NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Bertemu mantan mertua?

Alina sudah siap dengan pakaian kerjanya. Namun, hari ini ia memutuskan untuk masuk kerja sedikit terlambat karena harus mengantar Aeris ke taman kanak-kanak baru.

Tadi malam, ia sudah mencari informasi dan akhirnya menemukan TK yang cukup bagus meski letaknya agak jauh dari tempatnya bekerja—dan juga agak mahal. Tapi tak apa. Yang penting, Aeris bisa bersekolah di tempat yang kecil kemungkinannya untuk bertemu dengan Revan.

“Mama... Aeris ganteng nggak?” tanya Aeris sambil mengusapkan bedak tipis ke wajahnya dengan gaya lucu.

“Banget! Putra Mama yang paling ganteng,” sahut Alina.

“Ma... apa Aeris mirip sama suami Mama?”

Pertanyaan itu membuat Alina terdiam, bibirnya seketika terasa kelu.

Aeris menghela napas panjang, lalu menggerutu, “Gitu aja susah banget jawabnya...”

“Nggak tahu, ah. Ayo cepet, nanti Mama telat,” kata Alina buru-buru.

Ia mengambilkan tas sekolah Aeris, tapi alisnya langsung berkerut saat mengangkatnya.

“Kenapa berat banget gini?” katanya curiga.

Refleks, Aeris merebut tas itu. “Bukan apa-apa, Ma... Cuman Aeris bawa banyak buku aja,” jawabnya cepat.

Alina memicingkan mata, tatapannya tajam. Ia tidak tinggal diam dan segera menarik kembali tas itu dari tangan Aeris.

Begitu ia membuka tas tersebut, matanya langsung membelalak. Beberapa batu tampak memenuhi tas.

“Apa-apaan ini, Aeris!? Buat apa kamu bawa batu ke sekolah!?”

Aeris diam.

“Jawab, Aeris!”

“Mama pernah dengar kata-kata ini: Kalau kau dihina, jangan ambil hati. Tapi usahakan ambil batu.”

Aeris berkata sambil bersedekap.

“Itu yang Aeris lakuin ke orang-orang yang menghina Aeris. Biar mereka kapok, udah berani-beraninya ngatain Aeris. Jadi... Aeris nggak salah. Siapapun yang mulai duluan, Aeris nggak akan tinggal diam!”

Alina langsung gregetan. Ia berlutut, menyejajarkan tubuhnya dengan Aeris.

“Sayang... dengarkan Mama,” ucapnya serius.

“Mama nggak melarang kamu marah atau balas kalau kamu dijahat-in. Tapi bukan dengan lempar batu, sayang. Itu berbahaya. Gimana kalau orang yang kamu lempari batu terluka, terus kamu dilaporin? Kamu bisa masuk penjara, lho. Kamu mau kayak gitu?”

Aeris menggeleng cepat.

“Tapi mereka duluan yang mulai, Ma. Kenapa harus bilang anak haram sih? Aeris tahu itu artinya nggak baik...”

Alina memandang putranya dengan tatapan sendu. Ia mengusap wajah Aeris pelan.

“Kamu bukan anak haram, Sayang. Kamu punya Papa....”

"Mana Papanya?"

"Mmm..." Alina tampak berpikir kemudian menggeleng.

“Yuk, jangan cemberut lagi. Hari ini hari pertama sekolah. Aeris harus senang.”

Aeris mengangguk, meski masih terlihat murung. Alina membuang satu per satu batu dari dalam tas ke tanah.

“Tuh, sekarang tas kamu ringan, kan? Nggak kayak tadi, berat banget, padahal punggung kamu kecil,” kata Alina sambil memakaikan tas ke punggung Aeris.

Sebuah taksi sudah menunggu di depan rumah mereka. Seperti biasanya, Alina harus bolak-balik naik taksi karena mereka tidak punya kendaraan pribadi. Sebenarnya dulu uangnya cukup, tapi sebagian besar sudah ia pakai untuk membeli rumah.

“Semoga saja orang-orang di sana baik-baik,” gumam Alina.

“Tapi... Aeris juga sedih, harus pisah sama Tya.”

“Tya itu baik, suka bagi makanan ke Aeris. Tapi si teh Rio itu... cemburuan, kayaknya dia pengen cuma dia yang diperhatiin.”

Alina tak kuasa menahan tawa kecil. “Ya ampun, anak Mama udah kayak remaja aja cara ngomongnya.”

Setibanya di TK Deswita, Alina turun dari taksi bersama Aeris. Matanya menyapu halaman depan sekolah itu.

“Wah... Ma, bagus banget! Pinter banget Mama milih. Tamannya cantik banget,” seru Aeris dengan mata berbinar-binar.

Alina tersenyum dan menggandeng tangan putranya memasuki gerbang. Anak-anak kecil sudah mulai berdatangan, ada yang berlarian, ada pula yang menempel terus pada orang tuanya.

“Mama, Aeris senang banget!” seru bocah itu.

“Yuk, kita ke kantor kepala sekolah dulu,” kata Alina.

Aeris masih menoleh ke sana kemari, mengagumi lingkungan barunya. Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, Alina mengetuk pintu yang sedikit terbuka.

“Assalamualaikum...”

Seorang wanita berhijab panjang keluar, tersenyum ramah.

“Dengan Ibu Alina?” tanyanya sopan.

“Ya, saya sendiri,” Alina menjawab sambil tersenyum sopan.

“Mari masuk. Ayo sini, Nak Aeris,” kata wanita berhijab panjang itu dengan ramah, lalu mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangan.

Alina duduk di sofa empuk dalam ruangan kantor yang tampak mewah dan rapi. Sementara Aeris duduk di sampingnya, diam.

“Perkenalkan, saya Aisha, wakil kepala sekolah di sini. Bu Rani selaku kepala sekolah sedang ada perjalanan dinas ke luar kota, jadi saya yang akan membantu proses administrasinya hari ini,” jelas wanita itu.

“Oh begitu, baik Bu Aisha.”

“Jadi... Aeris rencananya akan dimasukkan ke kelas TK B?”

Alina mengangguk. “Iya, beberapa bulan lagi lulus, kan Bu? Apa tidak apa-apa kalau Aeris tidak mengikuti dari awal?”

“Tidak apa-apa, Bu. Selama Aeris mampu mengikuti kegiatan belajar dan tidak kesulitan dalam sosialisasi, maka tidak masalah,” jelas Aisha ramah.

Sementara mereka berbincang di dalam, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Dari dalamnya, turun sepasang suami istri, menggandeng putri kecil mereka yang cantik.

“Belajar yang rajin ya, sebentar lagi kamu naik ke TK B,” kata Jesika.

“Oke Papa... nanti pas Rania ulang tahun, kadonya harus banyak, karena Rania ulang tahunnya pas naik kelas ke TK B!” sahut Rania, membuat Felix tersenyum geli lalu mengecup pipi anaknya dengan sayang.

“Iya sayang,” sahut Felix.

Rania pun diantar oleh Jesika menuju ruang kelasnya, sementara Felix memilih menunggu di depan mobil. Ia berdiri sambil memperhatikan anak-anak yang berlarian di halaman sekolah.

“Baiklah, terima kasih sudah mempercayakan pendidikan Aeris kepada kami, Bu Alina,” ujar Aisha sambil berdiri.

Alina ikut berdiri. “Ayo, Sayang. Ikut Ibu Guru, ya,” ajak Aisha lembut pada Aeris.

“Mama ikut juga?”

“Mama ngantar sampai sini saja ya, Sayang. Mama sudah telat,” jawab Alina sambil mengusap rambut anaknya pelan.

Aeris mengangguk kecil. Alina membungkuk dan mencium kening putranya.

“Ingat pesan Mama tadi, ya,” bisiknya lembut.

Aeris tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

Lalu mereka bertiga berjalan keluar dari ruangan. Aisha menggandeng tangan Aeris menuju kelas, sementara Alina melambai-lambaikan tangan ke arah putranya.

Setelah itu, barulah Alina bergegas keluar dari gerbang sekolah. Ia berjalan cepat karena sadar benar bahwa dirinya sudah sangat terlambat. Tanpa sadar, ia melewati Felix yang berdiri tidak jauh dari situ.

Felix tersentak saat melihat sekilas sosok wanita yang melintas cepat di depannya. Ia refleks menoleh ke belakang. “Kayak... Alina?” gumamnya pelan.

Ia memperhatikan punggung wanita itu dengan seksama. Tapi wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi yang menunggunya, dan mobil pun melaju pergi.

“Apa itu benar-benar Alina?” pikir Felix. Ia mengusap dagunya perlahan, tampak berpikir dalam. “Bisa jadi... bisa iya. Tapi mungkin juga cuma perasaanku saja,” ujarnya.

Beberapa saat kemudian, Jesika keluar dari kelas putrinya dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Aisha yang masih menggandeng Aeris. Ia melempar senyum sopan, namun tidak memperhatikan bocah kecil yang berjalan di samping Aisha.

Namun Aeris justru mengenalinya. Dalam hatinya ia bergumam.

“Itu kan ibu-ibu yang di pesta itu... ngapain dia di sini?”

Wajah bocah itu tampak berpikir keras.

“Dia juga kenal sama nenek aku... dan dia kayaknya penasaran banget aku anak siapa...” gumamnya lagi.

“Ah, bodo amatlah. Pagi-pagi sudah bikin kepala pusing aja.”

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!