NovelToon NovelToon
Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: MamGemoy

Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.

Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.

Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.

Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.

Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan masuk

***

Dua hari ini, Ardian terus merasa gelisah. Mimpi pada malam itu terus saja menghantuinya. Pikiran pun kacau, hatinya tidak pernah merasa tenang. Banyak pikiran negatif yang singgah, tentang Rindu, akan pesan terakhir sebelum terbangun. Bukankah hanya mimpi, tapi kenapa firasatnya tidak baik.

Ardian meraih ponsel yang tergeletak di meja, dia melakukan panggilan ke Indonesia.

"Halo, Mama," sapa Ardian saat panggilan telah tersambung.

"Ardi, kamu apa kabar, Sayang." Mama Della menyambut dengan senang. Sudah lebih dari satu Minggu Ardian belum mengirim kabar. Biasanya, dua atau tiga kali seminggu Ardian akan menelepon.

"Ardi baik-baik saja, Ma. Ardi nelpon mau minta bantuan, Mama, boleh?" tanya Ardian kemudian.

"Bantuan apa, Sayang?"

Ardian menghela napas sejenak. "Mengenai Rindu, Ma. Apa semua keluarganya belum bisa dihubungi?"

"Tidak sayang, Mama belum mendengar kabar mereka. Mama juga tidak tahu dimana kampung Ibu Dahlia."

"Baiklah, Ma. Firasat Ardi nggak enak, Ma. Rindu datang dalam mimpi Ardian dua hari lalu. Dan mimpi itu terus membuat Ardi kepikiran," ujar Ardian jujur. Dia benar-benar sulit mengartikan semua pikirnya saat ini.

"Doakan saja, Semoga Rindu baik-baik saja, ya."

"Iya, Ma. Ardi tutup dulu."

Ardian menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Wajahnya diusap kasar, Rindu selalu terbayang-bayang.

Tanpa Ardian tau sebenarnya, tidak semua yang dikatakan Mama Della itu benar. Walaupun Della tidak pernah menemui Mamanya Rindu, tapi dia sebenarnya tahu kalau keluarga itu masih tinggal di rumah mereka. Sebagai seorang ibu yang mengharapkan kesuksesan Ardian, dia hanya tidak ingin membuat anaknya selalu memikirkan tentang Rindu saja. Dia ingin Ardian hanya fokus pada pendidikan. Setidaknya untuk saat ini, hingga sang putra benar-benar matang untuk berkarir.

Ardian tak bisa berbuat apapun. Dia hanya bisa pasrah, menunggu waktu untuk dapat bertemu dengan pujaan hati. Entah berapa lama pun, dia akan menunggu. Hingga dirinya mampu untuk berdiri sendiri, berjuang mendapat apa yang diinginkan. Ardian harus sabar.

Kini hanya doa yang dapat dia panjatkan, semoga bisa bertemu lagi dengan Rindu. Semoga gadis itu baik-baik saja, dimanapun dia berada.

***

Satu helaan napas panjang mengakhiri Ardian mengingat masa lalu. Bayangan tentang Rindu delapan tahun lalu, tentang bagaimana perasaan mereka terbentuk, bagaimana akhirnya dia sadar akan cinta di hati. Hingga bagaima penyesalan setelah tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa Rindu telah pergi meninggalkan dirinya.

Ardian menyeka sudut mata yang sedikit basah. Kenangan itu yang membuatnya kuat hingga kini. Ardian tak perlu merasa sakit lagi, Rindu sudah ada di dekatnya sekarang. Akan menemani melewati sisa hidupnya di hari tua. Rindu adalah inti dari dirinya. Harta yang paling berharga. Ardian akan menjaga, walau harus mempertaruhkan nyawa.

Mulai sekarang, Ardian menata, menyusun rencana matang. Agar Rindu mau menerima dirinya, agar Rindu selalu berada dalam ruang lingkup hidupnya. Ponsel yang tergeletak di meja, Ardian ambil, lalu menghubungi Eja.

"Eja, lakukan sesuatu untukku." Ardian tiba-tiba membuat permintaan.

"Ya Tuhan, Bos. Anda tidak melihat sekarang jam berapa? Tidur, Bos. Masih lima jam lagi waktu kerja."

Entah Ardian sengaja atau tidak. Dia telah membangunkan Eja pada jam dua pagi. Hanya untuk memberi sang asisten pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan setelah mereka di kantor paginya.

"Lima menit, tidak adakan mengurangi waktu istirahatmu. Siapkan sebuah posisi di kantor untuk Rindu, yang mudah untuk aku awasi," tutur Ardian tidak terima dibantah. Baginya, masalah Rindu harus segera diatasi.

Eja terdiam sejenak, dia terdengar sedang menguap. "Kalau yang itu aku harus menanyakan ke HRD terlebih dahulu. Mungkin masih ada posisi kosong di bagian produksi."

Ardian mengangguk. "Baiklah, terima kasih!"

"What? Apa aku tidak salah dengar? Ardian si muka balok es, berterima kasih padaku?" ejek sang asisten. Ucapan yang langka dia dengar dari Ardian. Biasanya hanya anggukan dan deheman saja.

"Emm."

"Wahh … seharusnya tadi aku merekamnya. Apa bisa kamu ulangi lagi, Bos?" kelakarnya lagi.

Terkadang Eja bergurau ketika mood-nya terlihat baik. "Apa pekerjaanmu sekarang terlalu mudah? Aku akan melakukan penggalangan dana untuk perbatasan Israel dan Palestina. Kamu akan jadi perantaranya!" katanya geram pada asisten-nya itu. Hanya sekedar ancaman, Ardian tidak akan melakukan hal itu, Eja sangat tau.

"Oo, Oo … tidak, aku lebih suka bekerja di dekatmu saja," sahut Eja kemudian, dia pura-pura takut. Jika suasana seperti ini, akan ada hal baik yang akan datang.

"Kalau begitu jangan banyak bicara," ucap Ardian dingin. "Ohya, tiga hari ini, bisa kamu mengawasi Rindu?"

"Tentu, Bos. Aku akan memastikan, Rindu baik-baik saja."

"Oke."

Panggilan itu pun diakhiri. Ardian mendesah kecil. Tiga hari ini, sepertinya dia harus menahan rasa rindu yang berat. Ada pekerjaan yang harus dia lakukan diluar kota. Dia tentu tak akan bertemu untuk sementara waktu. Namun, keselamatan Rindu masih harus jadi prioritas.

***

"Selamat pagi …."

Rindu mendongak saat tengah fokus menata berkas di meja kerjanya. Dian tiba-tiba datang menyapa. Tumben, memang itulah kata yang ada di benak Rindu saat ini. Tidak biasanya Dian datang sepagi ini ke kantor, ini baru jam delapan. Untuk apa lagi kalau bukan menanyakan tentang Ardian.

"Pagi … Di. Tumben kamu datang sepagi ini?" tanya Rindu menyelidiki, dia lanjut bekerja.

Dian tersenyum tipis, dia pun duduk di kursi depan meja Rindu. "Kamu aku telepon, bukannya jelasin yang bener."

"Jelaskan apa? Aku lagi kerja, Di." Rindu melipat tangan di meja, tersenyum pada Dian yang menatap lurus padanya.

"Rin … jangan pura-pura nggak tau. Kabar kamu sama Ardian gimana?" Dian bersidekap, dia menuntut penjelasan. Dua hari dua menunggu, sekarang tidak akan menunggu lagi. "Jangan, pelit, Rindu … ayo cerita."

"Kan kemarin aku udah cerita, Di."

"Kurang lengkap. Aku mau secara keseluruhan."

Setelah menghela napas, Rindu akhirnya pun bercerita. Tak ada yang bisa disembunyikan dari Dian lagi. Semenjak kepergiannya delapan tahun lalu, Dian menjadi paling anti menerima penolakan. Dia harus tau sepenuhnya tentang Rindu. Apalagi setelah Rindu mengalami banyak hal buruk. Dian semacam posesif terhadap kehidupan Rindu. Seperti itulah rasa sayang Dian terhadap Rindu.

Saat ini, Rindu bekerja di salah satu sekolah musik milik keluarga Dian. Tepatnya, sudah empat bulan, sejak dia kembali ke rumah. Diberi posisi di bagian administrasi, Rindu merasa sangat beruntung. Pekerjaan yang didapat, bisa menyambung hidup dia beserta keluarga. Rindu sangat suka bekerja di sana, terlebih lagi bisa melihat bagaimana siswa disana belajar musik dan vokal. Rindu merasa kembali ke masa lalu, mengingat bagaimana dia suka bernyanyi.

Dian mendengarkan cerita Rindu dengan antusias. Mulai dari pertemuan di kafe, hingga dia dibawa Ardian berkunjung ke stasiun radio. Saat Rindu selesai bercerita, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Rindu pun melihat dan membaca pesan tersebut.

Namun, raut wajah Rindu yang tiba-tiba berubah, membuat Dian cemas. Berbanding terbalik saat beberapa detik lalu, Rindu terlihat sangat ceria. Kini wajah Rindu tampak tegang.

"Rin … dari siapa? Kenapa kamu muram?" tanya Dian khawatir. "Rindu …!"

***

1
Lina Handayani
Semangat, Mamy. Setiap kata dan cara penyampaiannya sangat bagus 😍, pantas diacungkan jempol 👍😅🙂.
Lina Handayani
Untaian kata-katanya rapih, bagus dan sangat mendalam. Mamy, aku suka ceritanya 😅😘.
Lina Handayani
Shownya, bagus, Mam😍😘.
Wiwin Almuid77
tetap semangat dalam menulis Thor .
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya...
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya....
..
El_Tien
cerita menarik wajib baca!
Rizki Al-Mubarok
Biasa, cari reverensi 😅
Rizki Al-Mubarok
Aku dapet referensi
rinny aphrystanti
lanjut ...bikin ikutan deg deg an....
El_Tien
kenapa aku jadi ingat Ardian dan rindunya 🤣🤣🤣
MamGemoy: 👀 emm
total 1 replies
rinny aphrystanti
lanjutkan thorrtt...
Ayuk Noy
aku mampir kak🥰
Lina Handayani
Semangat, Mamy.💪💪
Siti Afifah
ikut nderekdek
Lina Handayani
Rindu, wanita yang dirindukan.😅
White Snake
"kau cinta pertama dan terakhirku" Kaya lirik sebuah lagu.
Siti Afifah
ya alloh calon ayah yg sigap
Lina Handayani
Aku datang lagi Mam😉🤗. Semangat yah, aku suka ceritanya. Sampai-sampai, aku bisa merasakan dan membayangkan isi ceritanya 😍
Siti Afifah
rindu takut ancaman mntan suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!