NovelToon NovelToon
Dear My'Adam

Dear My'Adam

Status: tamat
Genre:Miliarder Timur Tengah / Cintapertama / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:391.2k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.

Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?

"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DM'A_ part 31

"Sun hidung," pinta Ernest, Ai menurut meskipun dengan malu-malu, yang benar saja suaminya itu, ia minta dikecup di halaman depan kantornya. Jangan karena dalih halal lantas mereka melakukan hal segemesin ini di depan khalayak ramai, bikin ngiri kaum rebahan!

"Yah, pipiku ngiri dong yank...masa si hidung aja dikecup terus pipinya engga, besok dia ngambek loh!"

Ai tertawa renyah, "ngaco, ngga mungkin lah!"

"Pipinya dong yank..." Ernest bahkan sudah mencondongkan wajahnya, Ai sampai celingukan ke kiri dan kanan demi melihat jika orang-orang sibuk dengan dunianya, atau mereka yang cukup tak kasat mata.

Ai memberanikam dirinya untuk mengecup pipi Ernest, namun ketika sudah maju Ernest tiba-tiba menoleh dengan sengaja ke arah Ai mengecup.

Cup!

Ai sendiri membeliak dan menepuk bahu Ernest refleks, "hubby ih!"

"Astagfirullah! Mesumnya istriku," ucap Ernest membuat ekspresi terkejut demi menggoda Ai lalu ia cengengesan ketika melihat wajah Ai yang berubah memberenggut.

"Makasih bekalnya ya yank...cukup nih sampe waktu makan siang," Aisya tak menyangka jika level kemesuman Ernest setelah menikah setinggi ini, level keusilannya pun bertambah berkali-kali lipat.

"Nanti perlu aku anter ke rumah papa--mama?" tanya Ernest, Ai menggeleng, "biar pesen taksi online aja."

Ernest mengangguk, "oke."

"Ya udah. Aku pergi dulu kalo gitu, jangan nakal!" Ernest mendaratkan usapan sayangnya di pipi Ai, seketika pipi chubby itu menghangat dibuatnya.

Aisya berdadah ria ketika Ernest masuk kembali ke dalam mobilnya, ditatapnya kepergian Ernest hingga mobilnya menghilang.

Ia masuk ke dalam kantor seperti biasanya.

***

Aisya mengetik pesanan, namun tidak langsung ke rumah sang mertua, ia akan menyempatkan diri membeli buah tangan untuk mertuanya juga Husna.

By, aku beli dulu kue buat mama sama Husna, ya...

Namun pesannya tidak langsung dibalas Ernest. Aisya mengerti, mungkin suaminya sibuk dengan pekerjaan barunya, belum lagi ia yang kekeh mengambil magister.

"Teh Aisya," sapa seorang bapak menyembulkan kepalanya dari balik kaca mobil.

"Eh, iya." Aisya memasukan ponselnya segera dan masuk ke dalam mobil.

Di kantor

Ernest menyenderkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi, jika dulu ia berpikir pekerjaan grandpa dan papa Edo hanyalah duduk-duduk cakep, maka ia salah, nyatanya otak mereka dikuras sampai aus macam kanvas rem kendaraan.

Setumpuk berkas harus ia periksa dan pahami.

Tok---tok---tok!

"Pak,"

"Masuk," pinta Ernest, sesosok wanita cantik masuk membawa satu bundel map lagi yang mendadak bikin Ernest gumoh. Belum lagi penampilan sang sekertaris yang mungkin saja jika Ernest tak kuat iman akan meruntuhkan kepercayaan Aisya.

"Ini file yang bapak minta," jawabnya berjalan anggun dengan rok span sepa ha.

"Ya," singkatnya.

"Bapak butuh kopi?" tanya nya menawarkan dan menghampiri atasannya itu, Ernest menggeleng, makin lama semakin mendekat memberikan perhatian seolah-olah hanya ia yang paling mengerti.

Ernest mendengus geli, "engga usah. Biar nanti saya bikin sendiri atau suruh ob. Silahkan kamu kembali ke tempat saja, Ra...terimakasih." jawab Ernest mempersilahkan sekertarisnya untuk keluar.

Yang benar saja grandpa, di usia senja begitu ia memilih skertaris dan asisten rumah tangga perempuan-perempuan muda nan sexy!

Sebuah pesan masuk menyadarkannya dari ketidakpercayaa. Senyumnya mengembang bak kerupuk, Hawanya memberikan kabar, namun saat ia hampir membalas pesan Ai, matanya jatuh pada jam digital di pojok kiri ponsel dimana waktu menunjukan waktunya ia ngampus.

"Ya salam! Gue sampe lupa!" Ernest menutup map file yang sedang ia kerjakan saat ini dan akan meneruskannya esok hari.

Aisya sedang memilih-milih jenis kue dan varian rasa di salah satu gerai kue ternama di mall.

"Kalo mama lebih suka yang berbau chessacake, Husna suka yang mana ya?" gumamnya. Diantara puluhan bahkan ratusan orang yang mengunjungi mall, Aisya melihat sekilas sosok adik iparnya sedang berjalan bersama pemuda sambil rangkulan.

"Ersa," gumam Aisya, ia menaruh kembali kue yang sempat dipilihnya dan lebih memilih mengikuti kemana sosok Ersa pergi.

Aisya keluar dari gerai yang hanya tertutup pintu kaca dan mengekori Ersa naik ke lantai atasnya, diikuti sampai Ersa dan si pemuda berhenti di salah satu cafe diantara deretan foodcourt.

Keduanya bercanda bermanja ria layaknya sepasang suami istri, yeah! Seperti ia dan Ernest, saling kecup dan peluk.

"Ersa, astagfirullah!" gelengnya. Niat hati menegur Ersa, justru yang ia dapati jika Ersa nyatanya bertemu seseorang lain dan berjabat tangan. Aisya terpaksa menghentikan langkahnya karena keheranan, lalu ia ikut masuk dan memilih kursi yang kiranya bisa memantau Ersa.

Sayang sekali pembicaraan mereka tak terdengar oleh pendengaran Aisya, sampai Ersa menyerahkan amplop coklat berisi gepokan uang kepada si wanita yang berusia cukup matang sambil kembali berjabat tangan.

"Ersa tuh apa-apaan sih?!" gumamnya menggerutu. Sosok Ersa dan kekasihnya terlihat pamit undur diri namun Aisya enggan untuk mengikutinya lebih jauh lagi. Lagipula ia sudah ijin pada Ernest untuk pergi ke rumah sang mertua, bukan untuk mengikuti Ersa. Jangan sampai ia menyalahi kepercayaan sang suami.

"Assalamu'alaikum!" Aisya menaikan paper bag berisi dua buah bolu gulung, yang satu dengan cream chesse dan yang satu cream buah, berharap Husna akan suka.

"Wa'alaikumsalam, teh Ai!" Husna menyeru senang melihat kedatangan Ai, jujur saja tinggal disini dengan sikap Erja yang seperti itu membuatnya serasa hidup di neraka dengan perut membuncit.

"Mama mana, Na?"

"Ai," ibu mertuanya keluar dari dalam dan menyambur Aisya, "masuk---masuk, Ernest mana?!"

"Ernest kayanya langsung ngampus, ma." jawab Aisya. Ia dan Husna yang berjalan bersampingan nyatanya harus menghentikan langkah dan terkejut dengan reaksi mama Irene.

"Ernest jadi ambil magister?!!" tanya nya seperti orang terkejut.

"Jadi, ma." angguk Ai.

"Gimana sih, ngga cape apa, kerja nyambil kuliah....jadi CEO tuh ngga gampang loh!" sengitnya sewot, melanjutkan langkahnya.

"Insya Allah engga, ma."

Dan kembali, mama Irene menatap Aisya tak percaya, "kamu ngga larang dia? Kamu gimana sih! Kalo Ernest kecapean, kamunya juga cape kerja bukan ngga mungkin bisa bikin hubungan renggang. Ernest bisa cari kebahagiaan di luar, kamu pun begitu....terus kapan kalian bisa kasih mama cucu?!" tanya mama Irene membuat Aisya dan Husna melongo sambil saling menatap.

"Mama tuh udah gembar gembor loh, kalo Ernest udah nikah....masa yang kasih cucu duluan malah Erja!"

Kedua mantu Papa Edo ini dibuat menunduk dengan ucapan mama Irene barusan. Namun Ai segera buka suara sebelum semuanya menjadi awkward.

"InsyaAllah kalo nanti Allah memang berkehendak, Ai sama Ernest pasti kasih mama sama papa cucu. Baik dari Erja dan Husna atau Ernest sama Ai, kan tetep cucu mama sama papa juga, iya kan?! Sekarang mendingan kita nyemil, Ai kan bawa kue!" ia menggoyang-goyang paper bag berisi kue dan melengos ke dalam duluan, meskipun hatinya dibuat sedikit mencelos dengan ucapan mama.

.

.

.

.

.

.

1
Sopi Yani
bagus
Anonymous
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Vie ardila
Luar biasa
siti rokayah
ko belum tamat kak ,korain teh udah tamat ,,
penasaran ending nya
Salim S
banyak pelajaran dari kisahnya ini
Salim S
teh kenapa gantung....tambah penasaran deh
Salim S
muridnya rama nggak tuh...
Maria Kibtiyah
yang ini gantung teh penasaran ma endingnya
Hazelnutlatteice🪷
La kirain da tamat kak thor, masih ngegantung rupannya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin
Danny Muliawati
Luar biasa
Danny Muliawati
knp hrs booong kan sdh halal
ervina
Kecewa
ervina
Buruk
Hasdiana
Luar biasa
Hasdiana
Lumayan
My Name
kapan upp nya
Lia Bagus
udah halal ja..sirik aja loe
Lia Bagus
pasti dihajar papa edo tuh s erja
Lia Bagus
astaghfirullah erja
Lia Bagus
aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!