NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah darah masa lalu

Sebuah suara retakan yang tajam dan keras memecah keheningan, datang dari arah meja kecil di sudut ruangan tempat Eyang biasa meletakkan pusaka-pusaka miniaturnya. Raras tersentak, mantra yang baru setengah jalan di bibirnya buyar seketika. Jantungnya yang tadi berdegup dalam ritme yang tenang dan terpusat kini melompat ke tenggorokan. Batu akik di genggamannya terasa panas, seolah baru saja menyerap energi kejut.

Matanya melesat ke sumber suara. Di atas meja kayu berukir, di antara patung-patung gajah dari gading dan miniatur gamelan dari perak, sebuah benda kecil telah menyerah. Sebuah patung penari dari giok hijau, hadiah dari seorang kolega Eyang puluhan tahun lalu, kini retak melintang tepat di bagian dadanya. Retakan itu halus, tetapi terlihat jelas di bawah cahaya lampu yang temaram.

Perisai yang coba Raras bangun baru saja diuji. Dan ia berhasil menahan serangan pertama. Namun, sesuatu telah menjadi korban.

“Kekuatan ini… lebih besar dari yang aku duga,” bisiknya pada keheningan ruangan. Rasa dingin yang tadi menusuk kini sedikit mereda, tetapi digantikan oleh firasat yang lebih buruk. Ini bukan sekadar serangan acak. Ini terkoordinasi.

Tepat saat pikiran itu melintas, sebuah suara lain terdengar, kali ini dari luar. Bukan suara retakan gaib, melainkan suara yang lebih nyata, lebih fisik. Bunyi seretan pelan, seperti kayu berat yang digeser di atas lantai marmer, datang dari arah paviliun tua yang terhubung dengan koridor utama.

Napas Raras tertahan. Siapa yang berada di paviliun pusaka selarut ini? Tempat itu terlarang bagi siapa pun kecuali Eyang dan, sesekali, Radya.

Instingnya yang terasah oleh rentetan kejadian beberapa minggu terakhir berteriak nyaring. Serangan spiritual pada Eyang dan gangguan fisik di paviliun pusaka pada saat yang bersamaan? Ini bukan kebetulan. Ini adalah sebuah operasi pengepungan.

Dengan gerakan tanpa suara, Raras meletakkan kembali batu akik itu ke dalam kantong kainnya. Ia bangkit, melangkah sepelan mungkin keluar dari kamar Eyang.

Koridor panjang itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding yang berjarak. Bayangannya menari di dinding, panjang dan kurus. Ia bergerak menyusuri tembok, jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mulai memompa. Ia bukan lagi korban. Ia adalah penjaga.

Pintu menuju Paviliun Tua terbuat dari kayu jati tebal dengan ukiran naga yang saling melilit. Biasanya, pintu itu selalu terkunci rapat. Malam ini, pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah selebar telapak tangan yang menganga seperti mulut hitam. Dari celah itu, tercium aroma aneh.

Campuran wangi kayu cendana yang khas dari paviliun, dan sesuatu yang lain… sesuatu yang tajam seperti bau ozon setelah petir menyambar.

Raras menempelkan matanya ke celah itu.

Di dalam, di tengah ruangan yang remang, sesosok pria berdiri membelakanginya. Postur tubuhnya yang tegap dan familier itu langsung ia kenali.

Bayu.

Ajudan kepercayaan Radya. Pria itu tidak mengenakan seragamnya, hanya kaus hitam ketat dan celana kargo. Keringat membasahi punggungnya, membuat kain kausnya menempel di kulit.

Ia berdiri di depan sebuah sentong lemari pusaka utama yang terbuat dari kayu hitam legam. Di baliknya, di atas bantalan beludru merah, terbaring sebuah keris dengan lekuk tiga belas, gagangnya terbuat dari gading berhias emas. Pusaka utama Cokrodinoto.

“Sialan!” desis Bayu, suaranya rendah dan penuh amarah tertahan.

“Kenapa masih sekuat ini? Harusnya kau sudah lemah!”

Raras mencoba mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kaca sentong itu, tetapi sekitar lima senti dari permukaan kaca, tangannya seperti membentur dinding tak terlihat.

Sebuah percikan energi biru samar meletik, mendorong tangannya mundur dengan kasar. Bayu mengumpat lagi, memijat pergelangan tangannya yang memerah.

Raras menahan napas. Penjaga gaib. Eyang pernah bercerita sekilas tentang khodam yang mendiami pusaka-pusaka tertentu. Makhluk tak kasat mata yang bertugas melindungi benda itu dari niat jahat.

“Kau pikir kau bisa melindunginya selamanya, Ki Jagat?” geram Bayu, kali ini berbicara langsung pada keris itu.

“Tuanmu sudah sekarat di rumah sakit! Kekuatanmu seharusnya sudah memudar bersamanya!”

Jadi ini rencananya. Saat Eyang lemah tak berdaya, saat Radya dibutakan oleh pelet, saat Raras disibukkan dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar, Bayu bergerak untuk mencuri jantung dari keluarga ini. Dendamnya ternyata jauh lebih dalam dari sekadar uang dan jabatan. Ia mengincar warisan, kehormatan, dan kekuatan spiritual Cokrodinoto.

Setelah beberapa kali gagal, Bayu tampak menyerah. Ia mundur selangkah, napasnya terengah-engah karena frustrasi. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kantong kain belacu yang kotor. Dengan gerakan cepat, ia membuka ikatannya.

Raras menyipitkan mata. Isi kantong itu bukan bubuk, melainkan butiran-butiran kasar berwarna hitam keabu-abuan. Garam. Tapi bukan garam biasa. Raras pernah melihatnya sekali saat Mbah Wiryo membantu tetangga yang rumahnya diganggu.

Garam sengkolo. Garam yang diambil dari tanah sengketa atau bekas tempat pembantaian, dirapal dengan mantra-mantra perusak.

“Kalau tidak bisa kuambil dengan paksa, akan kubuat kau kelaparan sampai mati,” bisik Bayu dengan nada sadis.

Ia mulai menaburkan garam itu dalam sebuah lingkaran yang mengelilingi sentong pusaka. Saat butiran-butiran hitam itu menyentuh lantai marmer, Raras merasakan gelombang energi mual yang menusuk perutnya.

Udara di dalam paviliun yang tadinya hanya terasa tegang, kini menjadi berat dan menyesakkan. Ia bisa melihat dengan mata batinnya, sebuah kemampuan yang baru ia sadari, bagaimana cahaya keemasan tipis yang menyelimuti sentong itu mulai berkedip-kedip, meredup, seolah sedang diracuni secara perlahan.

“Makan ini, penunggu tua,” lanjut Bayu, suaranya terdengar seperti desisan ular.

“Rasakan racun tanah sengketa. Perlahan-lahan, kau akan mati kehausan, dan pusaka ini akan kembali pada tuannya yang sah.”

Setelah menyelesaikan lingkarannya, Bayu berdiri tegak. Pria itu menatap karyanya dengan senyum puas yang mengerikan. Ia tidak mencoba menyentuh keris itu lagi. Ia tahu racunnya butuh waktu untuk bekerja. Dengan langkah cepat, ia berbalik dan keluar melalui pintu samping yang menuju taman belakang, menghilang ditelan kegelapan.

Raras menunggu beberapa saat hingga detak jantungnya yang menggila kembali normal. Ia mendorong pintu utama itu perlahan. Engselnya berderit lirih. Ia melangkah masuk. Hawa dingin dan berat langsung menyambutnya, jauh lebih pekat daripada di kamar Eyang tadi. Lingkaran garam hitam di lantai seolah memancarkan aura kematian.

Ia tidak berani mendekati sentong itu, takut energinya yang belum stabil akan terkontaminasi. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di dinding samping, tergantung sebuah foto tua berbingkai perak. Foto Eyang Putra saat masih muda, berdiri gagah di samping seorang pria lain dengan wajah yang keras dan tatapan mata yang tajam. Di bawah foto itu, ada plakat kuningan kecil.

‘Putra Cokrodinoto & Abimanyu Prawirodirjo. Sahabat seperguruan, dipisahkan oleh takdir.'

Prawirodirjo. Nama keluarga Bayu.

Kini semuanya masuk akal. Ini bukan sekadar dendam ajudan. Ini adalah dendam turun-temurun.

Raras merasakan getaran aneh menjalari telapak tangannya. Sebuah dorongan yang tak bisa ia jelaskan menuntunnya untuk mendekati sentong itu, bukan ke arah kerisnya, tetapi ke ukiran kayu di bagian sampingnya.

Ukiran sulur bunga yang rumit. Didorong oleh insting, tangannya terulur. Ia tahu ini berbahaya, tetapi ia juga tahu di sinilah jawabannya berada.

Jemarinya yang sedikit gemetar menyentuh permukaan kayu hitam yang dingin itu.

Seketika, dunia di sekelilingnya lenyap. Kegelapan pekat menelannya, lalu meledak menjadi serpihan-serpihan gambar yang berkelebat liar.

Raras tidak lagi berada di paviliun.

Ia berdiri di tengah pendopo yang terbakar. Api menjilat-jilat pilar kayu, mengirimkan asap hitam yang menyesakkan ke langit malam. Di hadapannya, dua pria yang sama seperti di foto tadi berdiri saling berhadapan, bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai musuh bebuyutan. Eyang Putra versi muda dan Abimanyu, kakek Bayu.

“Kau telah berkhianat, Putra! Kau menggunakan ilmunya untuk merebut pusaka yang seharusnya menjadi milikku!” teriak Abimanyu, suaranya parau oleh amarah dan asap. Di tangannya, tergenggam sebilah keris yang lain, lebih sederhana, tetapi memancarkan aura panas yang membara.

“Pusaka memilih tuannya sendiri, Abi!” balas Eyang muda, suaranya tegas meski ada gurat luka di wajahnya.

“Kau yang dibutakan oleh ambisi dan memilih jalan kegelapan!”

“Omong kosong!” Abimanyu mengangkat kerisnya tinggi-tinggi, menunjuk ke arah Eyang dan pendopo yang runtuh di belakangnya. Matanya menyala-nyala dengan kebencian yang akan diwariskan lintas generasi, kebencian yang sama yang dilihat Raras di mata Bayu.

“Dengarkan sumpahku di hadapan langit dan bumi yang menjadi saksi pengkhianatanmu ini!” raungnya, suaranya menggema di antara suara kayu yang patah dan api yang menderu.

“Sumpah tujuh turunan! Tanah ini, kehormatan ini, dan pusaka itu akan kembali ke garis keturunanku! Darahmu akan membayar darahku!”

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!