Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Monster is Back
Axel Steel telah menyelesaikan program Pascasarjana-nya di Harvard. Selama empat tahun saja, lelaki bermarga Steel itu mampu mengukir namanya dengan tinta emas dalam kancah dunia bisnis
Lelaki itu melampaui ekspektasi para pendahulunya di Steel Group. Ia mampu mengubah Steel Group yang tadinya hanya konglomerat regional yang mapan, menjadi raksasa multinasional yang ditakuti.
Sungguh pencapaian yang membanggakan.
Axel Steel juga sangat terkenal. Bukan karena tampan, atau karena ia CEO lajang. Tetapi karena otak cerdasnya, ia sangat lihai dalam melihat peluang bisnis, sehingga visinya selalu dua langkah di depan pesaing. Keputusannya selalu tajam dan tepat sasaran, membuat lelaki itu sangat disegani.
Di usianya yang mendekati kepala tiga, ia sudah mencatatkan namanya menjadi salah satu dari orang terkaya di Indonesia, bahkan Asia. Wajahnya pernah muncul dalam Forbes magazine sebagai pria berpengaruh paling diincar wanita.
Lelaki ini memiliki Penthouse mewah di Midtown Manhattan. Tepatnya di lantai paling atas gedung itu. Dengan jendela setinggi langit langit yang menawarkan panorama keindahan kota Manhattan. Penthouse yang mencerminkan dirinya sendiri.
Lelaki dengan segudang prestasi sepertinya, tentu saja memiliki kesibukan tiada akhir. Dari pagi buta hingga menjelang tengah malam. Mulai dari Rapat Dewan Direksi pukul tujuh pagi, negoisasi alot dan menguras tenaga, pengelolaan krisis global yang cepat dan peninjauan laporan finansial rumit dari berbagai belahan dunia.
Namun, diantara aktivitas yang padat itu, ada satu rutinitas yang tidak pernah dilewati Axel. Yaitu membaca file kiriman asistennya, Tuan Han. File penting dengan judul File S.
File itu disajikan oleh Tuan Han, kepala keamanan sekaligus asisten pribadinya di Jakarta, melalui sistem komunikasi terenkripsi yang canggih. Itu adalah laporan keseharian gadisnya di Indonesia. Tentang dimana gadis itu bberada apa yang ia pelajari, siapa yang ia temui, dan yang paling krusial siapa yang mencoba mendekatinya.
Setiap laporan adalah makanan bagi obsesi Axel.
File Sesi: Rekam Jejak Sang Ratu
[Laporan Harian. Tanggal: 18 Mei]
Target beraktivitas normal. Kelas Neurologi (Pukul 07:00-09:30). Nilai sempurna pada ujian blok terakhir. Penampilannya anggun dan rapi, mengenakan seragam praktik. Tadi malam terlihat menulis di jurnal hingga pukul 02:00 pagi.
[Laporan Insiden Khusus. Tanggal: 25 Mei]
Subjek: Arga P. (Residen Bedah Saraf, usia 28).
Aksi: Melakukan pendekatan kedua dengan Nona Sesilia. Target paling gigih di antara semua Subjek yang teridentifikasi.
Rincian Pencegahan: Informasi tentang skandal etika kecil di Rumah Sakit afiliasi tempat Arga P. bekerja diakses oleh Agen Beta. Informasi disebar ke Dewan Etik secara anonim. Arga P. membatalkan kencan dengan Nona Sesilia, beralasan "urgensi investigasi internal mendadak" dan terlihat panik. Nona Sesilia terlihat kecewa.
Axel membaca laporan itu dengan wajah puas, ada segaris senyuman yang muncul di bibirnya yang nyaris sangat jarang tersenyum. Lelaki itu sangat puas dengan hasil pekerjaan para bawahannya. Para lelaki yang mencoba mendekati miliknya memang harus tau diri. Karena mereka, tidak sebanding bahkan seujung kuku pun tidak akan bisa menyamai-nya.
"Han, pastikan Agen Gamma lebih aktif mengawasi area rumah sakit," perintahnya pada suatu malam, tatapannya terpaku pada foto candid milik gadisnya, yang sedang tertawa lepas bersama sahabatnya, Uni. Tawa gadis itu tampak sangat memesona dan hangat. Sang monster sampai tidak bisa berkedip karenanya. Tawa yang mirisnya, tidak pernah gadis itu tujukan padanya.
"Kau memang jahat padaku, gadis kecil." Bisiknya pada foto itu.
"Y..ya Tuan? Anda mengatakan sesuatu?" Tuan Han di seberang sana bertanya setelah mendengar bisikan Axel.
"Not you, Han!!" Jawabnya.
"Tuan Axel, bisakah kita melanjutkan pembahasan yang tadi?"
"Of course."
"Dengan segala hormat, Tuan. Jika kami terus menggunakan Steel Group sebagai tuas untuk membatalkan kontrak ayah mereka, itu bisa menarik perhatian Badan Anti-Monopoli," Tuan Han mengingatkan dengan hati-hati.
Axel hanya mendengus. "Aku sudah memikirkan itu. Gunakan metode yang lebih halus. Beasiswa, masalah pipa ledeng, visa perjalanan yang dibatalkan. Buat hidup mereka sangat tidak nyaman, tetapi jangan sampai mereka menyadari bahwa itu adalah intervensi yang disengaja. Mereka harus percaya bahwa mereka hanya tidak beruntung dan gadisku adalah pembawa sial."
Axel bersandar di kursi kebesarannya. Lelaki itu sadar bahwa tindakannya selama ini, untuk gadis itu adalah tindakan gila. Orang normal pasti itu menganggap obsesi. Tetapi persetan dengan komentar orang lain. Yang terpenting adalah bahwa cintanya tulus dan ia hanya ingin melindungi gadis yang dicintainya. Melindungi dari para pria bajingan di luar sana.
"So, this is love, hah?? I f*cking hate my friend when they fall in love. But now, I'm in." Lelaki itu bergumam pada dirinya sendiri. Menertawakan dirinya di masa lalu, yang selalu menganggap remeh dan memandang jijik sahabatnya yang jatuh cinta
"Sesilia Kira is Mine, Mr. Han. She is belongs to me. The God made her just for me, not for anyone else."
"Of course, sir. I know it." Balas asistennya di ujung sana.
....
Malam itu, Axel membuka laporan terbaru dengan antisipasi yang aneh.
[Inner Monologue Sesilia. Tanggal: 16 Desember]
“Aku harus berterima kasih padanya. Karena ketakutan yang dia tanamkan memaksaku untuk tumbuh. Sekarang aku tidak lagi mencari pahlawan seperti dalam novel. Aku akan menjadi pahlawan untuk diriku sendiri. Aku bukan gadis bodoh yang dulu, sekarang aku berbeda. Aku adalah dokter, ratu dalam duniaku, dan tentu saja tidak akan takut pada monster mana pun lagi. Jika ada yang mengganggu jalanku, aku akan menghadapinya. Aku tidak akan mundur.”
Axel membaca kalimat terakhir itu berulang kali. Alih-alih marah, senyum lebar yang mengerikan muncul di wajahnya.
Bagus. Dia tidak lagi takut. Dia menantang. Dia telah menjadi Ratu yang kuinginkan.
Keputusan Axel untuk mengisolasi Sesilia telah berhasil. Sesilia yang sekarang adalah hasil cetakan yang lebih sempurna dari yang ia bayangkan. Dia kuat, tetapi kekuatan itu diarahkan untuk melawan rasa takut yang ia ciptakan. Itu membuatnya semakin tertarik, semakin lapar.
Axel merasa lapar. Empat tahun pengawasan hanya meningkatkan hasratnya untuk mengklaim sang gadis. Ia telah membangunkan sisi predatornya yang terkubur dan kini predator itu sudah tidak bisa lagi menahan diri.
Ia segera memanggil dewan direksi Steel Group. "Aku kembali ke Jakarta lusa," katanya, nadanya tidak mengizinkan pertanyaan atau bantahan. "Aku akan mengambil alih kendali operasi Asia secara langsung. Persiapkan konferensi pers darurat."
Keputusan mendadak ini menimbulkan gelombang kejutan di dunia bisnis global, tetapi tidak ada yang berani mempertanyakan keputusan sang CEO Axel Steel.
.......
Axel mendarat di Jakarta tepat empat tahun setelah kepergiannya. Bukan di terminal pribadi, melainkan di terminal komersial yang kini sebagian besar sahamnya dimiliki oleh konsorsium Steel Group. Ia kembali sebagai seorang diktator bisnis, bukan mahasiswa S2.
Hal pertama yang ia lakukan bukanlah menghadiri pertemuan dewan direksi. ia langsung menuju sebuah penthouse mewah yang baru dibeli Steel Group. Lokasinya, tentu saja, strategis, terletak persis di seberang kompleks apartemen Sesilia.
Dari jendela setinggi langit-langit penthouse itu, ia bisa melihat seluruh area.
"Han," kata Axel, tidak mengalihkan pandangannya dari teleskop pengamat yang dipasang di sudut ruangan. "Hentikan semua operasi pengawasan. Dari sekarang, aku akan mengawasi sendiri. Semua agen ditarik. Pembayaran terakhir untuk mereka sudah disiapkan."
Tuan Han sedikit terkejut. "Tuan? Pengawasan sudah berjalan lancar selama empat tahun. Jika kami berhenti mendadak..."
"Aku bilang, hentikan," potong Axel tajam. "Aku tidak butuh perantara lagi. Permainan ini sudah dimulai, dan aku akan memainkannya di lapangan. Beri aku laporan jadwal sepupuku, Uni. Aku butuh tanggal pesta ulang tahunnya."
Tuan Han mengangguk patuh. "Baik, Tuan Axel. Pesta Nona Uni akan diadakan tiga hari lagi di Grand Ballroom Hotel Diamond. Semua sudah dikonfirmasi."
Axel tersenyum. Senyum tipis yang penuh perhitungan. "Sempurna. Momen untuk klaim yang pantas."
Ia menghabiskan sisa malam itu menatap Sesilia dari kejauhan. Melalui lensa teleskop yang kuat, ia melihat gadis itu di apartemennya, mencoba gaun emerald green yang akan ia kenakan di pesta Uni.
Melihat gadis itu yang sekarang dengan postur elegan, kecantikan yang menawan, aura mandiri, menghantam Axel dengan gelombang hasrat yang membakar. Keposesifan Axel langsung melonjak ke level yang eksplosif. Dia tidak lagi melihat gadis yang menyedihkan, tetapi wanita yang ia ciptakan dan ia lindungi, dan yang kini akan segera ia klaim.
Cantik. Terlalu cantik. Terlalu banyak perhatian yang akan dia tarik jika dibiarkan.
Axel harus memastikan setiap pria yang hadir tahu bahwa gadis itu bukanlah buruan bebas.
Ia akan membakar seluruh berita nasional, memastikan setiap pria yang pernah mendekati Sesilia dan setiap wanita yang merencanakan perjodohan dengannya tahu satu hal,
Sesilia adalah milik Axel Steel, dan siapa pun yang mencoba menyentuhnya akan berhadapan langsung dengan kekuatan Steel Group.
Sementara itu, di apartemennya, Sesilia merasakan gelombang kelegaan setelah menelepon Uni. Uni telah meyakinkannya bahwa ia tidak gila, bahwa mungkin ia hanya terlalu lelah. akhirnya gadis itu memutuskan bahwa ia akan melupakan semua keanehan itu. Dan hanya akan fokus pada pesta ulang tahun sang sahabat.
Saat mencoba gaun emerald green di depan cermin, gadis itu merasakan sensasi aneh. Ia merasakan tatapan seperti sengatan listrik yang dingin namun lebih intens yang jauh lebih nyata daripada tatapan pria lain. Rasanya seperti dibakar oleh sepasang mata yang tak terlihat.
Tikus kecil itu samar-samar merasakan Bayangan monster yang Kembali
Ia berjalan ke jendela dan melihat ke luar. Tidak ada apa-apa, hanya kegelapan dan lampu kota yang jauh. Gadis itu mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa perasaan aneh ini hanya karena kelelahan setelah shift panjang di rumah sakit.
Namun, Sesilia tidak tahu bahwa di seberang sana, di penthouse yang baru dibeli, Axel sedang menatap siluetnya melalui teleskop pribadinya.
"Kau tumbuh sempurna, sayangku," bisik Axel pada bayangan kota, suaranya dipenuhi janji yang kejam. "Kau telah menjadi ratu yang sangat sempurna. Sempurna untuk menjadi partner seumur hiduku."
Axel meletakkan teleskopnya, menyeringai. Malam dimana dia akan mengklaim gadis itu akan menjadi pengumuman yang tak terlupakan.
bau bau bucin😍😄