Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
Malam telah larut. Sudah beberapa jam yang lalu Enzo mengantar Chantika pulang.
Di apartemennya yang sunyi, pria itu akhirnya memejamkan mata. Namun seperti malam-malam sebelumnya, mimpi itu kembali datang.
Seorang bocah lelaki meringkuk di sudut ruangan sempit. Matanya masih berat karena mengantuk.
Brak!
Sebuah tendangan menghantam tubuh kecilnya hingga membentur tembok.
"Bangun!" bentak seorang pria dengan tubuh sempoyongan dan bau alkohol yang menyengat. Botol minuman keras masih digenggamnya.
"Tidur terus! Cepat cari uang!"
Belum sempat bocah itu berdiri, tamparan dan pukulan kembali menghujani tubuhnya.
"Bangun pemalas!"
Sebuah tendangan kembali mendarat di tubuh kecil itu.
"Kalau gak bisa bawa uang, jangan pulang!"
Bocah itu hanya bisa memeluk kepalanya sambil menahan tangis. Setiap kali ia tertidur, ia selalu dibangunkan dengan pukulan.
Enzo tersentak bangun. Napasnya memburu. Dahi dan punggungnya telah basah oleh keringat dingin.
Refleks ia mengepalkan kedua tangan, seolah masih bersiap menahan pukulan yang sebenarnya sudah tidak pernah datang lagi.
Ia menoleh ke arah jam digital di samping ranjang yang menunjukkan pukul satu malam.
Sudah bertahun-tahun berlalu. Namun setiap kali tidur, tubuhnya masih percaya bahwa seseorang akan membangunkannya dengan tendangan.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari ranjang. Kimono tidur yang dikenakannya dilepas dan diganti dengan kemeja hitam berlengan panjang serta celana panjang berwarna senada.
Setelah itu, ia mengambil ponselnya dan menekan salah satu kontak. Tak butuh waktu lama, sambungan tersambung.
"Vito."
"Ya, Bos."
"Antar aku ke suatu tempat."
Tut.
Tanpa menunggu jawaban, Enzo langsung mengakhiri panggilan.
Beberapa menit kemudian, Enzo sudah duduk di kursi penumpang mobil yang dikemudikan Vito.
Sepanjang perjalanan, ia memandangi tablet di tangannya. Di layar tampak denah rumah Rahardja beserta titik-titik kamera CCTV yang sebelumnya berhasil dipetakan menggunakan drone pengintai.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di seberang rumah keluarga Rahardja.
Vito mematikan mesin. "Bos mau ngapain ke sini?" tanyanya penasaran.
Enzo membuka sabuk pengaman. "Kamu pulang saja."
Vito mengernyit.
"Besok pagi jemput aku." Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Enzo turun dari mobil.
Vito hanya bisa menghela napas pelan sambil memerhatikan Bosnya berjalan menuju pagar rumah.
Dengan satu tolakan ringan, Enzo meraih bagian atas tembok, lalu mengangkat tubuhnya dengan gerakan yang begitu lincah dan nyaris tanpa suara.
Vito menggeleng pelan.
"Kalau bukan lihat sendiri, siapa yang percaya ketua organisasi sebesar itu malah nyusup ke rumah calon istrinya tengah malam begini," gumamnya sambil tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, ia kembali menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan lokasi.
Sementara itu, Enzo tetap berdiri di atas tembok beberapa saat. Tatapannya menyapu seluruh pekarangan.
Ia mengingat letak setiap kamera CCTV yang telah dipelajarinya selama perjalanan tadi.
Setelah memastikan jalurnya aman, ia melompat turun dengan ringan. Kedua kakinya menyentuh tanah hampir tak menimbulkan suara.
Ia bergerak cepat menyusuri sisi pekarangan, memanfaatkan bayangan pepohonan dan area yang tidak terjangkau kamera.
Beberapa saat kemudian, ia tiba di bawah balkon kamar Chantika.
Tanpa kesulitan, Enzo memanjat tiang balkon dan tepian dinding dengan gerakan yang terlatih hingga akhirnya mendarat mulus di balkon lantai dua. Perlahan ia meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu balkon terbuka. Dalam cahaya remang lampu tidur, Enzo melihat Chantika telah terlelap di atas ranjang. Selimut menutupi tubuh wanita itu hingga sebatas dada. Tanpa ragu Enzo melangkah masuk.
Klik.
Pintu balkon ia tutup kembali dengan hati-hati.
Tap.
Tap.
Tap.
Ia semakin mendekati ranjang.
Hingga...
Sreet!
Dalam sekejap, selimut tersibak. Tubuh Chantika melesat cepat turun dari ranjang. Kakinya menapak lantai dengan ringan sebelum sebuah tendangan menyapu ke arah Enzo yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
Namun Enzo bergerak lebih cepat.
Swoosh!
Pria itu memutar tubuhnya, membiarkan tendangan Chantika melintas hanya beberapa sentimeter dari dadanya.
Tanpa memberi kesempatan, Chantika melancarkan serangan bertubi-tubi. Siku kirinya meluncur ke arah rahang, disusul pukulan lurus yang mengincar ulu hati.
Namun semuanya berhasil dihindari dengan mudah.
"Jago juga dia," pikir Chantika.
Tat!
Tat!
Tat!
"Lumayan juga." Bibir Enzo bergerak samar.
Gerakan pria itu nyaris tanpa suara, seolah telah mengetahui arah setiap serangan sebelum Chantika benar-benar melancarkannya.
Sorot mata Chantika berubah. Ia mempercepat ritme serangan. Tendangan memutar, sapuan kaki, kuncian lengan, semuanya mengalir tanpa jeda seperti rangkaian yang telah dilatih ribuan kali.
Namun Enzo hanya bertahan. Tak sekalipun membalas serangan. Ia sekadar menepis, menghindar, bergeser, lalu mundur setengah langkah setiap kali serangan Chantika hampir mengenainya.
Sorot mata Chantika berubah. Senyum tipis mulai terukir di sudut bibirnya.
Dalam cahaya remang lampu tidur, wajah pria itu masih sulit dikenali. Tetapi... Chantika mulai menangkap sesuatu.
"Aroma parfum samar ini..."
Cara berdirinya, postur tubuhnya. Lalu ketenangan yang aneh saat menghadapi serangannya.
Sudut bibir Chantika perlahan terangkat.
"Jadi benar..."
Alih-alih berhenti, ia justru melancarkan serangan semakin gencar.
"Kalau memang kamu..." gumamnya dalam hati. "...biar kulihat seberapa hebat kemampuanmu."
Seketika sebuah tendangan berputar kembali meluncur, kali ini jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Pria itu akhirnya mengangkat tangan untuk menahan serangan tersebut.
Brak!
Benturan keras terdengar memenuhi kamar. Senyum tipis di bibir Chantika semakin jelas.
"Masih nahan diri..." gumamnya pelan.
Bagh!
Bruk!
Dua kali tendangan kembali gagal mengenai sasaran. Hingga akhirnya...
Dengan satu gerakan cepat, Enzo menangkap pergelangan tangan Chantika, memutar tubuhnya, lalu mengunci kedua lengan wanita itu dari belakang.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Chantika berhenti memberontak. Napasnya masih sedikit memburu.
"Beraninya menyusup ke kamar seorang polwan," katanya sambil tersenyum tipis.
"Aku memang ingin ditangkap polwan."
Suara rendah itu terdengar tepat di belakang telinganya. Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di lehernya.
Chantika terkekeh pelan meski tubuhnya sedikit meremang. "Mau apa malam-malam menyusup ke kamarku?"
"Rindu."
Jawaban singkat itu membuat senyum Chantika makin lebar.
Perlahan, kuncian di kedua lengannya mengendur hingga berubah menjadi pelukan hangat dari belakang.
Chantika menggeleng pelan. "Baru beberapa jam kita berpisah."
"Menurutmu itu sebentar?"
"Iya."
"Buatku lama."
Chantika terkekeh lagi. "Memangnya rindu datang secepat itu?"
Enzo terdiam sesaat sebelum menjawab pelan, "Kalau sama orang yang tepat... beberapa jam saja terasa terlalu lama."
Chantika menarik napas pelan. "Kamu memang selalu punya jawaban."
"Bukan jawaban."
"Lalu?"
"Kejujuran."
Chantika menggeleng kecil, meski senyum di wajahnya tak mampu ia sembunyikan.
"Kamu ini..."
"Apa?"
"Makin lama makin susah ditebak."
Enzo tersenyum tipis. "Itu karena kamu baru mengenalku sedikit."
Tatapan keduanya bertemu dalam cahaya remang kamar.
Di balik sikap dinginnya sebagai CEO, dan rahasia besarnya sebagai ketua organisasi bawah tanah, hanya di depan wanita itu Enzo bisa menunjukkan sisi dirinya yang paling sederhana.
...🔸🔸🔸...
..."Di depan dunia ia adalah pria yang ditakuti. Namun di hadapan wanita yang dicintainya, ia hanya seorang lelaki yang diam-diam mencari ketenangan."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...
Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.
Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.
Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.
Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.
Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.
Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.
Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.
Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.
Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.
Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.
Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...
jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit