seorang janda muda yg terpaksa menikah dengan atasannya. dan terlibat cinta segitiga antara dia, suami dan mantan suaminya. siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin Aiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Senja tidak pergi makan siang ke kantin, ia malas menjadi bahan gunjingan disana. Jatah makan siang di kantin tak diperbolehkan dibawa keluar. perut lapar ia biarkan, daripada disana juga makan pun tak enak.
trrt trrrt
Ponsel Senja bergetar, dengan malas ia membuka.
"*C*epet ke ruangan gue"
"hah!! gila nih orang, udah banyak gosip kaya gini dia malah terang-terangan nyuruh gue ke ruangannya." batin Senja.
"maaf pak, tidak bisa." senja membalas chat Whatsapp Langit.
Tak lama ponselnya bergetar lagi, ada panggilan masuk dari Hengky.
"*T*uan muda sedang demam tinggi, nona." kata Hengky ketika telpon tersambung.
"hah!! demam!!"
Senja langsung menutup telponnya, ia mengambil beberapa lembar map untuk dijadikan alasan ketika ada orang yang curiga padanya.
Senja naik lift ke lantai dua belas, ketika keluar lift tidak ada Anita dan Merry di meja depan Ruangan Langit. Ia langsung mengetuk pintu, Hengky yang membukanya.
Terlihat Langit sedang rebahan diatas Sofa. Senja mengahampiri Langit. "maafkan saya anda jadi seperti ini." kata Senja menyesal.
Hattcccchiiih!!
Langit masih bersin-bersin, hidungnya nampak merah.
"Apa pak Langit sudah minum obat??" tanya Langit pada Hengky.
Hengky mengangguk.
Langit mengangkat badannya, dan duduk. "Lo makan tuh makanan gue." kata Langit. menunjuk beberapa piring makan siang untuk Langit.
"Anda belum makan siang??" tanya Senja.
"Udah tadi, tuh makan semua. Habisini." kata Langit.
"Saya sudah makan, pak." kata Senja bohong.
"Makan angin?? lu dari tadi diem diruangan aja mo makan darimana?"
"Darimana anda tahu?? jangan jangan anda memasang kamera cctv di ruangan saya??" tebak Senja
"Cctv tuan Langit bukan kamera nona, tapi manusia. Zia dan Kartika." jelas Hengky
"Oiya." Senja baru ngeh.
"Cepat makan, jam makan siangmu sudah mau habis." kata Langit.
Senja langsung mengambil piring di meja dan langsung makan.
"Saya akan menunggu diluar." Hengky pamit keluar
"Tolong beritahu jika ada orang datang." pesan Senja.
Hengky mengangguk dan meninggalkan ruangan.
Langit selalu senang jika melihat Senja yang sedang asyik makan, dia punya badan yang kecil namun sangat banyak makannya.
Senja yang sadar jika Langit memandanginya, ia jadi lebihsegan dan menjaga cara makannya.
"Biasa aja, gak usah sok sok makan kaya putri solo. Gak cocok sama lo." kata Langit
Senja memanyunkan bibirnya dan lanjut mengunyah makanannya.
"Lo marah karena foto yang beredar di whatsapp itu?" tanya Langit
Senja mengangguk, ia masih fokus ke makanannya.
"Trus, sama gosip-gosip itu?" tanya Langit lagi
"Ya jelas marah lah!! saya kan gak pernah menggoda anda!! emang saya kegatelan apa goda-goda anda. gak ada untungnya!!" Senja meluapkan amarahnya ke Langit.
"Iya iya, gak usah nyolot ke gue!!" Langit tak terima Senja marah-marah.
Senja melanjutnya makan siangnya, tak menanggapi Langit.
Tak butuh waktu lama sepiring nasi, lauk pauk dan segelas air putih telah Senja habiskan. Membuat Langit berdecak kagum.
"Kayanya kerja Lo keras banget ya?? makanan segini banyak habis lo makan sendiri." sindir Langit.
"Iyalah, pak. Dari ujung rambut sampai ujung kaki dipake kerja semua. Kalo anda kan cuma tangan sama mulut aja yang dipake." Senja membalas Langit. "sudah ah, saya mau kembali. Keburu staff anda datang." Senja berdiri.
Langit segera menarik tangan Senja hingga Senja duduk di pangkuan Langit. Tangan Langit melingkar dipinggang Senja, menahannya agar tidak pergi.
"Nanti malam gue gak akan pulang" kata Langit.
Senja mengernyitkan dahinya.
"Gue harus bantu proyek Ayah di Hongkong, cuma dua hari aja. " jelas Langit.
"Jauh amat? sakit sakit gini??" Senja menempelkan telapak tangannya di dahi Langit. "lho, kog gak panas?" kata Senja
"Emang siapa yang bilang panas? trus, siapa yang ngijinin lo pengang-pegang gue??"
Senja bingung, dia baru sadar melakukan hal yang tidak sopan. "Anda juga memegang saya." Senja menunjuk tangan Langit yang ada dipinggangnya.
"Gue gak pegang, cuma gue khawatir aja lo jatoh. kayanya udah terlalu nyaman duduk di paha gue?" kata Langit.
Senja langsung bergegas berdiri. "Kan anda yang menarik saya."
"Kan lo bisa langsung berdiri lagi. Emang lo aja yang pengen deket-deket gue."
Senja semakin memanyunkan bibirnya dan pergi meninggalkan ruangan Langit dengan kesal.
Hengky yang duduk di kursi depan berdiri ketika Senja lewat, belum ada Anita dan Merry disana.
Senja sudah berdiri didepan lift, namun ia teringat ucapan Langit tadi kalau dia akan pergi ke Hong Kong selama dua hari. Ia memutuskan kembali lagi.
Hengky yang akan masuk ruangan mengurungkan diri, mempersilahkan Senja masuk.
Langit sudah duduk di meja kerjanya, memegang bolpoint dan membaca dokumen di depannya.
"Pak." Senja memanggil Langit.
Langit mendongakkan wajahnya, "Kenapa balik?" tanya Langit.
Senja mendekati meja Langit. "Saya belum mengucapkan hati-hati kepada anda." jawab Senja. "Hati-hati dijalan, semoga anda selamat sampai tujuan. Kalau sudah tiba disana, ingat untuk pulang dengan hati-hati. Karena Anda sedang membuat orang lain menunggu, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."
Langit tersenyum mendengar ucapan Senja. Ia berdiri dari kursinya, mendekati Senja. "Gak ada ciuman perpisahan nih?" tanya Langit
"Pa-an sih??" Senja sewot, ia berbalik meninggalkan Langit. Namun Langkahnya berhenti tepat dibalik pintu, lalu ia berlari kembali ke Langit dan memeluk Langit.
Langit tak menyangka Senja akan melakukan hal ini, ia tak berfikir lama membalas pelukan Senja.
Senja melepaskan pelukannya, ia sangat malu. Dengan menundukkan kepala ia berlari lagi meninggalkan Langit.
Hengky kebingungan melihat ekspresi Senja, tadi ia keluar dengan wajah yang kesal. Sekarang keluar dengan wajah merah dan berseri-seri.
Hengky langsung masuk menemui Langit, ia melihat wajah Langit juga berseri-seri.
"Kalian habis ngapain?" tanya hengky
"Apa-an sih. Mau tau aja urusan orang." jawab Langit, ia sudah memasang wajah dinginnya.
"Lo gak habis berbuat mesum kan??" Hengky mencoba menebak.
Langit langsung melempar sebuah buku pada Hengky.
Hengky hanya cekikikan melihat tingkah Langit.
***********
Jam kantor sudah menunjukkan pukul empat Sore. Monic sedang terburu-buru menyiapkan dokumen-dokumen yang harus ditanda tangani Langit.
"Ayo, Nja. Udah belom?" Monic memburu Senja yang masih sibuk memilah milah.
"Iya buk, udah tinggal masukin mapnya." jawab Senja, tangannya masih sibuk bekerja.
"aayoo Nja... )ak Langit habis ini mau pergi..." Tangan monic sudah membawa beberapa berkas.
"Yang bulan ini lo yang bawa, untuk bulan depan gue yang bawa." Monic memilah.
Setelah semua dirasa cukup, Monic dan Senja naik ke lantai dua belas.
Keluar dari lift, Senja mendapatkan tatapan tidak mengenakkan dari Anita dan Merry.
"Pak Langit masih belum berangkat kan?" tanya Monic.
"Belum bu. silahkan masuk, anda sudah ditunggu." Merry menuntun jalan untuk Monic dan Senja
"Selamat sore pak, maaf membuat anda menunggu" sapa Monic ketika memasuki ruangan.
Langit mempersilahkan Monic dan Senja duduk. Ia menandatangani beberapa dokumen yang diberikan Monic.
Monic dan Senja hanya memperhatikan saja. Tetapi, tatapan Monic tertuju di tangan kiri Langit.
"Oemji oemji oemji!!!" ceplos Monic, membuat yang lain terkejut.
"Kenapa bu Monic??" tanya Senja.
Monic menari tangan kiri Senja, memperhatikan cincin Senja dan bergantian ke cincin Langit.
"Jangan jangan, istri pak Langit itu Sen..."
Senja langsung menutup mulut bu Monic, "maaf kalau saya tidak sopan.." Senja ketakutan, ia menatap Langit.
Langit memberikan isyarat untuk melepaskan tangannya dari mulut Monic, Senja menurut.
"Saya sangat berharap bu Monic akan pura-pura tidak mengetahuinya." kata Langit.
"Astaga!! jadi benar pak??" Monic benar-benar terkejut
Langit tidak menjawab, Ia melanjutkan menandatangi dokumennya.
sedangkan Monic masih mengagah, tak percaya.
-bersambung-
HHEEHH BAPAK LANGIT YANG TERHORMAT., AKU INI DEWI PENOLONG ANDA JADI PERLAKUKAN SAYA DENGAN BAIK KLO TIDAK MAU SAYA MEMBATALKAN INI SEMUA
🤣🤣🤣😆😆😆😆
ini pertama kali baca karya'mu rekomendasi dari Kak NingNong...