Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Rumah itu terasa sangat sunyi saat Samira melangkah masuk. Lampu ruang tamu menyala terang, dan di sanalah Arga duduk, di sofa tengah bersantai, seolah memang sudah menunggu Samira pulang.
Di atas meja, Samira melihat sebuah map cokelat tergeletak. Samira berjalan perlahan, berusaha mengendalikan napasnya. Ia berpura-pura tak melihat Arga, meletakkan tasnya, menoleh ke arah tangga.
“Tidak perlu berpura-pura lagi,” kata Arga memotong langkahnya.
Samira berhenti, napasnya tercekat dengan dada yang berdebar-debar. Perlahan ia berbalik dan menarik napas panjang. Kemudian, tatapan mereka bertemu, tatapan dua orang yang sama-sama tahu bahwa permainan sudah memasuki babak akhir.
“Apa yang kau mau, Arga?” tanya Samira, suaranya terdengar datar, meski jantungnya berdebar liar.
Arga bersandar pada sandaran sofa sambil menyilangkan kaki, tangannya menunjuk ke arah meja. “Aku ingin kau membaca dokumen itu dan menandatanganinya segera.”
Samira melangkah mendekat, mengambil map tersebut. Jarinya gemetar saat membuka lembar demi lembar kertas. Isinya membuat darahnya terasa mendidih, pernyataan penyerahan seluruh aset, seluruh harta, seluruh hidupnya kepada Arga.
“Ini gila!” seru Samira lalu membanting map itu ke meja dengan kasar. Ia menatap Arga tajam dan napas yang memburu. “Aku tidak akan pernah menandatangani ini. Tidak akan pernah!”
Arga tersenyum kecil. “Aku tahu kau akan mengatakan hal itu,” katanya santai, seolah penolakan Samira adalah hal yang sudah ia prediksi dengan baik.
Samira menatapnya tajam. “Lalu kenapa kau—”
“Aku tidak suka bertele-tele, jadi kita langsung ke intinya saja. Larissa dan Alya ada di gudang,” potong Arga dengan nada datar. Ia melirik Samira dan tersenyum miring, seakan mengejek perempuan itu.
Samira tertegun di tempatnya, terkejut sekaligus merasa takut. “A-apa yang kau lakukan pada mereka?” tanyanya dengan suara yang bergetar, kemarahan dan ketakutan bercampur menjadi satu.
“Ayolah, Samira. Kenapa kau langsung panik begitu? Aku belum melakukan apa-apa,” jawab Arga santai. “Tapi … mungkin saja aku akan melakukan sesuatu, itu tergantung keputusanmu.”
Samira mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. “Jangan coba-coba menyentuh mereka sedikitpun. Jika kau menyentuh mereka—”
“Aku akan membunuh mereka,” potong Arga tanpa ragu, ekspresi wajahnya tampak dingin. “Jika kau tidak mengikuti keinginanku.”
Kata-kata itu menghantam Samira lebih keras dari tamparan mana pun. Ia menatap Arga, mencoba mencari sisa-sisa kemanusiaan di wajah pria itu. Tidak ada. Yang ada hanya keserakahan dan kebencian.
“Kau tidak punya pilihan,” lanjut Arga, mendorong pulpen ke arahnya. “Tanda tangani dokumen ini sekarang juga atau mereka akan mati.”
Air mata menggenang di pelupuk mata Samira, tapi ia menahannya jatuh. Harga diri, dendam, semua yang ia rancang selama ini, kini berhadapan dengan nyawa dua orang tak bersalah.
Tangannya bergetar saat mengambil pulpen itu. Ia teringat peringatan Larissa hari itu, bahwa ia harus berhati-hati saat menghadapi Arga, karena selain berbahaya dan nekat, Arga juga licik.
“Setelah ini … kau akan menepati janjimu, kan?” tanyanya lirih. Sejenak, keraguan membayanginya.
Arga tersenyum penuh kemenangan lalu mengangguk yakin. “Tentu. Selama kau menanda tanganinya, aku akan langsung membebaskan mereka berdua.”
Tapi, Samira tak bisa percaya begitu saja, ia meletakkan kembali pulpen itu dan menatap Arga dengan serius. “Aku butuh bukti,” katanya kemudian.
Arga kemudian menunjukkan ponselnya, memperlihatkan kepada Samira rekaman CCTV yang menunjukkan kondisi Larissa dan juga Alya yang diikat di ruangan gelap.
Dengan tangan gemetar, Samira menandatangani dokumen itu. Setiap goresan pena terasa seperti mengoyak jiwanya sendiri. Ia menutup mata saat akhirnya tandatangannya tertera di dokumen itu.
Sementara Arga tersenyum senang, ia merebut dokumen itu dari hadapan Samira. Lalu, berjalan ke tengah ruangan dan tertawa terbahak-bahak.
“Akhirnya … akhirnya semua ini menjadi milikku!” Teriaknya penuh kemenangan. Ia bahkan mencium dokumen itu berkali-kali, seolah kertas itu adalah yang paling berharga baginya.
Samira berdiri, menonton Arga sebelum akhirnya berkata. “Kau harus menepati janjimu, lepaskan mereka,” katanya tegas, setengah berharap pria itu tak akan mengingkari janjinya sendiri.
Arga menoleh, kemudian menganggukkan kepala. “Tentu saja, aku pasti akan menepati janjiku. Tapi ….” Arga sengaja menggantung ucapannya, ia menatap Samira dengan tatapan seorang pemburu.
Tatapannya itu jelas membuat Samira takut, tapi ia tak boleh mundur sekarang. Ia harus menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya sekarang.
Pria itu berjalan mendekatinya, lalu dengan lancang, menyentuh wajah Samira yang lembut. “Wajah ini … aku pasti akan selalu mengingat wajah cantikmu ini, Sayang.”
Samira menepis kasar tangannya. “Jangan coba-coba menyentuhku, Brengsek!” seru Samira merasa jijik.
Alih-alih merasa kesal, Arga justru tertawa. “Lihatlah ini, aku suka sekali dengan perempuan sepertimu. Tampak lembut dari luar, tapi sebenarnya mampu menghancurkan,” katanya berbisik tepat di telinga Samira.
Samira mengepalkan tangannya kuat, bersiap untuk menghajar pria itu jika saja Arga berani mencoba untuk menyentuhnya lagi.
“Aku tidak suka bertele-tele, aku sudah menuruti keinginanmu. Sekarang lepaskan Larissa dan Alya!” Samira kian mendesak sekaligus kesal dengan sikap Arga yang menurutnya hanya mengulur-ulur waktu saja.
“Sabarlah, Sayang. Sebelum mereka aku bebaskan, kita masih harus melakukan satu hal lain lagi, bukan?” Arga memiringkan kepalanya, antara mengejek dan mencoba membuat perempuan di depannya kesal.
“Apa lagi yang kau inginkan?! Aku sudah menyerahkan semuanya kepadamu, Arga!” sentak Samira tak tahan lagi.
Tetapi, Arga justru tertawa nyaring. “Ayolah, Sayangku Samira. Apa kau lupa? Kau tidak membaca dokumen ini dengan baik, ya? Semua harta kekayaanmu bisa kumiliki hanya jika kau meninggal dunia,” jelasnya merasa puas.
Napas Samira terasa tercekat, jantungnya bahkan terasa seperti berhenti berdetak saat tahu niat asli pria di depannya. “Kau … kau mau membu^nuhku?” lirih Samira tak percaya.
Ada gurat kepuasan di wajah Arga saat melihat Samira merasa tegang dan ketakutan. Ia berbalik membelakangi Samira, lalu berkata dengan yakin. “Yah, aku ingin melakukannya. Tapi, kau tahu, kan? Aku tidak bisa membuat polisi mencurigaiku. Jadi … kau tenang saja, aku akan membuat kematianmu seperti sebuah kecelakaan saja.”
Samira tak tahu lagi harus mengatakan apa, yang jelas di depan matanya adalah pria itu bukan hanya berbahaya, tetapi juga seorang iblis yang menjelma menjadi manusia. Samira sudah melakukan kesalahan dengan meremehkan pria itu.
Perlahan tapi pasti, Arga berjalan mendekati Samira yang masih tertegun itu. Kemudian, Arga meraih lengannya dan membius Samira sebelum perempuan itu sadar.
Samira merasa kepalanya berputar-putar sebelum akhirnya suasana di sekitarnya menggelap. Dalam sekejap mata, tubuhnya jatuh ambruk ke lantai, tak sadarkan diri.
Di sampingnya, Arga tertawa puas. Ia berjongkok dan melihat wajah Samira dengan lekat. “Bagaimana bisa kau begitu mudah ditipu, Samira? Sayang sekali, wajah secantik ini harus berakhir mengenaskan di tanganku,” katanya terkekeh pelan penuh kepuasan, seolah-olah yang dilakukannya adalah hiburan semata.
***
Mendekati akhir, thank you yang sudah membaca novel ini, hehe. Happy weekend and happy reading!