menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemenangan klee dan kloning yang jauh lebih kuat
Api unggun kecil menyala di tengah hutan yang porak-poranda.
Cahaya oranye menari di antara batang pohon yang terbelah dan tanah yang retak akibat pertarungan sebelumnya.
Klee perlahan membuka matanya.
Tubuhnya terasa berat, tapi rasa nyeri yang tadi mencabik-cabik ototnya sudah jauh berkurang.
Aura aneh yang tadi menyelimuti dirinya kini benar-benar menghilang, meninggalkan Klee yang ceria seperti biasa.
Ia duduk, menepuk-nepuk pipinya sendiri.
“Hm… sihir metamorfosis tadi bikin aku laper banget,” gumamnya polos.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Klee langsung menyalakan api unggun dengan sihir kecil, lalu mengeluarkan sekantong besar marshmallow.
Ia menusukkannya ke ranting dan mulai memanggang sambil bersenandung kecil.
Tak jauh dari situ, Sylvara dan Elviera mulai siuman.
Tubuh mereka terikat oleh simpul tali yang… jujur saja, terlihat acak-acakan seperti buatan anak anak dan jelas buatan tangan Klee.
Sylvara membuka mata lebih dulu.
Ia menatap ikatan di tubuhnya, lalu dengan satu gerakan ringan—lepas.
“HYAAAA, KALIAN BERDUA MULAI BEBAS.” teriak klee dengan panik
Ia berdiri, menepuk debu di pakaiannya.
“Hei,” katanya tenang.
“Kami akui… kau hebat.”
Klee menoleh sambil mengunyah marshmallow.
“EHHH—jangan gitu dong!”
Mukanya langsung memerah.
“Aku malu tau pas mukaku kayak tadi! IHH—malu banget, sumpah!” katanya sambil menutup wajah sendiri.
Elviera duduk perlahan, tak mencoba melawan.
Ia justru ikut mendekat ke api unggun dan mengambil satu marshmallow.
“Silakan,” kata Klee santai.
“Aku punya banyak kok. Ambil aja.”
Untuk beberapa saat, suasana terasa… aneh tapi damai.
Tiga orang yang baru saja saling berusaha menjatuhkan kini duduk melingkar, memanggang marshmallow di tengah hutan rusak.
Namun kedamaian itu tak berlangsung lama.
Tanah tiba-tiba bergetar.
Api unggun bergetar. Ranting berjatuhan.
Lalu—
AUMMMMM—!!
Langit terbelah oleh raungan menggelegar.
Di atas mereka, muncul naga kayu raksasa berbentuk ular, tubuhnya dililit akar-akar tebal, sisiknya seperti batang pohon tua.
Yang paling mengerikan—empat mata menyala di kepalanya.
Bukan satu.
Bukan dua.
Tujuh naga kayu melayang di udara, menjalar seperti mimpi buruk hidup.
Klee menelan ludah.
“Apa… apaan itu?”
“Monster macam apa lagi ini?!” katanya panik.
Elviera menyipitkan mata, wajahnya serius.
“Oh… begitu,” ucapnya pelan.
“Sepertinya tuan muda Lucyfer sudah sampai tahap itu.”
Ia menoleh ke Klee.
“Saranku—cepat bantu teman-temanmu atau teman teman mu akan kehabisan energi sihir karena bertarung tak henti henti.”
Klee berdiri refleks.
“EH?”
“Terus kalian nggak mau bantu?!”
Sylvara masih memanggang marshmallow dengan tenang.
“Tak bisa,” katanya datar.
“Kami sedang makan dulu.”
Klee langsung menggembungkan pipinya.
“HMMMM!”
“Kalian bener-bener nggak tahu balas budi!”
Tanpa menunggu jawaban, Klee berbalik dan berlari ke arah sumber getaran.
Beberapa saat sebelumnya…
Hutan lain telah berubah menjadi medan pertempuran brutal.
Toma dan Alven terengah-engah. Tubuh mereka penuh luka ringan, napas tak lagi teratur.
Di depan mereka, empat kloning elemen Lucyfer berdiri tanpa goyah sedikit pun.
“Ahhh—Toma!” teriak Alven.
“Lu gapapa?! Mereka kuatnya amit-amit!”
Toma menggertakkan gigi.
“Gapapa,” jawabnya tegas meski keringat bercucuran.
“Kita nggak mungkin ngalahin mereka asal hajar.”
Gravem mendecak kesal.
“Cih… repot sekali mengejar kalian.”
Ia menghentakkan tongkatnya.
“Sihir Tanah: Golem Tanah.”
Tanah bangkit, membentuk monster raksasa yang langsung menghantam ke arah mereka.
Nebel langsung tertawa.
“Ohhh makin seru ya.”
“Gw ikut lah.”
“Sihir Kabut: Terpa Kabut Rembulan.”
Kabut tebal menyelimuti area.
Pandangan menyempit drastis.
Tiba-tiba—
“Sihir Api: Tiupan Api.”
Api menyembur, membakar kabut menjadi neraka sementara.
Toma dan Alven melompat keluar tepat waktu—namun belum sempat berdiri…
BOOOM—!!
Ledakan angin menghantam mereka.
Tubuh keduanya terhempas, menghantam tanah dengan keras.
Nafas terhenti sesaat.
Empat kloning berdiri di hadapan mereka.
Kloning tanah mencibir.
“Ini manusia konyol yang ingin melawan tuan Lucyfer?”
Nebel tertawa keras.
“Hahaha! Jadi ini dia?”
Api berkobar di tangan phyrr.
“Manusia menyedihkan. Kenapa kalian begitu lemah?”
Aeral melayang di atas.
“Benar-benar… menyedihkan.”
Toma menatap mereka dengan mata penuh tekad meski tubuhnya hampir tak bisa bergerak.
Alven terengah di sampingnya.
Dan di kejauhan—
sebuah mawar yang masih tetap hidup di tengah pertarungan.