Sejak kecil Celia selalu dilimpahi cinta dalam keluarganya. Sehingga ia rasakan proteksi yang berlebihan dari ayah serta yang lainnya hingga ia sulit untuk menemukan pasangannya.
Pada akhirnya Celia jatuh cinta pada lelaki yang merupakan teman kecilnya. Karena jarak yang terpisah jauh dan hubungan masa lalu yang kompleks antara orangtuanya dan juga orang tua Collin menjadikan ia harus rela melakukan hubungan cinta itu secara diam-diam.
Apa yang terjadi jika ayahnya menentang hubungan itu dan menyediakan calon lain sebagai suaminya ?
Ini hanya cerita 2 manusia yang memperjuangkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemeriksaan
Happy reading ♥️
“Nona Celia?” Suara perawat bagian administrasi memanggil nama gadis itu.
Celia berdiri diiringi oleh sang Mommy menuju ruang praktik dokter Ginekolog di rumah sakit itu. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan di mana ada seorang wanita memakai jas putih khas seorang dokter duduk dan tersenyum menyambutnya.
“Ada yang bisa dibantu, Bu?” tanya wanita berkacamata itu ramah.
“Kami ke sini untuk melakukan tes apakah putri saya... masih... atau tidak, Dok,” ucap Renata kepada dokter di hadapannya dengan sedikit malu.
Bukan tanpa sebab, Renata sendiri tak paham mengapa Rian juga ikut masuk ke dalam ruangan itu. Padahal pemeriksaan itu adalah hal yang sensitif. Apalagi Rian adalah seorang pria.
“Saya adalah calon suaminya. Jadi saya berhak untuk tahu,” ucap pria itu tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Celia yang mendengar perkataan pemuda itu merasa jengah. Dia tak habis pikir dengan satu-satunya pria yang ada di ruangan itu. Gadis itu mengepalkan tangannya. Ingin rasanya gadis itu melayangkan pukulan kepada pria yang masih saja tak mau keluar dari ruangan saat putri dari Fabian itu akan melakukan pemeriksaan fisik di ruangan itu.
“Bisakah kamu keluar dulu?” ucap Renata pada akhirnya.
Wanita itu pun merasa kesal dengan pria yang seolah tengah menulikan telinganya.
“Fabian pun akan marah kalau kau menjaga kami berlebihan. Keluar!”
“Maaf, Bu. Saya hanya menuruti perkataan Pak Fabian,” ujar pemuda itu.
“Keluar atau aku akan meminta Fabian menyingkirkanmu!” seru Renata yang kini sudah emosi.
Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu pun terkejut mendengar suara Renata yang meninggi. Mereka pun tak habis pikir dengan pemuda itu. Rasanya terlalu berlebihan jika pria itu ada di sana meski dia adalah calon suami pasiennya.
“Mohon kerjasamanya, Pak. Tolong keluar dulu demi kenyamanan pasien dan yang lainnya,” ujar perawat yang tadi berdiri di dekat sang dokter wanita.
Rian dengan malas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Untuk saat ini dia mengalah dan menuruti permintaan Renata sang calon mertua.
“Lagi pula aku akan menjadi yang pertama mendapatkan Celia,” gumam pria itu mengangkat bahu seraya tersenyum.
Celia pun diminta untuk berbaring di tempat tidur yang berada tak jauh dari meja sang dokter. Tempat tidur itu memiliki tirai yang akan ditutup selama pemeriksaan. Seperti halnya saat ini.
Meski orang yang ada di ruangan itu semuanya adalah perempuan, mereka tetap melakukan prosedur demi kenyamanan pasien agar merasa privasinya lebih terjaga.
Bukan tak mungkin kalau ada yang mengintip dari celah ventilasi udara. Oleh sebab itu tirai itu tetap ditutup untuk mencegah hal itu terjadi.
“Kakinya tolong ditekuk ya,” pinta sang dokter kepada Celia yang saat ini tengah berbaring.
Celia menuruti permintaan dokter itu untuk mempermudah proses pemeriksaan.
Dokter wanita itu kemudian memulai pemeriksaan dengan sangat hati-hati. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan spekulum, wanita itu menjalankan prosedur tes keperawanan sesuai dengan permintaan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Celia masih terjaga. Selaput itu masih ada dan utuh, tak tergores sedikit pun.
Hal itu membuat Renata dan Celia lega. Terlebih dokter wanita itu setuju untuk membuatkan surat pernyataan bahwa Celia masih tak terjamah seperti hasil pemeriksaan beberapa saat lalu.
“Terima kasih, Dok,” ucap Renata dan juga Celia usai menerima surat pernyataan resmi dari sang dokter.
Ibu dan anak itu kemudian keluar dari ruangan itu usai pamit kepada sang dokter. Dengan wajah cerah, dua wanita itu melangkah hendak pulang ke rumah.
“Semuanya sudah terbukti ‘kan, Mom? Collin benar-benar menjaga Celia. Bahkan dia tak mengambil kesempatan saat aku sedang tak sadarkan diri,” ucap Celia bangga kepada kekasihnya.
“Benar, Sayang. Mommy harap Daddy-mu akan luluh dan merestui hubungan kalian,” ucap Renata tak kalah bersemangat.
“Bukankah itu aneh kalau lelaki itu tak tergoda denganmu padahal kamu saat itu dalam keadaan tak sadar?”
Suara seorang pria membuat dua wanita itu sadar kalau di sana tak hanya ada mereka berdua.
“Apa maksudmu?” tanya Celia tak suka.
“Bukankah itu berarti pria itu tak normal? Padahal santapan sudah ada di depan mata,” ujar pria itu enteng.
“Dia bukan pria buruk dan penuh siasat sepertimu!”
Celia tak terima dengan perkataan pria itu. Meski hati kecilnya saat ini juga mulai meragukan kebenaran apakah Collin adalah pria sejati atau tidak. Gadis itu mulai goyah.
‘Apa benar Collin sebenarnya tak menyukai wanita?’
Celia tampak berpikir. Mengingat kembali rekam jejak hubungan yang dijalin oleh kekasihnya, pria itu memang tak pernah berpacaran dengan wanita lain selain dirinya. Ingin gadis itu menyangkal bisikan-bisikan buruk tentang kekasihnya. Namun, itu susah.
“Apa menurut Mommy Collin seperti itu?” tanya Celia meminta pendapat Mommy-nya.
Renata terdiam. Dia tak terlalu mengenal Collin. Hanya saja dia yakin kalau Jamie akan mendidik anaknya dengan baik. Namun, hal itu tak menjadi jaminan apalagi saat ini zaman sudah berbeda. Pergaulan anak muda di zaman sekarang terlalu bebas tak terkendali. Apa lagi Collin dibesarkan di negara bagian barat yang berbeda tradisinya dengan wilayah timur.
“Kamu yang lebih mengenal Collin, Celia. Hati kecilmu pasti tahu apakah perkataan dia benar atau hanya sebuah kebohongan,” ucap Renata seraya menatap tajam kepada Rian.
Renata tak habis pikir dengan pemuda yang mengantarkan dia dan anaknya ke rumah sakit itu. Entah apa yang membuat Fabian memperkerjakan pria itu. Terlebih saat ini suaminya meminta Rian mengantarkan dia dan putrinya ke rumah sakit, seolah Fabian telah menyetujui bahwa Rian adalah calon suami Celia.
Rian tampak tersenyum miring. Dia saat ini tak peduli. Meski Celia telah memiliki bukti bahwa dia masih utuh, pemuda itu yakin kalau keputusan Fabian akan tetap menjadikan dia sebagai calon suami putrinya.
Mereka pun mengendarai mobil kembali menuju rumah. Saat tiba di depan rumahnya, gadis itu bergegas turun dan berlari menuju kamarnya sambil membawa surat hasil tes yang dia lakukan beberapa saat lalu.
“Daddy, lihat! Ini adalah bukti kalau Collin adalah pria baik,” ucap Celia seraya memberikan lembaran di tangannya kepada Daddy-nya.
Fabian menerima kertas yang bertuliskan hasil pemeriksaan atas nama Celia. Dan memang terbukti kalau Celia dan Collin tak melakukan sesuatu di luar batas seperti yang ia khawatirkan.
Hanya saja, raut wajah pria itu tak berubah. Pria itu tetap tak menampakkan raut bahagia.
“Lalu, apa masalahnya?” tanya Fabian dingin.
Celia yang mendengar perkataan Daddy-nya tercekat. Tak pernah dia bayangkan kalau reaksi dari Daddy-nya seperti itu.
“Bukankah itu berarti Collin tak bersalah?? Dan seharusnya Daddy sudah bisa merestui hubungan kami, bukan?” tanya gadis yang saat ini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
to be continued ♥️
tarik nafas.... hembuskan.... wkwkkwkwk