Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Latihan
Azalea mulai masuk hari pertama di sanggar seni yang di pimpin oleh Hagia
Hagia menyambut Azalea dengan senyum ramah begitu Azalea menapaki kaki di sanggar. Tanpa membuang waktu, ia mengajak Azalea berkeliling, memperkenalkan setiap bagian sanggar yang dipenuhi nyawa seni.
"Di sini ada kelas olah vokal bagi yang suka menyanyi, di sana biasanya untuk latihan tari tradisional maupun kontemporer. Ada drama, drama musikal, hingga kelas instrumen mulai dari yang modern sampai tradisional," jelas Hagia panjang lebar.
Setelah selesai berkeliling, Hagia berhenti dan menatap Azalea. "Jadi, Azalea... dari sekian banyak pilihan ini, ada yang sudah membuatmu tertarik?"
Azalea terdiam sebentar. Ia tampak bingung, jarinya mengetuk dagu pelan. "Jujur, Kak... aku bingung. Semuanya kelihatan hebat, tapi aku merasa asing dengan semuanya."
Hagia maklum, "Tidak apa-apa, wajar kok buat hari pertama. Begini saja, adakah sesuatu yang kamu merasa sedikit-sedikit punya bakat di sana? Atau mungkin hobi yang mendekati?"
Azalea menggeleng, "Aku nggak bisa nari, badanku kaku. Nyanyi? Suaraku cuma bagus di kamar mandi saja. Alat musik juga aku nggak paham notasi. Aku ini cuma bisa mengamati dan mengomentari. Aku bisa melihat mana yang bagus dan mana yang nggak, tapi kalau disuruh buat sendiri? Waduh, angkat tangan deh." Azalea nyengir. Dia bertutur apa adanya.
Hagia manggut-manggut paham. Ia tampak berpikir sejenak, memutar otak untuk mencari posisi yang pas bagi anggota barunya kesayangannya ini.
"Oke, kalau begitu bagaimana kita coba berlakon dulu? Bermain peran atau drama. Kamu tidak perlu langsung menari atau menyanyi. Kita mulai dari dialog pendek-pendek saja. Bagaimana?"
"Boleh, Kak."
Hagia kemudian mulai menjelaskan dasar-dasar ekspresi dan teknik vokal dalam drama. Namun ada yang berbeda dari cara Azalea mendengarkan. Bukannya melihat ke arah papan tulis atau alat peraga yang ditunjuk Hagia, mata Azalea justru terpaku lekat pada wajah Hagia. Ia memperhatikan bagaimana bibir Hagia bergerak saat berbicara, bagaimana alisnya bertaut saat menjelaskan hal serius, dan bagaimana jakunnya bergerak saat menelan ludah.
Ditatap sedemikian intens oleh gadis kota yang cantik itu, pertahanan Hagia mulai runtuh. Ia yang biasanya lancar berbicara, tiba-tiba sedikit gagap. Pipinya samar-samar merona kemerahan.
"Eh, iya... jadi, Azalea... coba lihat ke arah sana," ujar Hagia. Telunjuknya menunjuk ke arah panggung kecil di ujung ruangan, berusaha mengalihkan pandangan Azalea.
"Di sana itu tempat biasanya kita latihan bloking. Atau... atau coba lihat alat musik di pojok itu, itu namanya Saron."
Hagia mencoba kembali menjelaskan dengan profesional, tapi tetap saja, radar mata Azalea tidak bergeser satu milimeter pun dari wajah sang ketua. Dalam hati, Azalea bersorak kegirangan. Ini cowok lucu banget sih kalau lagi salting begini. Ternyata ketua sanggar yang berwibawa ini bisa grogi juga cuma karena ditatap, batinnya geli.
Rupanya, Azalea memang sengaja. Ia merasa ada kepuasan tersendiri melihat ekspresi Hagia yang serba salah, berdeham berkali-kali untuk menetralkan suara.
Tanpa mereka sadari, interaksi panas-dingin itu tidak luput dari perhatian anggota lainnya. Dari balik pilar-pilar kayu, beberapa pasang mata mengintip. Beberapa dari mereka bahkan sudah mengeluarkan ponsel, merekam momen langka di mana ketua mereka itu dibuat kelimpungan oleh anggota baru.
"Ciee... lihat tuh, Ketua kita mukanya salting parah," bisik salah satu anggota sambil menahan tawa.
"Chemistry-nya dapet banget ya. Bau-bau asmara antara ketua dan cewek kota," timpal yang lain.
Mereka sudah menyusun rencana di kepala. Hasil rekaman ini akan menjadi senjata untuk menggoda Hagia di saat-saat krusial nanti. Hagia memang orang yang supel dan rendah hati, ia jarang marah jika dikerjain anak-anak sanggar, paling-paling hanya tersenyum malu sambil menggelengkan kepala. Itulah yang membuat mereka semakin bersemangat untuk menciptakan gimmick atau menjodoh-jodohkan keduanya, hingga menimbulkan riuh gema cie.. cie..
Tapi untuk saat ini, Baik Hagia maupun Azalea masih menjaga batasan. Mereka tetap menjaga jarak profesional, tidak ada kata-kata yang menjurus ke arah pribadi, semuanya murni tentang seni.
Obrolan mereka berlanjut ke area musik tradisional. Mata Azalea tertuju pada deretan alat musik perunggu yang tertata rapi.
"Itu apa, Kak? Yang dipukul pakai palu kayu itu?" tanya Azalea sambil menunjuk Gamelan, tepatnya bagian Saron dan Slenthem.
"Oh, ini Gamelan. Mau lihat cara mainnya?" tawar Hagia.
"Boleh. Aku mau lihat Kakak yang mainkan," pinta Azalea.
Hagia menuruti. Ia mengambil posisi duduk bersila di depan instrumen tersebut. Gerakannya luwes, menunjukkan bahwa ia sudah berteman lama dengan alat musik ini. Sebelum mulai ia mendongak menatap Azalea. "Mau suaranya saja, atau dibarengi lagu?"
"Musiknya dulu aja, Kak," jawab Azalea singkat.
Begitu pemukul kayu itu menyentuh bilah perunggu, suara denting mengalun. Hagia memainkannya dengan teknik yang mumpuni. Tangan kanannya memukul, sementara tangan kirinya memencet bilah yang baru saja dipukul untuk mematikan sisa suara (teknik mematuk).
Azalea terpesona. Ia melihat Hagia bukan lagi sebagai cowok yang bisa ia bikin salting, tapi sebagai seorang seniman yang sangat menguasai dunianya. Azalea sampai lupa berkedip.
Begitu lagu selesai, Azalea spontan bertepuk tangan. "Keren, bagus banget!"
Hagia tersenyum, senyum yang maniiiss sekali. Tanpa bertanya lagi, ia kembali memukul bilah gamelan, dsn sekarang mulutnya mulai melantunkan sebuah lagu daerah. Pertunjukan kecil itu terasa eksklusif hanya untuk Azalea.
"Wah, aku makin kagum. Ternyata Kak Hagia paket lengkap ya," puji Azalea setelah Hagia selesai bernyanyi.
"Mau coba belajar sekarang?" tanya Hagia sambil bangkit dari duduknya.
"Boleh!"
Azalea bersemangat. Ia segera mengambil posisi duduk di tempat yang tadi ditempati Hagia. Ia sudah membayangkan Hagia akan duduk di belakangnya atau di sampingnya, memegang tangannya untuk mengajari cara memukul yang benar.
Namun harapan Azalea buyar seketika. Hagia justru berdiri dan memalingkan wajah ke arah lain. "Cong! Sini bentar!" teriak Hagia memanggil salah satu pemuda di seberang sana.
Pemuda yang dipanggil "Cong" itu mendekat. Mereka terlibat obrolan singkat yang suaranya tidak sampai ke telinga Azalea. Azalea hanya menunggu dengan canggung sambil memegang pemukul gamelan. Tak lama kemudian, si "Cong" pergi, dan sebagai gantinya, seorang anggota perempuan senior menghampiri Azalea.
"Kenalkan, ini Mbak Lastri. Dia salah satu pemain gamelan terbaik di sini. Lastri, tolong ajarkan Azalea dasar-dasarnya ya." Ujar Hagia, lalu ia melenggang pergi menghampiri sekumpulan pemuda lain.
Azalea tertegun. Ia membatin, Laah gue kira dia yang ngajarin.
Agak kecewa dikit, tapi tak apa. Dia harus terlihat seperti tidak merasa kecewa. Dia harus terlihat antusias dan ceria. Ia segera memasang wajah antusias dan menyapa Mbak Lastri.
"Halo, Mbak Lastri. Mohon bantuannya ya, aku bener-bener buta soal ini."
Sambil mulai mendengarkan penjelasan Mbak Lastri tentang nada ji-ro-lu-ma-nem, pikiran Azalea melayang. Ia teringat kembali percakapannya dengan Suci.
Berarti benar apa yang dikatakan Suci semalam tentang cowok itu.
Suci berkata bahwa...
.
.
Bersambung.
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣