NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam

Malam telah larut. Sudah beberapa jam yang lalu Enzo mengantar Chantika pulang.

Di apartemennya yang sunyi, pria itu akhirnya memejamkan mata. Namun seperti malam-malam sebelumnya, mimpi itu kembali datang.

Seorang bocah lelaki meringkuk di sudut ruangan sempit. Matanya masih berat karena mengantuk.

Brak!

Sebuah tendangan menghantam tubuh kecilnya hingga membentur tembok.

"Bangun!" bentak seorang pria dengan tubuh sempoyongan dan bau alkohol yang menyengat. Botol minuman keras masih digenggamnya.

"Tidur terus! Cepat cari uang!"

Belum sempat bocah itu berdiri, tamparan dan pukulan kembali menghujani tubuhnya.

"Bangun pemalas!"

Sebuah tendangan kembali mendarat di tubuh kecil itu.

"Kalau gak bisa bawa uang, jangan pulang!"

Bocah itu hanya bisa memeluk kepalanya sambil menahan tangis. Setiap kali ia tertidur, ia selalu dibangunkan dengan pukulan.

Enzo tersentak bangun. Napasnya memburu. Dahi dan punggungnya telah basah oleh keringat dingin.

Refleks ia mengepalkan kedua tangan, seolah masih bersiap menahan pukulan yang sebenarnya sudah tidak pernah datang lagi.

Ia menoleh ke arah jam digital di samping ranjang yang menunjukkan pukul satu malam.

Sudah bertahun-tahun berlalu. Namun setiap kali tidur, tubuhnya masih percaya bahwa seseorang akan membangunkannya dengan tendangan.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari ranjang. Kimono tidur yang dikenakannya dilepas dan diganti dengan kemeja hitam berlengan panjang serta celana panjang berwarna senada.

Setelah itu, ia mengambil ponselnya dan menekan salah satu kontak. Tak butuh waktu lama, sambungan tersambung.

"Vito."

"Ya, Bos."

"Antar aku ke suatu tempat."

Tut.

Tanpa menunggu jawaban, Enzo langsung mengakhiri panggilan.

 

Beberapa menit kemudian, Enzo sudah duduk di kursi penumpang mobil yang dikemudikan Vito.

Sepanjang perjalanan, ia memandangi tablet di tangannya. Di layar tampak denah rumah Rahardja beserta titik-titik kamera CCTV yang sebelumnya berhasil dipetakan menggunakan drone pengintai.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di seberang rumah keluarga Rahardja.

Vito mematikan mesin. "Bos mau ngapain ke sini?" tanyanya penasaran.

Enzo membuka sabuk pengaman. "Kamu pulang saja."

Vito mengernyit.

"Besok pagi jemput aku." Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Enzo turun dari mobil.

Vito hanya bisa menghela napas pelan sambil memerhatikan Bosnya berjalan menuju pagar rumah.

Dengan satu tolakan ringan, Enzo meraih bagian atas tembok, lalu mengangkat tubuhnya dengan gerakan yang begitu lincah dan nyaris tanpa suara.

Vito menggeleng pelan.

"Kalau bukan lihat sendiri, siapa yang percaya ketua organisasi sebesar itu malah nyusup ke rumah calon istrinya tengah malam begini," gumamnya sambil tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, ia kembali menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan lokasi.

Sementara itu, Enzo tetap berdiri di atas tembok beberapa saat. Tatapannya menyapu seluruh pekarangan.

Ia mengingat letak setiap kamera CCTV yang telah dipelajarinya selama perjalanan tadi.

Setelah memastikan jalurnya aman, ia melompat turun dengan ringan. Kedua kakinya menyentuh tanah hampir tak menimbulkan suara.

Ia bergerak cepat menyusuri sisi pekarangan, memanfaatkan bayangan pepohonan dan area yang tidak terjangkau kamera.

Beberapa saat kemudian, ia tiba di bawah balkon kamar Chantika.

Tanpa kesulitan, Enzo memanjat tiang balkon dan tepian dinding dengan gerakan yang terlatih hingga akhirnya mendarat mulus di balkon lantai dua. Perlahan ia meraih gagang pintu.

Klik.

Pintu balkon terbuka. Dalam cahaya remang lampu tidur, Enzo melihat Chantika telah terlelap di atas ranjang. Selimut menutupi tubuh wanita itu hingga sebatas dada. Tanpa ragu Enzo melangkah masuk.

Klik.

Pintu balkon ia tutup kembali dengan hati-hati.

Tap.

Tap.

Tap.

Ia semakin mendekati ranjang.

Hingga...

Sreet!

Dalam sekejap, selimut tersibak. Tubuh Chantika melesat cepat turun dari ranjang. Kakinya menapak lantai dengan ringan sebelum sebuah tendangan menyapu ke arah Enzo yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.

Namun Enzo bergerak lebih cepat.

Swoosh!

Pria itu memutar tubuhnya, membiarkan tendangan Chantika melintas hanya beberapa sentimeter dari dadanya.

Tanpa memberi kesempatan, Chantika melancarkan serangan bertubi-tubi. Siku kirinya meluncur ke arah rahang, disusul pukulan lurus yang mengincar ulu hati.

Namun semuanya berhasil dihindari dengan mudah.

"Jago juga dia," pikir Chantika.

Tat!

Tat!

Tat!

"Lumayan juga." Bibir Enzo bergerak samar.

Gerakan pria itu nyaris tanpa suara, seolah telah mengetahui arah setiap serangan sebelum Chantika benar-benar melancarkannya.

Sorot mata Chantika berubah. Ia mempercepat ritme serangan. Tendangan memutar, sapuan kaki, kuncian lengan, semuanya mengalir tanpa jeda seperti rangkaian yang telah dilatih ribuan kali.

Namun Enzo hanya bertahan. Tak sekalipun membalas serangan. Ia sekadar menepis, menghindar, bergeser, lalu mundur setengah langkah setiap kali serangan Chantika hampir mengenainya.

Sorot mata Chantika berubah. Senyum tipis mulai terukir di sudut bibirnya.

Dalam cahaya remang lampu tidur, wajah pria itu masih sulit dikenali. Tetapi... Chantika mulai menangkap sesuatu.

"Aroma parfum samar ini..."

Cara berdirinya, postur tubuhnya. Lalu ketenangan yang aneh saat menghadapi serangannya.

Sudut bibir Chantika perlahan terangkat.

"Jadi benar..."

Alih-alih berhenti, ia justru melancarkan serangan semakin gencar.

"Kalau memang kamu..." gumamnya dalam hati. "...biar kulihat seberapa hebat kemampuanmu."

Seketika sebuah tendangan berputar kembali meluncur, kali ini jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Pria itu akhirnya mengangkat tangan untuk menahan serangan tersebut.

Brak!

Benturan keras terdengar memenuhi kamar. Senyum tipis di bibir Chantika semakin jelas.

"Masih nahan diri..." gumamnya pelan.

Bagh!

Bruk!

Dua kali tendangan kembali gagal mengenai sasaran. Hingga akhirnya...

Dengan satu gerakan cepat, Enzo menangkap pergelangan tangan Chantika, memutar tubuhnya, lalu mengunci kedua lengan wanita itu dari belakang.

Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Chantika berhenti memberontak. Napasnya masih sedikit memburu.

"Beraninya menyusup ke kamar seorang polwan," katanya sambil tersenyum tipis.

"Aku memang ingin ditangkap polwan."

Suara rendah itu terdengar tepat di belakang telinganya. Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di lehernya.

Chantika terkekeh pelan meski tubuhnya sedikit meremang. "Mau apa malam-malam menyusup ke kamarku?"

"Rindu."

Jawaban singkat itu membuat senyum Chantika makin lebar.

Perlahan, kuncian di kedua lengannya mengendur hingga berubah menjadi pelukan hangat dari belakang.

Chantika menggeleng pelan. "Baru beberapa jam kita berpisah."

"Menurutmu itu sebentar?"

"Iya."

"Buatku lama."

Chantika terkekeh lagi. "Memangnya rindu datang secepat itu?"

Enzo terdiam sesaat sebelum menjawab pelan, "Kalau sama orang yang tepat... beberapa jam saja terasa terlalu lama."

Chantika menarik napas pelan. "Kamu memang selalu punya jawaban."

"Bukan jawaban."

"Lalu?"

"Kejujuran."

Chantika menggeleng kecil, meski senyum di wajahnya tak mampu ia sembunyikan.

"Kamu ini..."

"Apa?"

"Makin lama makin susah ditebak."

Enzo tersenyum tipis. "Itu karena kamu baru mengenalku sedikit."

Tatapan keduanya bertemu dalam cahaya remang kamar.

Di balik sikap dinginnya sebagai CEO, dan rahasia besarnya sebagai ketua organisasi bawah tanah, hanya di depan wanita itu Enzo bisa menunjukkan sisi dirinya yang paling sederhana.

 

...🔸🔸🔸...

..."Di depan dunia ia adalah pria yang ditakuti. Namun di hadapan wanita yang dicintainya, ia hanya seorang lelaki yang diam-diam mencari ketenangan."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
Sugiharti Rusli
namanya juga bos besar yah, tapi tenang saja dan berharap sama calon nyonya bis yang lebih manusiawi😄😄😄
Sugiharti Rusli
sabar yah Marco dengan sifat bos kamu yang terkadang suka seenaknya sendiri😅
Yunita Sophi
Enzo bilang yg sederhana tp itu... ada HOTEL ada VILLA dan jg SAHAM sampai 30 persen? wow Enzo sampe segitu cinta nya sama Chantika...😍😍
partini
Sandra anak nya atau anak istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!