muda. Kau itu harus yakin pada dirimu sendiri. Jika petakan sawah sawah ini suatu hari nanti, akan sah jadi milikmu. Kita ini tak lama lagi akan kaya Mang. Kita itu harus merubah nasib kita. Kau tau kan maksud ku? "

Ujar mang Darman lantas mendahului duduk di gubuk itu. Sementara Tumang tampak menarik nafas dalam sembari tersenyum dan mengatakan kalimah 'amin'. Namun raut wajahnya itu tampak sedikit memperlihatkan roman roman murung. Apalagi sejak malam hari buta dirinya itu sempat di buat takut oleh sosok itu. Dan kini mang Darman datang dan tentu saja akan kembali mengajak dirinya untuk mengikuti saembara itu.

"sekarang mamang yakin padamu Mang. Kau memang pantas di sebut pemuda pemberani seperti ayahmu dulu. Kau sudah bisa membuktikan jika kau berani mengambil caping itu untuk Mamang.

oh iya Mang. memangnya kau dapat ikan berapa ekor tadi malam? Sampai kau bisa berbagi ikan itu sama mamang. Terima kasih ya. Mana besar pula ikannya. Bibik mu itu sampai kesenangan loh Mang.

kau tak di ganggu lagikan sama lontong itu? "

Ucap lagi mang Darman di sertai candaan kecil yang menyebut dan meyakini suara wanita itu adalah suara dari pocong itu. dan bercanda dengan menyebut pocong itu menjadi lontong.

Kini mang Darman benar benar yakin pada kesanggupan dan keberanian Tumang. Caping yang di hantarkan dan di letakan di tempat penyimpanan sendal di rumahnya malam tadi, itu berhasil meyakinkan mang Darman jika Tumang berani datang lagi ke sungai itu. Serta sekitar pukul 02.00 dan satu ekor ikan yang di gantungkan di bilik rumah untuknya, itu menandakan jika Tumang sengaja memancing dahulu di malam tadi. Sehigga pantas saja jika ketika Tumang kerumahnya lagi, dirinya dan istrinya sudah tertidur pulas.

Mendengar mang Darman mengatakan itu, tentu saja Tumang pun seketika tersentak. Jangankan memberi ikan pada istri Mang Darman, pancing satu satunya saja talinya harus putus karena di ganggu oleh sosok itu.

"ikan ? Ikan apa Mang maksudnya? Boro boro..."

Sahut Tumang hendak mengatakan yang sebenarnya pada mang Darman. Namun mang Darman terlanjur memotong ucapannya dan malah memperlihatkan kantung keresek hitam pada Tumang.

"halahhh... Sudah sudah. Habis tenagamu itu kalo bicara terus tapi belum sarapan Mang. Nih... ayo kita sarapan dulu Mang. bibikmu sengaja memasakan ikan ini buat kita. Kau bawa bekal juga kan ?

mana mana... Mamang lihat Mang. pasti lauknya sama ikan juga kan? "

Timpa mang Darman sembari menarik lengan Tumang untuk segera duduk membuka bekal yang di bawanya. Tak heran Tumang pun tak ingin merusak suasana hangat itu. Dengan segera ia meraih kantong plastik bekalnya yang ia gantungkan pada paku karat di tiang gubuk itu.

Selang beberapa saat, tampaklah mang Darman yang baru saja membuka bekalnya. Dua kepal nasi putih dan sepotong ikan gabus bagian kepala yang ukuranya lumayan besar. Sementara bekal milik Tumang isinya sepotong ikan lele bagian ekornya dan nasi tiwul atau semacam makanan pokok pengganti nasi yang terbuat dari singkong.

Hati kecilnya sebenarnya sedikit malu memperlihatkan bekalnya itu. Namun mang Darman yang sejatinya tak jauh beda dengan keadaan Tumang, dirinya begitu mengerti dan hanya tersenyum lalu segera menyatukan bekal milik Tumang dengan dua kepal nasi miliknya. Tak heran jika pada akhirnya bekal yang di satukan menjadi satu itu menjadi banyak tanpa tau apakah keduanya sanggup menghabiskan semuanya.

"habiskan semuanya Mang. Jarang jarangkan kita sarapan sebanyak ini. Soal makan siang nanti atau sore hari kau tenang saja. Nanti Mamang akan ke sini menghantar nasi buatmu. Ayo makanlah.jangan lupa berdoa dulu"

Ucap mang Darman mengatakan itu pada Tumang. Mang Darman mengatakan jika sebenarnya dirinya datang sepagi itu, tak lain karena akan memanen padi milik bapak mertuanya. yang sebagian besar sudah matang dan sudah siap panen. Dan sudah hal lumrah jika ada aktifitas panen seperti itu, istri atau orang dapur akan sengaja masak lebih dan menghantarkan bekal pada orang yang bekerja di sawah nantinya.

Mendengar mang Darman mengatakan seperti itu, tentu saja Tumang pun tersenyum dan menganguk pertanda paham. Lantas berkali kali mengucapkan terima kasih pada mang Darman dan keduanya makan dengan lahap.

Selesai dengan sarapan itu, keduanya lalu menikmati hisapan tembakau linting sembari melanjutkan obrolannya di sertai semilir angin pegunungan yang terasa sejuk.

"apa hari ini bah Lemud akan ke sini Mang ? Kau sudah siapkan ikut saembara itu ? Mau kita berdua saja yang ikut atau kau mau mengajak lagi orang lain? "

Beberapa pertanyaan itu yang di lontarkan mang Darman pada Tumang dengan topik pembicaraan yang lebih serius. Sehingga Tumang pun yang sudah lebih dulu menduga mang Darman akan mengatakan itu, dirinya tampak merenung sejenak.

Namun untuk kali ini bukannya merenung merasa bingung. Melainkan berusaha memantapkan pilihannya. Tumang memutuskan untuk ikut andil dalam saembara itu. Selain imbalan saembara itu menggiurkan, hati kecilnya mengatakan jika sosok itu seperti ingin menyampaikan sesuatu padanya. Sosok itu jelas jelas menemuinya ke rumahnya. Tanpa menampakan wujud atau menggangu ibunya. terlebih siapa lagi yang sudah mengambilkan caping itu dan memberi ikan pada mang Darman jika bukan sosok pocong itu. dengan kata lain, sosok itu seperti menginginkan dirinya untuk ikut dalam saembara itu.

Sehingga atas alasan itu dan keterangan dari cerita bik Iroh sebelumnya, maka Tumang pun benar benar sudah bulat pada keputusannya.

satu satunya yang masih menjadi kendala, yaitu mendapatkan ijin dari ibunya. Tumang berkeyakinan jika suatu pekerjaan yang atau tanpa restu dari orang tua, maka tidak akan berahir dengan baik. Atau sekurang kurangnya akan terasa kurang berkah sekalipun tujuannya itu tercapai.

begitu kira kira pernyataan Tumang yang di sampaikan pada mang Darman. dan tentu saja keputusan itu membuat mang Darman seketika tersenyum lebar setelah mendengarnya.

"soal Emakmu kau tenang saja Mang. Amang yakin Emak itu cuma hawatir padamu. nanti selesai tarawih mamang akan coba bicarakan soal ini pada Emak. Sekalian kita jenguk Ustad Somad. Setuju?"

Timpa mang Darman menanggapi keraguan yang di pikirkan Tumang perkara ibunya. Di akhiri senyuman lebar dan jabatan tangan pertanda keduanya sepakat, pada akhirnya kedua mengangguk.

mang Darman segera pergi menuju sawah mertuanya, sementara Tumang tetap di gubuk itu sembari mengusir sekumpulan burung pipit yang mendekat pada petakan sawah.

1
Akbar Aulia
setan silemin iku opo thor
Hendriyan Sunandar: ya itu ka. semacam siluman dan sebangsanya. atau mhluk tak kasat mata.
total 1 replies
Hendriyan Sunandar
amin. terima kasih atas apresiasinya. semoga menghibur dan ada sedikit sedikit hikmah yang bisa di petik dari kisah ini.
Mắm tôm
dahsyat ttg cerita ini, semoga terus sukses author!
Hendriyan Sunandar: amin ya Allah. terima kasih ka. semoga bisa menghibur dan kiranya bisa bantu promokan cerita ini ya. semoga Allah melimpahkan rejeqi yg barokah pada kk. amin
total 1 replies
Rowan
Aku udah ngebayangin situasi karakter-karakter disini ke kehidupan nyata, bisa ngeri ngeri sedap gitu loh!
Hendriyan Sunandar: terima kasih ka sudah berkenan singgah. semoga terhibur dan ada kimha yang bisa di petik di dalamnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!