NovelToon NovelToon
After Returning

After Returning

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Seraphine Grey meminta ibu dari Damien Knox untuk menjodohkan mereka berdua karena ia tahu Damien tidak bisa menolak permintaan ibunya. Dari dulu Sera sudah mencintai Damien, namun bahkan hingga tiga tahun pernikahan mereka perasaannya tidak terbalas sedikitpun.

Damien hanya mencintai satu wanita. Saat wanita itu kembali, Damien dengan tega membawanya ke dalam rumah pernikahan mereka. Sera meninggal tragis saat mencoba menjauhkan wanita itu dari Damien.

Tuhan memberinya kesempatan kedua. Sera kembali ke malam pertama pernikahan mereka. Rasa sakit yang Sera dapatkan selama menikah dengan Damien membuat Sera tidak lagi mengemis cintanya. Sera ingin secepatnya pergi namun fakta baru yang didapatkan tentang benang kusut antara Sera, Damien, dan mantan kekasih Damien yang tak pernah terurai membuatnya ragu. Apakah Sera akan tetap pergi atau mengurai misteri yang ada bersama Damien?



Cerita ini murni ide penulis, kesamaan nama tokoh dan tempat hanyalah karangan belaka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suara langkah kaki terdengar semakin dekat hingga akhirnya berhenti di depan meja. Dari celah sempit di balik lemari arsip, pandangannya jatuh ke lantai.

Sepatu itu mahal,kulitnya hitam mengkilap, tanpa noda, dengan potongan rapi yang terlalu sempurna untuk sekadar tamu biasa. Sera menahan nafas.

Ia bisa melihat betis orang itu, berdiri santai. Sepatu itu bergeser sedikit, lalu diam, persis di posisi yang membuat jarak mereka hanya terpisah beberapa langkah dan sebuah lemari tipis.

“Ck! Dimana dia menyimpannya…” orang itu bergumam sambil membuka sesuatu, seperti sedang membuka laci.

“Suara itu…” Sera berpikir cepat, itu suara yang ia dengar di rumah besar Knox. Suara yang menginspirasi ketakutan untuknya.

Jantungnya berdegup liar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, menuruni rahang. Jika orang itu menunduk sedikit saja, jika ia melangkah setengah meter ke samping—

Ia mengepalkan tangan, kuku menekan telapak kulitnya sendiri agar tetap sadar, tetap diam.

Sepatu itu berputar perlahan, menghadap ke arah dinding penuh foto. Ia mendengar suara kain bergesek, mungkin jas, mungkin mantel mahal yang baru dilepas.

Sera menunggu sampai orang itu selesai dengan urusannya, lima belas menit kemudian orang itu keluar dan pintu kembali tertutup.

“Huft… untung saja dia nggak lihat aku.” Gumam Sera, ia kembali membuka laci tadi dan membuka dokumen yang membuatnya penasaran.

“Ya Tuhan,” Sera membekap mulutnya dengan kedua tangan membaca dokumen tersebut. Setelah mengambil beberapa fotonya, Sera menutup laci dan bergegas keluar.

Ia melangkah cepat menuju ruang tamu, mengambil amplop diatas meja dan segera meninggalkan rumah itu.

Sekarang semua pertanyaan itu terjawab. Tidak lagi membuat Sera bingung. Yang perlu Sera lakukan sekarang adalah mengungkapkan semuanya ke publik dan membuat Aurel dan komplotannya mendekam di balik jeruji besi.

Sera kembali ke apartemen Laura saat hari sudah mendekati senja. Untuk waktu yang lama Sera hanya duduk di sofa ruang tamu, menatap kosong ke langit-langit apartemen.

“Sera,”

Entah sudah berapa lama Sera duduk di situ, Laura yang memanggil dari pintu membuatnya menoleh.

“Aku mendapatkan sesuatu,” kata Sera setelah Laura duduk.

“Apa?”

“Aurel memang merencanakan semuanya, kematian Papa Damien, dan kecelakaan orang tuaku.”

Laura mencondongkan tubuh, wajahnya menegang. “Pelan-pelan. Ceritakan dari awal.”

Ia menarik napas panjang, lalu kata-kata itu mengalir tentang rumah besar, ruang kerja terlarang, dinding penuh foto seperti papan penyelidikan kriminal. Tentang benang merah, catatan kecil, wajah-wajah asing yang ditandai. Dan dokumen-dokumen itu.

“Ada foto Papa dan mamaku,” ucapnya lirih. “Bukan satu. Beberapa. Dari sudut berbeda. Ada tanggal… sebelum mereka meninggal.”

Hening jatuh di antara mereka.

“Apa kita bisa membuka kasus itu kembali, Lau?” Tanya Sera dengan mata merah menahan tangis.

“Bisa, tapi harus ada seseorang yang sama kuatnya dengan mereka berdiri di sisi kita. Kalau tidak, mereka akan membuat penyelidikan kembali hilang. Seperti yang mereka lakukan pada orang tuamu.” Kata Laura.

“Damien?”

“Ya.”

Hanya keluarga Knox yang sama kuatnya dengan Guapo. Tapi menurut keterangan Damien, Knox juga sedang terpecah belah dan banyak juga yang ingin menyingkirkan Damien dan ibunya.

...۝۝۝...

Lampu ruang tamu menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding yang sunyi. Sera duduk di ujung sofa, kedua kakinya terlipat rapi, secangkir kopi hangat bertengger di tangannya. Aroma pahit yang menenangkan perlahan memenuhi udara, berpadu dengan dengung televisi yang menyiarkan berita malam.

Wajah pembawa berita tampak serius, suaranya stabil namun sarat tekanan. Sera menyesap kopinya pelan, merasakan panasnya mengalir di tenggorokan, sementara matanya terpaku pada layar.

Di luar jendela, malam menutup kota dengan sunyi. Sesekali terdengar suara kendaraan melintas, lalu hilang kembali. Sera menyandarkan punggungnya, menahan napas sejenak ketika berita berganti ke topik yang lebih kelam. Tangannya sedikit mengencang pada cangkir, kopi di dalamnya bergetar halus.

Ia tidak sepenuhnya fokus pada berita itu. Ada jarak tipis antara apa yang ia dengar dan apa yang ia rasakan, sebuah keheningan yang hanya bisa hadir di malam hari. Sera kembali menyesap kopinya, membiarkan pahitnya menetap di lidah, sementara layar televisi terus berbicara, dan malam berjalan pelan tanpa bertanya.

Tidak lama kemudian pintu terbuka, Sera menoleh dan terkejut melihat Damien datang.

“Damie…” Sera berdiri, menghampiri Damien yang sedang memutar kunci pintu. Sera mendekat untuk memastikan benarkah ini suaminya atau orang lain yang sedang menyamar.

“Ada apa?” Tanya Damien berbalik. Mata mereka bertemu, Sera menghembuskan nafas lega. Ini adalah Damien yang asli.

“Ada yang ingin aku katakan,” kata Sera.

Damien mengangguk. Keduanya duduk di ruang tamu, televisi masih menyala. Sera lantas menceritakan semuanya pada Damien.

“Benar-benar keras kepala,” Damien menanggapi dengan decakan kesal.

“Kita sudah setuju untuk bekerja sama kan? Jadi jangan protes, aku melakukannya untuk kebaikan kita.” Kata Sera.

Damien diam saja, lalu berdiri dan pergi ke lantai dua. Sera dengan cepat mengikutinya.

...✯✯✯...

1
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
Nda
ko end sh thor,kenapa tidak lanjut.
padahal hubungan demien sama Sera baru di mulai😩
sarinah najwa
sudah end yah
olyv
senam jantung euy
Arieee
siapa tu🤧🤧🤧🤧🤧🤧
sarinah najwa
sumpah tegang banget
olyv
nexttt
Dew666
🔥🏆
olyv
lanjuuuutt 💪💪😙
olyv
lucu juga damian, kalau muka sadar ya dingin, tegas, arogan, tapi kalau mabuk beda lagi sifatnya
Dew666
🍭🔥
kalea rizuky
MC lemah menye2 mood baca anjlok
kalea rizuky
ttep goblok meski uda pernah Mati g guna jg lu. balik. oon
kalea rizuky
kebanyakan ngomong dalam hati
kalea rizuky
tololl urus cerai lahh trs pergi jauhh males liat MC oon
Kevin
🥰🥰🥰
Dew666
🍭🔥
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok sera malah selalu masuk jebakan Batman? apa gunanyabdia kembali ke masa lalu KLO tetap aja ga bisa berpikir secara taktis? 🤭🤭
olyv
lanjut 💪💪
Dew666
🍡🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!