NovelToon NovelToon
Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 5
Nama Author: Deche

Kata kunci masuk gc. Siapakah nama wanita yang membuat Toriq terobsesi?

Annisa seorang gadis yang sederhana berasal dari keluarga yang sederhana. Suatu hari Uanya Ibu Elly memintanya untuk pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke sebuah universitas swasta bergengsi di Jakarta. Namun siapa sangka kepindahannya ke Jakarta mengubah hidupnya. Seorang anak kecil berusia 2 tahun bernama Rafa saat pertama kali bertemu dengannya langsung memanggil Annisa dengan panggilan Mamah.

Rafa adalah seorang anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Entah mengapa saat pertama kali Rafa bertemu dengan Annisa, ia merasa Annisa adalah Mamahnya.

Ibu Delima karena tidak ingin berpisah dengan Rafa cucunya meminta Annisa menikah dengan putra sulungnya yang bernama Toriq yang tak lain adalah paman dari Rafa.
Akankah Annisa menerima pinangan dari Ibu Delima dan menikah dengan Toriq?
Toriq sangat terobsesi pada seorang janda muda yang dalam keadaan hamil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Rafa Yang Manja.

Setelah selesai sarapan mereka langsung menuju ke rumah IBu Elly. Rafa batita kecil itu tertidur di pangkuan Annisa. Toriq menoleh sebentar ke Annisa.

“Rafa tidur, Nis?” tanya Toriq yang kembali fokus menyetir.

“Iya, Bang,” jawab Annisa sambil mengusap kepala Rafa dengan handuk kecil karena keringatan.

Toriq diam-diam melirik ke Annisa, ia melihat bagaimana cara Annisa memperlakukan Rafa dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu. Padahal Annisa masih sangat muda baru tamat SMA, tapi Annisa tau cara mengurus anak kecil dengan baik.

Tak terasa akhirnya mereka sampai di rumah Ibu Elly. Dengan sigap seorang penjaga rumah Ibu Elly membukakan pintu pagar. Mobil yang di kendarai oleh Toriq memasuki pekarangan rumah Ibu Elly.

Annisa turun dari mobil sambil menggendong Rafa yang sedang tidur. Ibu Elly menyambut kedatangan mereka di teras rumah.

“Assalamualaikum,” ucap Annisa.

“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Elly.

“Rafa tidur, Nis?” tanya Ibu Elly melihat Rafa yang tertidur dalam dekapan Annisa.

“Iya, Ua,” jawab Annisa.

“Tidurkan dulu di kamar,” kata Ibu Elly.

“Iya, Ua,” Annisa membawa Rafa ke kamarnya.

Ketika sampai di lantai atas Annisa bertemu dengan Roland yang baru keluar dari kamarnya.

“Baru datang, Nis?” tanya Roland melihat Annisa menggendong Rafa.

“Iya A, baru saja sampai,” jawab Annisa lalu berjalan menuju ke kamarnya.

Roland membukakan pintu kamar Annisa. Pelan-pelan Annisa memindahkan Rafa ke tempat tidur, namun Rafa mencekram baju Annisa dengan kuat sehingga Annisa ikut tidur di sebelah Rafa. Roland melihat Rafa yang tidak mau melepaskan Annisa langsung menyalakan pendingin ruangan dan menutup pintu kamar Annisa. Annisa menepuk-nepuk belakang badan Rafa hingga batita itu tertidur pulas dan melepaskan tangannya yang mencekram baju Annisa. Perlahan Annisa bangun dari tidurnya lalu berjalan keluar dari kamar.

Annisa menuruni tangga, di lantai dasar suasana sepi seperti tidak ada orang. Hanya terdengar suara peralatan masak di dapur. Annisa berjalan menuju dapur. Terlihat Bi Minah sedang sibuk memasak dibantu seorang ART.

“Bi, Bang Toriq sudah pulang?” tanya Annisa kepada Bi Minah yang masih sibuk memasak.

“Belum, Non. Ini juga Bibi disuruh membuatkan minum sama Ibu,” jawab Bi Minah sambil sibuk memasak.

“Biar Annisa yang buatkan, Bi,” kata Annisa lalu mengisi gelas yang sudah disiapkan Bi Minah dengan sirup, air mineral dan es batu.

Annisa membawa minuman dan beberapa macam kue kering ke ruang tamu. Terlihat di ruang tamu Toriq sedang dengan Ibu Elly, entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Toriq berhenti berbicara ketika melihat Annisa datang membawa minuman dan menaruhnya di atas meja.

“Terima kasih, Annisa,” ucap Toriq.

Lalu Toriq melanjutkan pembicaraannya dengan Ibu Elly, sedangkan Annisa kembali masuk ke dalam.

Annisa menyimpan nampan yang di bawanya di meja dapur.

“Ada yang bisa Annisa bantu, Bi?” tanya Annisa kepada Bi Minah.

Bi Minah menoleh ke Annisa.

“Nggak ada, Non. Sudah matang semua masakannya, tinggal ini saja yang belum matang,” jawab Bi Minah.

“Non istirahat aja di kamar. Non pasti cape menunggu Den Rafa di rumah sakit,” kata Bi Minah.

“Nanti saja Bi, masih terlalu pagi,” jawab Annisa sambil duduk di kursi.

“Bi, Aa Roland mana?” tanya Annisa ke Bi Minah.

“Pergi, Non. Setiap hari Den Roland pergi jam setengah sepuluh nanti pulang jam dua,” jawab Bi Minah sambil menuangkan makanan.

“Bi, Annisa ke kamar dulu, ya. Takut Rafa bangun,” kata Annisa kepada Bi Minah.

“Iya, Non,” jawab Bi Minah.

Annisa berjalan keluar dari dapur menuju ke kamarnya. Ketika Annisa naik tangga menuju kamarnya terdengar sayup-sayup suara Rafa menangis. Annisa mempercepat langkahnya. Ketika Annisa membuka pintu kamarnya batita kecil itu sedang guling-gulingan sambil menangis.

“Sayang….sayang….anak Mamah sayang,” kata Annisa menghampiri Rafa yang sedang menangis.

Rafa mendengar suara Annisa langsung menangis lebih kencang lagi.

“Eh…kenapa tambah kencang nangisnya?” tanya Annisa yang kebingungan.

Annisa mengangkat tubuh Rafa dan langsung menggendongnya.

“Kenapa nangis?” tanya Annisa sambil mengelap kepala Rafa yang keringatan karena menangis.

“Rafa mau pipis. Tapi Mamahnya ndak ada,” jawab Rafa sambil menangis.

“Udah, jangan nangis lagi. Yuk kita pipis,” Annisa membawa Rafa ke kamar mandi.

Setelah pipis, Rafa minta digendong terus, jadi terpaksa Annisa menggendong Rafa dengan kain gendongan.

“Rafa mau susu ngak?” tanya Annisa.

“Mau,” jawab Rafa dengan manja.

Annisa mengendong Rafa ke dapur untuk membuatkan Rafa susu.

“Non mau apa?” tanya Bi Minah ketika melihat Annisa masuk ke dapur sambil menggendong Rafa.

“Mau bikin susu untuk Rafa,” jawab Annisa sambil mencari gelas Rafa.

“Biar Bibi yang buatkan. Non yang kasih Ibu kalau makanannya sudah siap,” kata Bi Minah.

“Ua Elly nya dimana?” tanya Annisa ke Bi Minah.

“Di ruang tamu, Non. Masih ngobrol dengan Den Toriq,” jawab Bi Minah sambil membuatkan susu untuk Rafa.

Bang Toriq belum pulang? Ngomongin apa sih segitu lamanya? Bisik Annisa di dalam hati.

Annisa berjalan menuju ruang tamu sambil menggedong Rafa. Ibu Elly sedang tertawa mendengar pembicaraan Toriq.

“Ua…,” Annisa memanggil Ibu Elly.

Ibu Elly dan Toriq menoleh ke Annisa.

“Makan siangnya sudah siap,” kata Annisa.

“Rafa, kenapa digendong Mamah terus? Kasihan Mamah Annisa keberatan,” Toriq menegur Rafa.

Rafa malah memeluk Annisa dengan erat.

“Lagi manja, Bang Tadi bangun tidur nangis mau pipis tapi Annisa lagi di dapur,” jawab Annisa.

“Cucu Enin mah, manja sama Mamahnya,” sahut Ibu Elly.

“Ayo Toriq kita makan dulu,” kata Ibu Elly kepada Toriq.

“Terima kasih, Tante. Toriq jadi ngerepotin. Toriq pamit mau pulang saja, Tante,” ucap Toriq.

“Eh…jangan pulang dulu. Makan dulu, sudah Tante siapkan,” seru Bu Elly.

“Ayo, Bang makan kita dulu,” Annisa mengajak Toriq untuk makan.

Akhirnya Toriq mau untuk makan siang bersama Ibu Elly dan Annisa. Toriq mengikuti Annisa dari belakang menuju ruang makan.

“Silahkan duduk, Bang,” kata Annisa kepada Toriq.

Toriq pun duduk di meja makan bersama dengan Ibu Elly, sedangkan Annisa pergi ke dapur untuk mengambil susu Rafa. Annisa kembali ke ruang makan sambil membawa susu untuk Rafa.

“Rafa duduk, ya,” kata Annisa yang hendak membuka kain gedongannya.

“Nggak mau. Mau cama Mamah,” kata Rafa dengan manja dan malah memeluk Annisa dengan erat.

“Rafa, kasihan Mamah Annisanya keberatan,” tegur Toriq kepada Rafa.

“Nggak apa-apa kok, Bang,” kata Annisa kepada Toriq.

“Iya, Rafa duduknya sama Mamah,” Annisa duduk di kursi sambil menggendong Rafa.

“Ayo Toriq makan dulu, jangan ngelihatin Rafa dan Annisa saja,” ujar Ibu Elly kepada Toriq.

“Eh…iya, Tante,” jawab Toriq.

“Annisa ambilkan nasinya ya, Bang,” kata Annisa.

“Boleh,” jawab Toriq lalu memberikan piringnya kepada Annisa.

Annisa mengambil nasi beserta lauk pauk untuk Toriq. Ibu Elly memperhatikan interaksi Annisa dan Toriq.

Keinginan Toriq untuk memenuhi kebutuhan Annisa dan membiayai kuliah Annisa, sepertinya bukan hanya sekedar tanda terima kasih karena Annisa telah mengurus Rafa. Pasti Toriq punya niat yang lain, tapi apa? bisik Ibu Elly dalam hati.

1
ayu cantik
seru
74 Jameela
bagus kak ceritanya
74 Jameela
bu delima jgn egois..bu elly jg enin nya rafa..biarkn rafa bs merasakn ksh syg dr smua keluarganya
Siti Nurbaidah
Luar biasa👍👍👌💕cerita ny mantap n seru
Siti Nurbaidah
mantap👍👍💕💖👌
Bunda Puput
Luar biasa
Deche: Terima kasih
total 1 replies
Cah Dangsambuh
aku mampir kak
Suminah Latara: lanjut thor
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Deche: Terima kasih.
total 1 replies
Sandisalbiah
prolog nya menarik
Sandisalbiah
luar biasa
Sandisalbiah: ❤❤❤❤❤
total 2 replies
Sandisalbiah
Hadeh.. si pak suami ini beneran gak mau jauh dr istri.. candu ya..??
Sandisalbiah
istrinya masih kinyis lho Toriq
Sandisalbiah
akhirnya sah.. SAMAWA buat Toriq dan Anissa...
Sandisalbiah
kirain ngilang kemana itu para pejantan.. gak taunya bobok bareng"
Sandisalbiah
OTW halal..
Sandisalbiah
sultan mah bebas.. apa² langsung bayar lunas gak perlu di DePe in...
Sandisalbiah
dr gelagat nya udah gak bener nih si bu Ika
Sandisalbiah
jodohnya abang dokter jd sakit gak perlu jauh² berobat.. dokternya langsung nyamperin
Sandisalbiah
merawat batita itu melelahkan
Sandisalbiah
,Anissa demam malarindu tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!