Bagaimana jadinya jika seorang perempuan yang berpenampilan tidak menarik bisa membuat seorang CEO tampan jatuh cinta? Yang awalnya membenci jadi cinta, seolah ada kekuatan magic yang membutakan matanya. Kemampuan gadis itu sungguh membuat sang pria terpedaya.
"Jadilah kekasihku! Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau." Itulah tawaran yang diberikan oleh Juno kepada Aruna Rhea. Gadis yang berpenampilan kampungan, tetapi berhasil membuat Juno mabuk kepayang.
Siapa sangka ada rahasia di balik penampilan Aruna, yang membuat Juno kesulitan mendapatkan cintanya.
#Sequel dari novel 'My Lovely Idiot Husband'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Alfath
...***...
"Syaratnya, ya, itu. Apa yang Bu Dena bilang barusan," ujar Aruna.
Dena pun beranjak berdiri sambil mengernyitkan keningnya. "Emangnya aku bilang apa?" tanyanya.
"Bu Dena akan melakukan apa pun yang aku katakan," ucap Aruna mengulangi perkataan Dena.
Sejenak terdiam, Dena sedikit menyesal telah berucap seperti itu tadi. Dia takut jika Aruna memintanya melakukan hal-hal yang tidak dia sukai, atau bahkan membuat dirinya rugi.
"Tapi ... kamu nggak akan minta hal yang aneh-aneh, kan?" tanya Dena sedikit curiga.
Aruna tersenyum miris. "Kenapa? Takut?" tanya Aruna. Dena hanya diam saja menatap kaku perempuan di hadapannya itu. Tak lama Aruna pun tergelak karena melihat raut wajah Dena yang menurutnya lucu. "Tenang aja, Bu! Aku hanya akan meminta sesuatu yang menurutku, Bu Dena akan mampu melakukannya," tambah Aruna di sela tawanya.
Dena pun tersenyum lega. Lantas memeluk tubuh Aruna dengan gemas. "Kamu itu baik banget, sih, Aruna. Makasih, ya, udah maafin aku," ujarnya merayu.
"Bu, meluknya jangan kenceng-kenceng! Aku masih normal, loh." Aruna menggeliat dan meronta minta dilepaskan. Ia sangat risih dengan perlakuan Dena tersebut.
"Kamu pikir aku nggak normal?" protes Dena sembari melepas pelukannya. Aruna mencebikkan bibirnya.
Berbarengan dengan itu, pintu ruangan divisi keuangan pun terbuka. Ada yang mendorongnya dari luar, lalu terlihat kepala Indira melongok ke dalam, dan diikuti oleh kepala Yoga berada di posisi atasnya. Membuat atensi Dena dan Aruna teralihkan ke arah sana.
"Bu Dena, udah selesai belum? Kami mau lanjut kerja lagi. Nanti kalau kerjaan kami nggak selesai, kami juga yang dimarahi," seru Indira yang mendapatkan dukungan anggukan kepala dari Yoga.
"Kalian nguping, ya?" tuding Dena memicingkan mata.
"Nggak, Bu. Kami baru kembali dari pan–"
"Aduh!" pekik Yoga sambil memegang ujung bibirnya. Indira menoleh ke belakangnya.
Indira yang langsung berdiri tegak, kepalanya tanpa sengaja terbentur dagu Yoga yang berada di atasnya. Bibir bawahnya tergigit oleh gigi bagian atasnya. Membuatnya sedikit berdarah. "Kalau mau berdiri bilang-bilang, dong. Sakit tahu!" sembur Yoga.
"Eh, mana kutahu kalau kepalamu ada di situ. Siapa suruh nyimpen kepala sembarangan? Kamu pikir kepalaku juga nggak sakit kena dagu runcing kamu!" Indira mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut. Namun, ketika melihat bibir Yoga yang terluka, dia pun merasa kasihan.
"Pasti jadi sariawan. Maaf, ya!" sesal Indira kemudian. Yoga hanya mendengus kesal.
"Udah, udah! Kalian cepet kerja lagi!" titah Aruna. Indira dan Yoga pun kembali ke mejanya masing-masing. Aruna beralih lagi pada Dena. "Dan Bu Dena, silakan ganti baju! Nanti kulit Ibu tambah keriput kalau kelamaan pake baju basah."
"Iya, Aruna. Aku pergi sekarang." Makasih, ya!" Dena pun pergi dari sana sambil tertunduk lesu. Dirinya merasa kalah dari Aruna.
Yoga dan Indira terbengong-bengong melihat kelakuan Dena. Baru beberapa menit yang lalu sikap perempuan itu sangat kasar kepada Aruna, tetapi sekarang sikapnya berubah total, 180 derajat.
"Hei, kenapa pada bengong? Ayo, kerja!" perintah Aruna membuat kesadaran kedua asisten keuangan itu kembali.
Indira yang paling penasaran pun akhirnya bertanya. "Bu Aruna abis ngeruqiyah Bu Dena, ya? Kok, dia langsung nurut gitu sama Bu Aruna. Padahal tadi–"
"Kamu mau gosip, apa mau kerja?" Indira sontak mencebikkan bibirnya ketika Aruna menukasnya demikian. Aruna pun tersenyum hambar sebelum dirinya kembali ke meja kerjanya. Perbincangan mereka pun terhenti di sana.
...***...
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Aruna sudah bersiap untuk pulang kerja. Namun, perempuan itu tidak berniat untuk langsung pulang ke rumahnya. Dia mau mampir ke kafenya Juno, tetapi bukan untuk menemui lelaki itu, melainkan ingin bertemu dengan Alfath. Aruna masih penasaran dengan keberadaan lelaki itu saat menolongnya malam itu.
Kenangannya sewaktu masih kuliah di Singapura tiba-tiba merasuk dalam pikirannya. Waktu itu dia bertemu Alfath di sebuah restoran tempatnya mencari kerja sampingan. Alfath adalah chef profesional lulusan dari at-Sunrice Globalchef Academy kala itu. Dia direkomendasikan oleh pihak akademis untuk menjadi chef handal di satu restoran terkenal di Singapura, setelah berhasil magang dengan nilai yang memuaskan di restoran tersebut. Dia juga dinobatkan menjadi chef nomor satu.
Aruna yang sedari kecil selalu dididik mandiri oleh sang mama. Tidak bisa hanya berdiam diri dengan menikmati fasilitas yang diberikan papanya begitu saja. Selama dirinya masih dikaruniai kesehatan, semangat Aruna tidak pernah pudar untuk mencari uang. Ya, walaupun setiap bulan sang papa selalu mengirimkannya uang. Aruna selalu menabung uang itu untuk keperluan yang lain. Hasilnya adalah ia bisa membeli rumah kecil dan mobil yang dijual untuk melunasi ganti rugi kepada Juno. Sungguh disayangkan.
Alfath-lah yang merekomendasikan Aruna untuk bekerja di restoran sebagai pelayan paruh waktu. Ketika perempuan itu tengah pontang-panting mencari kerja sendirian, dia secara tidak sengaja bertemu dengan Alfath. Lelaki baik itu merasa kasihan pada Aruna, karena mereka berasal dari satu negara yang sama. Rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air, tiba-tiba muncul di negeri perantauan mereka.
"Setelah lulus, aku langsung mengundurkan diri dari pekerjaan, dan semenjak itu aku nggak pernah kontak-kontakkan lagi sama dia. Nomor kontakku ke-reset semua semenjak aku ganti nomor ponsel. Aku nggak tahu kalau chef Al udah balik ke Indonesia," gumam Aruna ketika sedang mengemudi mobilnya. Membaur dengan kendaraan lainnya dalam padatnya jalanan ibu kota.
...***...
Setelah satu jam lebih Aruna bergelut dengan kemacetan, sampailah dia di sebuah kafe sekaligus bar yang bertuliskan 'Homeless Child's' yang dikelilingi lampu kerlap-kerlip di bagian depan atas gedung tersebut. Aruna memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang cukup ramai. Kafe tersebut cukup populer walau terbilang masih baru. Setelah turun dari mobil, Aruna pun bergegas menuju stand kasir untuk menanyakan perihal Alfath.
"Permisi, Mbak. Apa di sini ada chef yang namanya Alfath?" tanya Aruna tanpa basa-basi.
"Ada, Mbak. Mas Alfath itu chef sekaligus salah satu bos di kafe ini," jawab pegawai kasir tersebut.
Aruna tersenyum, "Orangnya ada? Boleh saya ketemu? Saya temen lamanya dia," pinta Aruna dengan tatapan memohon.
Sejenak terdiam, kasir itu pun merasa bimbang. "Biar saya tanyakan sama Mas Alfath, ya, Mbak," ujarnya kemudian.
"Jangan, Mbak. Saya mau kejutan sama dia. Boleh, ya? Boleh, dong. Mbak, baik, deh." Aruna memaksa.
"Tapi, Mbak—"
"Mbak lihat ini!" Aruna menunjukkan sebuah foto dari ponsel miliknya. Foto yang menunjukkan dirinya sedang dirangkul oleh Alfath. "Dia ... sebenarnya pacar saya, Mbak. Cuma tadi saya malu mau ngakuin," ucap Aruna pura-pura tersipu.
"Oalah, Mbak. Ngomong, dong, dari tadi! Kan, saya nggak perlu ragu buat nganterin Mbak ke tempat pribadi para bos. Maafkan, ya, Mbak. Tadi saya udah nggak sopan," ujar kasir yang bernama Tika itu sembari tersenyum canggung.
"Nggak apa-apa, Mbak. Bisa anterin sekarang?" tanya Aruna senang.
"Iya, Mbak. Eh, nama Mbak siapa?" tanya balik Tika.
"Aruna." Kasir itu mengangguk, lalu mengantarkan Aruna ke tempat bosnya berada.
Setelah sampai di sana, Tika mengetuk pintu ruangan khusus para bos. Dalam ketukan ke dua pintu itu pun terbuka, menampilkan sosok Abizar yang menyongsong di ambang pintu yang terbuka.
"Permisi, Mas Abi. Ini ada pacarnya Mas Alfath mau kasih kejutan katanya. Romantis, ya?" Tika tersenyum simpul, sambil melirik pada Aruna. Aruna tersenyum kikuk menanggapinya.
Abizar memicingkan matanya, menyapu sosok Aruna dari ujung kepala sampai kakinya. Perasaan dia mengenal perempuan itu. Dan ketika otaknya mampu menemukan identitas Aruna, Abizar pun sontak melebarkan matanya.
"Bukannya ini cewek kampungan yang disukai abang Juno. Jadi dia pacarnya bang Alfath juga? Gawat, bisa perang dunia ketiga, dong. Bang Juno, kan, ada di dalam juga," batin Abizar sambil menelan ludahnya kelat.
...***...
Eh, bisa-bisanya Aruna ngaku-ngaku juga. Gimana reaksi Juno saat dia tahu, ya, readers 😅
Jangan lupa like, komentar sama giftnya 😘
semangat ya author 👍👍👍👍
ditunggu karya selanjutnya 💪💪💪💪
spil pemeran juno nya 😊😊
manusia kaya dena ini banyak di dunia nyata