Perjodohan? Ya mereka menikah karena perjodohan.
Seperti seperti cerita lain, jika menyangkut perjodohan maka mereka adalah dua insan yang tidak saling mengenal yang terpaksa duduk di depan pak penghulu dan menjadi pusat perhatian.
Kira-kira bagaimana kisah dua insan tersebut dalam menjalani bahtera rumah tangga? Dengan sifat lelaki itu yang dingin dan juga sifat perempuan yang sedikit bar-bar?
Ikuti kisahnya di novel Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Salam kenal,
ptrmyllln
(PROSES REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigapuluhlima
10:45 pagi,
Dua insan itu masih setia dengan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
You know kan apa yang mereka lakukan semalam. Jefry baru bertemu dengan sarangnya.
Viola mengerjap-ngerjapkan mata saat merasakan cahaya yang lewat melalui celah gorden itu mengenai retinanya.
Dan saat itu juga Viola baru teringat bahwa dia sudah kesiangan. Viola ingin bangun tapi badannya terasa remuk, ia melihat sebuah tangan berat nan kokoh yang melingkar di pinggang rampingnya disertai hembusan nafas seseorang ditengkuknya.
Viola tertegun saat merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan tangan Ardo. Ia mengintip didalam selimutnya, Viola melotot melihat mereka berpelukan dalam keadaan tanpa busana.
Tanpa busana?!
Ngapain kelen tadi malam hah?!
Viola mengingat-ingat apa yang terjadi semalam dan seketika itu pula ia mengingat bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Pipi Viola bersemu ketika mengingat bahwa ia lah yang merayu Ardo bak seorang ******.
Ia mengetuk-ngetuk kepalanya. "Bodoh-bodoh," ucapnya. "Kenapa gue kayak ****** sih!" ringisnya masih dengan pipi yang memerah. "Murahan banget!"
Cup
"Selamat pagi," ucap suara serak khas bangun tidur disertai kecupan di pipi Viola.
Viola menatap Ardo yang juga menatapnya. "Pa-pagi," ucap Viola terbata, ia menutup wajahnya, ia yakin pasti rona merah itu sudah menjalar sampai ke telinga.
Ardo terkekeh melihat tingkah Viola, ia semakin mengeratkan pelukannya hingga dada Viola bersentuhan dengan dada Ardo. "Jangan tutupi. Saya suka melihat rona ini," ucap Ardo berbisik. "Apakah masih sakit?" tanyanya.
"Apanya?" tanya Viola bingung.
Tangan Ardo membelai inti Viola. "Ini," lalu kembali menarik Viola ke dalam pelukan.
Mata Viola melotot, tubuhnya menegang. "Ardo," lirih Viola yang lebih seperti rengekan.
"Masih sakit?"
Viola mengangguk malu. Ia semakin membenamkan kepalanya di dada Ardo.
Jelas masih sakit lah! Si Jefry itu nggak kecil tau!
"Di mana lagi yang sakit?"
"Dadaku ... " cicit Viola.
Ardo bergerak mencium dua bukit kembar Viola. Lagi-lagi wajah Viola memerah.
"Ada lagi?"
"Semuanya te-terasa sakit, badanku rasanya remuk," adu Viola.
"Maafkan saya yang terlalu kasar," ucap Ardo. Viola hanya mengangguk. Ternyata meskipun mereka sudah mantap-mantap, Ardo masih saja lempeng padanya. Viola fikir Ardo akan berubah setidaknya untuk panggilan 'saya'.
Viola mencoba bangun untuk mencuci wajahnya namun seketika itu rasa perih itu datang lagi. "Shh," ringis Viola merasakan perih di sekitar intinya, rasanya Viola ingin menangis. Dapat dipastikan intinya lecet sekarang ini.
"Ayo saya bantu ke kamar mandi, tidak ada bantahan." Viola hanya mengangguk. Ardo lalu menggendong ardo ala Bridal, Viola dapat melihat noda darah berada di sprei tidur mereka. Tanda bahwa dia telah menjadi seorang Wanita bukan gadis lagi. Mi, anakmu enggak gadis lagi!
"Turunin," ucap Viola pelan karena Ardo belum menurunkannya ketika sampai di dalam kamar mandi.
"Biar saya mandikan,"
"Aku mandi sendiri," bisik Viola bersemu. Gila aja kalo Ardo mau mandiin, yang ada mereka mantap-mantap lagi, Viola mah manut doang, eh?! Viola bangun udah siang, otak kamu cuci dulu.
"Bisa?" tanya Ardo, Viola mengangguk supaya Ardo cepat berlari dari sana.
Selang 30 menit kemudian, Viola keluar dari kamar mandi dengan tertatih. Kamar yang tadinya sangat berantakan sudah rapi, seprei yang tadinya berwarna putih sudah diganti dengan seprei berwarna coklat. Tidak ada Ardo di sana.
Lagi-lagi Viola berjalan tertatih menuju walk in closet, Viola sudah mengenakan baju santai karena akhir pekan kegiatan kantor libur, beruntunglah Viola hari ini.
"Terima kasih sudah menjadikan saya yang pertama," bisik seseorang disertai lengan melingkari pinggang Viola. Tubuh Viola menegang saat mencium aroma maskulin dari tubuh pria yang sedang memeluknya ini. Padahal Ardo itu belum mandi, tapi mengapa bisa wangi seperti ini? Wajar dong, parfumnya bukan parfum isi ulang harga dua rebu yang dulu sering ia beli karena murah meriah muntah. (Kata-kata Lucinta Luna).
Viola mengangguk malu, ia dapat merasakan degupan jantung pria itu sama dengan degup jantungnya, sama-sama berpacu cepat, apakah Ardo memiliki rasa yang sama sepertinya?
"Ayo sarapan, mereka pasti sudah menunggu," ucap Viola.
***
"Kak Viola, kenapa jalannya gitu? Habis kepleset dimana?" tanya Dion dengan wajah polosnya. Ingin sekali Viola mencakar wajah sok polos itu!
"Kalian mau sarapan? Eh lebih tepatnya makan siang," sindir Marvel, ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11:15 a.m itu.
Grace terkikik geli. Sedangkan Viola sudah mati matian menahan malu. Pipinya sudah sangat merah hingga menyebar ke telinga.
"Cie yang merona," goda Grace sambil mencolek-colek pipi Viola. "Diem lo!" tepis Viola.
"Siapa yang kasih Viola obat perangsang?" tanya Ardo datar dengan pandangan yang menusuk.
to the point sekali,
Mereka meneguk ludahnya kasar. Mereka lupa bahwa konsekuensi jika berhadapan dengan sang Raja Es ini.
"A-anu ... "
"Anu siapa?" tanya Ardo dingin, suasana di sini sangat mencekam. Lebih seram daripada ketahuan nyontek saat ulangan guru killer. "Siapa yang mempunyai ide konyol ini? Kalian tau apa salah kalian?!" tanya Ardo lagi dengan nada tidak bersahabat.
" ... "
"Jawab!"
"Kami yang punya ide, kenapa? Mau protes? Tak masukin dalem perut lagi, mau?" suara datar yang entah darimana datangnya itu membuat Ardo dan Viola shock berat. Sedangkan Dion, Marvel, dan Grace seketika bernafas lega.
"Mama?!"
"Mami?!"
Mereka tidak akan bisa berkata-kata lagi.
Semoga sehat selalu ya thor,semoga sukses selalu🤲🏻🤲🏻🤲🏻🌺🌺🌺🌺🌺⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️