NovelToon NovelToon
Mimpi Ini Terlalu Indah

Mimpi Ini Terlalu Indah

Status: tamat
Genre:Cinta Beda Dunia / Tamat
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Ia adalah Echo bernama Jae, idol pria berwajah mirip dengan jake Enhypen. Leni terlempar kedua itu dan mencari jalan untuk pulang. Namun jika ia pulang ia tak akan bertemu si Echo dingin yang telah berhasil membuat ia jatuh cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Paling Kejam

Leni tiba di apartemen menjelang malam. Langkahnya tidak teratur, napasnya pendek-pendek, seolah ia baru saja berlari jauh—padahal yang benar-benar ia lalui adalah perjalanan yang lebih melelahkan: mengambil keputusan.

Di tangannya ada kartu akses dimensi milik Kang Junho. Tipis, dingin, nyaris tak berbobot. Di jari manisnya, cincin perak dari Jae masih terpasang.

Jae duduk di sofa ruang tamu, jaketnya belum dilepas. Ia menoleh ketika mendengar pintu tertutup. Tatapan mereka bertemu, dan dalam satu detik itu, Leni tahu—Jae sudah menduga segalanya.

Tanpa banyak kata, Leni berjalan mendekat dan melempar kartu itu ke meja. Benda kecil itu meluncur pelan, berhenti tepat di depan Jae.

“Dia datang ke kantorku,” suara Leni serak, tapi tegas. “Junho. Dia bilang aku bisa pulang. Sekarang juga.”

Jae menunduk, menatap kartu itu lama sekali sebelum akhirnya meraihnya. Jarinya bergetar halus.

“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Aku bertemu dia lebih dulu.”

Kata-kata itu menghantam Leni lebih keras dari yang ia duga.

“Kau tahu… dan kau diam?” suara Leni meninggi, bukan marah, tapi terluka. “Kenapa, Jae? Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Jae tertawa singkat, tawa tanpa humor. Ia berdiri, mondar-mandir satu langkah, lalu berhenti.

“Karena aku takut,” katanya akhirnya. “Karena aku tahu, kalau kau tahu semuanya, kau akan memilih pulang. Kau akan memilih ibumu. Dan aku… aku akan kehilanganku sendiri.”

Leni mendekat, berlutut di depan Jae, memegang kedua tangannya.

“Aku tidak akan pergi,” katanya cepat. “Aku sudah memilih. Aku memilihmu. Cincin ini—” Leni mengangkat tangannya sedikit, “—ini bukan simbol kosong, Jae. Aku mencintaimu. Aku sudah membuktikannya. Kita bisa bertahan. Kita sudah melakukannya.”

Untuk sesaat, Jae ingin percaya. Mata Leni terlalu jujur, terlalu penuh keyakinan. Dan justru karena itu, dadanya terasa sesak.

“Leni,” bisiknya, “kau tidak salah. Tapi pilihanmu… membunuhku pelan-pelan.”

Ia menatap Leni dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Semakin kau tinggal, semakin aku nyata. Dan semakin aku nyata, semakin besar risiko kehancuranku saat realitas bergeser. Cinta kita tidak salah—tapi dunia ini tidak memberi kita ruang.”

Leni menggeleng keras. “Jangan bilang begitu. Kita belum mencoba semua kemungkinan.”

Jae tersenyum kecil. Senyum yang rapuh.

“Aku sudah mencobanya. Dengan caraku.”

Ia mengambil kartu akses itu, menggenggamnya erat.

“Apa yang kau lakukan?” suara Leni bergetar.

“Menutup satu-satunya jalan yang akan menyakitimu lebih lama.”

“Tidak,” Leni berdiri, berusaha merebut kartu itu. “Jae, berhenti. Jangan lakukan ini.”

Namun Jae sudah memusatkan energinya. Udara di ruang tamu berubah, bergetar halus, seperti kaca yang akan retak.

Rasa sakit menghantam inti Jae, membuat napasnya tersendat. Ia menahan erangan, memaksa dirinya tetap berdiri. Cahaya pucat mulai merambat di sekitar kartu itu, membelah ruang.

Retakan dimensi terbuka—kasar, tidak stabil, jauh dari aman.

“Jae!” Leni terdorong mundur oleh gelombang energi. “Kau akan menghilang!”

Jae menoleh padanya. Tubuhnya mulai memudar di beberapa bagian, seolah dunia sudah berhenti mengakuinya sepenuhnya.

“Aku mencintaimu,” katanya lirih. “Dan justru karena itu… aku tidak bisa membiarkanmu tinggal.”

Ia berjalan tertatih ke arah Leni. Dengan sisa kekuatannya, Jae berlutut dan menyentuh pipi Leni. Sentuhannya dingin, hampir tak terasa.

“Kau harus pulang,” katanya pelan. “Ibuku—ibumu—menunggumu. Hidupmu ada di sana. Yang nyata.”

Air mata Leni jatuh tak terbendung. “Aku tidak mau pulang tanpa kamu.”

Jae mencium Leni. Singkat, dingin, penuh perpisahan.

“Aku ingin kau hidup,” bisiknya. “Itu sudah cukup.”

Dengan satu dorongan terakhir, Jae mendorong Leni ke arah celah dimensi.

“Pergilah.”

Teriakan Leni tenggelam saat tubuhnya tersedot ke dalam cahaya yang bergejolak.

Leni terbangun dengan tubuh gemetar di atas ranjang sempit di atas minimarket. Bau kue basah menyergap hidungnya. Nyata. Terlalu nyata.

Tangannya refleks meraba jari manisnya.

Cincin perak itu masih ada.

Air mata mengalir tanpa suara.

Dari bawah, terdengar suara ibunya memanggil, khawatir karena Leni sempat pingsan di depan freezer es krim.

Leni turun dan memeluk ibunya erat-erat, seolah takut dunia ini akan runtuh jika ia melepaskan.

Ia telah kembali.

Tapi sebagian dari dirinya tertinggal—di dimensi lain, bersama seorang gema yang mengorbankan dirinya demi cinta.

Dan Leni tahu satu hal dengan pasti:

Ini bukan akhir.

Ia akan menemukan jalan kembali.

Bukan untuk pulang—

melainkan untuk menyelamatkan Jae.

...****************...

1
Sheril
menarik, fanfiction
Sheril
Jake hmmmm
Sheril
enhypen
sabana
tidak banyak peminatnya /Sob//Sob//Sob//Sob/
范妮
ak mampir ya ..
sabana: terimakasih 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!