Yora ini adalah gadis yang manja dan keras kepala dia sangat dicintai oleh Orang Tuanya, tetapi kenyataan yang sangat pahit harus di terima oleh Yora disaat Orang Tuanya akan bercerai karena Papanya mencintai Wanita lain.
Untuk membalaskan rasa sakit hatinya, Yora akan menghancurkan kebahagian Papanya dan Wanita murahan itu. Dengan membuat Rendy menjadi budak cintanya dia akan melakukan segala cara hanya untuk membuay Yora bahagia.
Apakah Yora akan berhasil membalaskan rasa sakit hatinya? atau akankah malah gagal membalaskan rasa sakit hatinya?
Yuk.. baca dan ikuti bagaimana Yora membalaskan rasa sakit yang ada dihatinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ≋35≋
Alan mengendari mobilnya menuju ke Perusahaan miliknya, sorot mata Alan menatap luar jendela, ia memikirkan akan tingkah Putri satu-satunya yang marah akan dirinya dan tidak mau pulang ke Villa Florence, Reno menghela nafas, ia lelah dengan sikap Retha dan Yora, hanya Nanda yang tidak terlalu menuntut apapun dari dirinya. Saat membicarakan Nanda, tanpa sengaja sorot matanya menatap istrinya yang sebentar lagi menjadi mantan istri, ia meminta supir untuk memberhentikan mobil yang sedang mereka naiki.
Alan mengerutkan keningnya bingung, saat ia melihat Nanda sedang bersama pria yang tidak Alan kenali sama sekali, sedang bersama di taman. Alan memperhatikan Nanda dengan pria itu dengan seksama, entah kenapa perasaanya aneh melihat kedekatan Mamanya Yora dengan pria tersebut. Selama beberapa menit Alan memperhatikan mereka yang sedang asik berfoto. la merasa Nanda juga berselingkuh dibelakangnya, jika itu benar ia sangat marah, karena Nanda selalu bersikap seperti korban dan Yora selalu menyalahkan segalanya kepada dirinya yaitu Papanya sendiri.
" Kau tau siapa dia? " tanya Alan kepada seketerisnya
" Tidak, Tuan mau aku menyelidikinya? " tanya balik seketarisnya yang melihat Tuannya sedang menatap Nyonya Nanda dengan tajam.
" Tidak perlu " sahut Alan dengan sorot mata tidak lepas dari mereka.
Alan yang entah kenapa merasa kesal, menyuruh supirnya untuk pergi ke cafe milik Retha. Ia harus menenangkan diri dengan bertemu Retha, mungkin emosi yang entah kenapa muncul akan sedikit reda atau hilang.
Nanda yang sangat kesal dengan tingkah laku pria yang sama sekali dia tidak kenal, dengan seenaknya pria tersebut menyuruhnya mengambil foto pria itu, kalo sekali atau dua kali Nanda tidak mempersalahkannya. Tapi ini berkali-kali bahkan Nanda harus mengikuti pria tersebut untuk mencari tempat yang pria itu inginkan. Rasanya Nanda ingin sekali menghancurkan kamera yang ada ditangannya, milik pria tersebut.
" Permisi Tuan, saya masih ada urusan " ucap Nanda sambil menyerahkan kamera kepada pria tersebut.
" Terima kasih Bibi " ucap pria tersebut menekankan kata Bibi, yang membuat Nanda tidak suka mendengarnya.
Nanda tidak menanggapi perkataan pria tersebut, ia lebih memilih pergi.
" Sebagai tanda terima kasih, aku akan mentraktir mu " teriak pria tersebut dengan nyaring.
Nanda menengok kebelakang melihat pria yang sepertinya tidak muda lagi.
" Tidak terima kasih " kata Nanda sambil tersenyum ramah lalu melangkah pergi dari taman.
Pria tersebut hanya tersenyum melihat wanita yang ia suruh memfoto dirinya berkali-kali.
Alan yang tadi ingin ke perusahaan, menyimpang ke cafe Retha, setelah ia melihat Nanda yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya secara hukum, bersama pria yang Alan sama sekali tidak mengenalnya.
Mira yang melihat kedatangan Alan menyambutnya dengan wajah senang, karena ia tau Alan sedang dalam proses mengurus perceraian dengan istrinya itu. Mira menatap Alan dengan sesakma, ia merasa Alan sedang merasa kesal, tapi ia tidak tau kenapa. Mira tidak terlalu memperdulikan sikap Alan yang aneh, ia lebih memilih untuk memanggil Putrinya yang sedang mengecek persediaan biji kopi.
Retha yang mendengar kedatangan Alan dari Ibunya, segera membereskan pekerjaannya dan sedikit memperbaiki penampilan miliknya. Retha melangkah keluar. Ia melihat Alan yang datang mencarinya. Retha merangkul Alan menuju ke ruang pribadinya. Retha merasa senang Alan ingin menemuinya, ia sudah sangat yakin kalo Alan tidak bisa terlalu lama marah akan dirinya dan lihat sekarang Alan bersamanya.
" Apa urusan mu sudah selesai " kata Retha yang duduk disamping Alan.
" Iya " balas Alan dengan singkat.
" Maafkan sikap aku Alan " ucap Retha menapaki wajah penuh dengan penyesalan akan kesalahan yang ia tidak tau apa itu.
Alan hanya diam, sambil menatap kekasihnya. Tapi pikiran Alan melayang melihat kedekatan Nanda bersama pria tersebut, Alan masih bingung, Nanda yang ia kenal tidak pernah bergaul akrab dengan lawan jenis, selain dirinya dan Rendy. Tapi Nanda seperti sangat akrab dengan pria tersebut, hingga selalu mengikuti pria itu kemana pun pria tersebut melangkah.
" Ada apa Alan? " tanya Retha yang melihat kekasihnya melamun.
" Tidak ada " sahut Alan sambil tersenyum.
" Apa ada masalah? " tanya Retha lagi.
" Tidak " jawab Alan dengan singkat.
" Apa proses perceraian mu ada masalah? " tanya Retha lagi.
" Tidak ada " sahut Alan.
" Alan kapan kita akan menikah? " tanya Retha akhirnya menyampaikan keinginan yang ia ingin sampaikan kepada Alan.
Alan menatap Retha dalam-dalam, ia tersenyum melihat Retha, sambil tangannya mengelus puncak kepala Retha dengan lembut dan penuh kasih.
" Kita akan menikah jika Yora menyetujui kamu sebagai istri ku dan ibu tirinya " balas Alan.
" Tapi itu kan sangat tidak mudah Alan " kata Retha yang tidak terima akan permintaan Alan kepada dirinya.
" Aku dan kamu akan menyakinkan Yora, jadi kita akan berusaha bersama " kata Alan mencoba meyakinkan Retha.
" Tapi.. " ucap Retha terhenti karena ucapan Alan.
" Jika aku bersama mu, aku akan kehilangan Putriku yang sangat aku cintai dan jika aku memilih Putriku, aku akan kehilangan dirimu Retha, jadi aku ingin kita memenangkan hati Yora. Jika seperti itu akan tidak akan kehilangan kedua orang yang aku cintai " timpal Alan yang meyakinkan Retha, dengan tangan menggenggam tangan mungil Retha.
Retha merasa bingung, ia sangat tidak percaya diri, apakah Yora akan menyetujui dirinya menikah dengan Papanya, Yora saja selalu mengajak berperang jika bertemu dengan dirinya. Tapi jika aku tidak menyetujinya, aku takut Alan lebih memilih Yora dari pada dirinya, jika seperti itu yang terjadi dia akan ditinggalkan. Yora itu wanita yang sangat pintar menghasut dan memperdaya Alan. Retha hanya menganggukan kepalanya saja sebagai tanda setuju.
Alan yang melihat Retha menganggukan kepalanya tanda setuju, tersenyum lembut sambil mendekatkan bibirnya kepada kening Retha untuk mencium lembut Retha.
lanjutt