Stevi memutuskan untuk melupakan cintanya kepada Alex dengan menerima lamaran dari Thomas, yang tidak lain adalah adik Alex.
Tapi di saat Stevi dan Thomas akan menikah, prahara datang. Stevi di fitnah dan itu membuat Thomas pergi dan meninggalkan Stevi.
Orang tua Thomas yang malu akan kelakuan anak bungsunya, meminta Alex untuk menggantikan adiknya menikahi Stevi.
Alex tidak bisa menolak, namun dalam hatinya Alex sangat marah karena saat ini Alex sudah mempunyai kekasih.
Akankah Stevi bertahan dengan pernikahannya ataukah Stevi memilih untuk pergi dan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Alex dan Thomas sama-sama sedang galau, kedua pria tampan itu sangat sakit dibenci oleh wanita yang mereka cintai.
Alex sudah mulai sadar, dia memang benar-benar mencintai Stevi.
"Stevi, aku mencintaimu bagaimana caranya supaya kamu mau memaafkanku dan rencana perceraian itu," gumam Alex.
***
Satu Minggu kemudian...
Hari-hari Alex dan Thomas terasa sangat hambar, bahkan kedua pria tampan itu menjadi sangat dingin. Apalagi Alex, Stevi sudah mengirimkan surat gugatan cerainya kepada Alex dan itu membuat Alex merasa sangat marah.
Pintu ruangan Alex terbuka. "Kak, sudah waktunya makan siang, ayo kita makan siang dulu," seru Maya.
"Kamu makan saja sendiri."
"Tidak bisa gitu dong, aku mau makan bareng Kakak," rengek Maya.
"Kamu budeg atau pura-pura budeg sih? aku bilang kamu makan saja sendiri, aku tidak lapar!" bentak Alex.
"Astaga Kak, gak usah bentak-bentak segala," geram Maya.
"Mulai sekarang kamu jangan ganggu aku, dan mulai sekarang juga hubungan kita berakhir," seru Alex.
"Kakak benar-benar jahat, padahal aku dulu setia sama kamu nungguin kamu pulang bertahun-tahun tapi sekarang apa balasannya? Kakak membuang aku seperti sampah," geram Maya.
"Sudahlah, jangan membahas masa lalu karena aku sudah melupakannya. Jadi aku harap kamu bisa move on melupakan aku."
Air mata Maya menetes. "Bukannya Stevi sudah menggugat cerai Kakak, jadi kenapa Kakak mengakhiri hubungan kita?" kesal Maya.
"Karena aku akan terus mengejar Stevi dan aku akan berusaha supaya Stevi membatalkan gugatan cerainya," sahut Alex.
"Kamu benar-benar keterlaluan Kak, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada Stevi," seru Maya dengan geramnya.
Maya langsung pergi dari ruangan Alex dengan mata yang memerah menahan emosi, Alex panik dan mengejar Maya.
"Kamu mau apa May? jangan macam-macam!" teriak Alex.
"Aku harus lenyapkan Stevi, karena dari dulu Stevi hanya menjadi beban buat hidupku. Banyak orang yang menyanjung Stevi dan mereka hanya melihatku dengan sebelah mata, sesempurna itukah Stevi?" sentak Maya dengan deraian air matanya.
Maya terus berlari masuk ke dalam mobilnya dan Alex dengan sigap masuk dari pintu yang satunya lagi.
"Mau ke mana kamu? jangan bertingkah konyol!" bentak Alex.
Maya tidak mendengarkan bentakan Alex, dia langsung tancap gas dan pergi dari kantor. Thomas melihat itu dan dia pun segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar mobil yang Maya kendarai itu.
"Apa wanita itu sudah gila, membawa mobil sekencang itu," gumam Thomas.
"Hentikan Maya!" teriak Alex dengan mengambil alih stir mobil Maya.
Maya tidak mau kalah, dia terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan laju mobil itu sudah oleng.
"Astaga, kalau begini kita bisa celaka!" teriak Alex.
"Aku tidak peduli," sahut Maya.
"Kamu benar-benar sudah gila, Maya."
Maya dan Alex terus rebutan stir mobil, hingga tidak terasa mereka sudah dekat dengan kantor Stevi. Kebetulan sekali Stevi keluar dari kantornya hendak menyebrang ke restoran depan kantornya karena mau makan siang.
"Kebetulan sekali," gumam Maya dengan senyumannya.
Alex menoleh ke depan dan betapa terkejutnya saat melihat Stevi sedang menyebrang jalanan.
"Tidak, hentikan mobilnya."
"Kali ini Stevi harus mati."
"Berikan kemudinya kepadaku!" teriak Alex.
Sementara itu Stevi menyebrang dengan mengusap perutnya.
Thomas pun terkejut. "Astaga, Stevi."
"Maya, hentikan!" teriak Alex.
Maya malah semakin gila, dia menginjak gasnya.
"Stevi, awaaaaaaaaasssss!" teriak Alex.
Seketika Stevi menoleh dan membelalakkan matanya. "Aaaaaaaaaa......"
Bruuuuuaaaaakkkk....
Suara hantaman sangat keras terdengar, sebelum menutup matanya Stevi sempat melihat Alex dan Maya yang berada di dalam mobil itu hingga akhirnya Stevi menutup mata dengan darah di mana.
"Stevi."
Alex dengan cepat keluar dari dalam mobil Maya. "Stevi, bangun."
Alex memeluk Stevi yang penuh dengan darah itu, air matanya menetes. Thomas ikut keluar dan menghampiri Stevi. "Ya Allah, Stevi."
Alex mengangkat tubuh Stevi dan dengan cepat membawanya ke dalam mobil Thomas, sementara itu Maya hanya bisa terdiam di dalam mobilnya dan melihat nanar ke arah darah yang mengalir di atas aspal itu.
"Stevi, aku mohon bertahanlah. Thomas, lebih cepat lagi!" teriak Alex panik.
"Iya Kak, ini juga sudah cepat."
Thomas benar-benar seperti orang gila, dia melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Baju Alex sudah penuh dengan darah Stevi, bahkan Alex bingung dari kaki juga terus mengalir darah.
"Kenapa darahnya banyak sekali?" gumam Alex.
Alex terus memeluk Stevi, dia benar-benar takut terjadi kenapa-napa dengan Stevi. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit.
Alex keluar dari dalam mobil Thomas dengan mengendong Stevi.
"Suster, tolong saya!" teriak Alex.
Dua orang suster pun datang dengan membawa brankar, Stevi langsung di bawa masuk ICU. Alex dan Thomas menunggu Stevi di luar, Thomas dengan cepat menghubungi kedua orang tuanya dan juga Mami Stevi.
"Maya memang gila, lihat saja aku tidak akan melepaskan dia," geram Thomas.
Alex tampak frustasi, dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Baru saja dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Stevi dan ingin membujuk Stevi supaya membatalkan gugatan cerainya.
"Kalau sampai terjadi kenapa-napa sama Stevi, aku bersumpah akan membunuhmu Maya," batin Alex dengan mengepalkan tangannya.
Tidak lama kemudian, orang tua Alex dan Mami Stevi datang.
"Bagaimana dengan keadaan Stevi?" tanya Mami Nia.
"Dokter masih memeriksanya, Tante," sahut Thomas.
Bobby mencengkram baju Alex. "Apa lagi yang sudah kamu lakukan Alex?" bentak Papa Bobby.
"Sudah Pa, nanti saja marahnya ini rumah sakit," seru Mama Linda menenangkan suaminya itu.
"Kalau sampai terjadi kenapa-napa sama Stevi, Papa tidak mau memaafkan kamu," ancam Papa Bobby.
Bobby memang sudah tahu kalau yang menabrak Stevi adalah Alex dan juga sekretarisnya cuma Bobby tidak mengatakannya karena takut Nia tambah marah dan membenci Alex.
Sedangkan Maya saat ini sudah berada di kantor polisi.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan ICU pun terbuka.
"Bagaimana dengan kondisi anak saya, dok?" tanya Mami Nia.
"Anak ibu harus segera di operasi karena anak ibu mengalami pendarahan hebat, dan saya mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan janinnya," seru Dokter.
Alex, Thomas, Bobby, dan Linda terkejut dengan ucapan dokter sedangkan Nia hanya bisa pasrah dan menangis.
"Inalillahi," gumam Mami Nia.
"A-apa? ja-ja-nin?" seru Alex terkejut.
"Iya Nak, saat ini Stevi sedang hamil dan usia kandungannya baru berusia satu bulan," sahut Mami Nia dengan deraian air mata.
Lemas sudah tubuh Alex, ia ambruk di lantai rumah sakit. Sementara itu suster segera membawa Stevi ke ruangan operasi, luruh sudah air mata Alex.
Dia tidak menyangka kalau saat ini Stevi sedang mengandung anaknya.
"Ya Allah, anakku," gumam Alex.
Sungguh saat ini perasaan Alex semakin bertambah bersalah dan rencananya untuk membujuk Stevi supaya membatalkan gugatan cerainya tidak akan pernah terkabul.