Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memorable 19
Malam ini terasa begitu sunyi, hampir seluruh penghuni rumah Janice telah terlelap.
Di dalam kamar Jason dan Naomi, terlihat Jason tidur dalam kondisi gelisah. Sepertinya mimpi buruk sedang dialaminya. Keringat dingin pun mulai membasahi wajahnya.
“Jangan!” lirih Jason.
“Hentikan Jessica, aku mohon. Jangan lakukan itu,” racau Jason.
Naomi merasa tidurnya terusik pun, akhirnya membuka mata. Dia cukup terkejut saat melihat Jason sedang mengigau. Akhirnya Naomi membangunkan tidur Jason, membuat pria itu terkejut dan langsung membuka matanya.
Nafas jason tak beraturan. Naomi mengambilkan segelas air untuk suaminya itu.
“Minumlah,” kata Naomi, sambil mengusap punggung Jason.
Jason mengambil gelas tersebut dan meminum airnya sampai habis. Nafas Jason mulai teratur tidak seperti tadi.
“Mimpi buruk lagi?” tanya Naomi, dan dibalas anggukan kepala oleh Jason.
Naomi mendesah, ditatapnya Jason dengan lekat. Dia merasa kasihan pada suaminya yang selalu mengalami mimpi buruk. Ini bukan yang pertama kali, tapi bisa hampir tiap minggu dan di hari yang sama pula, Jason mengalami mimpi buruk yang sama.
“Kamu bermimpi yang sama di hari yang sama pula. Apakah kamu masih belum melupakan kejadian itu?” tanya Naomi.
Jason menoleh dan menatap sang istri. “Sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakan, atau memaafkan mereka. Kejadian itu sangat melekat dalam ingatanku,” jawab Jason, membuat Naomi mendesah pelan.
“Polisi sudah menyelidiki semuanya, dan semua sudah terbukti, kalau Jessica meninggal karena kecelakaan tunggal.” Naomi mencoba mengingatkan sang suami, agar Jason mah berdamai dengan keadaan.
Jason menggeleng cepat. “Memang itu kecelakaan tunggal. Tapi, merekalah yang telah membuat adikku mengalami depresi berat. Mereka orang-orang yang telah berkhianat,” kata jason, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan meremas selimut di tubuhnya.
Kejadian kelam benar-benar membuat sikap Jason berubah menjadi keras kepala. Bahkan dirinya masih enggan memaafkan secara ikhlas pada Fandy ataupun Irene. Jason selalu berpikir, bahwa karena mereka-lah Jessica meninggal.
*Flash Back On*
Jason duduk di ruang tamu, dengan wajah yang hancur. Dia baru saja menerima kabar bahwa adiknya, Jesica, telah meninggal dalam kecelakaan. Dia tidak bisa percaya, tidak bisa menerima kenyataan itu. Berbulan-bulan sang adik mengalami depresi berat akibat sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh Fandy dan juga Irene.
Dimana Irene dan Fandy melakukan pertunangan secara diam-diam di saat Fandy masih menjadi kekasih Jessica. Dahulu memang keluarga Arkana belum sejaya saat ini. Itulah membuat nyonya Emi Canet, ibu dari Fandy meminta Fandy menikah dengan putri dari keluarga Zuno, yang bukan lain adalah Irene.
Sebenarnya Tanu Canet, ayahnya fandy sangat tidak setuju atas keputusan sang istri. Namun, dirinya tidak berdaya sebab status sosial keluarganya lebih rendah dibanding dengan keluarga Emi Canet. Di negara mereka, siapapun yang berstatus lebih rendah dari pada pasangannya. Harus tunduk hormat dan menerima keputusan yang diambil.
Jessica mengetahui hal tersebut dan langsung menemui Fandy setelah sehari pertunangan pria itu dengan Irene. Jessica mengajak Fandy untuk bertemu di sebuah taman, tempat biasa mereka bertemu. Bukan hanya Fandy yang ingin ditemui, melainkan Irene juga.
“Kamu mengkhianatiku, Fandy.”
Fandy menggeleng pelan. “Jessica, tolong dengarkan penjelasanku dulu.”
Tangan Jessica terangkat. “Stop! Aku sudah tahu semuanya, Fandy. Kau dan sahabatku sendiri telah mengkhianatiku,” pekik Jessica, sambil menunjuk wajah Fandy.
Irene yang baru datang pun sempat terkejut melihat Fandy juga ada di sana. Jessica tersenyum sinis ketika melihat kedatangan Irene.
“Calon istrimu datang, Fandy. Apa kau tidak ingin menyambutnya?”
Fandy terkejut dan menoleh ke arah belakangnya. Fandy segera menoleh ke arah Jessica lagi.
“Sayang, please! Dengarkan penjelasanku dulu. Aku dan Irene terpaksa bertunangan, sebab Ibuku yang memintanya.”
Jessica tidak mendengarkan, dia malah tertawa. “Kamu pikir aku percaya, hah? Aku tahu kamu juga menyukai dia.” Jessica menunjuk ke arah Irene dengan tatapan marah. “Perlu kau tahu juga, Fandy. Dia pun mencintaimu, dan kalian juga sudah saling mengungkapkannya. Kalian pikir aku ini bodoh, hah?” Jessica kembali berteriak dengan wajah memerah, karena emosinya benar-benar meledak.
Fandy dan Irene semakin dibuat terkejut dengan ucapan Jessica. Fandy pun, menoleh ke arah Irene. Irene menggeleng, seakan berkata ‘aku tidak tahu’. Melihat interaksi keduanya membuat Jessica kembali tertawa sinis.
“Lihatlah. Kalian memang cocok. Sama-sama tukang bohong!” teriak Jessica. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua. Aku bersumpah sampai aku mati pun kalian tidak akan pernah hidup bahagia. Kalian akan selalu hidup dalam penyesalan,”
Fandy dan Irene semakin terkejut mendengar sumpah serapah Jessica. Fandy berlutut dan meminta maaf pada Jessica. Namun, wanita itu tidak menggubrisnya sama sekali. Rasa sakit hatinya akan pengkhianatan cintanya yang tulus itu, telah membuat hatinya beku.
Setelah kejadian itu, Jessica lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Membuat kedua orang tuanya, sebab mereka sering mendapati Jessica menangis dan melamun. Jason mengetahui perubahan sikap sang adik pun, segera mencari tahu alasan dibalik perubahan sikap Jessica.
Setelah mendapatkan apa yang ingin diketahui, Jason pun sempat murka dan hendak memberi pelajaran pada Fandy. Namun, dihadang oleh kedua orang tuanya.
Tingkat depresi Jessica semakin menjadi-jadi saat mengetahui Fandy telah menikah dengan Irene. Jason dan kedua orang tuanya tidak tinggal diam. Mereka pun mengajak Jessica untuk berobat ke psikolog. Hampir 3 tahun Jessica menjalani perawatan akibat depresinya, hingga dia dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya.
Jason dan kedua orang tuanya pun merasa bahagia. Setelah Jessica sembuh, Jason pun menikah dengan Naomi. Jessica menerima Naomi dengan senang hati, membuat Naomi tidak kesulitan untuk mendekatkan dirinya pada adik iparnya itu.
Jessica tahu selama tiga tahun itu, Fandy dan Irene juga belum dikaruniai seorang anak. Membuat Emi kesal dan sempat ingin menikahkan Fandy dengan anak temannya lagi. Namun, kali ini Fandy menolak. Sebab yang hendak dijodohkan olehnya adalah Jessica sendiri.
Karena penolakan itu, membuat Jessica sakit hati. Karena cintanya yang begitu besar pada Fandy membuat Jessica rela mengemis kembali pada Emy, agar dirinya dapat dipersunting oleh Fandy. Sebenarnya kedua orang tua Jessica dan Jason sudah menolak dan melarang Jessica menikah dengan Fandy.
“Aku mohon, Ma, Pa, Kak. Aku hanya ingin bahagia bersama pria yang aku cintai. Apakah kalian sudah tidak menyayangiku lagi?” kata Jessica, memohon pada keduanya orang tuanya dan sang kakak.
Nyonya Arkana mendesah kasar. “Mengapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja kami sangat menyayangimu, Jessica. Kami hanya tidak ingin kamu kembali merasakan rasa sakit yang sama,” jawab sang ibu.
“Apalagi kamu menjadi istri kedua Fandy,” sambung Nyonya Arkana.
“Yang dikatakan Mama itu benar, Jessica. Kakak pun, kurang setuju jika kamu menikah dengan Fandy dan menjadi istri ke duanya.”
Jessica menggeleng cepat, lalu ia berdiri dari duduknya. Lalu mengambil pisau pemotong buah yang ada di atas meja. Membuat Jason dan kedua orang tuanya terkejut.
“Jessica hentikan!” teriak Tuan Arkana.
“Jessica, tolong jangan berbuat nekat seperti. Jauhkan pisau itu!” Jason pun tak kalah terkejutnya dari sang papa. Dia melihat Jessica sudah mendekatkan pisaunya di leher wanita itu.
Nyonya Arkana sudah menangis dan tak berani mendekati Jessica. Karena ia takut kalau Jessica semakin nekat melukai tubuhnya dengan pisau tersebut.
“Baiklah. Kau boleh menikah dengan Fandy,”
Jason dan Nyonya Arkana menoleh ke arah Tuan Arkana. Walaupun terkejut dan kesal mendengarnya, mereka tetap harus menerimanya. Sebab, ucapan tersebut dapat menenangkan Jessica. Pisau di tangan wanita itu pun terjatuh. Jason segera menjauhkan pisau tersebut dengan menendangnya.
Pernikahan pun berlangsung cukup meriah. Irene menangis di dalam kamarnya, bagaimanapun juga dirinya harus rela berbagi suami. Namun, tiba-tiba saja perutnya terasa mual dan kepalanya pun terasa pusing.
Dimalam pernikahan Jessica dan Fandy, kabar bahagia langsung di dengar Fandy kalau Irene sedang mengandung buah hati mereka. Malam yang seharusnya menjadi malam pertama bagi Jessica, berubah menjadi malam yang menyesakkan. Sebab malam itu Fandy tidak tidur bersamanya di kamar hotel yang sudah disiapkan. Melainkan bersama Irene di apartemen mereka.
Merasa sangat kesal, akhirnya Jessica nekat menghampiri apartemen Fandy dan Irene. Saat tiba di sana Jessica dibuat terkejut ketika mendapati Irene sedang memakai handuk kimono saat menyambut kedatangannya. Tidak lama disusul Fandy yang terlihat baru saja mandi. Jessica kembali merasakan sakit hati, pikirannya pun sudah tidak bisa diajak untuk berpikir positif.
Keributan pun tidak dapat dielakkan lagi. Di dalam apartemen Jessica berusaha ingin mencelakai Irene. Namun, Fandy bisa menghadang dan berakhir menampar wajah Jessica.
Jessica menatap nyalang pada Fandy dan juga Irene. “Aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua!” teriak Jessica.
Dia pun akhirnya berlari keluar meninggalkan apartemen itu. Irene terlihat sangat panik dan meminta Fandy untuk mengejarnya. Akhirnya Fandy dan Irene pun mengejar Jessica dengan mengendarai mobil. Namun naas, saat diperjalanan Fandy dapat melihat sebuah mobil ditabrak oleh sebuah truk. Fandy dan Irene sangat terkejut, sebab mereka dapat mengenali pemilik mobil tersebut.
“Jessica!” teriak Irene dan Fandy.
Keluarga Arkana benar-benar dibuat terkejut dengan kabar kecelakaan yang dialami oleh Jessica. Jason tiba lebih dahulu di rumah sakit setelah mendengar kabar Jessica kecelakaan.
“Apa yang kau lakukan pada adikku?” tanya Jason, sambil menarik kerah baju Fandy.
“Kak Jason tolong tenangkan dirimu,” kata Irene.
Jason menatap tajam pada Irene, membuat wanita itu langsung menundukkan wajahnya.
“Tolong tenanglah, Kak. Jessica saat ini sedang dalam penanganan dokter,” kata Irene kembali, namun pandangannya masih menunduk sebab dia tidak berani menatap ke arah Jason.
Kedua orang tua Jason dan Fandy datang bersamaan, begitu juga Naomi. Dokter keluar dari ruang IGD, dan mengatakan Jessica tidak dapat diselamatkan, dia meninggalkan setelah ditangani beberapa menit yang lalu. Suara tangisan menggema di lorong ruang IGD tersebut. Terlebih Jason yang begitu menyayangi sang adik.
Naomi memeluk tubuh Jason yang sudah terduduk lemah, sambil menangis lirih. Fandy dan Irene lagi-lagi merasa begitu bersalah atas meninggalnya Jessica. Fandy pun berjalan mendekat ke arah Jason. Dia berlutut di hadapan pria yang baru menjadi kakak iparnya itu.
“Maafkan aku karena tidak bisa menjaganya,” kata Fandy, sambil menundukkan wajahnya.
Jason menghentikan tangisnya, mendengar permintaan maaf Fandy kembali membuat Jason emosi. Pria itu pun bangkit dan segera memukul wajah Fandy. Semuanya terkejut dan segera melerai Jason.
“Hentikan, Jason!” kata Tuan Arkana.
“Lepaskan aku, Pa. Akan aku beri pria brengsek ini pelajaran yang mungkin tidak setimpal dengan apa yang Jessica rasakan.” Jason meronta masih sangat ingin memukuli Fandy.
Emy dan suaminya pun ikut menenangkan Jason. “Kami mohon hentikan, Nak. Jessica baru saja meninggal, dia juga pasti sedih melihat suaminya di pukul olehmu. Tolong maafkan putra kami,” kata Emy yang sedikit menurunkan egonya.
Jason mengepalkan kedua tangannya, matanya memerah, dan dadanya naik turun. Nafasnya tak beraturan karena emosi yang tertahan.
“Pergi kalian semua!” kata Jason, sambil mengusir Fandy dan keluarganya.
“Mulai saat ini keluarga Arkana dan Canet tidak ada lagi hubungan yang terikat,” ucap Jason yang begitu menohok.
Emy menggeleng cepat dan tidak terima dengan ucapan Jason. “Kau tidak bisa memutus hubungan begitu saja. Biar bagaimanapun Jessica adalah menantu di keluarga Canet,” protes Emy.
“Sudah tidak lagi. Kau juga tahu kan, Bibi. Jessica sudah tiada, dan itu artinya keluarga kami sudah tidak ada lagi hubungan dengan keluarga kalian.”
Emy masih tidak terima akan ucapan Jason. Tanu pun, mencegah sang istri dan memintanya untuk menurut saja. Emy masih sangat kesal dan akhirnya pergi dari rumah sakit.
Flashback Off
Jason mengusap wajahnya dengan kasar, ingatan masa kelam itu kembali lagi. Setelah bermimpi dan terbangun dari mimpinya itu, membuat Jason tidak bisa memejamkan matanya lagi. Sementara Naomi sudah kembali terlelap.
Jason melihat jam di ponselnya, ternyata sudah pukul setengah empat pagi. Kemudian dia bangun dari tempat tidur dengan hati-hati, karena tidak ingin membangunkan Naomi. Dia mengambil sebungkus rokok dari laci nakas, dan berjalan keluar kamar. Jason duduk di teras balkon sambil menghisap sebatang rokok.
Jason juga mengingat kejadian dimana Tuan Tanu Canet, yang setelah belasan tahun tidak bertemu, tiba-tiba saja datang menemuinya dan meminta maaf atas kejadian lalu. Tuan Tanu Canet datang sendiri, ternyata Emy sudah meninggal setelah cucu pertamanya lahir. Jason merasa sedikit iba melihat kondisi Tanu saat itu. Pria itu datang sebelum menemui ajalnya, sebab Tanu sudah divonis dokter kalau usianya hanya dapat dihitung beberapa bulan lagi. Karena saat itu Tanu sedang mengidap kanker usus stadium akhir.
Tanu meminta agar cucunya dinikahkan dengan putri Jason. Ya, diam-diam Tanu mencari tahu kabar mengenai Jason setelah kedua orang tuanya meninggal di dua tahun setelah Jessica meninggal dunia. Jason yang masih menyimpan perasaan dendamnya atas sikap Fandy yang telah mengkhianati Jessica, membuat Jason langsung menolak keinginan Tanu.
Beberapa bulan kemudian Jason mendapat kabar bahwa Tanu meninggal dunia. Sebagai rasa hormatnya pada Tanu, Jason pun mengajak Naomi datang ke rumah duka sebelum jasad Tanu di kremasi.
Jason menyaksikan beberapa tradisi untuk pemakaman tersebut, seperti membakar ‘kertas joss’ (replika barang untuk akhirat), upacara malam kembang, dan doa dilakukan sebelum kremasi. Krematorium juga meminta pihak keluarga untuk menyaksikan proses kremasi dan juga meminta Fandy menekan tombol awal untuk mengkremasi jenazah. Setelah kremasi, abu jenazah dapat dimasukkan ke dalam kantong kecil atau guci. Keluarga juga bisa memilih untuk menyimpan guci di rumah atau di kuil Buddha, dengan ritual khusus.
Setelah semuanya selesai, Fandy mendatangi Jason. Dia berjalan mendekat dan membungkuk, sambil meminta maaf.
“Ayah ada menitipkan surat ini untukmu. Aku juga mendapatkannya, mungkin isinya pun sama. Beliau merasa sangat bersalah pada keluarga Arkana, terutama pada Jessica. Maka dari itu beliau memintaku menjodohkan Stendy dan Janice,” kata Fandy dengan sangat hati-hati, karena dia tidak ingin menyinggung Jason.
Jason menghela nafas pelan, dia masih diam. Kemudian berdiri dari posisi duduknya. Tanpa menoleh ke arah Fandy, dia pun berkata begitu menohok hati Fandy.
“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini. Karena aku masih belum bisa memaafkan kalian berdua,”