Cerita ini bercerita tentang seorang gadis bernama Viona yang tidak pernah dianggap apalagi di terima oleh keluarganya. Karena sang mama meninggal ketika melahirkan nya dan saudara kembarnya Vivian.
Bahkan ayah kandungnya tidak pernah menganggap nya ada . Lebih parahnya Viona dianggap pembawa sial oleh keluarganya.
Setelah Viona tumbuh dewasa dan pergi dari rumah orang tua nya. Malah badai semakin kuat menghantamnya. Gagalnya pernikahan nya karena saudara kembarnya.
Tolong jangan kasih Rate jelek ya! Kalau tidak berkenan membaca silahkan di skip saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayya mell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV VIONA
Aku pulang dengan pelan-pelan masuk lewat pintu samping. Sesampainya di rumah belakang . Aku melihat bu Minah dan bu Ratih sedang membersihkan kebun belakang. Tapi tidak ada mbak Lastri . Asisten rumah tangga yang paling muda disini. Dan juga satu-satunya pekerja di rumah ini yang tidak menyukai ku.
Itu wajar, karena mbak Lastri adalah orang yang di bawa tante Winda bekerja disini sejak aku masih berusia empat tahun. Dan aku masih tinggal bersama oma Selasih dan kakek Arbian saat itu.
Mbak Lastri selalu mencari muka di depan papa dan kedua saudara kandungku. Dan hanya mbak Lastri pekerja yang diijinkan tinggal di rumah utama. Dulu bu Ratih yang selalu standby di rumah utama. Namun setelah mbak Lastri datang semua berubah. Hanya karena dia adalah orang tante Winda . Mbak Lastri selalu berulah seenaknya saja. Termasuk kepadaku Mbak Lastri juga sering mengolok-olok ku . Tapi dia berpura-pura baik jika di depan orang lain. Benar-benar bermuka dua.
Bu Minah dan bu Ratih juga tahu itu. Tapi mereka diam saja dan enggan untuk mencari ribut dengan mbak Lastri . Jika mbak Lastri sudah keterlaluan padaku barulah ibu angkat ku bu Minah lah yang akan menegurnya.
" Nak kamu sudah pulang?" tanya bu Minah yang melihatku meletakan sepeda ku di tempat biasa. Beliau langsung menghentikan pekerjaan nya dan menghampiri ku . Sementara bu Ratih tetap fokus pada pekerjaan nya. Kalau yang disana mbak Lastri mungkin tidak akan diam saja.Dia akan protes dengan gerutuan nya yang entahlah, aku sendiri sudah malas untuk peduli tentang nya .
" Iya bu !" jawabku . Bu Minah (aku panggil ibu ya mulai dari sini biar gampang) menyuruh ku untuk segera bwrganti baju . Sementara Ibu sibuk mempersiapkan makanan untuk ku .
Perhatian nya yang di berikan ibu angkat ku ini yang membuatku selalu kuat dan bertahan sampai saat ini. Dulu oma pernah berpesan sebelum pergi.
" Aku harus berjuang , tapi jika aku lelah untuk bertahan dan tak ingin lagi berjuang. Maka aku harus melepaskan semua nya dengan ikhlas. Aku harus bisa hidup dengan orang baru,suasana baru yang menyayangiku!" begitulah pesan Oma Selasih sebelum meninggal .
*** Baru saja aku ingin menikmati makan siang ku . Mbak Lastri sudah berteriak setengah membentak ku dia mengatakan jika Yang Na sudah menunggu ku di rumah utama.
" Viona ! Kamu di suruh ndoro putri ke rumah utama;" ucapnya kasar.
" Maaf mbak , bukannya vio tidak mau . Tapi semalam kakak dan papa sudah melarang Saya untuk masuk ke dalam rumah itu. Jadi saya harus patuh!" jawabku .
Aku tak peduli lagi dengan ocehan mbak Lastri . Yang aku pedulikan hanya makanan lezat yang sudah ada di depan mataku .
" Ibu makanan ini enak sekali!" ucapku.
Mbak Lastri yang sudah kehilangan akal untuk mengancam ku pun akhirnya menyerah dan pergi.
Tentu saja kepergian mbak Lastri itu untuk mengadu pada Yang Na dan tante Winda.
Karena tidak lama setelah kepergian mbak Lastri .Kedua wanita beda usia itu datang ke rumah belakang. Beruntung aku sudah selesai makan. Dan saat ini sedang mencuci piring dan peralatan makan ku sendiri tadi.
Aku memang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Ibu sebenarnya sudah melarang ku, tapi aku harus bisa mandiri.
" Viona!" suara Yang Na berteriak dari luar.
Aku menghampiri nya keluar . Karena jika tidak pasti akan ada hukuman yang menanti ku nantinya. Ibu Minah dan bu Ratih yang sedang ada di pekarangan pun langsung mendekat saat mendengar suara Yang Na , yang maaf seperti petir menyambar di tengah terik matahari.
Menakutkan iya , bikin kaget juga pastinya.
Siapa yang tidak kaget, tiba-tiba dipanggil dengan berteriak ketika sedang fokus mencuci piring.
" Iya Yang Na!" jawab ku ketika aku sudah berada di depan nenek dari mama ku itu.
" Kamu itu , tadi saya menyuruh Lastri untuk memanggil kamu . Tapi katanya kamu menolak dan malah menyuruh saya untuk kesini mencari kamu. Memangnya siapa kamu, berani-berani nya malah memerintah saya!" bentak Yang Na.
Ingin rasanya aku menyahutnya sebelum Yang Na selesai bicara. Tapi aku tahu itu tidak sopan.
Aku memberi ruang untuk nenek ku ini mencurahkan kekesalannya terlebih dahulu.
Nanti jika beliau sudah lelah , pasti aku akan di beri kesempatan untuk berbicara.
Dan benar saja , Yang Na sepertinya sudah lelah dan kali ini giliranku untuk menjelaskan.
" Yang Na, maaf sebelumnya. Saya tidak mengatakan saya tidak bersedia untuk menghadap Yang Na . Tetapi semalam tuam Sebastian dan tuan muda sudah melarang saya ke rumah utama" jelasku.
" Apa ! Kamu panggil Tuan pada papa mu sendiri?" bentak Yang Na lagi.
" Itu semua karena permintaan mereka sendiri Dan saya hanya bisa menurut" jawab Viona lagi.
" Baguslah kalau kamu sadar diri!" ucap Yang Na sebelum pergi.
Sebenarnya hatiku sakit , tapi aku harus bisa bertahan . Jika menurut mereka aku ini pembawa sial. Maka aku tak akan mendekati atau mencari perhatian mereka lagi.
Malam harinya ,Ibu masuk kamar ketika aku sedang merapikan buku-buku pelajaran untuk besok . Jika ibu angkat ku ini sudah kembali ke kamar itu berarti Keluarga Tuan Sebastian sudah selesai makan malam.
" Vio !" panggil ibu .
Belum juga berbicara apapun , Bu Minah ibu angkat ku sudah meraihku dalam pelukan nya dan juga menangis.
" Ada apa bu,kenapa ibu menangis?" tanya ku lembut.
" Vio sayang , mulai besok kamu harus merubah penampilan mu nak. Tadi tuan muda marah karena kejadian tadi pagi. Dia bilang kalau kamu mencoba mencari perhatian orang lain untuk menjatuhkan nona Vivian"Ujar ibu .
"Iya bu , mulai besok aku akan menuruti apa yang mereka inginkan . Tapi ibu janji jangan menangis lagi. Maaf ya bu , karena aku ibu jadi dapat teguran" ucapku.
Setelah berbicara denganku ,ibu langsung tidur karena mungkin dia terlalu lelah hari ini . Kebetulan karena Yang Na juga datang. Sudah pasti banyak tugas ekstra yang harus para pekerja lakukan.
**MOHON MAAF JIKA BANYAK TYPO NYA **** TERIMAKASIH YANG SUDAH MANPIR DI KARYA TERBARU AKU !!!! ****