NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marlow Renad

Perahu itu menepi di sisi pulau yang nyaris tidak pantas disebut dermaga.

Hanya ada beberapa tiang kayu tua yang ditancapkan miring ke dasar kanal, disambung papan-papan pendek yang warnanya sudah menghitam oleh air dan usia. Lumut tumbuh tebal di sela-selanya, hijau gelap, licin, seperti sesuatu yang dibiarkan terlalu lama membusuk tanpa pernah benar-benar mati. Ketika kakiku turun ke atasnya, papan itu mengerang pelan, dan air kanal menampar sisi pulau dengan suara kecil yang berulang.

Aku berhenti sebentar di sana.

Bukan karena ingin menikmati pemandangan. Tubuhku hanya belum sepenuhnya percaya bahwa ia boleh berhenti bergerak. Semalaman aku memaksanya berlari, menunduk, mencengkeram pelana, bernapas lewat gigi, menelan takut sampai rasanya perutku penuh batu. Sekarang, ketika perahu diam dan tanah berada di bawah kakiku, lututku justru terasa lebih lemah daripada saat Steadfeet menembus hutan elm dalam gelap.

Penjaga yang ikut bersamaku berdiri dari perahu. Ia hendak turun juga, satu tangan sudah memegang sisi kayu untuk menjaga keseimbangan.

“Saya akan menemani Anda, Yang Mulia.”

“Tidak.”

Suaraku keluar lebih cepat daripada niatku.

Ia berhenti. Matanya menatapku, lalu turun sedikit ke mantelku yang koyak, ke lumpur yang mengering di ujung jubahku, ke luka merah di pipiku yang masih terasa panas setiap kali angin kanal menyentuhnya. Aku bisa melihat keinginannya untuk membantah. Mungkin karena tugasku sebagai pangeran bukan berjalan sendirian ke pondok seorang pria asing di pulau kecil yang sepi. Mungkin karena ia masih cukup setia pada Dad untuk merasa harus menjaga anaknya.

Tapi aku tidak ingin dijaga.

Tidak sekarang.

“Aku pergi sendiri,” kataku.

Penjaga itu menelan bantahannya. Lalu, perlahan, ia mengepalkan tangan kanan dan meletakkannya di dada.

“Sesuai perintah Anda.”

Aku menatapnya beberapa saat. Wajahnya masih muda, tapi matanya sudah terlalu lama mengenal tugas. Di belakangnya, pendayung duduk diam, menunduk sedikit, pura-pura tidak mendengar apa pun. Kabut pagi bergulung rendah di permukaan air, membuat Gisa di kejauhan tampak seperti kota yang sedang memudar.

“Terima kasih,” kataku.

Kata itu terasa aneh. Terlalu kecil. Terlalu bersih. Tapi hanya itu yang bisa kuberikan tanpa membuka semua hal lain yang kutahan di tenggorokan.

Penjaga itu menundukkan kepala.

Perahu bergerak pergi beberapa saat kemudian. Dayung panjang menekan air, menciptakan garis-garis hitam yang melebar pelan di permukaan kanal. Aku berdiri di ujung papan basah, memandangi mereka menjauh. Perahu itu melewati kabut, lalu menyatu dengan bayangan rumah-rumah Gisa, dengan atap-atap pucatnya, balkon besinya, jembatan batunya, dan asap dapur yang mulai naik dari pemukiman.

Tidak lama kemudian, aku sendirian.

Pulau itu kecil. Terlalu kecil untuk menampung banyak rahasia, tetapi cukup sepi untuk menyembunyikan satu orang dari dunia. Tanahnya lembap dan gelap, ditumbuhi rumput liar yang basah oleh embun. Beberapa pohon willow berdiri di tepi kanal, cabang-cabangnya menunduk rendah sampai hampir menyentuh air, seperti orang tua yang terlalu lama memikul sesuatu di punggungnya.

Pondok Marlow Renad berdiri di tengah pulau.

Bangunannya rendah, terbuat dari batu kelabu yang kasar dan lembap. Atapnya miring, disusun dari genting hitam yang sebagian sudah ditumbuhi lumut. Tidak ada pagar. Tidak ada lambang. Tidak ada bendera kerajaan. Tidak ada tanda bahwa tempat itu pernah menerima tamu, apalagi seorang pangeran. Jendelanya sempit dan tertutup dari dalam, hanya menyisakan garis gelap di balik kaca buram. Di dekat dinding samping, ada tumpukan kayu bakar yang disusun terlalu rapi untuk rumah orang malas. Di bawah salah satu jendela, aku melihat ember logam, perangkap kecil, dan pisau pendek tertancap di batang kayu.

Pondok itu tidak tampak ramah.

Tapi juga tidak tampak terlantar.

Ada asap tipis yang hampir tidak terlihat keluar dari cerobongnya, bercampur dengan kabut pagi sebelum menghilang. Bau kayu terbakar yang sudah tua tercium samar, tertutup bau air kanal, tanah basah, daun willow, dan lumut. Segala sesuatu di pulau itu seolah dipelankan. Air bergerak pelan. Daun jatuh pelan. Bahkan napasku sendiri terdengar terlalu keras.

Aku berjalan mendekat.

Setiap langkah membuat lumpur tipis melekat di sol sepatuku. Mantelku terasa berat di bahu, kainnya kaku oleh air, darah, dan perjalanan. Jari-jariku dingin. Bukan hanya dingin udara. Dingin semacam lain, yang tidak hilang meski aku mengepalkan tangan.

Aku berhenti di depan pintu.

Pintunya terbuat dari kayu gelap, tua, dengan urat-urat kasar yang menonjol seperti punggung tangan pekerja. Pengetuk besinya berbentuk lingkaran polos, tanpa ukiran. Aku mengangkat tangan, lalu diam sesaat.

Dad menyuruhku mencari pria ini.

Dad, dengan darah di sela giginya, dengan suara yang hampir tidak lagi menjadi suara.

Cari Marlow Renad.

Aku mengetuk.

Tiga kali.

Bunyi itu masuk ke dalam pondok dan mati di sana.

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu.

Di belakangku, kanal menampar pelan batu. Dari arah Gisa yang jauh, terdengar lonceng pagi, halus dan bergetar, lalu segera ditelan kabut. Seekor burung putih hinggap di salah satu cabang willow, menatapku sebentar, lalu terbang lagi seolah pulau itu bukan tempat yang baik untuk tinggal terlalu lama.

Aku mengetuk lagi.

Lebih keras.

Masih tidak ada jawaban.

Rasa kesal naik ke dadaku, panas dan tajam. Untuk pertama kalinya sejak malam tadi, emosi lain selain takut berhasil menembus tubuhku. Aku membutuhkannya. Aku hampir menyambutnya. Marah lebih mudah ditahan daripada kehilangan.

“Buka pintunya, Marlow Renad,” kataku.

Suaraku serak, tapi cukup jelas.

“Aku tahu kau di dalam.”

Diam.

Aku menggertakkan gigi.

Tanganku terangkat lagi, kali ini bukan untuk mengetuk, tapi menggedor.

Sebelum buku jariku menyentuh kayu, pintu itu terbuka.

Tidak berderit. Tidak perlahan. Hanya terbuka secukupnya, seolah orang di baliknya sudah berdiri di sana sejak tadi, mendengarkan setiap ketukan, setiap napas, setiap detak kesabaranku yang pecah satu per satu.

Pria itu berdiri di ambang pintu.

Marlow Renad tidak terlihat seperti apa pun yang kubayangkan selama perjalanan dari Gisa. Bukan lelaki tua bungkuk dengan mata keruh. Ia mungkin berusia empat puluhan, tetapi tubuhnya masih tegap, padat, dan tidak banyak bergerak. Rambutnya pirang, namun sudah mulai memudar di dekat pelipis, bercampur warna pucat seperti abu dingin. Rahangnya ditumbuhi janggut tipis yang tidak rapi, memberi wajahnya kesan kasar, seperti seseorang yang hanya bercukur ketika ingat bahwa ia masih punya wajah.

Matanya biru.

Tajam, dingin, dan sangat sadar.

Ia menatapku dari kepala sampai kaki tanpa menunduk, tanpa memberi salam, tanpa mengepalkan tangan ke dada. Tatapannya melewati mantelku yang koyak, noda darah di lengan baju, lumpur di sepatu, luka di pipiku, lalu berhenti sebentar pada tanganku yang masih menggantung di udara.

“Aku tidak menerima tamu,” katanya.

Suaranya rendah, kasar di pinggirnya. Bukan suara orang tua. Bukan suara prajurit. Lebih seperti suara pintu yang lama terkunci lalu dipaksa terbuka.

“Aku bukan tamu.”

“Kelihatannya seperti tamu.”

“Aku datang dari Izengard.”

“Banyak orang datang dari Izengard.” Ia tidak berkedip. “Biasanya mereka membawa masalah dan mengira nama kota itu cukup untuk membuat orang lain membukakan pintu.”

Aku merasakan panas naik ke wajahku.

“Aku Kal Valdyr.”

“Aku tahu siapa kau.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada seharusnya.

Bukan karena ia meragukanku. Justru karena ia tidak meragukanku sama sekali. Ia tahu. Ia melihatku. Ia tahu aku adalah putra Raja Jerrod, pewaris takhta, darah Valdyr yang berdiri di depan pintunya dalam keadaan berantakan. Dan tetap saja, wajahnya tidak berubah.

Tidak ada hormat.

Tidak ada terkejut.

Tidak ada takut.

Marlow menatapku beberapa detik lagi, lalu tangannya bergerak ke sisi pintu.

“Pulanglah, Yang Mulia.”

Gelar itu keluar dari mulutnya seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia gunakan dan tidak ia rindukan.

“Aku tidak bisa pulang.”

“Itu bukan urusanku.”

Pintu mulai menutup.

Panik menyambar dadaku begitu cepat sampai aku hampir kehilangan napas. Tanganku masuk ke kantong bagian dalam mantel. Jari-jariku meraba kain basah, jahitan robek, lalu menyentuh logam kecil yang dingin.

Aku menariknya keluar.

Koin itu terbungkus kain tipis, sudah lembap oleh hujan dan keringat. Aku membuka kainnya dengan gerakan kasar, lalu mengangkat koin itu di antara kami.

Pintu berhenti.

Marlow tidak melihat wajahku lagi.

Ia melihat koin itu.

Logamnya kusam, lebih gelap daripada emas, dengan ukiran burung kecil di salah satu sisi. Sayapnya terbuka setengah, paruhnya menunduk, dan lingkaran tipis di sekelilingnya hampir hilang dimakan usia. Koin itu tampak tidak berharga. Terlalu kecil untuk mengubah apa pun. Terlalu diam untuk menjadi pesan terakhir seorang raja.

Tapi Marlow melihatnya seperti orang melihat mayat lama yang baru muncul dari kubur.

Wajahnya tidak banyak berubah, tetapi matanya mengeras.

Untuk sesaat, acuh tak acuhnya retak. Di baliknya ada sesuatu yang lebih tua, ingatan, kewaspadaan, dan kemarahan yang langsung ia tutup sebelum sempat bernapas.

Aku tidak mengatakan apa-apa tentang istana.

Tidak tentang Dad.

Tidak tentang Mom.

Tidak tentang Cecil.

Tidak tentang lorong yang berubah merah, pintu yang dihantam dari luar, atau suara prajurit Dann yang memanggil namaku seolah aku binatang buruan. Semua itu menumpuk di tenggorokanku, tajam, panas, dan kalau kubiarkan keluar sedikit saja, aku takut seluruh tubuhku akan ikut runtuh.

Marlow tetap diam.

Tapi dari cara ia memandangi koin itu, aku tahu ia mengerti cukup banyak.

Mungkin belum semuanya. Mungkin ia belum tahu siapa yang mati, siapa yang mengkhianati, siapa yang duduk di takhta sekarang. Tapi ia tahu koin itu tidak diberikan untuk urusan kecil. Ia tahu seorang Valdyr tidak akan datang sendirian ke pulau kecil di pinggiran Gisa sebelum matahari naik tinggi kecuali sesuatu yang besar telah patah.

“Siapa yang memberimu itu?” tanyanya.

Aku menatapnya.

Ia sudah tahu jawabannya.

Dan ia tahu aku tahu bahwa ia sudah tahu.

Angin menggerakkan cabang willow di atas kepala kami. Daunnya bergesekan pelan dengan atap pondok, menghasilkan suara basah yang membuat kulit leherku meremang. Dari dalam rumah, aku mencium bau abu, besi, kulit tua, dan ramuan kering. Di balik bahu Marlow, ruangan itu tampak gelap dan sempit. Ada meja kayu panjang, rak berisi botol kaca, gulungan peta, dan senjata pendek tergantung di dekat perapian mati.

Tempat itu bukan rumah orang yang sudah benar-benar pensiun.

Tempat itu rumah orang yang menunggu dunia melakukan kesalahan yang sama dua kali.

Marlow melihat koin itu sekali lagi.

Lalu ia menatapku.

Kali ini, matanya tidak lagi sepenuhnya dingin. Masih keras. Masih tidak ramah. Tapi ada perhitungan baru di sana, sesuatu yang membuatku merasa ia sedang menimbang bukan hanya apakah aku boleh masuk, tetapi apakah dunia di luar pintunya sudah cukup buruk untuk membuatnya peduli lagi.

Akhirnya, ia melepaskan pegangan dari sisi pintu.

Kayu tua itu terbuka lebih lebar.

“Masuk,” katanya.

Aku menurunkan koin perlahan, merasakan telapak tanganku sakit karena terlalu lama menggenggamnya.

Marlow bergeser dari ambang pintu, memberi jalan ke dalam pondoknya. Wajahnya tetap datar, tetapi suaranya turun sedikit ketika ia menambahkan,

“Dan jangan sentuh apa pun.”

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!