Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Jam empat subuh, saat azan awal baru saja samar-samar berkumandang membelah dinginnya udara, Diaz Aruna Saraswati sedang mengemas tas ranselnya dengan gerakan secepat kilat.
Kamarnya gelap, hanya diterangi lampu jalan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi.
Jantungnya bertalu hebat ketika ketukan pelan terdengar di daun pintu.
"Diaz, Nduk? Sudah bangun?" Suara ibunya terdengar parau dari balik pintu.
"Ayo siap-siap. Jam sembilan nanti rombongan calon suamimu datang. Jangan bikin malu keluarga, ya. Ini demi kebaikanmu juga."
Diaz membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak lolos.
Rasa tercekik itu kembali datang, mencengkeram dadanya hingga sesak.
Menikah dengan pria egois pilihan rekan bisnis almarhum ayahnya.
Pria yang memandangnya tak lebih dari sekadar piala pajangan.
Sejak ayahnya meninggal dunia, Diaz merasa kehilangan pelindung utamanya, dan kini ia menolak menyerahkan sisa hidupnya pada pernikahan tanpa cinta.
Dengan tekad yang sudah bulat, Diaz menyandang ranselnya.
Ia membuka grendel pintu belakang dengan sangat hati-hati, menyelinap ke garasi, dan menuntun motor sport miliknya keluar pagar tanpa menyalakan mesin.
Begitu jaraknya sudah cukup jauh dari rumah, Diaz menyalakan mesin motornya.
Suara raungan knalpot memecah keheningan subuh.
Ia memacu motornya membelah jalanan menuju Kabupaten Malang.
Pikirannya kosong, namun satu nama tempat terus berputar di kepalanya yaitu Gunung Kawi.
Tempat mistis yang sering ia dengar dari obrolan orang-orang sebagai tempat pelarian mencari ketenangan—atau bahkan hal-hal yang lebih gelap.
Diaz tidak peduli, yang ia inginkan hanyalah lari sejauh mungkin.
Pelataran Baiturrahman yang Mencekam
Matahari sudah meninggi, memancarkan terik yang membakar kulit saat Diaz memasuki wilayah Kepanjen.
Tubuhnya lelah, dehidrasi, dan hatinya masih berkecamuk hebat.
Melihat menara megah Masjid Baiturrahman Kepanjen, Diaz memutuskan untuk melipir.
Ia butuh bersujud, memohon petunjuk sekaligus menenangkan batinnya yang lelah setelah berjam-jam berkendara.
Namun, suasana di masjid siang itu sangat kontras dengan ketenangan yang ia cari.
Halaman masjid dipenuhi deretan mobil mewah. Dekorasi pernikahan bernuansa putih-emas terpasang megah, menciptakan atmosfer yang luar biasa mewah namun entah mengapa terasa mencekam bagi siapa pun yang melihat ke dalam.
Di serambi masjid, seorang pria dengan jas akad putih yang gagah sedang berjalan mondar-mandir.
Wajahnya yang biasanya terpajang rapi dengan senyum karismatik di media sosial, kini pucat pasi.
Butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahinya.
Pria itu adalah Ganda Mahesa seorang anak kyai kondang di Indonesia.
Baru saja ponselnya mati setelah menerima pesan singkat yang menghancurkan dunianya dimana Laura, calon istrinya, tidak bisa dihubungi dan menghilang tanpa jejak.
Sebentar lagi akad nikah dimulai. Dua ratus undangan VIP sudah memenuhi area utama, katering mewah sudah lunas dibayar, dan yang paling mengerikan—keluarga besarnya, terutama sang mama, masih berada di ruang transit VIP tanpa tahu bahwa pengantin wanitanya telah kabur.
Sebagai anak dari kiai paling dihormati se Indonesia sekaligus selebgram agamis dengan ratusan ribu pengikut, pembatalan ini bukan sekadar patah hati bagi Ganda.
Ini adalah aib yang akan menghancurkan nama besar pesantren ayahnya seketika.
Satu Indonesia, bahkan satu Malang, akan menertawakan keluarganya. Ganda sudah setengah gila menahan panik.
Di saat yang sama, Diaz keluar dari tempat wudhu perempuan.
Ia sudah mengenakan mukena putih polos miliknya, berjalan agak terburu-buru sambil menunduk, bersiap memasuki area salat utama.
Karena kurang memperhatikan jalan, di tikungan koridor masjid yang berlantai marmer dingin...
Brak!
Diaz menabrak dada bidang seorang pria dengan keras hingga tubuhnya nyaris terjungkal ke belakang.
"Maaf, Mas! Maaf, saya tidak sengaja," ucap Diaz panik sembari mendongak.
Begitu matanya menangkap wajah pria di hadapannya, kata-kata Diaz langsung tertelan di tenggorokan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Pria di depannya adalah Ganda Mahesa.
Sosok selebgram agamis yang selama ini hanya bisa ia kagumi dalam diam lewat layar ponsel, tempat ia sering stalking di malam-malam sepinya.
Sementara itu, Ganda menatap Diaz dari atas ke bawah.
Di matanya, gadis yang menabraknya ini terlihat sangat polos.
Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, menyisakan sisa-sisa air wudu yang segar. Dan yang paling krusial bagi Ganda saat ini: gadis itu sudah berbalut mukena putih bersih. Terlihat persis seperti seorang pengantin wanita yang siap bersanding di pelaminan.
Pikiran putus asa Ganda langsung mencengkeram situasi.
Logikanya sudah kalah oleh kepanikan demi menjaga harga diri keluarga.
Tanpa basa-basi, Ganda menatap mata Diaz dengan intensitas yang membuat gadis itu meremang.
"Mbak, mau nggak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen," tembak Ganda, suaranya bergetar namun penuh penekanan.
Diaz terbelalak, mengira pria di depannya sudah gila karena stres.
"Oalah Mas, saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke Gunung Kawi untuk mencari ketenangan!"
Mendengar kata 'Gunung Kawi', mata Ganda makin melebar, salah paham.
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah, Mbak, eling Mbak! Jangan ke sana. Menikah sama saya saja, saya kasih semuanya, Mbak. Seluruh harta saya!"
"Bukan begitu! Saya nggak cari pesugihan, saya hanya—"
Belum sempat Diaz menyelesaikan kalimatnya, Ganda sudah menyambar pergelangan tangan Diaz yang terbalut mukena, menariknya dengan paksa namun pasti menuju ruang utama masjid tempat takmir dan beberapa saksi inti berada.
Ganda tahu, ia harus bergerak sebelum mamanya keluar dari ruang VIP.
"Pak penghulu, ini pengantin wanitanya. Ada perubahan mendadak demi kemaslahatan umat dan menghindari fitnah," ucap Ganda tegas kepada penghulu yang terperangah melihat Diaz yang hanya bermukena tanpa riasan pengantin.
Dengan otoritasnya sebagai anak kiai, Ganda memotong semua keraguan.
Menggunakan mahar fantastis yang seharusnya menjadi milik Laura.
"Siapa nama lengkap kamu? Apakah ayahmu masih ada? Saya akan menjemput beliau,"
Ganda langsung menjabat tangan penghulu yang bertindak sebagai wali hakim.
Di atas karpet hijau masjid, dalam waktu kurang dari sepuluh menit sejak tabrakan di koridor, sebuah kalimat mutlak berkumandang lantang dan berwibawa:
"Saya terima nikahnya Diaz Aruna Saraswati binti Almarhum Subroto dengan mas kawin dua ratus juta rupiah dibayar tunai!"
"Sah?"
"Sah!"
Seketika itu juga, air mata Diaz luruh. Ia resmi menjadi istri seorang anak kiai dalam skenario paling gila yang pernah ada dalam hidupnya.
Tepat saat kata 'Sah' selesai diucapkan, pintu utama masjid terbuka luas.
Rombongan keluarga besar dan emak-emak undangan mulai memasuki area utama masjid.
Langkah kaki mereka mendadak melambat, berganti dengan pandangan mata yang menghujam tajam ke arah pelaminan.
Suasana sakral yang baru saja tercipta langsung pecah berkeping-keping oleh bisik-bisik julid yang menjalar cepat di antara barisan undangan.
Seorang emak-emak bersanggul tinggi menyenggol lengan temannya dengan bibir mencibir:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online... dipesen langsung dateng!"
Diaz menunduk dalam, meremas ujung mukenanya yang mendadak terasa sangat berat.
Di sampingnya, Ganda berdiri dengan rahang mengeras.
Mereka berdua tahu, gerbang cobaan yang sesungguhnya baru saja terbuka lebar.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡