Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Simpanan Kakak Ipar?
Brak!
Sebuah map tebal dihempaskan kasar ke atas meja kaca.
"Apa ini?" tanyanya tajam, rahang Daffa mengeras menahan muak.
Di hadapannya, Sofie tengah menikmati teh pagi dengan gestur anggun. Ia menaruh cangkir porselennya ke atas tatakan dengan perlahan tanpa ketergesaan sedikit pun.
Sofie melihat kearah dokumen yang tergeletak di meja itu sambil menyilangkan kakinya. "Di sana sudah ada tanda tanganku. Kalau dokumen itu sampai ke tangan Ayah... bisa-bisa—"
"Sofie! Berani-beraninya kamu bicara begitu di depanku?!" potong Daffa murka. Ia melangkah cepat, mencengkeram rahang istrinya dengan cengkeraman kuat.
"Aku sudah pernah bilang..." ujar Sofie bersusah payah dari sela bibirnya yang tertekan, jemarinya berusaha menyingkirkan tangan Daffa dari wajahnya. "Kalau kamu berani bermain-main di belakangku dan aku mengetahuinya, siap-siap saja mengumumkan pembatalan investasi saham milik Ayahku."
Daffa menghempaskan rahang istrinya secara kasar. Bercak kemerahan membayang di kulit halus Sofie hingga wanita itu meringis menahan sakit.
"Pukul aku. Pukul lagi! Satu pukulan lagi aku punya alasan kuat untuk membuat kita—"
"Kita apa? Kamu benar-benar mau hubungan kita berakhir?" potong Daffa cepat. Pria itu justru melangkah mendekat, mengusap lembut helai rambut Sofie dengan gestur manis yang mengerikan. "Aku punya salinan surat rekam medis dari Klinik kandungan A atas namamu. Kamu yakin Ayahmu tidak akan serangan jantung kalau melihat dokumen itu sepenting itu?"
Kini giliran Sofie yang terpaku. Wajah anggunnya seketika pucat pasi. Siapa sangka Daffa tidak sebodoh yang ia kira? Pria itu memegang rahasia kelamnya yang sudah tersimpan rapat bertahun-tahun.
"Jangan lupa sarapan. Dan singkirkan jauh-jauh berkas konyol dimeja itu," bisik Daffa dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan Sofie yang hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan napas.
.
.
"Aku pulang dulu. Makanlah," ujar Darrel seraya menggeser piring berisi telur ceplok buatannya ke hadapan Clara.
"Tunggu," panggil Clara singkat.
Langkah Darrel terhenti.
"Terima kasih," gumam Clara.
Darrel mengulas senyum tipis, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen. Pria itu berjalan cepat menyusuri koridor menuju lift. Tepat saat pintu lift terbuka, langkah Darrel terhenti sejenak ketika menangkap sosok yang terasa asing sekaligus familier.
Seorang wanita anggun mengenakan kacamata hitam besar dan syal tebal berwarna cokelat melangkah masuk kedalam lift, dikawal dua pria bertubuh tegap di belakangnya.
Namun, Darrel buru-buru menepis prasangkanya. Ia terus melangkah menuju area parkir sebelum terlambat menghadiri rapat kantor.
Ting... tong!
Suara bel apartemen berdenting nyaring dan tak sabaran. Clara yang baru saja menyuap sepotong telur langsung menghempaskan garpunya kasar.
"Siapa sih, pagi-pagi begini?" omelnya bersungut-sungut seraya melangkah menuju pintu utama.
Klik.
Pintu terdorong terbuka. Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan kacamata hitam, syal tebal, serta dua pria berbadan tegap berpakaian serba hitam di belakangnya. Wanita itu menurunkan kacamatanya perlahan. Bibir dengan lapisan lipstik merah menyala itu mengulas senyum tipis seraya menatap Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Menilai.
"Calonnya Darrel...?" ucap wanita itu dengan nada sarat penghinaan.
Clara hanya menatapnya bingung. Kepalanya mendadak pening sejak insiden di dapur tadi. Ia tak bisa berpikir jernih. Di antara lipatan memorinya, bayangan wanita di hadapannya terasa tidak asing, namun ada dorongan kuat di dadanya untuk segera mengusirnya.
"Siapa?" sahut Clara singkat dan acuh.
"Kalau saya jadi Kakek Robert, sejak awal saya tidak akan pernah setuju. Apalagi..." Ucapan Sofie menggantung saat matanya menyapu interior apartemen kecil milik Clara dengan kilat jijik.
Clara tertawa pelan, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ya terus kalau kamu tidak setuju, kenapa? Lagipula Darrel mau-mau saja tuh sama aku."
Sofie terbelalak. Ia cukup terkejut dengan nada bicara penuh pembangkangan di depannya. Sosok Aura Clarissa yang selama ini ia lihat saat dipesta, polos dan irit bicara, namun sangat berbeda saat berada di luar.
"Oh... jadi kamu cuma berakting polos di depan publik? memang benar kata netizen—perempuan miskin yang terobsesi mengincar harta?" balas Sofie tajam.
Wanita itu melangkah mendekat, lalu berbisik tepat di samping telinga Clara, "Dan yang lebih parah... menjadi simpanan calon kakak iparnya sendiri."
Clara mundur satu langkah. Pusing di kepalanya mendadak menghantam hebat, seperti ditusuk jarum raksasa. Beberapa potongan memori acak menghantui pikirannya. Wajah Sofie di hadapannya perlahan mulai kabur dan membayang ganda. Kesadaran Clara meluncur deras ke dalam kegelapan.