BUDAYAKAN BACA SKRIPSI DULU. TYPO, MAKSUDNYA DESKRIPSI!!
WARNING☇☇
DILARANG BOOM LIKE (SPAM LIKE). KASIH JEDA WAKTU MINIMAL 1 atau 2 MENIT!!!
Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu masuk ke Dunia Novel dan tidak bisa kembali ke Dunia nyata?
Adinda yang notabene seorang sekretaris, ia adalah orang yang tidak mudah menangis dan percaya diri, tiba-tiba keluar dari dunianya dan masuk ke dunia novel yang ia baca.
Adinda terkejut saat membuka mata, ia bergumam, "Dimana aku?". Adinda semakin terkejut dengan rasa tidak percayanya melihat lingkungan sekitar dan tubuhnya bukanlah dirinya sendiri melainkan tokoh utama dari novel tersebut yang mana ia adalah korban bullying.
Bersusah payah kembali ke dunia asalnya, ia akhirnya memutuskan untuk menetap dan mengubah takdir sang tokoh utama. Apakah ia berhasil mengubah takdir tokoh utama dari novel tersebut dan bisa kembali ke dunia nyata? Ataukah ia akan gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Ditusuk Menggunakan Pulpen
Saat menuruni anak tangga dari atap sekolah, Rafa dan Larina berpapasan dengan Nana.
Mereka bertiga saling memandangi satu sama lain.
"Rafa," panggil Nana.
"Ada apa?"
Nana memandangi Larina dengan tatapan tidak suka.
"Kalian berdua saja? Dari atap sekolah?"
Larina mengangguk.
"Ada perlu apa?" tanya Rafa lagi.
Nana menghela napas kasar.
"Begini. Nanti kita akan melanjutkan pembentukan struktur kelas, kan?"
"Ya."
"Aku mau mencalonkan diri nanti."
"Lah, katanya tidak mau mencalonkan diri karena ada aku?" tanya Larina dan tersenyum sinis.
"Apa sih! Aku tidak bicara denganmu." Nana kesal.
Larina memutar bola matanya, ia kemudian melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Rafa dan Nana. Spontan Rafa berniat memanggil Larina namun ia urungkan.
"Kita bahas di kelas nanti." ucap Rafa, kemudian ia segera menyusul Larina.
Nana mengepalkan tangan melihat kedekatan Rafa dengan Larina yang semakin terlihat jelas.
"Larina," panggil Rafa sembari mempercepat langkahnya untuk mengejar Larina.
"Iya?" sahut Larina kemudian menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rafa.
"Eh? Kenapa? Aku mau ke kelas." Larina ikut bingung.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi?"
"Oh, barangkali kalian mau membahas hal penting, jadi aku pergi saja." jawab Larina dengan santai.
Rafa menggeleng.
"Kau adalah wakilku, kau harus tau semua keputusanku." tutur Rafa.
Larina tersenyum lalu mengangguk pelan. Mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Sebenarnya aku ingin memblacklist Nana dari keanggoatan struktur kelas sih." ucap Larina
"Alasannya?"
"Belum menjabat apapun dia sudah melakukan body shaming bahkan membawa-bawa prestasi." jawab Larina.
Rafa terdiam.
"Tentu saja aku tidak mau para pembully itu berkembang," batin Larina.
"Mungkin bagimu semua perkataan Nana saat itu terlihat biasa saja. Tapi tidak bagiku."
"Lalu bagaimana dengan perkataanmu yang mengatakan kita semua memiliki hak yang sama?" tanya Rafa.
"Hmmm, iya sih. Heheh. Kita lihat saja bagaimana sikap dia nanti, kalau masih merasa paling hebat sendiri, aku ingin dia di blacklist saja. Memiliki anggota yang tidak punya attitude juga akan merusak nama baik kelas kita."
Rafa merasa setuju mendengarnya.
"Baiklah, aku setuju." ucap Rafa.
***
Sesampainya di kelas.
Para siswa-siwi kelas XII A sudah berkumpul di dalam kelas.
"Baiklah, kita akan melanjutkan pembentukan struktur kelas kita. Kita mulai dari Sekretaris." tutur Rafa.
"Aku mau mencalonkan diri!" salah satu teman mereka mengangkat tangan.
Nana yang baru datang ke kelas langsung memicingkan matanya.
"Aku juga!" ucap Nana.
"Baik. Siapa lagi??"
"Sinta, kamu ikut di seksi-seksi lainnya saja nanti. Memangnya kamu bisa berurusan dengan catat-mencatat?"
Sinta tidak terima.
"Apa alasanku tidak boleh mencalonkan diri, hah?" Sinta berkacak pinggang.
"Tidak boleh! Aku harus jadi sekretaris!" batin Nana.
"Nana, berhenti mengagungkan diri sendiri. Siapapun disini berhak mencalonkan diri." tegur temannya yang lain.
"Aku setuju." ucap Larina
"Mentang-mentang kau wakil ketua kelas jadi kau bicara seperti itu? Ketua kelas saja tidak keberatan dengan apa yang ku katakan tadi." bela Nana
"Nana, kau di blacklist." ucap Rafa.
Nana terkejut,
"Rafa!"
Larina tersenyum simpul. Nana semakin kesal saat melihat Larina tersenyum mengejek.
"Apa-apaan, ini? Mana bisa seperti ini?"
"Bisa." ucap Rafa.
Rafa menulis nama Sinta di papan tulis.
"Selanjutnya, siapa yang mau mencalonkan diri lagi?"
"Aku!" Adi mengangkat tangannya.
"Oke. Selanjutnya, ada lagi?"
Nana melangkah mendekat ke arah papan tulis, ia langsung menghapus nama Sinta dan Adi.
"Tidak bisa, aku yang pantas." ucap Nana dengan emosi yang meluap-luap.
Rafa dengan santai mengambil penghapus di tangan Nana, tatapan dingin Rafa tujukan pada Nana.
"Perbaiki sifat dan sikapmu." ucap Rafa pelan yang hanya bisa di dengar mereka berdua.
Hati Nana terasa sakit saat melihat tatapan dingin dari mata Rafa untuknya. Rafa kemudian menulis ulang nama Sinta dan Adi.
"Huuuuuuuuu"
"Huuuuuu"
Seisi kelas bersorak mengejek pada Nana, Nana yang merasa malu akhirnya memilih duduk di bangkunya sambil menahan emosinya.
Tanpa sengaja Nana melihat ke arah Larina dan mendapati Larina seperti sedang berdecak diselingi senyum tipis.
"Sialan!"
***
"Baik, selanjutnya untuk Bendahara."
"Aku mau mencalonkan diri!" ucap Nana.
"Aku tidak setuju." tolak Larina.
"Kenapa?!" Nana berdiri.
"Aku menginginkan anggota pengurus kelas memiliki attitude." jawab Larina sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Nana menyipitkan mata.
"Awas kau! Lihat saja nanti!" gerutu Nana pelan.
🍀🍀🍀
Setelah hampir satu jam, akhirnya pembentukan struktur kelas sudah selesai.
Nana pergi ke kelas XII B dan menceritakan apa yang terjadi pada Bella dan lainnya. Bella langsung memukul meja.
"Kurang ajar!" Bella mengepalkan tangannya.
"Kita Bully lagi saja," Lala memberikan saran.
"Tidak bisa. Dia punya banyak followers dan sudah speak-up, kita bisa kenapa-napa kalau sampai mereka tau kita pelakunya." tolak Bella.
Bella memijit pelipisnya, mata Nana perlahan memerah dan setitik air mata menetes dari sudut matanya.
"Mereka semakin dekat," ucap Nana lirih.
"Haduh," Bella kemudian menghela napas kasar.
****
Sepulang sekolah.
Di dalam kelas hanya tersisa Larina dan Nana. Larina tidak menaruh curiga apapun pada Nana yang hanya diam duduk sedari tadi. Larina melangkah hendak keluar dari kelas namun Nana bangkit dan langsung menarik lengan Larina.
Larina menghentikan langkahnya, ia memutar balik tubuhnya dan berhadapan dengan Nana.
"Ada apa?" tanya Larina.
Nana memegang erat kedua lengan Larina, tatapannya bersirat kebencian.
"Kenapa kau melakukan itu padaku, hah?!" tanya Nana, perlahan ia mencengkram lengan Larina.
Larina menghela napas namun ia tidak berusaha melepaskan diri.
"Itu adalah konsekuensi yang harus kau tanggung." jawab Larina dengan santai.
"Kau! Merusak segalanya!" teriak Nana.
"Pelankan suaramu, pendengaranku masih normal."
"Aku tidak sedang bercanda, Larina!"
"Oh," timpal Larina dengan singkat, padat dan jelas.
"AKU SERIUS!!"
"Pelan-pelan saja bicaranya. Nanti pita suaramu putus."
Nana yang kesal langsung menghempas tubuh Larina ke sembarang arah dan Larina masih bisa mengimbangi dirinya.
"Aku membencimu, Larina!!"
Larina hanya mengendikkan bahu.
"Kau menghancurkan semua rencanaku! Aaaarrghh!!!"
Nana langsung mencengkram lengan Larina lagi dan mendorong Larina ke salah satu meja paling depan.
Tentu Larina terbentur ke meja itu namun bukannya marah, Larina malah tertawa.
"Hahahaha!"
Nana kebingungan melihat Larina yang tiba-tiba tertawa. Larina terus tertawa sampai ia memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
"Ha-ha-ha, haduh. Maaf, maaf." ucap Larina sambil berusaha menyudahi tawanya.
"Apa maksudmu?" tanya Nana yang masih bingung.
"Kau tau? Aku tau sesuatu tentangmu. Aku tau kenapa kau bisa sampai marah seperti ini. Ha-ha."
Nana mengerutkan dahinya. Larina akhirnya berhenti tertawa, ia merapikan rambutnya.
"Kau itu menyukai Rafa, kan?"
'Deg'
Nana terdiam.
"Tapi aku mau membocorkan informasi padamu. Kau menyukai Rafa, namun sayangnya, perasaanmu tidak terbalas." Larina tersenyum lebar.
"Kau tau apa tentang semua itu?!"
"Aku tau dan aku akan mewujudkan yang seharusnya. Kau fikir dengan paras cantikmu itu, kau mampu menarik perhatian Rafa?"
Nana mengepalkan tangan.
"Baiklah, kurasa tidak baik jika aku terlalu banyak bicara. Aku pulang duluan," ucap Larina, kemudian ia melambaikan tangan pada Nana.
Larina membelakangi Nana dan melangkah menuju pintu kelas, dengan cepat dan tanpa pikir panjang Nana mengeluarkan pulpen yang ada di kantung sakunya.
Dengan tatapan penuh kebencian pada Larina, Nana melangkah cepat dan siap menusukkan pulpen itu ke area tubuh Larina.
Dengan sekuat tenaga, Nana langsung menusuk leher belakang Larina menggunakan ujung pulpen yang lancip hingga ujung pulpen tersebut patah dan ia menariknya kebawah, Larina merasakan sakit yang teramat saat itu juga, spontan ia langung memegang erat pergelangan tangan Nana, Larina memutar balik tubuhnya dan menghempas Nana ke arah samping dan menabrak salah satu meja.
semangat ya, pokoknya aku tunggu kelanjutannya jangan pernah berhenti. kecuali menulis langsung terbitkan oke💕