Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian
Keesoakan harinya, Jessica sudah tampak sehat secara emosional. Dia sudah bisa bercanda dengan Julian yang sedang mengepak pakaian ke dalam koper.
"Kau benar-benar tidak mau pergi ke apartemen mu," Jessica menggeleng.
"Baik lah kita akan membeli pakaian yang baru untuk mu, untuk sementara pakailah pakain ku," ungkap Julian sambil tersenyum ke arah Jessica.
Julian memperhatikan gerak gerik Jessica dari jauh, dia sangat cantik dan baik apa yang membuat orang berbuat jahat kepadanya. Sampai membuat Jessica ingin mengakhiri hidupnya. Julian mulai berfikir dalam hati Kemudian Julian mendekat ke arah Jessica.
"Jessica bagai mana keadaan mu?" Sekarang Julian berada cukup dekat dengan Jessica.
"Baik," jawab Jessica tersenyum.
"Oh syukur lah!" ungkap Julian sambil membalas senyum Jessica.
"Hari ini kita akan bepergian jauh kamu siap meninggalkan semunya?"
Jessica terdiam di liriknya Julian, Jessica tak bicara hanya memberikan isyarat dengan mengangguk.
"Baik nona," jawab Julian kemudian, Jessica lega mendengar ucapan Julian.
"20 menit lagi kita berangkat," kata Julian Sambil berlalu. di iringi senyum Jessica.
**********************************
Tak terasa 20 menit pun berlalu, Jessica sudah siap begitupun Julian, kemudian Jessica memberikan kunci mobil kepada Julian.
"Kita akan berkedaraan cukup jauh," Jessica tersenyum mendengar ucapan Julian.
Bruk ...
Julian membuka pintu mobil itu untuk Jessica, Jessica tersenyum kearah Julian sambil masuk kedalam mobil.
Vroom! Vroom!
Whooosh ...
Dan mereka pun melaju menjauh dari tempat itu, di sepanjang perjalanan Jessica memperhatikan Julian, beberapa kali Julian menangkap basah Jessica sedang menatapnya.
"Semua barang-barang mu sudah ada di bagasi" ungkap Julian membuat Jessica terkejut.
"Luar biasa kapan kau melakukannya," sahut Jessica.
"Saat kau terlelap aku menyuruh teman ku untuk menyiapkan nya," ungkap Julian.Jessica tersenyum.
"Aku menyuruh seseorang ke apartemen mu untuk mengemasi barang-barang mu dan mengambil paspor mu," ungkap julian lagi.Jessica memandangnya lagi, dengan seksama.
"Ada apa nona?"
" Ah tidak, aku sangat beruntung bertemu dengan mu," kata Jessica . Julian tersenyum.
"Aku juga berutung bisa mengenal mu" sahut julian. Jessica tersenyum mendengar ucapan Julian di sepajang jalan dia tak henti-hetinya tersenyum.
"Aku orang biasa nona!" ungkap Julian lagi.
"Bagiku kau bukan laki-laki biasa,"
"Kau tidak mengenal ku, bagaimana waktu itu kau langsung membantu ku saat mabuk,"
"Kan sudah ku bilang, pertemuan kita takdir," kata Julian Jesica tersenyum kemudian tertawa kecil.
"Kalau seandainya kamu kemarin mati, kamu tidak akan tertawa seperti ini," Kata Julian.
"hehehehe, sekarang kemana tujuan kita ?" tanya Jessica.
"Swiss!" Kata Julian singkat. Jessica menatap Julian agak kaget.
"Itu tempat yang tenang dan jauh dari orang-orang yang mengenal mu!" Julian tersenyum tipis.
"Terimakasih julian," ucap Jessica pelan.
Setelah perjalannan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai di rumah peristirahatan di sebuah desa di swiss, Julian memarkir mobilnya.
"Pakaian mu kurang oke," kata Julian memperhatikan Jessica, Jessica tersenyum Julian mulai Memerintahkan Jesika untuk berganti pakaian.
Mereka berdua keluar dari mobil, Jessica mengikuti Julian dari belakang.
Tap ... Tap ... Tap ...
Mereka masuk ke dalam sebuah rumah peristirahatan di desa swiss, gadis cantik itu menarik tangan Julian dia kemudian memeluknya dengan erat.
Di tempat itu untuk sementara hati Jessica merasa riang, dia bisa tertawa bersama Julian.
"Iya ini hidup mu yang baru, kau akan hidup sebagai pacar ku," kata julian sambil tersenyum ke arah Jessica.
Mereka berdua menikmati malam itu dengan gembira, persahabatan mereka terjalin dengan cukup indah.