Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Blues
#14
Keesokan harinya, Ayu bangun dengan perasaan sedih serta berat hati, karena rencananya, hari ini Biru akan ia serahkan pada Karmila dan Ismail untuk di asuh.
Sejak malam, Ayu tak bisa memejamkan mata, berkali-kali Biru dipeluk dan diciumnya dengan gemas, bahkan dengan air mata berlinang.
Mungkin Ayu juga harus merelakan bahwa seumur hidup Biru tak akan menganggapnya sebagai ibu kandung, karena merasa tak layak mendapat panggilan kehormatan tersebut.
Bu Jumini yang melihat kegelisahan Ayu, perlahan duduk di sisi Ayu. Sejak kehadiran Biru, Bu Jumini merasa melihat cucunya sendiri. Serta senang karena di dalam lapas ada bau yang tidak biasa, yakni bau minyak telon.
“Eh, Bu.”
Bu Jumini tersenyum mendengar sapaan Ayu, “Sudah siap semua? Apa yang perlu aku bantu?”
Ayu menggeleng, “Tidak ada, Bu. Lagi pula, barang-barang Biru tak banyak.”
“Jangan terlalu sedih, kau bilang mereka orang baik dan sholeh. yakinlah, Biru akan tumbuh menjadi anak berbakti,” tutur Bu Jumini.
“Aku hanya merasa bersalah, Bu. Karena tak bisa membersamai tumbuh kembang Biru.”
Biru menggeliat sejenak, ia merengek seolah ikut merasakan kegelisahan ibunya. “Cup cup cup, Mamak di sini, Sayang.” Ayu mengayun perlahan bayi dalam pelukannya.
Karena tak tega melihat Ayu yang tengah dirundung sedih, Bu Jumini pun meninggalkannya, untuk memulai aktivitas pagi membantu petugas dapur menyiapkan sarapan.
Sementara itu, tak jauh dari sel Ayu, ada 3 orang wanita yang nampaknya adalah bos di antara para napi. “Anak baru itu, benar-benar membuatku muak. Sejak pertama kali datang, ia selalu mendapat perhatian berlebihan, apa aku harus hamil juga biar di perhatikan?”
“Hahahaha, Bisa saja kau,” cetus anak buahnya.
“Habisnya, muak kali aku tengok muka dia yang memelas itu. Macam tak punya hal lain yang bisa ia banggakan selain air mata.”
“Kakak, aku dengar hari ini bayinya akan dibawa ke panti asuhan,” bisik anak buahnya.
“Ah, begitu rupanya, pantas sejak semalam dia kelihatan gelisah. Kenapa pula dibawa ke panti asuhan? Tak punya keluarga, kah?”
“Ada, Kak, tapi kan dia di penjara karena membunuh suaminya, jadi mana mau keluarga suaminya menerima anaknya.”
Wanita yang di panggil kakak itu mengangguk, bibirnya tersenyum menyeringai. “ternyata dibalik wajah polosnya, ia memiliki sifat sadis juga.”
Sambil melempar kulit kacang, wanita itu pun pergi untuk mengerjakan piket pagi.
•••
Jam 9 pagi Ismail dan Karmila datang, mereka bahkan menyewa mobil colt agar bisa membawa Biru dengan nyaman. Karena tak tega membiarkan bayi berusia kurang dari satu bulan itu naik motor dan terpapar debu di jalan.
Suasana masih mengharu biru, Ayu menangis, memeluk erat, serta menciumi wajah mungil Biru, kemudian mulai berpesan pada kedua adik iparnya. “Mulai sekarang, Biru akan menjadi putra kalian, ajarkan budi pekerti dan cara mencintai Ilahi. Bila dia nakal apalagi melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba Allah, maka jangan ragu untuk menegur dan memukulnya.”
Tak ada yang mampu Ismail dan Karmila ucapkan, rasanya terlalu menyakitkan karena mereka seperti merampas seorang anak dari ibu kandungnya.
“Kak, waktu kami membersihkan rumah Kak Ayu. Kami menemukan ini,” ucap Karmila seraya menyodorkan kantong lusuh berisi perhiasan milik Mak Tinah.
Ayu menutup telapak tangan Karmila, “Hanya ini benda berharga yang aku miliki, ambil dan jual saja, anggap ini uang untuk biaya hidup Biru, selama berada di bawah asuhan kalian— walaupun jumlahnya tak seberapa, tak sebanding dengan mulianya hati kalian yang bersedia merawat Biru.”
Karmila menangis dan memeluk Ayu yang kini terlihat semakin putus asa, “Kelak jangan datang kemari, anggap aku telah mati.”
“Kak! Kenapa bicara begitu? Kakak harus hidup, harus melihat Biru dewasa, dna menjadi pemuda yang berbakti.”
Bukan tak ingin, tapi saat ini berdoa saja Ayu tak berani. Meminta diberi kesehatan dan umur panjang agar bisa keluar dalam keadaan sehat wal afiat, itu dirasa terlalu berlebihan. Karena 20 tahun bukanlah waktu yang singkat, melainkan waktu yang teramat panjang.
Biru tiba-tiba merengek dan menangis ketika berpindah tangan pada Karmila, seakan-akan ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan berada jauh dari ibu kandungnya. Mendengar tangis kencang Biru, hati Ayu seraya di cabik ribuan belati, namun,tak ada pilihan selain merelakan.
Hingga Ismail dan Karmila hilang dari pandangan, Ayu masih tergugu, menangis dengan suara pilu. “Biru!” rungnya dalam sedih.
Jika sesaat yang lalu ia merasa hilang harapan, maka kini ia bersumpah akan menjadi wanita tangguh dari waktu ke waktu.
Dalam pilu kesakitan, hanya satu nama dan satu wajah yang ia ingat. Dia yang menjadi penyebab dan awal mula petaka ini. “Anjani.”
Memutar balikkan fakta hingga dirinya menjadi tersangka.
•••
Malam ini, Ayu resah, batinnya gelisah. Ia disiksa perasaan rindu pada putranya. Bau minyak telon yang biasanya manjakan indera penciumannya kini tiba-tiba lenyap, berganti dengan bayangan fatamorgana.
Tiba-tiba ayu merasa kedua payudaranya nyeri, hingga cairan ASI yang biasa menjadi sumber makanan putranya merembes keluar tanpa bisa dicegah. Dan sudah pasti di sana Biru sedang menangis karena lapar.
Ayu hanya bisa menangis ketika melihat cairan ASI-nya terbuang sia-sia.
•••
Tiga bulan kemudian.
“Tolong!”
“Tolong!”
Suara meminta tolong menggema melalui sela tirai jendela salah satu sel tahanan. Opsir yang berjaga berlari menghampiri asal suara, dan do salah satu sel tahanan, seseorang tengah dibantu turun dari tali gantungan. Orang itu kembali bermaksud bunuh diri, dan ini aksinya yang ke sekian kali.
“Ayo, cepat!”
Opsir memberi instruksi, rekannya datang membawa sebuah kursi roda, untuk membawa Ayu ke klinik yang ada di dalam lapas.
Orang-orang di lapas terutama rekan satu sel Ayu, sudah paham tentang Ayu yang resmi didiagnosis menderita sebuah penyakit yang bernama baby blues.
Pada awalnya Ayu hanya menangis ketika ASI-nya masih saja keluar padahal sudah lebih dari satu minggu ia berpisah dari bayinya. Menyadari hal itu, emosi Ayu kemudian berubah menjadi amarah karena tidak berdaya melawan keadaan hingga membuatnya terkurung tanpa bisa berbuat apa-apa.
Perubahan emosi yang cepat tersebut, adalah akibat dari kesedihan yang terlampau dalam, serta rasa bersalah pada putranya. Hal itulah yang faktor utama penyebab penyakit Ayu saat ini.
Gejala ringannya Jika sedang kambuh, Ayu akan berubah sumringah bahagia seperti orang tak waras. Dan gejala lainnya muncul jika perasaannya sedang sangat tertekan, Ayu seolah mendengar suara-suara menuding dirinya adalah penjahat yang tega membunuh suaminya sendiri.
Setelah tubuh lemas Ayu dibaringkan, dokter pun memasang oksigen, sementara yang lain terpaksa mengikat kaki dan tangan Ayu pada tepi pembaringan. Karena Ayu akan mengamuk jika menyadari dirinya masih bernyawa.
Semua orang bernafas lega karena mereka tidak terlambat melakukan aksi penyelamatan. Jika tidak, mungkin Ayu sudah kehilangan nyawanya saat ini.
“Dok, terus terang saya tak sanggup lagi,” keluh salah seorang rekan satu sel Ayu, karena ia tak bisa istirahat dengan tenang sejak Ayu sering membuat ulah.
“Iya, Dok, sampai kapan kami harus terus bergantian terjaga sepanjang malam?” keluh yang lainnya.
Setelah menampung semua keluhan, opsir kembali menggiring para penghuni sel nomor 10 agar kembali ke sel mereka.
“Dok, jika tak kunjung sembuh, apa yang harus kita lakukan?” tanya perawat.
Dokter menghela nafas sejenak, “Terpaksa kita bawa ke rumah sakit jiwa, agar bisa mendapatkan penanganan yang lebih serius.”
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah