"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Lingerie sek-si dengan bahan cukup transparan serta warnanya yang merah terang, hingga memperlihatkan lekukan tu-buh indah seorang wanita yang mengenakannya, pastinya hanya pria tidak normal yang tidak akan bereaksi saat menyaksikannya di depan mata. Nampaknya hal serupa tengah dialami oleh Tomi saat melihat penampilan Sonia saat ini.
Tubuh Sonia spontan mundur beberapa langkah ke belakang saat Tomi semakin mendekat padanya, hendak mengikis jarak di antara mereka. Langkah Sonia terhenti ketika tubuhnya mentok pada tembok. Merasa tubuhnya terpojok, Sonia lantas memejamkan matanya, sedangkan kedua tangannya sudah mengepal erat, menahan debaran di dada. Hingga detik selanjutnya, Sonia sontak membulatkan kedua matanya mendengar perkataan Tomi.
"Sebegitu inginnya kau di sentuh, sampai rela berpakaian seperti ini, Sonia Margaretha?."
Deg.
Perkataan Tomi bukan hanya menghancurkan hati dan perasaan Sonia, namun juga menghancurkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Aku tidak serendah itu, mas. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak pernah berpikir untuk menggoda mu sekalipun kita sudah resmi menikah, mas. Aku cukup tahu diri dengan posisiku. Aku juga tidak tahu mengapa semua piyama ku tidak ada di dalam lemari, semuanya sudah berganti dengan pakaian kurang bahan seperti ini." Dengan susah payah Sonia menahan air matanya agar tak sampai berlinang. Posisinya sebagai istri Tomi sudah sangat menyedihkan, dan Sonia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan lagi jika sampai ia menangis dihadapan pria itu.
Tomi tercenung mendengarnya. Detik selanjutnya, Tomi beranjak hendak memastikan ucapan Sonia. Dan benar saja, setelah membuka lemari pakaian Sonia, Tomi mendapati begitu banyak pakaian model serupa dengan warna yang berbeda-beda, tersusun dengan rapi.
"Ya Tuhan...Aku sudah menuduh Sonia yang bukan-bukan." Sesal Tomi dalam hati. Pria itu nampak memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Mamah Ika, satu-satunya tersangka dalam hal ini pasti adalah wanita itu. Tomi yakin ini semua pasti perbuatan ibunya.
Sesal dan niatan di hati Tomi untuk meminta maaf pada Sonia sirna begitu saja, ibarat debu terhembus angin lalu saat mendengar kalimat Sonia.
"Jika hanya ingin mendapat belaian dari seorang pria, tidak sulit mendapatkannya, tidak perlu sampai menggoda pria yang tidak menginginkan aku."
"Apa maksudmu?." Mimik wajah Tomi berubah seratus delapan puluh derajat. Kata-kata Sonia berhasil membangkitkan rasa yang Tomi sendiri tidak paham mengapa tiba-tiba bisa hadir di hatinya. Kesal, marah, tidak suka, semua perasaan itu bercampur menjadi satu di hati Tomi.
"Jangan hanya diam saja, Sonia! Aku tanya, apa maksudmu bicara seperti itu?." Nada bicara Tomi naik beberapa oktaf. Untungnya kamar mereka difasilitasi kedap suara, kalau tidak, bisa dipastikan perkataan Tomi terdengar sampai keluar kamar. Tomi mengeratkan genggamannya pada kedua bahu Sonia, menatap manik mata indah milik gadis itu dengan kedua alis saling bertaut dengan sempurna.
"Jawab Sonia!." Tanpa sadar Tomi membentak Sonia, melayangkan tinjunya ke arah dinding tepat di samping wajah Sonia, hingga menyebabkan tubuh Sonia gemetar menahan rasa takut. Sepersekian detik kemudian, Tomi tersadar akan tindakannya saat menyadari tubuh Sonia gemetar. Gadis itu nampak memejamkan mata, sementara tubuhnya bergetar hebat. Tomi langsung menjauhkan tubuhnya dari istrinya itu, meraup wajahnya dengan kasar.
"Maaf..... Aku lepas kontrol!."
Sonia tak merespon, gadis itu justru sibuk mempertahankan kedua kakinya agar tak sampai terkulai lemas di lantai.
Tomi merasa bingung sendiri dengan tindakannya. Pria itu berlalu meninggalkan kamar hendak menuju ruang kerjanya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa juga aku harus marah mendengarnya berkata seperti itu? Bukankah aku tidak mencintainya." Gumam Tomi seraya menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya, berusaha memahami gejolak dihatinya.
"Saat ini statusnya adalah istrimu, makanya kau tidak suka mendengarnya berkata seperti itu, Tomi Andrean."
"Suami....? Apa pantas seorang pria disebut suami jika tidak menafkahi istrinya? Apa kau pikir nafkah lahir saja cukup bagi seorang istri? Tentu saja tidak Tomi Andrean, seorang istri butuh lebih dari sekedar materi." Berbagai macam kalimat melintas begitu saja di benak Tomi, hingga membuat pria itu jadi frustasi sendiri.
Malam ini Tomi tidak kembali ke kamar, pria itu ketiduran di ruang kerjanya.
Sudah pukul setengah dua dini hari, namun Sonia tetap tak dapat memejamkan matanya. Sesal akan ucapan asal nya pada Tomi beberapa saat lalu masih saja mengganggu pikiran Sonia.
"Seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Mas Tomi pasti sangat marah padaku, makanya tidak kembali ke kamar." Gumam Sonia. "Lain kali, gunakanlah otakmu untuk berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata, Sonia! Kalau sudah begini, apa yang harus kau lakukan, Sonia Margaretha? Dasar gadis bodoh...." Sonia mengatai dirinya sendiri gadis bodoh.
Keesokan paginya.
Tomi kembali ke kamar setelah Sonia selesai bersiap berangkat kerja.
"Pakaian kerja mas, sudah aku siapkan." Ucapan Sonia sekaligus memecah keheningan diantara mereka. Ya, sebagai permintaan maafnya, Sonia memberanikan diri menyiapkan pakaian kerja untuk Tomi. Kalaupun pada akhirnya ia justru kena marah, biarlah, setidaknya ia sudah berusaha memperbaiki keadaan.
"Hm."
"Maaf....jika kata-kataku semalam menyinggung, mas. Sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya_."
"Sudahlah...! Tidak perlu dibahas lagi!." Potong Tomi sebelum berlalu ke kamar mandi.
Sonia memilih segera berangkat ke kantor di saat Tomi sedang mandi. Dirinya hanya seorang pegawai biasa, hanya kebetulan saja ia merupakan sekretaris Tomi. Untuk aturan, Sonia harus tetap tiba di perusahaan tepat waktu. Aturan perusahaan tidak memiliki pengecualian.
*
Di perusahaan Andrean Group.
"Apa anda sedang kurang enak badan, tuan?." Tanya asisten Azam, melihat tuannya itu lebih banyak diam.
"Saya baik-baik saja. Kalau boleh kembali ke ruangan mu sekarang!." Balas Tomi.
"Baik, tuan."
Sepeninggal asisten pribadinya, Tomi mematikan layar laptopnya, menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Di masa lalu, ia pernah merasakan yang namanya dikhianati, dan itu sangat menyakitkan bagi Tomi. Meskipun tidak memiliki perasaan cinta pada Sonia, Tomi tetap tidak ingin sampai Sonia mengkhianati pernikahan mereka, apalagi dengan alasan tidak diberi nafkah batin olehnya sebagai seorang suami. Tentunya alasan itu akan sangat memalukan, begitu pikir Tomi. Rupanya kata-kata Sonia sangat membekas di hati dan pikiran Tomi, dan itu berhasil membuyarkan konsentrasi kerja Tomi. Dari balik dinding kaca transparan, di mana gordennya terbuka dengan sempurna, Tomi menyaksikan Sonia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Kini Tomi baru menyadari bahwa istrinya itu memang sangat cantik, Dan untuk mendapatkan pria di luar sana, rasanya tidak akan sulit bagi Sonia, mengingat bentuk tubuh gadis itu pun merupakan idaman banyak pria diluar sana. Tomi semakin kehilangan konsentrasi untuk bekerja.
Sonia suruh pindah aja Thor
kasian Dede bayinya