"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembagian Rapor
Hari yang di tunggu Rara akhirnya datang. Pagi sekali ia dan Alisya sudah berjalan menuju embung untuk mandi. Mereka begitu riang gembira.
"Kira-kira nanti kita juara nggak Kak?" ucap Alisya memecah kesunyian.
Rara terkekeh, matanya berkilat nakal.
"Kamu aja belum bisa baca, gimana mau juara?" ia menatap adiknya. Alisya kesal mencubit tangan kakaknya.
"Kalau juara dikasih hadiah ya kak?"
Rara menoleh sekilas. Ia bingung harus menjawab apa.
"Entahlah, kakak juga tidak tahu." ucapnya singkat.
Mereka menyusuri jalan setapak menuju embung. Di sebelah kanan persawahan luas tertutup kabut. Butiran embun di dedaunan padi menandakan bahwa pagi masih dingin.
Tak jauh dari persawahan, embung mulai tampak samar tertutup kabut tebal. Aliran air dari dam terdengar jelas.
Suara ibu-ibu yang sedang bercanda riuh memenuhi udara. Ada yang mencuci pakaian, sebagian memandikan anak-anak. Bau sabun mandi dan sabun colek menusuk hidung.
Rara berjalan ke arah dam, tempat biasa ia dan Alisya mandi. Karena jika mandi di embung pasti harus antre
Sesampai di sana, Rara memainkan air dengan tangannya, menimbulkan riak-riak kecil. Airnya begitu jernih dan dingin, "Kak airnya rasa es ya?" Ucap Alisya sambil menyiramkan segayung air ke tubuhnya.
"Yee.. jarang mandi pagi?" balas Rara tertawa melirik adiknya. Alisya langsung menyiramkan air ke tubuh Rara hingga bajunya basah kuyup.
Alisya mulai menggigil, napasnya berasap. Tubuhnya gemetaran. Rara kasihan, menyerahkan handuk ke adiknya.
"Yuk kita balik dek, takutnya Ayah menyusul ke sini." Ucap Rara yang juga kedinginan. Ia juga menggigil hingga merasuk ke tulang. Bibirnya tampak pucat.
Alisya mengangguk pelan. Mereka kembali ke rumah lewat jalan yang tadi mereka lewati. Selama perjalanan mereka lebih memilih diam, dingin yang menyusup membuat mereka membisu.
"Udah kedinginan baru pulang," tegur ayah dengan suara sedikit keras. Lelaki itu sudah menunggu mereka dari tadi. Untungnya Rara dan Alisya segera pulang sebelum dijemput
Mereka tak menyahut, karena ayah tidak suka dibantah.
Mereka masuk, langsung ke kamar mengganti pakaian sekolah. Seragam mereka penuh garis kusut dan lusuh, sebab tidak pernah digosok.
"Ayah berangkat dulu Ra, jaga adik dirumah," terdengar suara ayahnya dari pintu luar, Rara mendongak melihat tubuh ayahnya menghilang di balik pintu. Hatiny sedikit lega.
"Iya, Yah," jawab Rara setelah sosok itu tak lagi terlihat.
"Kita nggak sarapan lagi kak?" Alisya memandang kakaknya sedih.
Rara menggeleng lesu.
"Tapi Ayah tadi kasih uang,?" Rara mengeluarkan selembar uang lima ribu dari kantongnya.
Uang itu bukan pemberian ayahnya, tapi sisa dari uang rokok yang disimpan Rara.
"Asyik! kita bisa beli lontong ya, Kak." ucap Alisya girang.
Wajahnya kembali cerah. Dengan uang itu mereka bisa membeli sarapan pagi ini.
Mereka pun siap mengayunkan kaki menuju sekolah, semangat yang menggebu pagi ini. Hari penerimaan lapor catur wulan pertama.
Rara dan Alisya meninggalkan rumah, berjalan menyusuri jalan setapak, lalu jalan beraspal, dan di sambung dengan pematang persawahan luas, beberapa ladang warga sbelum akhirnya sampai sekolah.
Bukan hanya mereka, aktifitas rutin ini hampir dkerjakan oleh semua murid sekolah. Tak ada perbedaan si kaya dan si miskin, mereka sama berjalan kaki.
Sampai di sekolah, Rara langsung menuju kantin untuk sarapan bersama adiknya. Ini momen yang jarang mereka lakukan, karena yah hampir tidak pernah menyisipkan uang jajan.
Saat sarapan hampir habis, bel masuk terdengar. Mereka bergegas menghabiskan sisanya.Semua yang di kantin berjalan menuju lapangan sekolah.
Mereka berkumpul di tengah lapangan, ini momen yang di tunggu Rara dan adiknya. Pengumuman para pemuncak satu, dua dan tiga dari setiap kelas.
Matahari pagi yang menemani menambah indah suasana. Teriknya belum terasa menyengat.
Tampak kepala sekolah dan semua guru berbaris rapi di bagian depan. Rara deg-degkan. Ia tahu kemampuannya masih kurang, tapi berharap namanya sebagai salah satu pemuncak kelas.
Harapan itu pupus, ketika tiga orang teman sekelasnya sudah dipanggil ke depan. Wajahnya lesu, jantungnya kembali normal.
Setelah pengumuman selesai, semua kembali ke kelas masing-masing. Rara berjalan gontai, semangatnya tiba-tiba hilang.
"Ra, pulang sekolah lewat kebun kemarin lagi?" Arini menghentikan langkahnya. Rara hanya menatap sendu.
"Ayok lah, Ra?" bujuknya lagi.
"Rambutannya manis, iya kan?" Arini terus mencegatnya.
"Oke, Rin." jawab Rara singkat.
Rara dan Arini masuk ke kelas berbarengan, mereka hampir saja jatuh di dorong beberapa anak laki-laki yang berlari menuju kelas.
Rara meringis kesakitan, sikunya mengenai sudut kunsen pintu. Dari belakangnya Bu Neti muncul, membawa setumpuk rapor.
"Kenapa, Ra?" sapa Bu Neti ramah.
"Tidak apa-apa, Bu," uajar Rara, lalu bergegas ke tempat duduknya. Kelas yang semula riuh mendadak tenang.
Bu Neti memberikan beberapa wejangan serta ucapa selamat kepada pemuncak, tak lama setelah itu pembagian rapor pun dimulai.
Ketika sampai pada giliran Rara, ia berjalan dengan tegang ke depan. Bu Neti menyodorkan rapor ke tangan Rara.
"Tolong semangat lagi belajarnya ya Ra," Rara mengangguk. Bu Neti menatapnya lama.
Dengan lantai lesu Rara kembali ke mejanya. Arini sudah menunggu dengan antusias.
"Rangking berapa, Ra?" ucapnya tak sabaran.
Rara tak menyahut, ia hanya menyerahkan lapor ke Arini. Arini membukanya dengan hati-hati.
"Wish.." ucapan Arini terhenti, matanya membesar. Ia memandangi Rara dengan rasa kasihan.
"Kamu banyak bawa cabe, Ra!" ia nyeletuk polos, menyebut nilai merah di rapor.
Rara hanya menunduk, bibirnya bergetar menahan perasaan. Senyum pahit muncul sesaat, lalu hilang begitu saja