🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”
Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.
Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.
Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.
>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”
Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.
Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?
Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.
Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.
📚 Happy reading 📚
⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|5 Hari Kemudian...
5 hari berlalu.
Dalam waktu sesingkat itu, Suku Nahara berubah lebih cepat dari yang pernah mereka bayangkan.
Para pemburu mulai mampu membuat peralatan sendiri—tombak, pisau, dan perlengkapan sederhana. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan mulai dilakukan tanpa disuruh. Bahkan beberapa keluarga menanam mangrove kecil di sekitar mulut gua mereka, mengikuti usulan Tanaya, membuat tempat tinggal itu terasa lebih hidup, lebih bersih, dan harum oleh tanah lembap.
Sebagian besar usulan Tanaya akhirnya diterima.
Bukan hanya karena kecerdasannya, tapi juga karena Tharen—yang tanpa lelah berdiri di depan balai, meyakinkan para tetuah bahwa semua ini demi masa depan suku… dan demi putrinya.
Namun di balik ketenangan baru itu, ada sesuatu yang tidak terlihat dalam beberapa hari ini. Ketegangan yang bergerak diam-diam—seperti arus laut di bawah permukaan.
“Ayah! Ayah mau ke mana?”
Tanaya keluar dari dalam gua dengan langkah cepat. Setelah makan pagi, ia melihat Tharen bersiap pergi, langkahnya tergesa dan wajahnya terlalu serius untuk sekadar urusan biasa.
Akhir-akhir ini, ayahnya sering ke balai. Padahal pembelajaran pembuatan senjata sudah selesai.
Tharen menoleh. Wajahnya langsung melunak saat melihat putrinya. Senyum kecil terukir di bibirnya.
“Ayah akan ke balai. Menemui Ketua Sao,”jawabnya ringan.
Tanaya mengerjap pelan.“Lagi?”
“Ya,” sahut Tharen sambil menepuk dadanya kecil, seolah meyakinkan diri sendiri. “Seperti biasa. Suku ini masih sangat membutuhkan ayah.”
Nada itu terdengar bangga—namun ada sesuatu yang terasa… ditahan.
Alis Tanaya berkerut halus, Ia menatap ayahnya lebih lama. Sejak beberapa hari ini, Tharen sering pulang larut, pikirannya melayang, dan cara ayahnya menghindari tatapannya seolah ada beban yang sengaja tak ingin dibagi.
“Baiklah,” ujar Tharen akhirnya. “Ayah berangkat dulu. Kau tetap di rumah, ya. Turuti apa kata ibumu.”
Ia menunduk, mengecup kening Tanaya dengan lembut—lalu pergi tanpa menunggu balasan, langkahnya cepat seolah dikejar waktu.
Tanaya berdiri terpaku di mulut gua.
Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun segar. Semuanya tampak damai… terlalu damai. Namun, dadanya terasa mengganjal.
Dan untuk pertama kalinya… ia merasa ayahnya sedang melindunginya dari sesuatu yang justru ingin ia ketahui.
“Naya, nak… ini daging yang kau minta.”
Dari dalam gua, Sira keluar sambil membawa bungkusan daging kerbau. Bungkusan itu berisi beberapa potongan besar yang diikat menjadi satu, masih segar—jelas lebih banyak dari sekadar bekal biasa. Tangannya perlahan menyodorkannya pada Tanaya yang segera menoleh.
“Ah—terima kasih, Bu,” ucap Tanaya sambil menerimanya. “Tapi… ini kebanyakan.”
“Kau bisa membaginya dengan Zuam dan Liran nanti,” kata Sira lembut. “Kalian makan bersama saja.”
Pandangan Sira sempat melirik ke halaman gua, tepatnya ke arah jalan setapak yang biasa dilewati Tharen.
“Apa Ayahmu sudah pergi?"tanyanya pelan."Kalau sudah, kau boleh berangkat sekarang nak. Kalau ayahmu kembali dan melihatmu keluar, ia pasti tak akan mengizinkan.”
Tanaya terdiam sejenak. Ada pertanyaan yang ingin ia ajukan—tentang ayahnya, tentang kesibukan di balai. Namun semua itu malah tertahan di tenggorokannya.
“Naya, sayang… kau sedang memikirkan apa?”tanya Sira sambil mengelus punggung putrinya lembut.
Tanaya tersentak kecil, lalu tersenyum.
“Emm… tidak apa-apa kok, Bu.”Ia menggeser bungkusan daging ke pelukannya. “Aku berangkat dulu, ya. Makasih, Bu.”
Tanaya meraih busur yang sudah ia siapkan di sisi gua, dan menyampirkannya ke punggungnya lalu melangkah pergi.
Sira mengangguk pelan, ia menatap punggung putrinya yang kian menjauh.
“Sebelum matahari tenggelam, harus pulang, ya!” serunya.
Tanaya menoleh, ia tersenyum singkat sambil mengangguk.
“Baik, Bu!”
Ia pun melangkah pergi. Di perjalanan, niatnya hendak menuju rumah Zuam.
Hari ini ia berencana akan kembali ke pantai—memeriksa kristal putih yang telah mereka jemur beberapa hari terakhir. Ia dan Liran sepakat berkumpul di rumah Zuam lebih dulu, lalu berangkat bersama. Di rumah Zuam memang sedikit lebih dekat kearah pantai, meski jaraknya masih harus ditempuh dengan berjalan kaki cukup lama.
Di sepanjang perjalanan, pandangan Tanaya tak henti-hentinya menelusuri pepohonan besar yang menjulang rindang di sekitarnya. Daunnya lebat, batangnya kokoh, seolah telah berdiri ratusan tahun menjaga lembah. Udara terasa sejuk, bersih, dan pagi itu langit tampak bersahabat—tak terlalu terik, tak pula mendung.
Di dunianya yang dulu, pemandangan seperti ini nyaris mustahil ia temui. Yang ada hanyalah gedung-gedung tinggi, jalanan padat, udara terasa sesak dan suara mesin yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di sini… setiap tarikan napas terasa hidup.
Kakinya menapaki bebatuan kecil dengan langkah hati-hati. Ia melewati beberapa rumah gua lain yang tampak lebih rapi dari sebelumnya. Aktivitas suku mulai terlihat sejak pagi.
Ada yang sedang memotong hasil buruan, darah segar mengalir ke tanah.
Ada yang memasak di luar gua, asap tipis mengepul membawa aroma daging dan rempah.
Ada pula yang sedang menyamak kulit hewan—proses yang rumit dan melelahkan, Tanaya tahu betul itu. Ia pernah melihat Yaren melakukannya, dan betapa telaten tangan-tangan itu harus bekerja agar kulit tak rusak.
Beberapa warga menoleh saat ia lewat. Ada yang mengangguk, ada yang tersenyum, dan ada pula yang menyapanya singkat.
Tanaya membalas semuanya dengan senyum lembut dan anggukan kecil—sebuah kebiasaan sederhana yang perlahan membuatnya diterima sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Tak lama kemudian, rumah gua Zuam mulai terlihat.
Letaknya agak terbuka menghadap jalur yang mengarah langsung ke hutan dan pantai. Di depannya, beberapa alat berburu tersandar di batu—tombak, pisau Lera, dan keranjang anyaman yang tampak siap dibawa pergi.
Tanaya berhenti sejenak di halaman gua itu, ia menarik napasnya pelan.
Hari ini… entah mengapa dadanya terasa sedikit berdebar. Garam itu bukan sekadar percobaan lagi—ia tahu, apa pun hasilnya bisa mengubah banyak hal.
Ia lalu melangkah masuk.
“Zuam?” panggilnya pelan.
Tapi sesaat tak ada jawaban.
Tanaya berdiri di depan mulut gua itu sejenak, matanya menyapu sekitarnya. Biasanya, suara Zuam—entah menggerutu atau tertawa keras selalu terdengar bahkan sebelum ia sempat memanggil.
Tapi kini… sunyi. Seolah pria itu benar-benar tak ada di sana.
Alis Tanaya sedikit berkerut. Ia melangkah lebih dekat, menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada tanda-tanda pemuda itu lewat. Jejak kaki pun tak tampak jelas di tanah sekitar.
Hingga tak lama wajahnya tersentak saat tiba tiba mendengar suara tangisan dari dalam gua.
Bukan cuma satu—melainkan beberapa. Tangisan anak-anak kecil, saling bersahutan, kecil dan serak, membuat dada Tanaya seketika mengencang. Jantungnya sontak berdetak lebih cepat.
“Zuam?”Panggilnya lagi, kali ini lebih keras, nadanya tak lagi setenang tadi.
...>>>>To Be Continued....