Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35
Entah berapa hari setelah pernikahan saat itu, Rara tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Dimana hari itu Rara dan Rendy memutuskan untuk berpisah rumah. Rara semakin marah ketika Rendy selalu membawa perempuan lain masuk ke dalam rumahnya, ya Rara tahu itu rumah dia, tetapi di posisi ini Rara juga istrinya. Rara tahu juga Rendy melakukan itu untuk membuat ia cemburu dan setelah perdebatan panjang dan urat-urat terasa keluar semua. Rata memutuskan untuk kabur ke rumah orang tuanya.
Dan di saat Rara kabur ia mendapatkan dukungan dari Ayah mertuanya kata Pak Harris agar anaknya sadar dan berubah. Dan karena itu juga keluarga Rara terpaksa menerima kehadiran ia saat itu. Rara yang pengangguran hanya menghabiskan waktu dengan cara tidur seharian dan keluar bila di ajak oleh Angga dan Raisa.
Dan kala itu di sela-sela jam makan siang Angga, Raisa dan Rara bertemu untuk menikmati junk food yang tidak terlalu jauh dari kawasan kantor Angga.
Seperti biasa Raisa suka melihat ke sekeliling tempat itu untuk mencari pemandangan yang menarik bagi matanya.
Namun, matanya malah menemukan sosok pria tampan tetapi berhati susah di tebak.
Beberapa saat Raisa menyenggol lengan Rara dan menunjuk kesebuah meja paling ujung, Rara menoleh ke arah mereka. Saat itu ia melihat Rendy sedang bersama Clara dan beberapa karyawan lain sedang menikmati makan siang bersamanya juga.
Clara yang merekomendasikan tempat makan di sana, karena di saat itu perusahaan mereka sudah mendapatkan target atas penjualan bulan ini bahkan lebih, dan Rendy hanya bisa mengikuti kemauan karyawannya.
Setelah setengah jam di sana. Awalnya Rara ingin cepat kembali ke rumah Karena mood yang sudah berantakan melihat Rendy bersama Clara. Namun, ketika ia mau beranjak pergi, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit dan mengharuskan ia untuk menghampiri toilet terlebih dahulu.
Rara mengurungkan niatnya untuk mengajak Raisa. Dengan langkah cepat Rara berlari kearah toilet restoran itu,
Persekian menit Rara keluar lagi sambil merapikan baju dan rambutnya yang terlihat kusut. Perut terasa lega, ia tak lupa menepuk-nepuk perutnya
"Bagaimana kau sudah menemukan pria kaya lainnya seperti ucapanmu?" Tanya Rendy kala ia melewati lorong restoran itu dan melihat Rara sedang berjalan seorang diri. tentu Rara kesal melihat ia muncul entah darimana, tetapi Rara akan bersabar karena ini tempat ramai
"Mulai sekarang kau tidak perlu sok akrab deh, lakukan seperti di awal pernikahan" jelasnya
"Sok akrab?" tanyanya
"Jika kau terus menanyakan hal yang sama, kau terlihat seperti orang yang sedang cemburu tuan!" ujar Rara tertawa dan ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan
"Saya cemburu, jangan berharap ya!" balas telaknya
"Hmmm" Belum selesai Rara bicara, Rendy sudah menarik tangannya, yang saat itu Rara senyum-senyum sendiri seperti sedang mengejeknya
"Kenapa?" Tanya Rara menatap mata pria itu
"Kau semakin berani sama saya ya? asal kau tahu keluargamu berhutang banyak kepadaku"
"Lepasin aku, sebelum beberapa persen saham mu menghilang atau CCTV di sana menjadi saksi perceraian kita atas bantuan Papa kamu" ancam Rara kesal seraya memotong pembicaraan Rendy dan langsung menarik tangannya yang di genggam pria kasar itu
Tiba-tiba Rendy mendekat ke arah Rara dan langsung memeluknya. Rara membesarkan mata, kaget dan tidak percaya dengan pelukan Rendy di tempat umum. Hal yang mustahil dan hal yang tidak biasa, atau dia ingin mempermainkan Rara kembali.
"Kau... " berontaknya untuk keluar dari pelukan Rendy
"Diam saya lagi capek!" suruhnya memeluk semakin erat
"Terus kau pikir aku ini tempat bersandar? Lepasin nggak!"
"Iya kau tempat bersandar yang paling nyaman" ucapnya
Rendy tersenyum tatkala merasakan sedikit rindu dan bebannya berkurang, begitu juga Rara merasakan sedikit kehangatan. Aneh, Rara pun tidak mengerti dengannya
Mungkin saja Rara dan dia sama-sama saling merindu, tetapi ada keegoisan yang selalu mereka tinggikan
"Pulang ya!" Suruh Rendy seraya mengacak rambut panjang istrinya
"Ada apa Denganmu?" tanyanya memayunkan bibir lalu menggelengkan kepala memberikan ia penolakan
Sedangkan Rendy memberikan anggukan seraya meyakinkan Rara yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan aneh.
Baru saja Rara menikmati ketampanan Rendy setelah beberapa hari tidak bertemu, suara panggilan dari ujung toilet membuyarkan lamunan.
Rara mengalihkan pandangan ke arah suara itu, Rara tidak kaget lagi hanya saja ia merasa kesal melihat sosok wanita yang tidak pernah di undang kehadirannya.
"Apa dunia hanya sepetak?
Dimana-mana selalu ada hama!" Tanyanya melihat Clara tersenyum aneh kearah mereka berdua. Rendy tersenyum kecil kala mendengar ucapan Rara yang rada cemburu.