⚠️Novel ini hanya karya fiksi semata ⚠️
Kesuciannya direnggut secara paksa oleh pria tak di kenal dalam semak-semak sepulang sekolah.
Dirinya yang ketahuan berbadan dua tak di terima dalam lapisan masyarakat, hingga ia berhenti sekolah dan di usir dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya yang hanya buruh lepas pemetik teh, terpaksa menikahkannya dengan sang tuan tanah yang telah memiliki istri namun tak punya keturunan.
“Aku hanya mau anak mu, setelah kau melahirkan kau akan ku ceraikan.” ucap Arash sang tuan tanah pengendali masyarakat setempat.
Bagaimana kisah hidup Ruby Maryam selanjutnya?
Akankah ia bahagia? Atau justru menderita?
Instagram : @saya_muchu
Ikuti terus alur novel Pelakor Tak Berdosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendarahan
“Enggak nyonya, aku sama sekali tidak menggoda tuan.” Ruby terus mencoba melepaskan dirinya dari Bunga.
“Tidak! tidak! Mengaku saja! Dasar enggak tahu diri, kau ini hanya gadis kampung! Kau tak pantas berada di sisinya, hanya aku wanita satu-satunya yang akan menemani hidupnya!”
Bunga terbakar rasa cemburu menjadikan sebagai Ruby sasaran empuknya.
Mirna yang menjadi saksi mata merasa resah, sebab ia bingung harus membela yang siapa.
“Lepas nyonya, ku mohon!” Ruby yang kesakitan mendorong tubuh Bunga hingga terjatuh ke lantai.
“Auhh!!...” Bunga meringis kesakitan, lalu ia pun menatap ke arah Ruby.
Sontak Ruby merasa bersalah pada Bunga yang telah jahat padanya. “Maafkan saya nyonya, saya enggak sengaja.”
Saat Ruby akan membantu Bunga berdiri, Bunga malah menepis tangan Ruby.
Plak!
Ruby yang serba salah pun menghentikan niat baiknya.
Kemudian Bunga bangkit dari lantai, “Wanita jahanam! Enggak tahu diri, wanita kotor!”
Bunga yang tak terima di dorong oleh Ruby mengambil gulai patin balado yang baru matang dari meja.
Ruby yang tahu sasarannya adalah dirinya segera melarikan diri.
Lama-lama nyonya gila juga! batin Ruby.
“Jangan lari kau!” Bunga yang bak kesetanan pun melempar gulai itu ke arah Ruby, namun meleset.
Ia yang tak ingin melihat Ruby mengambil pisau buah yang ada di dalam keranjang buah, lalu Bunga menyusul Ruby yang larinya sangat pelan.
“Tunggu! Jangan Lari!!” teriak Bunga.
Mirna yang tinggal di dapur segera menelpon Arash, karena ia takut kalau Ruby terluka.
Halo, tuan. 📲 Mirna.
Ya, Mirna? Kenapa kau menelepon ku? 📲 Arash.
Tuan, saya harus apa? Nyonya Ruby dan Bunga bertengkar lagi, memang nyonya Bunga duluan sih yang menyerang nyonya Ruby, dan sekarang nyonya Ruby sedang di kejar-kejar nyonya Bunga dengan membawa pisau, ya Allah tuan, saya harus apa tuan? 📲 Mirna.
Pisahkan! Kalau ada yang membangkang, ikat pakai tali, aku akan segera pulang! 📲 Arash.
Baik tuan. 📲 Mirna.
Mirna pun mematikan teleponnya, setelah itu ia menyusul kedua majikannya.
Bunga yang masih mengejar Ruby mengeluarkan umpatan.
“Perempuan hina! Harusnya kau tak ada di antara kami!! Akh!!!” Bunga yang habis kesabaran mengejar Ruby seraya melempar pisau yang ada di tangannya.
Puk!
Bunga pun mengenai sasarannya, yaitu kepala bagian belakang Ruby. Beruntung yang mengenai kepala Ruby adalah hanya gagang pisau.
Ruby yang kesakitan tetap berlari menuju lift yang sudah dekat dengannya.
Bruk!!
Ruby yang tak hati-hati menginjak bekas pelan yang belum kering, alhasil ia pun jatuh ke lantai dengan posisi tengkurap.
“Akhh!!! Sakit!!!” Ruby meringis seraya memegang perutnya.
Bunga yang masih di kuasai emosi mendekat pada Ruby.
“Bagaimana? Enak?!!” Bunga yang merasa tanggung dengan semua yang ia lakukan, berniat untuk menginjak perut Ruby.
Saat Bunga akan membuat ancang-ancang, Mirna dengan sekuat tenaga menarik tangan Bunga untuk menjauh dari Ruby.
“Sadar nyonya! Nyonya bisa membunuh anaknya nyonya Ruby kalau begini!” Mirna berteriak pada Bunga.
“Siapa yang perduli? Aku tak mau tau! Biarkan saja anaknya mati!!” Bunga yang ingin meneruskan rencananya di tahan oleh Mirna.
Mirna yang kuat menggenggam erat tangan Bunga.
“Maaf nyonya, sesuai perintah tuan, nyonya harus di ikat!” Mirna yang bisa karate mengunci pergerakan Bunga dengan memutar kedua tangan sang nyonya ke arah belakang.
”Mirna, kau ku pecat! Lepaskan aku Mirna!! Sialan!!!” umpat Bunga.
”Maaf nyonya , aku hanya mengikuti perintah dari tuan Arash, mohon maaf kalau cara ku tak berkenan di hati nyonya,” terang Mirna.
Setelah selesai mengikat kedua tangan Bunga, Mirna pun mendekat ke Ruby.
”Ayo nyonya.” Mirna membantu Ruby untuk berdiri.
”Terimaksih bi.” Ruby berdiri dengan menahan sakit di perutnya.
Saat Ruby melangkah, tiba-tiba ia dan Mirna melihat darah tercecer di lantai.
“Nyonya!!!” Mirna syok bukan main.
Begitu pula dengan Bunga, ia tak menyangka kalau keinginannya terkabul.
“Ada apa bi?” ucap Ruby yang tak tahu apapun.
Kemudian ia pun menoleh ke bawah, “Kok ada darah bi? Bibi, itu darah siapa?”
Ruby yang kurang pengetahuan tak tahu jika dirinya keguguran.
“Nyo-nyonya!!!” ucap Mirna degan suara bergetar.
“Apa yang kau lakukan! Bawa dia ke rumah sakit!” pekik Bunga.
Ia yang telah sadar merasa bersalah karena telah membunuh anak Ruby tanpa sengaja.
“Baik nyonya!” Mirna yang memiliki tenaga seperti laki-laki menggendong tubuh Ruby yang lemah ala bridal style.
“Aku kenapa bi?” tanya Ruby dengan penasaran penuh.
“Tidak apa-apa nyonya.” Mirna takut mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Ruby.
Kemudian Mirna pun membawa Ruby menuju pintu utama, karena mobil yang biasa menemaninya belanja parkir disana.
Darah segar Ruby terus menetes ke atas lantai membuat Bunga ketakutan setengah mati.
“Ya Allah, aku tak serius mengatakan itu, aku hanya kesal padanya, mana mungkin aku ingin anak itu mati.” Bunga terduduk lemas di lantai.
Ia tahu jika dirinya akan mendapat ganjaran dari sang suami yang masih marah padanya.
“Pasti berakhir, ya Tuhan aku menyesal.” Bunga menangis sesungukan.
Mirna dan Ruby yang telah berada dalam mobil segera berangkat menuju rumah sakit.
”Jalan pak!” titah Mirna pada Karyo.
“Baik bi Mirna!” Karyo pun melajukan mobil dengan mulus membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.
🏵️
15 menit kemudian, Arash sampai di rumah, melihat banyak darah yang tercecer membuat perasannya tak karuan.
Ia pun mengikuti tetesan darah itu hingga ia melihat Bunga yang Menangis sesungukan dengan tangan terikat.
“Apa yang terjadi?” tanya Arash penuh selidik.
Bunga yang melihat kehadiran suaminya gemetar dan ketakutan.
Bunga juga enggan mengatakan kalau Ruby pendarahan.
“Jawab Bunga! Darah siapa ini?” tanya Arash lebih lanjut.
“Ma-maaf mas, itu bukan salah ku, aku tak membunuhnya.” Bunga yang tak mau di cerai memilih berbohong.
“Ini darah Ruby??” ucap Arash.
“Iya mas.” jawab Bunga dengan suara kikuk
“Astaga!!!” Arash yang marah pun tak tahu harus berbuat apa pada istri pertamanya.
Kemudian Arash dengan cepat mendial nomor Mirna.
Halo, apa kau bersama Ruby bi? 📲 Arash.
Iya tuan, kita lagi menuju rumah sakit Sehat Sejahtera. 📲 Mirna.
Oke, aku akan segera kesana. 📲 Arash.
Baik tuan. 📲 Mirna.
Saat Arash akan pergi, ia melihat istrinya dengan tangan masih terikat.
“Huff...” Arash menghela napas panjang. Kemudian ia pun membuka tali rapiah yang mengikat tangan istrinya.
“Tenangkan dirimu, setelah aku pulang dari rumah sakit, kita akan bicara.” setelah itu Arash meninggalkan istrinya menuju rumah sakit.
“Hiks.. ya Tuhan tolong selamatkan pernikahan ku dengan suami ku, hiks...” Bunga menangis atas nasib buruk yang ia hadapi.
🏵️
Ruby dan Mirna yang baru sampai di rumah sakit langsung di bantu oleh para perawat untuk berbaring di atas ranjang dorong pasien menuju ruang USG untuk melihat kondisi janin Ruby.
“Sakit bi.” Ruby yang di dorong menuju ruangan menggenggam erat tangan Mirna.
“Harus kuat nyonya, jangan lemah, nyonya pasti bisa melewatinya.” Mirna menghapus air mata Ruby yang terus mengalir.
Sesampainya di ruang USG, sang dokter wanita yang berjaga pun menyingkap dress Ruby ke atas.
Lalu menutupi bagian sensitif Ruby dengan kain, kemudian sang dokter mengoles gel ke perut Ruby, setelah itu sang dokter menggerakkan transducer di atas perut Ruby.
Ruby dan Mirna pun sama-sama melihat bayi Ruby lewat layar monitor
Keduanya merasa senang, karena mereka pikir semua baik-baik saja.
...Bersambung......