Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Alex
TOK! TOK! TOK!
"Permisi, tuan!" Ucap Fred di ambang pintu.
"Masuklah!"
Terlihat Fred mulai memasuki kamar. Menghampiri Aaron dan Laura. Dia nampak sedikit gusar.
"Ada apa?" Tanya Aaron.
"Alex sudah tertangkap, tuan." Jawab Fred.
Seketika Laura menghentikan mulutnya yang sibuk mengunyah buah apel. Dia membulatkan kedua matanya dan mematung seketika.
"Jadi, benar dalang dari penculikan itu adalah Alex?" Tanya Laura sambil memandang Aaron.
Aaron mengangguk kecil. "Ya, semua bukti mengarah padanya. Korbannya bukan hanya Dante, tapi sudah 21 anak, Laura. Sebagian memang di incar saat mereka di rawat di rumah sakitnya."
"Apa tujuannya?" Tanya Laura lagi.
"Penjualan organ." Jawab Aaron singkat.
Seketika Laura tercengang. Apel yang dia kunyah seakan tidak dapat tertelan. Tenggorokannya tercekat dan terasa sempit.
"Fred juga sudah menemukan siapa penerima donor organ dari Dante." Tambah Aaron.
Namun kali ini Laura sudah tidak mampu menjawabnya. Matanya mengabur karena air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dadanya juga sudah naik turun tak beraturan. Nafasnya tersegal-segal dan telapak tangan kanannya mulai nyeri.
Aaron yang menyadari hal itu memberi kode pada Fred agar keluar dari ruangan rahasianya. Asisten pribadinya itu mengerti dan segera keluar dari sana.
Sedangkan Aaron seakan mengambil ancang-ancang untuk menenangkan Laura yang nampak terguncang dengan kenyataan pahit yang sekali lagi menyapanya pagi ini.
"Laura.." Panggilnya.
Namun Laura masih menundukkan kepalanya dalam-dalam dan malah nampak setetes air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Laura menangis sesegukan hingga bahunya terguncang hebat. Dia sudah tak dapat membendung kesedihannya kali ini.
"Laura, semua akan baik-baik saja!" Ucap Aaron yang berusaha menenangkan meskipun terdengar sangat kaku.
"Aku ingin bertemu dengan penerima donornya." Ucap Laura di sela-sela tangisannya.
"Iya." Jawab Aaron singkat.
Lalu detik berikutnya Aaron memeluk erat Laura. Mendekapnya di dada yang kekar dan gagah. Mencoba memberikan kehangatan pada Laura yang tengah di selimuti lara tiada henti. Mencium puncak kepalanya seperti seorang kekasih yang melepas rindu.
Sedangkan Laura tak ada penolakan sama sekali. Dia menerima pelukan itu dengan suka rela. Seakan dirinya juga haus akan kasih sayang. Butuh seseorang untuk memeluk dirinya. Beruntung kali ini ada Aaron yang selalu mendampingi dirinya di setiap masalah, tak seperti dulu saat bersama Ben.
Sekilas Laura mengingat sosok Ben yang sebenarnya masih berstatus suami sahnya. Namun apa boleh buat, keadaan sudah berubah, status hanya status. Tak lebih dari itu. Seakan tak penting lagi di antara mereka.
Namun, ada setitik rasa bersalah si hati Laura. Bagaimana bisa dia berpelukan dengan lelaki lain yang belum menjadi siapa-siapa bagi dirinya sedangkan statusnya masih istri orang.
Tapi tak dapat di pungkiri jika dirinya juga merasa nyaman di mansion ini. Nyaman di pelukan Aaron yang selalu menawarkan keamanan dan ketentraman hidup. Laura berpikir sejenak, akankah ini bertahan lama atau hanya singgah mengisi ruang yang kosong? Akankah Tuhan mempermainkan takdirnya lagi kali ini?
"Tapi kita harus menemui Alex terlebih dahulu, Laura!" Ucap Aaron memecah keheningan di antara mereka.
"Apa yang harus aku lakukan padanya?" Tanya Laura masih enggan mengangkat kepala dari dada bidang Aaron.
"Kau boleh melakukan apapun padanya!" Jawab Aaron. "Tapi satu hal yang tidak boleh kau lakukan, Laura!"
Kali ini Laura mendongakkan kepalanya, memandang Aaron yang nampak lebih tampan di saat seperti ini. "Apa?" Tanya Laura untuk kesekian kalinya.
"Kau tidak boleh maafkannya!"
******
Di gudang tua dekat laut dengan ombak yang berdebur tiada henti. Alex di kunci di ruangan yang tak terlalu besar. Tanpa jendela hanya ada sebuah ventilasi berukuran kecil disana. Dari sana lah dia bisa mendengar deburan ombak yang mungkin saja ini adalah terkahir kalinya.
Dia terduduk lepas di lantai yang kotor dan bau kencing tikus itu. Alex tak habis pikir dirinya bisa tertangkap begitu mudah oleh Aaron. Padahal selama ini, Aaron adalah mafia yang paling dia hindari agar tak merusak bisnis gelapnya.
Namun entah mengapa tiba-tiba pria itu menyerang mobil pribadinya yang hendak kembali ke mansion saat dini hari. Mengalahkan para anak buahnya yang berjumlah lumayan banyak. Harus dia akui, para pengawal Aaron memang terlatih secara fisik dan otak. Mereka pandai dan lincah dalam menyerang.
Alex juga bertanya-tanya mengapa dirinya di perlakukan seperti ini padahal dia tak pernah menyinggung bisnis Aaron sama sekali. Dia memutuskan untuk menunggu pria itu datang dan akan berunding untuk mendapatkan jalan keluarnya. Meskipun dia sendiri tak tau alasannya berada disini.
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah pintu yang sedari tadi terkunci. Dan.. Pintu terbuka.
Sontak Alex segera bangkit dari duduknya. Membenarkan setelan jas hitamnya yang mahal. Memandang Aaron dan Fred yang mulai memasuki ruangan itu.
Memandang Aaron saja sudah sukses membuat Alex bergidik ngeri. Rasanya dia ingin kabur sekarang juga. Tapi apa boleh buat.
"Aaron.. Senang berjumpa dengan mu!" Sapa Alex basa-basi seakan tak sadar situasi.
Namun Aaron tak bergeming. Dia hanya memandang tajam ke arah Alex si tua bangka itu. Lalu dia menoleh ke belakang, menjulurkan tangan kanannya mengisyaratkan untuk segera masuk. Dia adalah Laura, Laura menjabat tangan Aaron. Masuk ke ruangan itu dengan menundukkan kepalanya. Masih tak sanggup menatap Alex.
Sedangkan Alex membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Dia masih ingat betul siapa Laura. Bahkan setiap malam Alex masih memimpikan wanita itu. Sejak pertemuannya di apartemen Sansa dulu, Alex selalu berfantasi sedang berhubungan badan dengan Laura. Lantas, bagaimana dia bisa lupa sekarang.
"Kau?" Gumam Alex menunjuk Laura karena tak percaya wanita itu kembali muncul di hadapannya.
"Alex, aku sudah tau bisnis busuk mu itu!" Ucap Aaron saat Laura sudah berdiri di sampingnya sambil menggenggam tangan kanannya.
Alex tertawa getir. "Lalu apa urusannya dengan mu? Kita sama-sama besar di pasar gelap, Aaron! Jangan munafik! Itu bisnis ku! Lalu apa masalah mu dengan itu?"
"Masalahnya adalah.. anak yang kau culik kemarin adalah anak Laura!" Ucap Aaron.
Alex kembali terkejut. Dia baru tau jika Laura sudah memiliki seorang anak. Dia pikir, Laura itu masih gadis polos yang ranum dan mudah di iming-imingi uang seperti Sansa.
"Kau sudah menculik, menjual organnya dan membuang mayatnya begitu saja!" Tambah Aaron yang nampak mulai naik pitam dan melepaskan genggaman tangan Laura begitu saja.
Membuat Laura khawatir dengan kondisi ini. Laura tau, setelah ini keadaan tak mungkin baik-baik saja.
Aaron mendekati Alex yang terpaku di tempatnya. Menarik nafas panjang seakan-akan sedang mengambil ancang-ancang untuk memberi pelajaran bagi Alex.
"Aku tidak tau soal itu!" Alex berusaha membela dirinya yang memang tidak tau perihal tersebut.
BRUKK!!
Satu pukulan mendarat di pipi kanan Alex dengan kencang hingga pria paruh baya itu terhuyung ke lantai yang kotor. Dia nampak meringis kesakitan dan tak berdaya. Nampaknya, usia memang tidak bisa di bohongi kali ini.
Bersambung...
.