Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 34
Klien Sadewa sudah menunggu di ruangan yang telah Sadewa reservasi.
"Pak Julian,mohon maaf saya terlambat." Sadewa mengungkapkan penyesalan.
"Tidak masalah Pak Dewa,saya juga baru datang, ngomong-ngomong apakah ini sekertaris anda yang baru?." fokus Julian teralihkan kepada Bianca.
"ini karyawan saya bagian perencanaan." Sadewa memperkenalkan Bianca.
"Saya Bianca pak." ucap Bianca dengan ramah.
"Julian." balas Julian sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Kamu sangat cantik Bianca." tambah Julian.
"Terima kasih atas pujiannya,bapak juga terlihat menawan." balas Bianca.
Sadewa menatap Bianca dan Julian secara bergantian,ada ketidak sukaan saat Bianca memuji Julian dan sebaliknya.
"Baik kalau begitu kita mulai pembahasan." Sadewa mengalihkan atensi mereka berdua.
Setelah membahas panjang kali lebar masalah proyek yang sedang ditangani Sadewa dan Julian, akhirnya meeting tersebut selesai.
"Bianca kamu sudah punya pacar? atau suami?." tanya Julian.
Bianca melirik Sadewa yang sedang menatapnya, Sadewa seperti memberikan isyarat jika Bianca harus mengatakan jika dia sudah punya pacar atau suami."
"Saya sudah menikah pak." ucap Bianca sambil tersenyum.
Terlihat kekecewaan diraut wajah Julian, sementara Sadewa terlihat bangga atas jawaban Bianca.
"Sayang sekali, padahal saya merasa sepertinya kita cocok,tapi selamat atas pernikahan kamu,wajar saja wanita secantik kamu sudah ada yang punya."
"Terima kasih pak,saya doakan bapak segera bertemu dengan wanita yang baik dan sesuai kriteria bapak." ungkap Bianca dengan tulus.
"Terima kasih Bianca,kalau begitu saya pamit dulu ada janji dengan investor lain setelah ini,pak Dewa yang puas dengan perancangan dari bapak semoga kerjasama kita terjalin lebih lama."
" sama-sama pak." Sadewa berdiri dari kursinya diikuti Bianca, mereka bersalaman dengan Julian sebelum ia meninggalkan ruangan.
Sadewa kembali duduk untuk makan siang.
"Kamu belum makan?" tanya Bianca yang melihat Sadewa makan dengan lahap.
"Belum aku tadi ga nafsu makan karena overthinking." sepertinya Sadewa tidak sadar dengan apa yang dia katakan.
"Overthinking kenapa?." tanya Bianca.
"mikirin kamu." Sadewa seperti tersadar jika apa yang dia katakan adalah isi hatinya.
"Mikirin aku?." ulang Bianca.
Sadewa mencoba membuat alasan yang masuk akal,"iya mikirin kamu yang dari tadi ga balik ke kantor aku mau ajak kamu meeting jadi ga nafsu makan."
"Ohh begitu." jawab Bianca dengan singkat.
Sadewa menyelesaikan makan siangnya.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Sadewa meraih tangan Bianca.
Mereka jalan bergandengan,"mau kemana?." tanya Bianca.
"adalah pokonya." jawab Sadewa.
......................
Sementara Dilain sisi Sarah belum bisa kembali ke tanah air karena ada masalah dengan kontraknya.
"Aku ga mau tau selesai in masalah ini secepatnya." ucap sarah sambil marah kepada managernya.
"Tapi ini bukan masalah kecil Sarah,kalau kamu meninggalkan kerja sama ini di tengah jalan kamu bisa kena pinalti." jawab manager Sarah dengan frustasi.
"Aku ga peduli,yang jelas aku mau kembali ke Indonesia secepatnya,sana kamu pergi aku mau istirahat." usir Sarah.
Setelah managernya meninggalkan kamar Sarah, dia langsung merebahkan tubuhnya dikasur.
Sarah mengelus perutnya yang mulai membesar,"Kita akan segera bertemu papa kamu, dia akan sangat bahagia saat tau kamu hadir di perut mama."
Sarah sudah membayangkan betapa Sadewa akan sangat bahagia saat mengetahui jika dirinya hamil, karena itulah yang diinginkan Sadewa saat mereka bersama.
......................
Sadewa mengajak Bianca pergi ke toko perhiasan.
"Saya mau ambil pesanan saya."
"Pesanan atas nama bapak Sadewa,satu set perhiasan berlian, silahkan dicek terlebih dahulu."
Setelah memastikan jika pesanannya sudah sesuai Sadewa langsung berlalu sambil menggandeng Bianca.
Bianca tidak berani bertanya karena itu bukan urusannya,dia berpikir mungkin Sadewa membelikan mama Hanum atau kliennya.
Saat mereka sudah didepan mobil Sadewa memberikan paperbag berisi perhiasan tersebut kepada Bianca.
"Ini buat kamu."
Bianca terkejut karena dia tidak berpikir jika perhiasan itu untuknya.
"Beneran? Yakin buat aku?." Bianca mencoba memastikan jika Sadewa tidak salah.
"Bukan itu buat bi eem (art Bianca di rumah)." jawab Sadewa seenaknya.
Bianca mencubit lengan Sadewa,"Yang bener Dewa,ini seriusan buat aku."
"Hemm,aku mikir kayaknya aku belum ngasih apa-apa buat kamu." Sadewa melepas cincin nikah yang Bianca pakai, kemudian dia memakaikan cincin yang tadi dia beli.
"Mulai sekarang kamu ini milik kamu." ucap Sadewa.
Bianca menatap cincin yang tersemat dijari manisnya, tampak cantik dan berkilau.
"Terima kasih Dewa, cincinnya indah sekali."
Sadewa menatap Bianca yang tampak bahagia menatap cincin tersebut,ada rasa bahagia tersendiri melihat tingkah laku Bianca yang terlihat menggemaskan menurut Sadewa.
"Udah ah ga bakalan ilang cincinnya."
"Biarin aku suka,sama kaya aku natap kamu selama ini, meskipun kamu ga pernah anggap aku."
Ucapan Bianca seperti paku yang di tancapkan di hati Sadewa.
"Apa yang buat kamu suka aku?." tanya Sadewa.
"Ga tau,aneh kan padahal kalau aku mau cari yang lebih dari kamu bisa aja tapi hati aku cuma mau kamu Dewa,kasih aku kesempatan sekali aja buat buktikan kalau aku layak untuk kamu." tidak sadar Bianca mengatakan hal tersebut sambil berlinang air mata.
"Jangan nangis bi, justru aku yang ga cukup baik untuk kamu." ucap Sadewa sambil menghapus air mata Bianca.
"Kasih aku kesempatan Dewa,selama sepuluh bulan ini, kalau kamu ga bisa jatuh cinta sama aku aku akan benar-benar menghilang dari pandangan kamu." terlihat harapan besar dalam sorot mata Bianca.
"Baiklah kalau itu mau kamu,aku juga bakalan berusaha untuk hubungan ini." ucap Sadewa sambil menggenggam tangan Bianca.
"Terima kasih Dewa karena sudah memberikan kesempatan yang selama ini aku tunggu."
Sadewa menjalankan mobilnya, mereka berdua dihinggapi keheningan,ada Sadewa yang tidak tau ingin memulai darimana dan Bianca yang menyadari jika dirinya terlalu gegabah dalam bertindak tapi kesempatan tidak datang dua kali.
Bianca bertanya kenapa mereka tidak ke arah kantor,"ini bukan jalanan menuju kantor kan?"
"Iya kita langsung pulang,mama mau ngomong sama kita sebelum pulang." balas Sadewa.
Bianca hanya untuk mengangguk sebagai tanda mengerti.